Cinta Masa Kecil Presdir Cantik

Cinta Masa Kecil Presdir Cantik
BAB 92. Berhentilah


“Kalau aku jadi kamu, pasti aku tidak akan melakukannya,” ucap seorang pria dari belakang.


Andra melirik ke belakang, setelah mengetahui suara pria tersebut adalah Azzuri. Andra segera memasang wajah malas, “Mau apa kamu mengikuti kami?” tanya Andra datar.


“Tentu saja aku ingin melihat wanita yang aku sukai. Emang tidak boleh?”


“Terserah kamu saja,” ucap Andra malas.


Tidak ingin meladeni Azzuri, Andra melangkahkan kedua kakinya meninggalkan Azzuri.


Azzuri pun mengikuti langkah kaki Andra.


“Apa kamu tidak memiliki pekerjaan selain mengikuti kami?” tanya Andra sedikit melirik ke belakang.


“Ada. Inilah pekerjaanku, mengikuti kemanapun Aulia pergi,” sahut Azzuri.


Andra menghentikan langkah kakinya tak jauh dari Menara Eiffel dan tak jauh dari Aulia dan 9 karyawan sedang sibuk berselfie ria.


Azzuri juga menghentikan langkah kakinya tempat di samping Andra.


“Apa kamu tahu gimana rasanya cinta bertepuk sebelah tangan?” tanya Azzuri.


“Maaf, mungkin nasib cintaku tidak sama seperti kamu!”


“Justru nasib cinta kamu tidak sama denganku, makanya aku akan membuat kamu merasakan sama seperti aku suatu hari nanti.”


“Silahkan, aku tidak keberatan,” sahut Andra santai.


“Kamu sangat tenang, apa kamu tidak takut kehilangan seseorang yang kamu sayangi suatu hari nanti?”


“Buat apa aku gelisah hanya untuk memikirkan rahasia Allah. Hidup itu lebih bagus dan baik di jalani bukan dipikirkan dan dipaksakan.”


“Kamu memang benar. Tapi apa kamu pernah merasakan gimana rasanya kamu diasingkan oleh banyak orang. Dan apa kamu pernah merasakan gimana rasanya bertahan hidup dan berdiri di tengah-tengah keputusasaan. Pasti kamu tidak pernah merasa kan hal tersebuta bukan?”


“Aku memang tidak pernah merasakan hal seperti itu, karena aku tumbuh dan dibesarkan oleh kasih sayang dan semua saran yang baik. Jadi maaf, aku tidak bisa memahami semua perasaan kamu.”


“Justru aku ingin kamu merasakan hal yang sama. Kamu tahu apa yang paling aku benci terhadap orang lain seperti kamu?” tanya Azzuri.


“Maaf, sepertinya aku tidak tertarik mendengar cerita kamu,” sahut Andra datar.


Sambil meladeni Azzuri berbicara, tangan Andra dan bibirnya sesekali tersenyum kepada Aulia.


“Ck, sudah orang miskin tapi tetap berlagak sok berwibawa.”


“Iya, aku memang lebih miskin dari kamu. Tapi aku tidak kaya karena hasil merampas hak orang lain,” ucap Andra.


Azzuri menudukkan kepalanya, sudut bibirnya mengulas senyum tipis, dan berkata, “Tiga hal yang aku benci dari manusia seperti kamu. Hal itu adalah kebahagian, kesempurna dan senyum saat melihat kamu menyapa seseorang yang kamu sukai. Dan ketiga kesempurnaan ini akan aku renggut dari diri kamu, dan membuat kamu menjadi pria kesepian dan hampa!”


Andra mendekatkan wajahnya, “Aku tunggu. Aku tunggu semua permainan buruk kamu. Tapi satu hal yang ingin aku katakan ke kamu. Jangan pernah coba-coba kamu merusak kebahagian dan merenggut senyum Aulia dari wajahnya. Jika itu terjadi, maka aku tidak akan segan-segan melakukan hal buruk untuk-mu!” ucap Andra menekan nada suaranya.


Azzuri membalas tatapan Andra, “Tentu saja aku tidak akan menghilangkan semua kebahagiaan itu dari Aulia. Justru aku akan menambah kebahagiaan itu untuknya,” sahut Azzuri.


Di tengah-tenga ketegangan Azzuri dan Andra. Terlihat dari kejauhan seorang pria lebih tua dari mereka dengan memakai jaket kulit, dan kaca mata hitam mendekati Aulia. Pria itu juga terlihat sedang menggenggam tangan Aulia dan membawa Aulia sedikit menjauh dari 9 karyawannya.


Tidak ingin terjadi hal buruk menimpa Aulia. Azzuri dan Andra segera berlari mendekati Aulia, kini sedang berdiri bergandeng tangan sambil membelakangi Azzuri dan Andra.


