Cinta Masa Kecil Presdir Cantik

Cinta Masa Kecil Presdir Cantik
Bab 01. Aku mohon lepaskan aku.


Aulia ingin segera pulang ke tanah air, dengan cepat ia menyelesaikan rapat untuk kontrak kerja sama dengan rekan bisnis yang biasanya Mama dan Papa tangani di sini. Setelah semua kontrak kerjasama beres, Aulia segera memesan tiket VIP langsung terbang siang ini juga.


Aulia sengaja tak memberi kabar kepada Papa dan Mama serta Tarjok yaitu sebut saja tangan kanan Papa dan istrinya Ningrum karena Aulia ingin memberi kejutan kepada mereka semua termasuk pria ia cintai mulai dari kecil hingga dewasa.


Walaupun masih berumur 19 tahun, Aulia menganggap dirinya sudah menjadi wanita dewasa karena ingin menjaga dan melindungi Mama dan Papa, itulah harapannya.


Tap! Tap! Tap.


Kedua kaki Aulia terus melangkah keluar dari sebuah gedung tempat terakhir bertemu dengan rekan bisnis. Aulia tersenyum manis menatap foto anak lelaki berumur 10 tahun dan Aulia masih berumur 5 tahun. Gambar foto seperti sedang memberikan 1 suap kue ulang tahun saat perayaan ulang tahun Aulia.


“Aku akan segera pulang. Tunggu aku! Jika kamu tak menyatakan cinta kepadaku, maka aku akan menyatakan perasaanku setelah aku pulang. Suka atau tidak suka kamu harus menerimaku sebagai cinta dan kekasih masa kecilku.”


Kedua kaki Aulia terhenti di samping mobil mewah, pintu mobil di buka oleh pria berjas hitam dengan tubuh tegap dan juga tampan. Pria tersebut menundukkan pandangannya menatap Aulia kini sudah masuk kedalam mobil.


“Apakah nona muda ingin kami hantarkan sampai ke Bandara dan saya akan memberi tahu kepada Presdir Agung Laksmana dan nona besar jika nona muda akan pulang hari ini. Saya takut hal buruk terjadi kepada nona muda.”


Ucap pria tersebut yaitu penjaga sekaligus Asisten pribadi setia Aulia, selalu menemani kemanapun Aulia pergi. Baik ke Luar Negeri, dalam Negeri dan Luar kota. Sebut saja namanya Venus. Venus juga orang kepercayaan sudah lebih dulu bekerja dengan Papa saat Aulia masih berumur 12 tahun.


Aulia melambaikan tangan kanannya, bibir melempar senyum manis kepada Venus kini sedang terlihat serius menatapnya dari depan pintu mobil masih di pegang olehnya.


“Tidak perlu Venus. Aku bisa kembali sendirian tanpa ditemani siapapun, jika aku pulang bersama pengawal Papa dan kamu. Itu akan terlihat lebih mencolok dan aku tak suka membuat diriku terlalu mencolok di muka umum. Kamu bisa pulang belakangan setelah kamu membawa semua barang milikku. Aku pamit pulang terlebih dahulu karena aku sangat merindukan Papa dan Mama. Tiket pesawat buat kamu sudah aku pesan, aku letak di atas meja lemari rias di dalam kamarku.”


Ucap Aulia tak ingin membuat dirinya terlalu mencolok siapa dirinya dan anak dari siapa ia dilahirkan. Aulia tahu jika keberadaannya sebagai putri tunggal dari Presdir Agung Laksmana dan Marsya Aulia akan membuat semua orang umum gempar dan sibuk menjodohkan anak mereka dengannya baik urusan politik bisnis maupun kekayaan yang di miliki Papa. Aulia tak ingin itu terjadi karena dirinya sudah memiliki tambatan hati yang sampai sekarang belum ungkapkan langsung.


Venus segera menutup pelan pintu mobil sambil berkata:


“Baiklah jika itu permintaan nona muda. Aku akan segera menyusul dan membawa semua barang kebutuhan nona muda. Hati-hati di jalan jangan sampai ketemu orang jahat.”


Aulia membuat tangannya dengan simbol ‘OK’, mata kanan menyipit.


Kini pintu mobil sudah tertutup rapat, supir pribadi miliknya memutar stir kemudi dan melajukan mobil ke arah Bandara. Kedua mataku tak sengaja menangkap Venus memegang ponsel dengan wajah terlihat serius dari pantulan spion kanan mobil sudah sedikit menjauhi darinya. Aulia sangat yakin pasti Venus sedang menelpon Papa dan memberitahu jika sedang menuju Bandara untuk pulang ke tanah air.


Aulia menggeleng pelan, menundukkan sedikit wajahnya, bibir tersenyum manis saat mengetahui Venus mencemaskan dirinya.


“Venus…Venus. Pasti kamu kuatir dengan diriku karena pulang sendirian.”


Supir pribadi melirik dari ujung ekor matanya menatap Aulia dari kaca spion tengah dalam mobil dengan sudut bibir menaik sedikit.


