Cinta Masa Kecil Presdir Cantik

Cinta Masa Kecil Presdir Cantik
BAB 109. Hati-hati!!


Melihat Investor spesial adalah tuan muda Alexdian dan Azzuri Mahendra. Aulia langsung berdiri, Aulia terpaksa melangkah dengan kaki kiri pincang.


“Lebih baik aku tidak memiliki Investor daripada aku memilik Investor dari kalian berdua,” gumam Aulia kesal.


Melihat Aulia kesulitan berjalan, Azzuri mendekati Aulia, dan menahan pergelangan tangannya.


“Aulia. Aku mohon jangan seperti ini, terimalah aku bergabung dengan perusahaan kamu. Dan jangan buat kebencian kamu masuk ke dalam lingkungan bisnis. Aku mohon!” pinta Azzuri lembut.


“Benar kata Azzuri. Contohnya seperti aku, tuan Agung Laksmana, dan wanita yang aku cintai, yaitu Marsya. Meski aku dulu mengejar-ngejar Marsya, tapi kedua orang tua kamu berlapang dada menerima aku sebagai Investor baru di masing-masing Perusahaan mereka. Kalau hanya sebatas hubungan perasaan, dan tidak ada niat buruk. Menurut ku hal itu tidak perlu di gabungkan menjadi satu ke dalam Perusahaan. Mari berdamai lah dengan hati kamu, Aulia," sambung tuan muda Alexdian.


'Benar juga kata tuan muda Alexdian. Azzuri 'kan tidak melakukan kesalahan apa pun. Aku hanya yang sensitif, karena dirinya terus mengejar ku,' batin Aulia.


“Baiklah, aku akan melanjutkan rapat,” ucap Aulia datar.


“Aku bantu kamu berjalan ya?” tawar Azzuri saat melihat Aulia hendak kembali melangkah dengan susah.


Saat tangan Azzuri hendak memegang lengan Aulia. Aulia langsung menepis tangan Azzuri, lalu meninggalkan Azzuri.


Tuan muda Alexdian, dan Venus hanya diam melihat sikap dingin Aulia.


‘Baru kali ini aku melihat Azzuri Mahendra. Seorang Presdir muda yang terkenal kejam, dan licik mampu menahan sabarnya saat diperlakukan kasar dan dingin oleh Aulia. Dan baru kali ini aku melihat seorang wanita yang mampu melawan Azzuri seperti ini. Aulia benar-benar memiliki sikap dan karakter mirip tuan Agung Laksmana dan Marsya. Dan Aulia benar-benar penakluk hati Azzuri,’ batin tuan muda Alexdian.


Tidak ingin membuat keheningan, dan rasa canggung di ruang rapat. Tuan muda Alexdian memulai percakapannya.


“Jadi hal apa yang harus kita bahas di sini?” tanya tuan muda Alexdian.


Aulia melirik ke Venus, “Venus, tolong berikan dokumen kepada tuan muda Alexdian, dan…” Aulia menggantung ucapannya, bola mata melirik ke Azzuri terlihat sedang tertunduk sedih, “Dan berikan kepada tuan muda Azzuri,” sambung Aulia.


“Baik,” sahut Venus patuh.


Venus pun langsung memberikan kertas dokumen kepada tuan muda Alexdian, dan Azzuri. Setelah itu kembali berdiri di samping kursi Aulia.


Mendengar Aulia memanggil namanya dengan sopan dan lembut. Raut wajah Azzuri terus tersenyum manis. Di sisi lain, Aulia diam-diam melirik ke Azzuri. Melihat Azzuri tersenyum, hati Aulia sedikit merasa lega karena dirinya berhasil memulihkan hati seseorang dari rasa sakit hati akan perkataannya.


Aulia pun kembali memulai rapatnya. Karena Investornya adalah tuan muda Alexdian, dan Azzuri. Dan melihat kondisi pergelangan kaki Aulia semakin membengkak, tuan muda Alexdian dan Azzuri memutuskan secara serentak menyudahi rapat tersebut. Aulia pun nurut, setelah tuan muda Alexdian dan Azzuri selesai tanda tangan. Aulia pun membubarkan rapat.


