
Setelah Andra dinyatakan meninggal dunia akibat terkena Penyakit jantung Iskemik. Ningrum dan Tarjok menginginkan jasad Andra di kebumikan di samping kuburan mendiang Kakeknya di tanah air.
Setelah dilakukan pemandian di rumah sakit. Jasad Andra, Aulia dan Venus terbang dengan pesawat sudah di pesan khusus oleh tuan Agung untuk kembali ke tanah air.
2 jam kemudian peti jenazah sudah sampai ke tanah air, tepatnya di kediaman rumah Ningrum dan Tarjok. Isak-tangis Marsya dan Ningrum kini pecah saat membuka peti jenazah dan melihat wajah tampan itu tersenyum dengan bahagia.
“Hiks…hiks..hiks!” tangis Marsya dan Ningrum di depan peti jenazah Andra.
Sedangkan Aulia, ia hanya bisa terduduk seperti orang linglung seakan tak percaya jika Andra telah pergi meninggalkannya untuk selamanya.
Kedua kelopak mata Aulia teringat dengan senda-tawa Andra tadi pagi sebelum dirinya berangkat pergi rapat. Semua kenangan itu masih Aulia ingat jelas di kedua kelopak matanya, saat Andra masih bisa menyempatkan diri untuk memasak sarapan pagi untuknya dan juga Venus.
.
#KENANGAN AULIA
Mengingat Aulia akan pergi pukul 08:30 pagi karena akan melakukan rapat penting mengenai pementasan akan dilangsungkan di akhir tahun ini. Andra sudah bangun terlebih dahulu.
Sebelum turun ke bawah Andra berpamitan kepada Aulia sedang mandi.
“Aulia, turun duluan karena aku mau menyiapkan sarapan. Dan kamu harus cepat-cepat turun agar sarapannya tidak merajuk sama kamu!” ucap Andra sedikit meninggikan nada suara karena air kran Aulia mengalir cukup deras.
“Okay,” sahut Aulia ikut meninggikan nada suaranya.
Hampir 30 menit bersiap-siap, Aulia kini melangkah pergi ke luar dari dalam kamar menuju dapur. Sesampainya di dapur Aulia melihat Andra terlihat begitu bahagia menyajikan sarapan di atas meja.
“Kenapa kamu terlihat senang?” tanya Aulia.
“Tidak tahu, rasanya aku senang saja. Apa lagi mengingat kita akan berjuang kembali untuk mendapatkan anak di bulan ini,” sahut Andra semangat.
“Gimana kalau kita gagal lagi?” tanya Aulia.
“Tidak masalah. Selagi kita masih terus bersama, maka aku akan mengajak kamu berjuang sampai kita mendapatkannya!” tegas Andra.
“Apa kamu tidak takut kecewa lagi kepadaku?”
“Kenapa aku harus kecewa. Bukannya aku…akh..”
Mendadak Andra menghentikan ucapannya. Tubuhnya pun sedikit tertunduk dengan tangan menggenggam erat dada bagian kirinya.
Merasa kuatir dengan Andra, Aulia segera berjalan mendekati Andra.
“Ka-kamu sakit?” tanya Aulia cemas.
Bukannya menjawab, Andra malah memberikan senyum manis di raut wajah pucat nya.
“Kenapa nona muda?” tanya Venus baru saja tiba.
“Sepertinya Andra sakit. Gimana kita tunda saja rapatnya, dan kita bawa Andra untuk memeriksa diri ke Dokter?”
Mendengar akan di bawa ke rumah sakit, dan rapat juga akan di tunda. Andra langsung berdiri tegap, ia juga menunjukkan otot di kedua lengannya.
“Kalian tidak perlu kuatir seperti itu. Aku ini adalah pria yang sehat, dan aku juga pria yang kuat untuk melindungi diriku sendiri dan kamu, Aulia.”
“Benarkah itu?” tanya Aulia cemas.
Andra mengangguk, “Tentu saja.”
.
💫#KENANGAN TERHENTI💫
.
Melihat Aulia seperti patung di depan peti jenazah Andra. Tuan Agung, Marsya, Ningrum, dan Tarjok segera mendekati Aulia.
Tuan Agung menarik tubuh Aulia masuk dalam pelukannya, tangan kanan mengelus puncak kepala Aulia.
“Putriku sadarlah. Jika kamu terus menjadi patung seperti ini, Andra pasti akan marah di sana,” ucap tuan Agung lembut.
Deg!
“Andra..Andra..Andra. Kenapa kamu tega meninggalkan aku. Bukankah kamu sudah berjanji untuk selalu berjuang bersamaku. Dan kamu juga pernah berkata jika hanya maut yang bisa memisahkan kita berdua. Tapi, tapi kenapa hanya kamu saja yang dijemput oleh maut. Kenapa aku tidak ikut bersama kamu. Kenapa? Kenapa? Kenapa?!”