Tak sampai 1 jam berkendara, mobil yang Aulia naikin kini terhenti di parkiran Bandara. Supir pribadinya yaitu Pak Samto, turun dan membuka pintu mobil. Wajahnya tertunduk dengan tangan kanan memegang pintu mobil.


“Nona muda. Kita sudah sampai, ada lagi yang perlu saya bantu?”


Aulia meletakkan tangan kanannya di atas bahu kiri Pak Samto, “Tidak ada Pak. Bapak bisa pulang dan jangan lupa ingatkan Venus untuk segera datang membawa semua barang milikku.”


“Baik. Kalau begitu saya permisi pulang dulu nona muda,” ucap Pak Samto sambil menutup pintu mobil dengan pelan.


Aulia segera berbalik badan meninggalkan Pak Samto yang masih berdiri di samping mobil. Aulia terus melangkahkan dengan cepat menuju bandara, karena 20 menit lagi pesawat akan berangkat menuju tanah air tempat Aulia dilahirkan dan di besarkan.


Aulia sangat tidak sabar untuk bertemu dengan pria yang Aulia sukai dari kecil.


🍃🍃Pukul 16: 15 sore. 🍃🍃


Pesawat Aulia naikin mendarat dengan selamat di Bandara Jakarta. Kedua kaki terus berlari agar segera cepat keluar dari bandar dan segera sampai ke rumah.


Saat Aulia berjalan melewati parkiran, Aulia merasa ada beberapa orang yang sedang mengikuti dirinya. Aulia berbalik badan, kedua mata menatap liar sekeliling, tapi tak melihat orang mencurigakan karena saat ini sangat ramai orang lalu lalang di dalam Bandara. Mungkin ini semua hanya perasaannya saja.


Setelah merasa tenang, tangan kanan mengambil benda pipih dari dalam sling bag untuk memesan taksi online.


Belum sempat memesan taksi online, kepala Aulia di tutup dengan kain berwarna hitam dan bibirnya di bungkam sangat kuat membuat Aulia tak bisa berteriak. Ponsel miliknya di rampas, tapi aku tak tahu siapa yang merampasnya.


Aulia merasa tubuhnya di gendong dan di letakkan di bahu kekar, kemudian Aulia di campakkan begitu saja di bang mobil yang terasa kasar dengan bau mobil seperti bau asap rokok dan minuman keras.


Aulia berusaha membenarkan duduknya, kedua tangan hendak membuka penutup yang berada di kepala tapi kedua tangannya langsung di cekal kuat dengan tangan yang terasa begitu besar dari tangannya. Aulia juga mendengar suara pria cukup kasar berbicara sangat dekat dengan wajahnya, sehingga Aulia bisa mencium aroma nafas yang terasa berbau alkohol.


“Kamu mau memberontak. Kamu mau berusaha kabur dengan begitu mudahnya dari kami. Coba saja sayang. Kamu tidak akan bisa lolos dengan begitu mudahnya sebelum kami menikmati dan mencicipi kamu.”


Plak..


Aulia mendengar suara ketukan sangat kuat. Tak lama Aulia mendengar suara pria serak sedang berbicara.


“Apa kamu ingin mati. Kamu tidak boleh membocorkan rahasia kita kalau kita ingin menikmati tubuh gadis cantik yang sangat berkelas ini. Jika kamu banyak bicara! Wanita tua itu tidak akan memberikan kamu upah yang pantas.”


“Berisik. Sudah cepat jalankan mobil ini karena aku sudah tidak sabar lagi dengan tugas yang di berikan wanita jelek itu.”


“A-aku akan memberikan kalian uang lebih jika kalian membebaskan aku, aku juga tak akan melapor kepada Papa dan Mama atau pihak berwajib jika kalian menculik diriku. Asal kalian membebaskan diriku tanpa melukaiku,” sela Aulia.


Mereka tak memperdulikan ucapannya. Aulia hanya mendengar suara tawa keji dan kasar dari banyak pria yang berada di dalam mobil yang kini sudah melaju kencang.


Tak sampai 1 jam berkendara, mobil terhenti. Aulia tak tahu ini berada di mana dan tempat apa. Yang jelas Aulia mendengar suara gemuruh ombak yang terhempas di daratan.


“Maaf, sayang. Sepertinya permintaan kamu tak bisa kami turuti,” ucap pria tersebut sambil menggendong tubuh Aulia dan meletakkan di atas bahu kekar miliknya.


“Tolong lepaskan aku. Aku sungguh-sungguh berjanji dan aku tidak pernah mengingkari setiap janji yang aku ucapkan.”


“Jangan percaya dengan gadis itu. Dia pasti sama dengan kedua orang tuanya. Cepat lakukan perintah yang aku buat, atau kalian akan menyesalinya.”


Sambung seorang wanita, nada suara cukup lembut dari belakang dirinya. Aulia segera di letakkan di kursi keras, kedua tangan di ikat di tangan sisi kiri/kanan kursi cukup dingin. Aulia rasa ini kursi terbuat dari besi.


“Jika kamu wanita yang baik. Tolong lepaskan saya dan saya akan memberi kamu imbalan yang pantas.” Sahutku dengan nada suara gemetar .


“Hahaha. Kamu pikir kamu siapa berani memerintah saya.”