
Karena 3 hari lagi Aulia dan Andra akan segera menikah. Aulia dan Venus bersiap-siap untuk kembali ke tanah air. Ingin segera bertemu dengan calon suami (Andra), Aulia sengaja memesan tiket VIP untuk penerbangan pagi.
Aulia sedang berdiri di depan pintu Apartemen, bibirnya terus tersenyum sembari melihat cincin berlian melingkar di jari manisnya.
"Nona muda, apakah kita sudah bisa pergi?" tanya Venus berdiri di sisi kanan.
"Hem" sahut Aulia mengangguk.
Venus membuka pintu, "Mari nona," ucap Venus mengulurkan tangan ke koridor di sisi kanan.
Aulia dan Venus pun melangkah meninggalkan kamar Apartemen milik Aulia. Sepanjang kaki melangkah, jantung Aulia terus berdetak kuat. Kedua tangan juga terasa dingin saat mengingat Andra melamar dirinya 4 hari yang lalu.
Lamaran dan pernikahan masih dianggap Aulia seperti sedang bermimpi. Walaupun Aulia merasa ini seperti mimpi. Aulia tidak pernah menyangka jika hari ini akan tiba. Saat sepasang kekasih saling mencintai harus bersatu dalam ikatan janji suci.
Dari kejauhan ada sepasang mata mengintai Aulia dan Venus dari kejauhan. Sepasang mata tampak terlihat tidak senang saat melihat Aulia terlihat bahagia.
.
.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
✨Di sisi Lain✨
Di tanah air sendiri, tepatnya di rumah tuan Agung dan Marsya. Terlihat beberapa orang sedang sibuk merapihkan barang-barang tak terpakai di. Dan ada juga beberapa orang mengangkat sebuah kotak hadiah menuju kamar Aulia. Sedangkan Marsya duduk santai bersama dengan Ningrum di ruang tamu. Terlihat perbincangan hangat dari Mertua dan calon besan.
"Marsya, apa kamu yakin ingin menikahkan Aulia dengan Andra?" tanya Ningrum masih tidak percaya.
"Kenapa aku tidak yakin. Andra sangat cocok buat Aulia. Bahkan Aulia juga sangat menyukai Andra," ucap Marsya santai.
"Maksudnya bukan itu, maksudnya adalah apa kamu yakin menikah kan putri semata wayang kamu yang terkenal dengan hidup lebih dari kami?" aku rasa jika di bandingkan pendapatan Andra yang sekarang, pendapatan Aulia masih jauh lebih be...."
Marsya mendekatkan jari telunjuknya ke bibir Ningrum, "Sst! aku tidak pernah menanamkan hal seperti itu kepada Aulia. Aulia itu adalah anak paling pekerja keras, dan anak yang cukup keras kepala dalam segala bidangnya," sela Aulia meluruskan dan mematahkan pikiran matre Ningrum.
Ningrum menundukkan sedikit pandangannya, "Maaf karena sudah berkata tentang Aulia dengan pikiran aku sendiri," ucap Ningrum merasa bersalah.
"Tidak masalah, asal tidak diulang kembali," shut Marsya santai.
"Mama Ningrum kenapa bisa ke sini? bukannya orang yang mau menikah di ladang datang ke rumah calon mempelainya?!" tanya Andra baru saja tiba, kedua tangan memegang bebek rantang kecil berisi bebek goreng dan bumbu hasil dari buatan Andra.
"Yang tidak boleh datang berkunjung itu kamu. Kalau para besan berjumpa itu sudah hal wajar, apa lagi anaknya akan mengerjai anak orang nantinya," sahut Marsya santai dengan kalimat terakhir penuh makna.
Andra mendekati Ningrum dengan kedua pipi memerah, tangan kanan memegang rantang mengulur, "Nih! aku pulang dulu Ma," ucap Andra malu, kedua kaki melangkah dengan cepat meninggalkan rumah Marsya.
"Kamu lihat Andra malu-malu," ucap Ningrum menatap kepergian Andra.
"Iya, mereka sangat menggemaskan. Bagaimana jika mereka nanti punya anak ya?" sahut Marsya mulai membayangkan Aulia akan hamil nantinya.
"Aku juga ingin membayangkan gimana gadis kecil ku dulu akan menjadi Ibu. Pasti wajah imutnya tidak kalah jauh berbeda imutnya dengan anak-anaknya nanti," sambung Ningrum ikut mengkhayal.