Aulia berdiri menghadap tuan muda Alexdian, dan Azzuri, “Terimakasih sudah menjadi Investor baru di Perusahaan kami,” ucap Aulia.


“Sama-sama, aku juga tidak menyangka jika aku bisa menjadi Investor di Perusahaan anak masa depanku,” sahut tuan muda Alexdian.


“Terimakasih kembali buat Anda, karena sudah menerima ku menjadi Investor di Perusahaan Anda,” sambung Azzuri sopan.


“Sama-sama,” sahut Aulia dingin.


Merasa seperti tidak di perlukan lagi oleh Aulia, dan rapat juga sudah selesai. Azzuri membungkukkan sedikit tubuhnya di hadapan Aulia, “Aku pamit pergi terlebih dahulu,” ucap Azzurri sopan.


“Kalau gitu aku juga ikut permisi Aulia, karena aku masih ada urusan penting,” sambung tuan muda Alexdian ikutan pamit.


Azzuri melirik ke tuan muda Alexdian, “CK. Ikut-ikutan saja, apa Anda yakin ingin meninggalkan calon anak masa depan Anda tanpa berbasa-basi seperti tadi malam?” tanya Azzuri.


“Mau bagaimana lagi. Aulia itu ‘kan hanya akan menjadi calon anak masa depanku, itu pun setelah tuan Agung meninggal dunia. Jika Aulia adalah Marsya, mungkin aku akan terus mengajak kencan dan pergi ke hotel,” sahut tuan muda Alexdian tanpa rasa malu.


“Eh! Enak saja. Mau ngapain mengajak Mama ke Hotel. Jangan berpikir yang macam-macam tuan muda. Atau aku akan batalkan kontrak kita?!”


Mendengar ancaman Aulia, tuan muda Alexdian gugup. Kedua tangan melambai, “Tidak-tidak, aku hanya bercanda. Kalau gitu aku pergi duluan. Kalian semua hati-hati, termasuk kamu, Aulia. Soalnya tadi pagi aku melihat berita, ada seorang tahanan kabur dari penjara. Mana yang kabur itu predator wanita,” ucap tuan muda Alexdian mengingatkan Aulia.


“Anda tenang saja tuan. Saya akan selalu menjaga nona muda,” sambung Venus.


“Kalau gitu aku pergi dulu,” pamit tuan muda Alexdian sekali lagi.


Melihat tuan muda Alexdian tidak pamit setelah berulang kali mengucapkan kata ‘aku pamit pulang’, Azzuri merangkul tuan muda Alexdian.


"Dari tadi pamit, tapi nggak pergi-pergi. Omong kosong aneh dari mulut perjaka tua!"


Tidak terima di bilang perjaka tua, tuan muda Alexdian melirik tajam ke Azzuri, "Jangan salah kamu. Meski aku berstatus perjaka tua. Tapi sesungguhnya aku sudah tidak perjaka, dan satu lagi. Kita ini sama!"


"Apa yang mereka katakan?" tanya Aulia polos ke Venus.


"Tidak perlu di dengar nona muda. Mereka hanya membanggakan diri," sahut Venus sedikit malu.


“Kalau gitu aku pamit pulang. Dan kamu harus hati-hati, karena yang di bilang tuan muda Alexdian itu adalah benar,” sambung Azzuri.


“Iya, terimakasih atas kecemasan dan keperdulian kalian berdua,” sahut Aulia sopan.


“Apa nona muda ingin saya gendong lagi?” tanya Venus.


“Baik,” sahut Venus.


“Karena Aulia juga mau keluar meninggalkan gedung ini. Maka, mari kita pergi bersama-sama,” ajak tuan muda Alexdian.