Begitu kedua kaki sampai di dekat pria tersebut, Andra menahan bahu, dan memutar pria tersebut, dan satu kepalan tinju melayang.


Bam!


“Andra!” ucap Aulia.


Melihat pria tersebut terjatuh. Aulia langsung membantu pria tersebut untuk berdiri. Tatapan tidak suka terlihat jelas saat menatap wajah Andra.


“Kenapa kamu kasar sekali?”


“Siapa pria ini! dan kenapa kamu mau bergandeng tangan sangat mesra dengannya?” tanya Andra meninggikan nada suaranya.


“Ternyata mata kalian berdua jeli juga. Aku pikir kalian tidak bisa melihat perbuatanku karena kalian berdua asik berdebat membicarakan hal yang tak mungkin bisa di gapai,” ucap pria tersebut.


“Kamu siapa?” tanya Azzuri.


Pria tersebut melepaskan kaca matanya, “Aku, tuan muda Alexdian. Masa kamu tidak tanda denganku!”


Melihat itu adalah tuan muda Alexdian. Andra langsung membungkukkan sedikit tubuhnya, “Maafkan atas kesalahpahaman ku,” ucap Andra tulus.


Tuan muda Alexdian menepuk punggung Andra, “Tidak masalah. Sebagai seorang suami memang seharusnya siaga. Dan jangan berikan sedikit celah untuk orang lain, termasuk buat Azzuri Mahendra,” ucap tuan muda Alexdian menyindir Azzuri.


“Apa maksud Anda?” tanya Azzuri terdengar tidak senang.


Tuan muda Alexdian berdiri menghadap Azzuri, “Apa kamu tahu julukan apa yang cocok buat kamu?”


“Tidak, dan aku juga tidak mau tahu!”


“Kalau begitu berhentilah untuk terus mengejar Aulia. Karena semua perbuatan kamu akan berujung sia-sia nantinya. Daripada kamu kecewa dan berujung jomblo seperti ku untuk seumur hidup. Maka lebih baik hentikanlah rasa itu.”


“Aku tidak seperti kamu. Jika aku sudah menginginkan hal itu, maka aku harus mendapatkannya. Sampai kapan pun aku akan merebut Aulia dari Suaminya yang miskin ini!” tegas Azzuri.


“Ha ha ha. Gairah anak muda zaman sekarang memang sangat lebih menggila,” ucap tuan muda Alexdian dengan tawa renyah.


Merasa takut setelah mendengar ucapan Azzuri, Aulia langsung bersembunyi di balik tubuh Andra. Kedua bola mata indahnya sesekali melirik ke Azzuri.


Melihat Aulia beraut wajah ketakutan. Tuan muda Alexdian mendekatkan bibirnya ke daun telinga Azzuri, dan berbisik, “Apa kamu tidak kasihan melihat Aulia terlihat ketakutan saat melihat kamu. Jika kamu mencintainya, maka ubahlah sikap kamu. Aku tahu bagaimana rasanya ketika kita sudah mencintai milik orang lain maka akan lebih sulit melepaskannya, daripada mencintai anak gadis. Tapi asal kamu tahu. Sedikit menjauh demi ketenangan dan kebahagiaan orang yang kamu cintai akan jauh lebih baik daripada kamu terus memaksakan perasaan kamu ini. Jika kamu masih ingin melihat Aulia menatap ke arah kamu. Maka sedikit menjauh lah dari hidupnya.”


Sejenak Azzuri memutar bola matanya ke Aulia sedang bersembunyi di belakang tubuh Andra. Setelah memastikan jika ucapan tuan muda Alexdian benar, Azzuri langsung berbalik badan. Azzuri langsung pergi tanpa mengucapkan sepatah kata apa pun kepada Aulia, Andra, dan tuan muda Alexdian.


Melihat Azzuri sudah pergi menjauh, Andra langsung berbalik badan.


“Dia sudah pergi, dan kamu tidak perlu takut lagi,” ucap Andra lembut.


“Kalau gitu aku pergi dulu,” pamit tuan muda Alexdian.


“Terimakasih atas bantuan Anda tuan,” ucap Andra.


Tuan muda Alexdian melirik sedikit ke belakang, ia juga memberi senyum manis buat Aulia dan Andra.


“Tidak perlu berterimakasih kepadaku. Karena sebenarnya aku juga sama seperti Azzuri. Aku masih menunggu Marsya menjadi milikku. Dan aku di sini hanya menjaga Aulia karena aku sangat yakin suatu saat aku akan menjadi Papa sambungnya. Kalau gitu aku pamit dulu,” sahut tuan muda Alexdian.


Andra menghela nafas panjang, “Fyuh! Sama saja rupanya,” gumam Andra pelan.


" Aku harap itu tidak akan terjadi," ucap Aulia pelan.


...Bersambung ...