Cinta Masa Kecil Presdir Cantik

Cinta Masa Kecil Presdir Cantik
BAB 29. Jangan Mimpi Anda!


"Ternyata nona muda juga suka dengan karya rancangan ku,” ucap Azzuri bangga.


“Jangan mimpi Anda!” Aulia berdiri, “Anda tunggu di sini, aku akan segera menghubungi Venus untuk mengurus tentang permintaan yang Anda inginkan!” Aulia melangkah pergi meninggalkan Azzuri dan Jack.”


Baru saja ingin menghubungi Venus, Venus sudah sampai di depan pintu. Venus membuka sepatu pansus nya, mengganti dengan sendal rumah, “Maaf sudah membu-” ucap Venus terhenti saat melihat Azzuri melambaikan tangan kanan dengan bibir tersenyum manis.


“Venus!” Aulia mempercepat langkah kakinya mendekati Venus. Aulia mengarahkan tangan kanannya ke belakang, tepat ke ruang tamu, “Lihat Azzuri tidak percaya kepadaku!” tangan kanan mengarah ke bunga pemberian Azzuri sudah rata dengan lantai, “Dia juga memberikan aku bunga, seolah-olah aku baru saja mati,” rengek Aulia kepada Venus.


Venus menundukkan tubuhnya, “Maaf sudah membuat nona muda mengalami masalah ini sendiri,” tangan kanan Venus mengarah ke sofa ruang tamu, “Karena tuan muda Azzuri sudah datang, maka sekalian saja kita bahas. Mari nona muda juga ikut duduk di sana,” ajak Venus sopan.


Sambil melangkah Aulia berbisik, “Tapi aku tidak mau bekerjasama dengan dia, Venus.”


“Nona muda sudah tidak bisa menghindar lagi. Kita turuti semua keinginannya agar nona muda cepat terhindar dari manusia seperti dia,” sahut Venus ikut berbisik.


Aulia pun akhirnya duduk kembali di sofa kecil.


Venus berdiri di samping Azzuri sambil memberikan beberapa sampel perhiasan model baru, “Ini adalah sampel perhiasan model baru yang akan di pertunjukan di akhir tahun nanti. Jika tuan muda bersedia, maka salah satu sampel tidak akan kami pertunjukan saat kami sedang mengadakan promosi. Perhiasan ini hanya akan di tampilkan di tempat Anda, dan selamanya juga akan menjadi hak milik dari perusahaan Anda.”


Azzuri mengambil salah satu sampel berbetuk gelang tangan, “Aku ingin butir-butiran perhiasaan mewah itu menjadi gelang tangan. Dan aku hanya ingin satu wanita yang memakai baju rancangan ku, serta gelang tangan ini!” Azzuri melirik sedikit ke Aulia, “Apa kamu suka….sayang?”


“Mau melakukan kontrak kerja sama atau Anda ingin keluar dari Apartemen ku!” ancam Aulia serius, tangan kiri mengarah ke pintu.


Azzuri berdiri, “Baiklah. Karena semua sudah sesuai dengan yang aku inginkan, maka kami pamit pergi,” Azzuri mendekati Aulia. Tubuh sedikit membungkuk, membuat wajah mereka saling bertatap muka, “Aku sudah tidak sabar untuk menunggu tamu undangan spesial menghadiri pertunjukan ku.”


“Maaf tuan muda,” Venus meletakkan telapak tangannya di tengah-tengah wajah antara Aulia dan Azzuri, “Sebaiknya beri jarak 1 langkah dari nona muda, agar Anda tidak tertular penyakit yang sedang di derita nona muda,” ucap Venus menakuti Azzuri.


Azzuri berdiri tegak, kedua tangan merapihkan jas miliknya, “Semua benda di seluruh Dunia ini saja bisa aku beli, apa lagi hanya Virus kecil,” sahut Azzuri sombong. Tangan kanan Azzuri melambai, “Ayo Jack. Kita harus segera pergi sebelum kita di usir oleh gadis cantik yang dingin ini.”


Venus ikut mengantar Azzuri dan Jack menuju pintu. Walaupun Venus tahu ada rencana besar di balik kedekatan Azzuri kepada Aulia, tapi Venus dan tuan Agung tidak bisa melakukan apa pun kecuali semua rencana Azzuri perlahan terungkap. Tuan Agung juga tidak bisa berbuat apa pun karena Aulia sedang berada di Negeri orang dan lahan kekuasan milik Azzuri. Tuan Agung hanya bisa memantau putri kesayangannya dari jarak jauh melalui rekaman CCTV tersembunyi, dan bekerjasama dengan Venus. Jika ada hal ganjil mencurigakan dan tidak bisa dipantau hanya dalam CCTV, di situ tuan Agung akan segera bertindak.


Aulia beranjak pergi dari sofa, bibirnya terus menggerutu kesal, “Dasar Predator langkah. Baru kali ini aku melihat seorang pria seteguh itu dalam melakukan apa pun. Aku harus berbuat apa pun agar Predator itu tidak terus mengganggu…..haa..hacuh!”


