
Setelah Aulia pergi bersama Venus. Sebuah mobil berwarna hitam berhenti tepat di parkiran kafe milik Andra.
Melihat ada pelanggan akan segera masuk, Joko dan Willy selaku koki khusus pembuatan minum khusus dari berbeda Negara langsung bersiap di depan meja khusus pembuat minum.
Kling!
Seorang pria memakai stelan jas rapih masuk ke dalam kafe.
Andra langsung berdiri, “Azzuri!” gumam Andra pelan saat melihat Azzuri masuk ke dalam kafe.
Azzuri mengulas senyum tipis di wajah tampannya, ia juga membuka jas miliknya dan menyelipkan di lengan kanannya. Azzuri membungkukkan sedikit tubuhnya, “Selamat sore, Andra,” sapa Azzuri lembut.
Andra meninggalkan meja kasirnya, dan menyapa Azzuri, “Selamat sore juga tuan muda Azzuri. Apakah Anda datang ke sini ingin menikmati kopi buatan dari dua koki terhebat milikku?”
Azzuri mengarahkan bola matanya ke sekeliling ruangan, “Tadi aku melihat mobil Venus mengarah ke sini. Tapi kenapa aku tidak melihat Aulia dan Venus di sini,” sahut Azzuri mengalihkan pembicaraan.
Andra mengarahkan tangannya ke meja nomor 3, “Silahkan duduk di sana. Dan Anda mau pesan kopi atau teh?” tanya Andra sopan.
“Katanya di sini kamu memiliki minuman, dan makanan dua rasa dari dua Negera. Aku mau mencoba minuman dan makanan yang kamu rekomendasikan saja,” sahut Azzuri.
Andra menaikkan tangannya, “Daniel,” panggil Andra ke pelayan sedang berdiri di depan meja minuman.
Sementara menunggu Daniel jalan. Andra mengarahkan tangannya dan mengajak Azzuri kembali duduk, “Mari kita duduk di sana dulu,” ajak Andra sopan.
“Baiklah,” sahut Azzuri mengikuti langkah kaki Andra menuju meja tersebut.
Azzuri dan Andra kini sudah duduk saling berhadapan. Layaknya seorang saingan, raut wajah mereka terlihat seperti hendak saling membunuh saat kedua bola mata saling memandang.
“Mau pesan apa tuan?” tanya Daniel memberikan menu makanan.
“Aku ingin mencoba satu jenis minuman dan makanan dari dua Negara yang sangat di rekomendasikan di sini,” ucap Azzuri.
“Baik. Kalau gitu silahkan di tunggu,” sahut Daniel.
Dua langkah kaki Daniel mundur ke belakang, kemudian meninggalkan meja Andra dan Azzuri.
Melihat Daniel sudah pergi dari meja mereka, Azzuri mulai mendekatkan wajahnya.
“Andra, seorang anak asuh dari Tarjok dan Ningrum. Kedua orang tua kamu meninggal saat berumur kurang lebih 3 bulan…” Azzuri menggeleng, “Kasihan,” sambung Azzuri.
Andra menarik nafas panjang, dan mengalirkannya keseluruh tubuh dan pikirannya. Berusaha untuk tetap tenang agar tidak membuat kekacauan di Negara orang lain.
Azzuri menyandarkan tubuhnya ke badan kursi, kedua tangan di lipat di depan dada, “Menarik nafas untuk tetap tenang. Jika emosi sudah memuncak lebih baik di keluarkan, jangan di pendam seperti itu,” ucap Azzuri.
“Jadi apa maksud dari tujuan Anda datang ke sini?” tanya Andra berusaha mengalihkan pembicaraan.
Jawaban terjeda saat Daniel datang menyuguhkan teh dan makanan ringan pesanan Azzuri.
“Permisi, ini minuman dan makanan ringan yang sangat di rekomendasikan di kafe ini,” ucap Daniel meletakkan makanan dan minuman dari dua Negara di atas meja.
“Terimakasih,” ucap Azzuri.
“Terimakasih dan silahkan kembali ke tempat kerja,” sambung Andra memberi perintah.
Daniel perlahan mundur satu langkah, kemudian berjalan kembali menuju tempatnya.
Azzuri dan Andra memulai percakapan mereka.
Azzuri mengambil kopi, dan menyeruputnya, “Sruup!” kemudian meletakkannya kembali.
“Apa Anda suka dengan sajian kopi ala Negeri kami?” tanya Andra.
“Oh” ucap Andra mengangguk.