Mendengar Aulia menangis dan berteriak histeris. Marsya dan Ningrum mendekati Aulia, mereka berdua juga memeluk erat Aulia.
“Sayang, kamu….”
Aulia segera menepis pelukan Marsya dan Ningrum. Tidak terima melihat jasad Andra terus berdiam diri di dalam peti mati. Aulia membawa kedua kakinya berjalan sedikit mendekati peti jenazah. Aulia memasukkan sedikit tubuhnya, dan menggoyangkan tubuh kaku Andra.
“Bangun Andra…bangun! Aku lapar, aku belum makan siang. Biasanya kamu selalu membuatkan dan membawa bekal makan siang untukku ke kantor. Bangun Andra..bangun…hiks..hiks!”
Melihat putri kesayangannya sangat terpukul tuan Agung mendekati Aulia, dan duduk di sampingnya.
“Aulia, ketika menikah hal yang paling menyakitkan di dunia ini hanya ada dua. Pertama kita ditinggal pergi oleh pasangan karena selingkuh. Dan kedua, kita ditinggal pergi oleh pasangan kita dengan kematian. Tapi kamu mau tahu hal paling apa yang paling menyakitkan saat kita berumah tangga?”
Tangisan Aulia terhenti sejenak, sambil sesenggukan ia menoleh ke tuan Agung.
“Hal apa itu Pa?”
“Hal yang paling menyakitkan dan hampir membuat kita bunuh diri setelah menikah adalah melihat pasangan kita bermesraan dengan orang lain di belakang kita. Jika dia meninggal dunia kita masih bisa bertemu dengannya di surga. Tapi jika dia meninggalkan kita karena berselingkuh, kita akan sering bertemu dengan dirinya bermesraan di depan kita tanpa rasa malu, tanpa memikirkan rasa sakit hati kita,” sahut tuan Agung.
Aulia memutar bola matanya menatap jasad Andra di dalam peti.
“Jadi jika Allah menjemput ku, berarti aku bisa bertemu dengan Andra di Surga nantinya?” tanya Aulia polos.
“Tentu. Dan satu lagi, jika kamu menangis seperti ini. Papa sangat yakin jika Andra juga akan menangis di sana. Apa kamu ingin melihat Andra menangis?” tanya tuan Agung.
Aulia menggeleng.
“Apa kamu masih ingin marah dengan takdir Allah, karena Allah lebih sayang dan lebih dulu menjemput Andra daripada kamu?” tanya tuan Agung.
Aulia kembali menatap wajah tuan Agung, “Kalau aku menyusul Andra dengan cara membuat aku sakit. Apa Andra akan marah kepadaku?” tanya Aulia polos.
Deg!
Mendengar pertanyaan Aulia. Aliran darah Ningrum, Tarjok, Marsya dan tuan Agung seakan terhenti sejenak.
Tidak ingin membuat suasana semakin suram. Tuan Agung langsung memecah keheningan dengan berpura-pura tertawa.
“Ha ha ha”
“Kenapa Papa tertawa?” tanya Aulia bingung.
Bukannya memarahi atau membentak Aulia setelah mendengar kejujuran Aulia. Tuan Agung malah mencubit kedua pipi tembem putrinya.
“Kamu pikir Allah mau mencabut nyawa kamu karena kamu membuat diri kamu sendiri sakit? Apa kamu pikir Allah juga akan sudi menyatukan kamu untuk bertemu dengan Andra di akhirat!” tuan Agung mendekatkan wajahnya, “Kamu tahu tempat apa yang paling tepat untuk manusia yang merencanakan mengakhiri hidupnya?”
Aulia menggeleng.
“Tempat itu adalah Neraka Jahannam. Tempat penyiksaan buat orang-orang yang tahunya mengeluh, dan menuntaskan keluhannya dengan cara menyiksa dirinya berharap dirinya akan meninggal dengan cara yang tenang. Apa kamu ingin seluruh tubuh kamu nanti di siksa dengan Api neraka. Kemudian kamu juga akan di cam….”
Melihat tuan Agung terus mencegah Aulia menangis dengan cara menakuti putri kesayangannya. Marsya langsung sigap mendekati tuan Agung dan langsung mencubit bagian paha tuan Agung.
Cuit!
“Aah..duh…duh. Sakit!” rengek tuan Agung mengelus pahanya.
“Kemudian aku akan di cam..apa Pa?” tanya Aulia penasaran.
“Sudah jangan pikirkan ucapan Papa kamu. Sekarang mari kita pergi mengantar jasad Andra ketempat peristirahatan terakhir,” sambung Marsya.
“Iya, mari kita antar jasad Andra agar dia bisa tidur dengan layak di sisi Allah,” ucap Ningrum memegang kedua bahu Aulia dari belakang.
"Hem" sahut Aulia mengangguk.
...Bersambung...