Cinta Masa Kecil Presdir Cantik

Cinta Masa Kecil Presdir Cantik
Bab 09. Aku titipkan Aulia bersama kalian.


Pukul 00:20 tengah malam.


“Aulia. Aulia.”


Terdengar suara Andra dengan lembut memanggil Aulia..


“Hem.”


Aulia segera bangun. Aulia akui mempunyai usaha seperti Andra ternyata tidaklah mudah seperti bayangan Aulia. Walau hanya memiliki usaha melayani pembeli dan menggoreng bebek, ternyata itu semua sangat membuat Aulia lelah. Di tambah Aulia tak pernah melakukan hal seperti ini.


Andra duduk berhadapan dengan Aulia, “Capek?” tanya Andra lembut.


Aulia mengangguk.


“Karena sudah tengah malam dan semua dagangan milikku sudah habis, mari kita segera pulang," ucap Andra mengajak Aulia pulang.


“Ha! Sudah habis.”


“Ia,” Andra mengulurkan tangan kanannya, “Mari kita pulang," ajak Andra lembut kepada Aulia.


“Ia.”


Aulia menerima uluran tangan Andra. Bibir tersenyum manis saat tangan kanan di pegang lembut oleh Andra. Pria idaman dan cinta masa kecil, sekaligus cinta pertama Aulia.


Aulia dan Andra berjalan keluar dari warung. Sambil menunggu Andra mengunci warung, Aulia memutuskan untuk menunggu Andra di sepeda motor sudah terparkir di dekat tepian jalan.


Tin…tin.


Klakson mobil milik tuan Agung terhenti tepat di sebrang jalan.


Pintu kaca mobil perlahan turun, terlihat wajah tuan Agung dan Marsya dari dalam mobil.


“Aulia. Apa kalian berdua baik-baik saja?” tanya tuan Agung sedikit meninggikan nada suaranya dari sebrang jalan.


“Kami baik-baik saja. Maaf sudah membuat Om dan tante kuatir. Aku baru saja ingin mengantarkan Aulia pulang,” sahut Andra baru saja tiba.


‘Manis sekali pria satu ini. Bagaimana aku tidak jatuh cinta dengan dirinya,' batin Aulia.


Melihat Aulia senyum-senyum sendiri dari dalam mobil. Marsya mencolek bahu kiri tuan Agung, “Pa. Coba kamu perhatikan sikap putri kamu terlihat yang terlihat centil. Dia nurun siap sih, Pa!"


“Nurun Papa lah. Masa nurun Mama.”


Taun Agung menjawab pertanyaan Marsya. Tapi bibir tersenyum manis kepada Aulia dan Andra.


Tuan Agung melambaikan tangan kanannya, “Kalau begitu Papa dan Mama pergi dulu karena ada urusan mendesak dan kamu Andra tolong temani Aulia di rumah sampai besok sore, sebab Venus sedang kelelahan dan sudah tertidur di kamar.”


“Baik Om. Om dan tante hati-hati di jalan,” sahut Andra terdengar tegas.


Tin.


Sahut tuan Agung dengan klakson mobil sudah dilajukan menuju pusat kota ke arah Bandung.


“Mama dan Papa kenapa pergi ke sana? Ada apa di kota Bandung dan kenapa berangkat di saat tengah malam seperti ini," gumam Aulia sendiri.


“Bukannya sudah biasa seperti itu, perjalanan bisnis saat ingin bertemu dengan klien baru,” sahut Andra sudah naik di sepeda motor miliknya.


“Iya juga ya.”


Andra menepuk bangku belakang, “Cepat naik. Aku tak ingin kamu terkena angin malam terlalu lama.”


“Baik!" Aulia segera naik. Kedua bola mata perlahan turun menatap pinggul kekar milik Andra dari belakang, ‘Haruskah aku memeluknya?' batin Aulia.


“Jangan di lihat. Peluk saja, bukannya pinggulku ini tempat kamu berpegangan saat mengendarai sepeda motor denganku!" ucap Andra seperti mengetahui isi Aulia.


“Eh. Bukan…” sahut Aulia kaku.


Kedua tangan Andra menarik kedua tangan Aulia, meletakkan kedua tangan tepat di depan perut berotot miliknya.


“Sudah jangan sungkan-sungkan.”


Wajah Aulia langsung berubah menjadi merah seperti buah tomat.


“Siap?" tanya Andra.


“Hem.”