Azzuri mengambil rokok dari dalam saku jas, dan menghidupkan rokok tersebut. Beberapa semburan asap rokok terlihat melambung ke udara. Setelah itu Azzuri mematikan rokok tersebut.
“Seorang anak asuh dari Tarjok, tangan kanan dari tuan Agung. Dan seorang pengusaha bebek menikahi anak kesayangan dari Presdir cukup Legend, paling terkenal hampir di seluruh dunia. Apakah kamu sudah menyadarkan diri sebelum menikah dengan Aulia?”
“Tentu saja aku sadar diri. Aku memang belum sekaya diri kamu, tapi aku yakin suatu saat aku pasti akan bisa seperti kamu dan lebih tinggi dari kamu!” sahut Andra menahan emosi.
“Kegigihan yang luar biasa. Kamu tahu judul novel apa yang cocok buat Aulia setelah menikah dengan kamu? Jika aku seorang penulis, mungkin aku akan membuat judul ‘CINTA MASA KECIL PRESDIR CANTIK’. Kenapa aku harus membuat judul seperti itu, karena aku akan membuat cinta kamu hanya menjadi kenangan cinta semasa kecil saja. Tragis ya?”
Andra menarik nafas panjang berulang kali agar hati dan pikirannya tetap tenang.
“Gerah ya?” tanya Azzuri.
“Aku tanya sekali lagi. Apa tujuan Anda datang ke sini?”
“Langsung saja keintinya. Aku ingin kalian berpisah. Soalnya kedua mataku merasa risih saat melihat kebahagian kalian berdua. Dan aku juga sangat tidak suka saat melihat bibir kamu terus tersenyum bersama Aulia. senyuman kamu membuat aku ingin membunuh... ka..mu!” ucap Azzuri di kalimat terakhir menekan dan terputus.
Bukannya marah atau emosi. Andra malah tertawa renyah, “Ha ha ha ha”
Brak!
Tidak senang mendengar suara tawa dari Andra, Azzuri langsung menggebrak meja. Azzuri juga berdiri dengan raut wajah suram memandang wajah Andra. melihat Andra tak kunjung berhenti tertawa, Azzuri mencengkram kemeja bagian depan Andra.
“Berhentilah tertawa, atau kamu akan kehilangan tawa itu untuk selamanya dari wajah kamu!”
“Coba saja,” ucap Andra santai.
Mendengar ucapan Andra, Azzuri semakin tersulut emosi. Ia mengularkan uang dari dalam dompet dan menaburnya ke atas langit lalu pergi meninggalkan kafe Andra.
Joko dan Willy saling mendekatkan wajahnya saat melihat pertengkaran sengit berakhir tenang.
“Apa kamu kenal dengan pria itu?” tanya Joko.
“Tentu saja aku kenal. Aku ‘kan sudah lama tinggal di sini. Pria itu adalah Presdir muda yang memiliki kekuasan paling kejam di kota ini. Dia adalah Azzuri Mahendra, bukan hanya tampan dia juga sangat licik, jahat, kejam. Uhhh…pokoknya dia paket komplit lah,” sahut Willy.
“Berarti dia adalah pria paling terkaya di kota ini selain nona muda Aulia, atau Istri Bos kita?” tanya Joko penasaran.
Willy melambai, “Tentu saja!” sahut Willy berbisik.
“Kedua orang tuanya juga pasti adalah orang cukup terkenal di sini hingga dia juga bisa kaya seperti itu,” ucap Joko menerka-nerka.
“Kamu benar kalau kedua orang tua Azzuri Mahendra adalah orang terkaya di Negara ini. Kalau di sandingkan mungkin bisa seperti tuan Agung. Tapi..”
“Tapi kenapa?” potong Joko penasaran.
“Ih, aku belum siap ngomong sudah kamu potong,” ucap Willy kesal.
“Iya maaf. Tapi kenapa?”
“Katanya kedua orang tuanya sudah meninggal dunia, tidak tahu jelas kematiannya itu gimana. Tapi yang jelas kuburannya itu ada.”
“Tinggal bilang sudah meninggal dunia aja ribet amat!” keluh Joko.
“Ihh..kamu itu tidak mengerti. Kedua orang tuanya Azzuri Mahendra tidak tahu meninggalnya itu karena apa. Matikah, atau bunuh diri, di bunuh, atau….” Willy menghentikan ucapannya, “Akh, sudahlah, nggak penting.”
"Ya sudah," sahut Joko.
...Bersambung...