
“Jadi seperti itu ceritanya,” ucap Marsya memberitahu Aulia tentang kejadian sebenarnya.
Aulia mengangguk, “Jadi seperti itu!” Aulia menatap serius wajah Marsya, “Apa aku ini beneran anak yang tidak diinginkan?”
Marsya, dan tuan Agung saling bertatap muka. Tuan Agung berjalan perlahan mendekati ranjang, tangan kanan membelai lembut puncak kepala Aulia, “Pasti omongan ini kamu ketahui dari mulut wanita itu?”
Aulia mengangguk, “Benar.”
Tuan Agung sedikit menunduk, kedua tangan mencubit kedua pipi tirus Aulia, “Bukan seperti itu ceritanya. Papa hanya terkejut saat mengetahui jika Mama kamu sedang mengandung kamu. Apalagi kami baru pulang…..”
Marsya berdiri, tangan kanan menyergap bibir tuan Agung, “Hentikan Pa! Papa buat malu saja!” bisik Marsya dengan tatapan suram.
Tuan Agung mengangguk, “Baik-baik.”
“Emang Papa baru pulang dari mana?” tanya Aulia polos.
“Apakah luka itu berdenyut?” tanya Andra memotong pertanyaan Aulia.
‘Ingin bilang sakit, tapi aku malu.’
“Apa kamu ingin bertunangan dengan Aulia?” tanya tuan Agung serius.
“EH”
“PA-PAPA”
Suasana mendadak hening. Ningrum dan Tarjok saling menatap, sedangkan Marsya senyum-senyum sendiri.
Aulia segera mendekati tuan Agung, mencubit lengan kekar, “Kenapa harus Papa yang melamar? Seharusnya keluarga pria yang melamar pihak wanitanya,” bisik Aulia malu-malu.
“Bagi Papa itu tidak masalah. Selagi putri Papa suka dengan pria baik, Papa akan langsung menyetujuinya.”
Andra membungkukkan sedikit tubuhnya, “Maafkan saya, tuan Agung. Dengan berat hati saya menolak lamaran dari Anda.”
Wajah Aulia, Marsya dan juga Ningrum berubah.
Marsya berdiri, “Kenapa kamu menolak lamaran kami?”
Andra berdiri tegang, tatapan lurus ke Aulia berwajah suram, “Karena wanita yang akan saya nikahi bukanlah wanita biasa. Aulia adalah anak dari seorang Presdir terkenal hampir di seluruh dunia ini. Jika saya ingin melamarnya, maka saya akan menjadi pria hebat-” Andra memutus ucapannya, jari jempol mengarah pada tuan Agung, “Maka saya akan menjadi seperti pria hebat seperti Presdir Agung Laksmana.”
Tuan Agung menepuk bahu kiri Andra, “Bagus-bagus. Kamu adalah calon menantu idaman, jadi kapan kamu akan menjadi pria seperti saya?”
“Karena tuan Agung sudah kembali, maka biarkan saya kembali menjalani kehidupan saya seperti semula. Biarkan saya mengembangkan bisnis warung bebek milik mendiang kakek. Saya ingin menjadi Presdir muda pemilik warung makanan yang terkenal di masing-masing daerah dan tempatnya.”
“Agar kamu semangat, lebih baik kamu dan Aulia bertunangan saja. Jika kamu tidak mengikat Aulia, saya takut dirinya akan di sikat pria lainnya di luar sana!” ucap tuan Agung menakuti Andra.
Sejenak Andra terdiam. Kedua matanya terus menatap wajah Aulia terlihat malu. Andra menarik nafas dalam-dalam, tatapan serius kembali mengarah ke tuan Agung, “Tidak perlu. Kasih saya waktu tiga tahun. Jika saya berhasil sebelum tiga tahun, maka saya akan langsung melamar Aulia. Tapi jika saya gagal sebelum mencapai waktu tiga tahun, maka Aulia dan saya relakan menikah dengan orang lain.”
“Tiga tahun kelamaan. Aku kasih kamu waktu tempo 1 tahun. Bagaimana?” sambung Marsya. Pertanyaan Marsya membuat Tarjok, dan Ningrum sedikit tegang.
“Baik,” tegas Andra penuh keyakinan.
Andra menerima jabat tangan tuan Agung. Senyum manis juga mengisi wajahnya, kedua mata melirik perlahan ke Aulia sedang bersembunyi di balik tubuh Marsya.