"Aah...indah hidup sebagai calon Nenek!" ucap Marsya dan Ningrum serentak.
Saat Ningrum dan Marsya masih saling mengkhayal tentang Aulia dan Andra. Terdengar suara, "Pagi menjelang siang semua!"
Marsya dan Ningrum saling menatap, dahi mereka mengerut seakan suara barusan mereka dengar adalah suara Aulia.
"Apa aku tadi tidak salah dengar?" tanya Ningrum.
"Aku malah tadi mendengar Aulia sedang menyapa kita."
Saat mendengar Marsya dan Ningrum tidak percaya kedatangan Aulia. Kedua kaki Aulia melangkah cepat, dan berhenti di depan Ningrum dan juga Marsya, "Ini aku loh. Laksmana Aulia!"
Bukannya merasa senang, Marsya dan Ningrum malah tertawa renyah, "Ha ha ha ha. Khayalan kita kenapa bisa senyata ini ya?!"
"Mama....Tante...ini aku Aulia loh!" sela Aulia menunjuk dirinya sendiri sembari memasang wajah cemberut.
Marsya dan Ningrum spontan berdiri, "Aulia!" ucap Ningrum dan Marsya serentak.
"Hem" dengus Aulia berbalik badan, kedua tangan di lipat di depan dada, "Kalian terus mengkhayal tentang ku, tapi kenapa kalian tidak mengingat wajahku!" sambung Aulia kesal.
"Ka-kamu sama siapa nak?" tanya Marsya melihat ke sekeliling ruangan hanya di penuhi para petugas reservasi.
"Venus!" ketus Aulia.
"Mana Venus?" tanya Marsya.
"Apa kamu sudah makan?" sambung Ningrum menunjukkan rantang.
"Venus ada di atas, dan aku belum makan," sahut Aulia sedikit melirik ke rantang di tangan kanan Ningrum.
"Kalau gitu mari kita makan," ucap Ningrum menggandeng tangan Aulia, "Kebetulan sekali Andra baru saja membawa masakannya," sambung Ningrum menunjukkan dengan jelas rantang di dalam tangannya.
"Jangan-jangan kalian berdua sudah janjian ya....ayo ngaku?" tanya Marsya sedikit bergurau.
"Nggak loh Ma...Tan," sahut Aulia dengan wajah masam.
Baru saja asik-asik bercanda, Venus dan Tarjok berlari ke arah Marsya, Ningrum, dan Aulia dengan wajah panik.
"Gawat!" ucap Tarjok dan juga Venus serentak.
"Kenapa? ada apa?" tanya Marsya panik.
"Iya, ada apa sayang?" tanya Ningrum.
"Wardhani (mantan Istri pertama tuan Agung)... lagi-lagi ia berhasil mengelabuhi pihak yang berwajib dengan beralasan meminum ra-cun. Tapi saat di bawa ke rumah sakit dan baru saja di tangani Dokter, Wardhani sudah kabur dengan membawa senjata api milik petugas," ucap Tarjok cemas.
"Kenapa kamu membuat para bidadari menjadi panik. Dan kenapa kamu mendadak seperti ini Tarjok?" sambung tuan Agung baru saja tiba.
Tarjok menundukkan wajahnya, tangan kanan mengepal di samping, "A-aku hanya tidak ingin wanita itu menyakiti nona muda Aulia. A-atau calon menantuku," ucap Tarjok mengingat jika Wardhani adalah wanita di atas Ratu Iblis.
"Kamu tenang saja. Kita akan tingkatkan keamanan sampai hari H mereka terlaksana. Dan kita juga akan mengurung mereka di dalam satu kamar agar mereka tidak ke mana-mana," sahut tuan Agung sedikit bercanda agar suasana tidak terasa tegang.
"Eh" bola mata Aulia membulat sempurna. Wajahnya mendadak merah, "Tapi kata Papa dan Mama tidak boleh," gumam Aulia malu-malu.
Cuit!!!
Marsya mencubit lembut pipi Aulia, "Ya memang tidak boleh. Papa kamu itu hanya bercanda sayang," ucap Marsya gemas.
"Sakit Ma," rengek manja Aulia.
"Kalau Papa serius gimana?"
"Eh"
...Bersambung...