Venus segera menggendong Aulia, tuan muda Alexdian, dan Azzuri berjalan terlebih dahulu meninggalkan ruang rapat. Lalu Venus, menyusul di belakang tuan muda Alexdian, dan Azzuri. Saat mereka melangkah terlihat ada seorang pria misterius berjalan diam-diam di belakang mereka.


Mengingat ucapan dari tuan muda Alexdian, dan Azzuri. Aulia mulai menatap wajah Venus dengan tatapan penuh tanya. Merasa di tatap sangat dekat oleh Aulia, Venus mendadak kehilangan konsentrasi, dan wajahnya sangat merah.


“Venus, apa kamu demam?” tanya Aulia.


“Ti-tidak nona muda. Sa-saya hanya tidak terbiasa di tatap sangat dekat seperti ini,” sahut Venus gugup.


Melihat Venus gugup, Aulia ternyata renyah, “Ha ha ha!”


Mendengar tawa renyah dari Aulia saat bersama dengan Venus. Azzuri terlihat cemburu, kedua tangan ia kepal di samping tubuh. Melihat Azzuri menahan cemburu, tuan muda Alexdian merangkul tubuh Azzuri.


“Kamu cemburu?” tanya tuan muda Alexdian.


“Tidak,” sahut Azzuri singkat.


“Kalau gitu jangan menyerah sampai mendapatkan cinta kamu!” bisik tuan muda Alexdian.


“Orang tua diam saja!” ketus Azzuri.


Karena langkah kaki mereka kini sudah sampai di tempat parkir kendaraan masing-masing. Tuan muda Alexdian, dan Azzuri melambaikan tangan ke Aulia.


“Daaa..sampai jumpa di pementasan akhir tahun, calon anak masa depanku!” ucap tuan muda Alexdian.


“Hati-hati di jalan,” sambung Azzuri.


“Terimakasih,” sahut Aulia memberi senyum manis kepada Azzuri dan tuan muda Alexdian.


“Kalau gitu saya bawa nona muda masuk terlebih dahulu,” ucap Venus.


“Iya,” sahut tuan muda Alexdian.


“Jangan lupa rawat Aulia dengan benar,” pinta Azzuri.


“Tenang saja,” sahut Venus.


Venus pun melangkahkan kedua kakinya mendekati mobil, membuka pintu bangku penumpang, dan meletakkan Aulia.


Tuan muda Alexdian, dan Azzuri juga ikutan masuk ke dalam mobil. Karena masih ada urusan mendesak, tuan muda Alexdian terlebih dahulu pergi.


Tin!


Klakson tuan muda Alexdian.


Di susul oleh Azzuri.


Saat Venus hendak berjalan masuk ke dalam mobil. Ada seorang pria memakai baju serba hitam berlari dengan cepat mendekati Venus, dan memukul teng-kuk Venus.


Melihat Venus di pukul oleh orang tidak di kenal, Aulia menjerit dari dalam, “Venus!!!!”


Pria misterius tersebut masuk ke dalam mobil, dan langsung menodongkan pis-tol ke Aulia.


“Jangan berteriak, atau aku akan mendaratkan peluru ini!” tegas pria tersebut.


Aulia langsung terdiam, dengan raut wajah terlihat ketakutan.


Pria misterius pun melajukan mobilnya dengan kencang, meninggalkan parkiran gedung.


Saat mobil melewati mobil Azzuri. Aulia langsung berbalik badan, kedua tangannya memukul kaca mobil belakang untuk memberi kode kepada Azzuri jika dirinya sedang di culik.


“Tolong!!!” teriak Aulia sekuat-kuatnya.


.


Melihat supir Aulia bukan Venus, dan melihat Aulia memukul kaca sambil menangis. Azzuri langsung menghentikan laju kendaraannya. Azzuri menelpon Venus untuk memastikan apakah benar pria bersama Aulia itu bukan Venus. Karena panggilan telpon tidak di jawab, Azzuri semakin yakin jika Aulia di culik.


“Berani sekali menculik Aulia! awas kamu!” gumam Azzuri.


...Bersambung...