‘Benar kata tuan Agung, ternyata tuan muda Azzuri benar-benar tidak pantang menyerah sebelum mendapatkan incarannya. Kasihan nona muda, baru saja selesai masalah yang satu, sudah timbul masalah baru. Seperti ini rupanya jika kita hidup sebagai seorang pengusaha yang di kenal banyak orang. Banyak musuh tanpa pandang bulu, banyak juga orang mengaku kerabat.’


Venus segera mengambil benda pipih miliknya, mengirim pesan singkat kepada tuan Agung. Setelah pesan singkat terkirim, Venus melangkah pergi menuju kamar Aulia.


.


.


💫PT. JAYA💫


Tuan Agung sedang berdiri menghadap kaca besar langsung tertuju pada pemandangan Ibukota. Tuan Agung mengepal tangannya dan memukul sebanyak tiga kali ke kaca tebal tersebut.


Bam! Bam!! Bam!!


Tuan Agung berbalik badan, “Satu-persatu musuh mulai menampakkan dirinya. Dan kenapa Aulia menjadi incaran dari mereka semua. Rasanya aku pingin murka seperti dulu, tapi karena aku harus menjadi contoh yang baik bagi putriku, aku harus membalas mereka dengan cara yang halus,” keluh tuan Agung mengingat sewaktu dia muda dulu selalu menjatuhkan lawannya dengan cara kejam.


“Aku yakin Aulia tidak selemah itu. Buktinya setiap kita melihat rekaman CCTV, dirinya selalu berbuat kasar dan tidak memperdulikan apa pun.”


“Kamu memang benar, tapi kali ini berbeda. Kamu tahu Azzuri Mahendra bukan?


“Tahu,” sahut Tarjok mengangguk.


Tuan Agung memijat pelipisnya, “Aku berharap Aulia akan terus terjaga, dan rencanaku untuk menikahkan Aulia dengan Andra tidak terhalang dengan perbuatan orang lain.”


“Kenapa tuan bersikeras untuk menikahkan Aulia dengan Andra?” tanya Tarjok penasaran.


“Kenapa kamu dulu bersikeras menikahi Ningrum, walau kamu belum pasti tahu kebenaran sesungguhnya?” balas tuan Agung mengungkit masa lalu tentang kegalauan Tarjok saat ingin menikahi Ningrum.


Tarjok mengangkat kedua tangannya setinggi langit, bibir tertawa pelan, “Ampun. Siapa pun yang berdebat dengan tuan Agung pasti kalah. Tuan Agung tiada tandingannya.”


Tuan Agung mengulas senyum tipis, “Kamu salah, hanya ada dua orang yang mampu mengalahkan aku di muka Bumi ini. Pertama Istriku, kedua Aulia.”


“Eh, kenapa ada pembahasan tentang Istri di sini?” tanya Marsya baru saja melangkahkan kaki kanannya masuk ke dalam ruangan tuan Agung. Kedua tangan memegang rantang.


“Kata tuan….”


“STOP! Apa kamu ingin aku pindah tugaskan?”


“Tidak! Aku tidak bisa jauh-jauh dari Ningrum,” sahut Tarjok mengangkat kedua tangannya setinggi bahu.


“Kamu sudah makan?” tanya Aulia, kedua tangan membuka rantang berisi lauk-pauk, dan nasi putih.


Tarjok segera berjalan mendekati meja tuan Agung, senyum manis menatap Marsya dan juga tuan Agung, “Tidak perlu repot-repot, saya lebih suka makan masakan istri tercinta,” Tarjok mengelus sedikit perut buncitnya, “Perutku yang dulu langsing dan kotak-kotak kini berubah menjadi balon.”


“Siapa juga yang mengizinkan kamu makan masakan Istriku!” tuan Agung mengarahkan jari telunjuk tangan kanannya ke pintu, “Pergi sana pulang. Jangan biarkan Ningrum makan siang sendirian di rumah.”


“Dengan senang hati,” Tarjok segera memacu kedua kakinya dengan cepat meninggalkan ruangan tuan Agung.


Melihat Tarjok sudah hilang dari pandangan, tuan Agung menarik Marsya. Kini Istrinya sudah duduk di atas pangkuannya. Tuan Agung memegang dagu Marsya, “Kasih aku vitamin sebelum kita makan.”


"Malu ah, Pa!"


Saat tuan Agung ingin mencium Marsya, Tarjok kembali masuk tanpa mengetuk pintu. Dengan stel bodoh dan seperti tidak melihat kejadian apa pun, dirinya terus berjalan menuju meja di tengah ruangan, mengambil kunci mobil kemudian kembali pergi.


Sedangkan tuan Agung masih membuang wajah malunya ke sisi kanan, dan Marsya pura-pura menaruh nasi ke dalam rantang kosong.


...Bersambung...