Andra melajukan sepeda motor miliknya sangat kencang menuju jalan rumah Aulia. Hanya dalam waktu 20 menit sepeda motor Andra sudah sampai di halaman rumah Aulia.


**Di sisi lain.**


Mobil dinaiki tuan Agung dan Marsya terus melaju kencang. Saat mobil terus melaju, ada 2 mobil dari simpang tiga mengikuti mobil tuan Agung.


“Apakah Mama sudah siap?" tanya tuan Agung datar.


“Sudah Pa. Tapi sebelum memulai adegan berbahaya ini, Mama mau menitipkan Aulia bersama Tarjok dan Ningrum.”


“Lakukan dengan segera, karena kita tidak punya waktu banyak," sahut tuan Agung.


Tuan Agung pun menambah kecepatan laju mobil milik mereka.


Marsya terus mengetik pesan singkat kepada Ningrum dan juga Tarjok.


Isi pesan Mama.


{ Maaf sebelumnya kami tidak mengajak kalian berdua terutama kamu, Tarjok. Karena klien meminta jumpa pagi hari, suami saya tuan Agung Laksmana tidak ingin mengganggu waktu tidur kamu dan malam indah kamu dengan Ningrum. Jadi, kami memutuskan untuk pergi berdua saja menuju kota Bandung. Tapi saat kami sedang keluar dari kota kita menuju kota Bandung, mobil kami di ikuti oleh dua mobil kijang berwarna hitam liris kuning dan Avanza berwarna merah. Jika sampai besok malam kami belum kembali, tolong rawat dan jaga Aulia dengan benar. }


Marsya menyimpan ponsel miliknya ke dalam dompet kecil.


Jari jempol tangan kanan mengarah ke tuan Agung,“Sudah selesai.”


Tuan Agung terus melajukan kecepatan mobilnya dengan sangat kencang. Saat berjumpa di perempatan jalan, tiba-tiba melaju truk panjang menghadang jalan mobil Tuan Agung dan Marsya.


“Sial. Siapa mereka sebenarnya!"


Taun Agung membanting stir. Saat hendak mengelak ada sebuah truk tiba-tiba menyelinap masuk. Dan terjadi dentuman keras.


Brak.


Kaca spion mobil sebelah kanan menyenggol depan mobil truk yang menghadang jalan.


“Papa. Kenapa Mama merasa sangat takut sekali! Kita seperti sedang dalam sinetron kejar-kejaran tentang Mafia dan musuhnya.”


Marsya menolehkan pandangannya ke belakang, melihat mobil truk panjang sudah mendekati mobil mereka.


“Papa tahu ini semua ulah siapa. Mama tenang saja, yang terpenting di dunia ini Aulia. Putri semata wayang kita yang baru beranjak dewasa," sahut tuan Agung sesekali menolehkan wajahnya ke arah Marsya.


Tangan kiri tuan Agung memegang tangan kanan Marsya, “Tenanglah Ma. Putri kita sudah aman bersama dengan orang-orang yang tepat,” ucap tuan Agung tenang.


“Iya. Pa. Jadi siapa pelaku dari semua kejahatan ini, Pa?”


Tuan Agung menolehkan wajahnya, dan menatap Marsya serius, “Dalangnya adalah..”


“Papa. Awas!" teriak Marsya. Kedua mata disinari lampu mobil truk panjang.


Braaakkkk!!!!


Hantaman kerak pun terjadi.


“Akkhh!"


Mobil milik tuan Agung dan Marsya kini berguling bebas di jalan raya.


Karena tabrakan cukup kuat hingga menyebabkan mobil berguling bebas di jalan raya. Membuat wajah serta tubuh tuan Agung dan Marsya mengalami luka serius. Sambil bergandengan tangan perlahan tuan Agung dan Marsya saling berucap.


“Pa. Maafkan Mama," ucap Marsya lemah.


“Papa juga.”


Setelah mobil dinaiki tuan Agung dan Marsya terhenti berguling. Mobil kijang dan Avanza mendekati mobil Marsya dan tuan Agung kini dengan posisi terbalik.


Dari mobil Avanza keluar wanita yang memakai masker hitam dan topi berwarna hitam, wanita tersebut berjalan mendekati mobil Papa dan Mama. Ia berjongkok, kepala sedikit miring ke kanan, perlahan ia mengangkat masker hitam dari wajahnya.


“Selamat tinggal. Semoga kamu di tempatkan di Neraka.”


Terdengar wanita tersebut berbicara pelan dan lembut.