“Eh, dia belum menjadi hak kamu!” tuan Agung menepis lirikan penuh maksud Andra.
“HA HA HA” semua tertawa renyah saat melihat wajah Andra berubah memerah.
“Karena semua sudah berakhir dengan tenang, maka Aulia akan kembali ke Paris saja,” sambung Aulia memecah suasana.
“Mama baru bertemu kembali dengan kamu!” Marsya merangkul tubuh Aulia, tangan kanan menyelipkan rambut ke belakang daun telinga Aulia, “Kenapa harus buru-buru balik ke sana, apa kamu tidak ingin melihat Andra sukses?”
Aulia menggeleng, “Bukan begitu Ma,” sejenak melirik Andra, kemudian melirik wajah Marsya, “ Lebih baik Aulia menjauh agar Andra bisa fokus merintis karirnya. Tahun depan Aulia sudah memasuki umur 20 tahun, jadi Aulia berharap bisa bersama menjadi pasangan berbeda dan melihat kesuksesan Andra, sesuai janjinya.”
“Bagaimana jika kamu membuka Restoran di Paris!” Marsya menatap wajah Andra, “Soal tempat biar tante saja yang mencarinya. Bagaimana?”
Andra menggeleng, “Sebelumnya saya ucapkan terimakasih atas niat baik tante. Saya rasa lebih bagus merintis di sini, jika masakan saya enak dan hampir di kenal semua penjuru. Maka saya bisa meminta tolong tante dan saya akan buka cabang di sana. Agar bisa menjaga Aulia,” sahut Andra dengan penolakan sopan.
“Sudah Mama jangan ikut campur lagi. Papa tahu jika Mama tidak ingin membuat Aulia dan Andra berjauhan selama 1 tahun. Keputusan Andra itu benar, jadi biarkan dirinya berusaha sendiri,” tuan Agung kembali merangkul Andra, kepalan tinju memukul pelan bidang dadanya, “Kamu memang pria sejati, bro!”
Setelah perdebatan panjang perihal lamaran dan masa depan. Tarjok, dan Ningrum kembali ke rumah. Sedangkan Andra sedang duduk santai di taman dengan Aulia. Suasana cukup tenang, bintang bertaburan di langit disertai cahaya bulan dari langit.
Andra menoleh ke sisi kiri, “Kapan kamu akan kembali?”
“Apa kamu senang jika aku kembali ke Paris?”
“Pria mana yang senang melihat wanita impiannya berada jauh di mata. Di sentuh tidak bisa, bergandeng tangan juga tidak bisa.”
Aulia mengarahkan jari telunjuk tangan kanan ke arah Andra, “Ye ye, kamu ketahuan. Ternyata kamu diam-diam menyukai aku,” Aulia mendekatkan wajahnya, membuat Andra mundur ke belakang, “Kenapa perasaan itu harus terlihat jelas sekarang?”
“Karena tidak semuanya perasaan bisa diungkapkan dengan mudah,” Andra mengambil tangan kanan Aulia, meletakkan di atas paha kanannya, “Berjanjilah kepadaku!”
“Berjanji soal apa?” tanya Aulia malu-malu.
“Kemanapun kamu pergi, kamu akan tetap mengabari aku. Jangan buat aku cemas di sini.”
“Tumben,” Aulia menarik tangannya, berdiri, membelakangi Andra, “Berikan alasan yang real buatku.”
Andra segera berdiri, menarik tangan Aulia, membuat mereka saling bertatap muka. Kini wajah Andra dan Aulia sangat dekat, sehingga hembusan nafas saling bersaut. Andra meletakkan telapak tangan kanan di jenjang leher bagian belakang, membuat wajah Aulia semakin mendekat. Andra menempelkan bibirnya, namun menarik kembali dari bibir Aulia. Andra berbalik badan, begitu juga dengan Aulia dengan masing-masing wajah merona.
“Maaf. Hampir saja aku…”
“Beneran juga tidak masalah,” putus Aulia malu-malu.
“Alasan aku adalah tidak ingin melihat kamu terjebak di dunia gelap. Aku ingin selalu menjaga kamu meski kita saling berjauhan. Hanya satu pintaku tetap kabarin aku kemanapun kamu pergi, agar aku tidak merasa cemas di sini,” sambung Andra mengalihkan pembicaraan.
Aulia menyikut malu lengan kanan Andra, “Tentu.”
...Bersambung...