Cinta Masa Kecil Presdir Cantik

Cinta Masa Kecil Presdir Cantik
BAB 93. Kenapa aku belum hamil?


Waktu begitu cepat berlalu. Hari ini tepat 1 bulan pernikahan Aulia dan Andra.


Memiliki momongan secepatnya adalah harapan Aulia dan Andra di awal menikah. Tapi takdir berkata lain, meski sempat diberi harapan terlambat datang bulan selama 1 minggu. Kini harapan itu sirna karena Aulia datang bulan.


Aulia duduk termenung di taman belakang. Memikirkan kurang apa dirinya dan Andra dalam melakukan usaha untuk mendapatkan momongan. Aulia dan Andra sudah pernah mengecek ke Dokter, dan hasilnya baik-baik saja dan tidak ada kurang satu apa pun dari mereka berdua. Tapi kenapa mereka belum mendapatkan seorang anak.


Hal itu membuat Aulia terus bertanya-tanya kenapa hal itu bisa terjadi padanya. Sesekali air mata kesedihan berharap garis satu, dan datang bulan berganti dengan garis dua dan menjadikan hasil USG segumpal bayi kecil di dalam kandungannya kini harus pupus. Aulia hanya bisa menarik nafas panjang dan mencoba menetralkan pikiran dan hatinya agar tidak terlalu bersedih.


Meow!meow!


Melihat Aulia terus bersedih di taman belakang. Grey dan Andra mendatangi Aulia. Grey terus mengusap bulunya di kedua kaki Aulia, sedangkan Andra duduk di samping Aulia.


Meow!


Seakan mengerti kesedihan Aulia, Grey duduk tepat di hadapan Aulia dengan memainkan ekornya.


Melihat Grey begitu imut, Aulia segera menyeka kasar air mata di kedua pipinya. Aulia juga segera menggendong dan menjujung Grey setinggi mungkin.


“Grey!”


Meow!


“Jangan bersedih lagi ya. Kalau kamu bersedih, maka aku dan Grey juga akan ikut bersedih,” ucap Andra lembut.


Aulia menoleh ke sisi kanan, “Apa kamu tidak marah?”


“Kenapa aku harus marah kepada kamu. Bukankah kita sudah ke Dokter dan semua hasilnya menyatakan kita baik-baik saja.”


“Walaupun hasil menyatakan baik-baik saja, tapi aku belum bisa memberikan kabar baik untuk kamu dan kedua orang tua kita. Gimana perasaan kedua orang tua setelah mengetahui jika aku belum juga hamil. Gimana?”


Andra mendekatkan diri, memeluk tubuh Aulia dengan kelembutan.


“Kenapa kamu memikirkan hal itu. Sudah jangan mencemaskan hal itu sekarang, yang penting setelah kamu selesai haid. Kita lanjut berjuang. Apa kamu setuju denganku?”


Aulia melepaskan pelukannya, ia menengadah. Air mata segera ia hapus dari kedua pipinya, lalu mengangguk.


“Gitu dong. Ini baru gadis ku!” puji Andra.


Meow!meow!


“Lihat, Grey jadinya ikutan semangat saat melihat kamu tersenyum kembali,” ucap Andra.


Aulia menurunkan pandangannya, kedua bola mata menatap Grey berada di hadapannya.


“Benarkah itu Grey?!”


Meow!meow!


Sahut Grey seolah mengetahui ucapan Aulia.


“Apa kamu ada memperhatikan pertumbuhan Grey?” tanya Andra.


“Tidak. Aku kurang memperhatikan dirinya sekarang. Tapi aku melihat dirinya semakin lama semakin membesar,” sahut Aulia.


“Kamu benar, Grey semakin lama memang semakin membesar. Jadi aku minta sama kamu, daripada kamu berfokus tentang mendapatkan anak. Lebih bagus kamu memfokuskan diri ke aku dan juga Grey. Kami berdua masih butuh perhatian dan kasih sayang kamu,” rayu Andra.


Mendengar rayuan Andra. Aulia menyatukan dahi dan menggesek hidung mancungnya dengan hidung mancung Andra.


“Baiklah, aku akan memperhatikan kamu dan Grey. Aku juga akan berusaha melupakan kehamilan agar semuanya berjalan begitu saja tanpa beban. Tapi kenapa aku harus melupakannya. Bukannya kehamilan itu adalah idaman bagi pasangan suami-istri yang sudah menikah?” tanya Aulia.


“Kamu benar. Tapi kehadiran anak itu adalah rahasia Allah, seperti kehadiran jodoh. Jadi kamu jangan terlalu berfokus dan memikirkan tentang kehamilan lagi. Aku mau kamu menjalani ini semua dengan santai.”


“Baiklah,” sahut Aulia semangat.


Melihat Aulia sudah cukup tenang. Andra mengambil benda pipih dari dalam saku kemeja miliknya.


“Aulia, coba kamu lihat ini,” tunjuk Andra ke layar ponsel sedang menyala.


“Sejak kapan kamu melakukan hal ini?” tanya Aulia panik.


“Sejak aku melihat kamu terus termenung, dan sudah pasti kamu memikirkan tentang kedua orang tua kita,” sahut Andra santai.


Di saat Aulia sedang merasa gugup. Tiba-tiba terdengar suara Marsya dari ponsel sedang ia simpan di depan dada.


📞[ “Aulia sayang kenapa kamu menutupi kamera kamu?” ]


Aulia spontan membenarkan cara memegang ponselnya. Ponsel tersebut kini Aulia pegang di hadapannya dan Andra.


📞[ “Tante..Mama Ningrum.” ] sapa Andra.


📞[ “Hai, Andra. Tadi kami mendengar gadis kecil kami menangis, dan kami mendengar dia mengeluh tentang kehamilan. Apa kamu memaksa gadis kecil kami untuk hamil?” ] tanya Marsya dan Ningrum serentak.


📞[ “Eh! Tidak ada. A-aku tidak pernah memaksa Aulia untuk hamil.” ] sahut Andra sedikit histeris.


📞[ “Lalu kenapa dia menangis? Awas kamu kalau macam-macam dengan gadis kecilku!” ] ancam Marsya dan Ningrum serentak.


📞[ “Mama Ningrum, aku ini putra kamu loh. Kenapa kamu terus menyalahi aku dan membela Aulia. Tadi Aulia nya sendiri saja yang menangis, bukan karena ulahku.” ]


📞[ “Benarkah itu sayang?” ] tanya Marsya dan Ningrum serentak ke Aulia.


Aulia mengangguk.


📞[ “Aulia. Mama dan tante ingin menyampaikan pesan singkat.” ]


📞[ “Apa itu katakan saja.” ]


📞[ “Mama dan tante Ningrum tidak ingin mendengar kamu bersedih seperti ini lagi di bulan berikutnya. Nak, kehamilan itu adalah suatu keajaiban dan berkah yang tidak pernah kita duga-duga. Kamu juga tidak boleh menyalahkan diri sendiri atas hal ini. Kamu harus ingat, semua itu keajaiban dari Sang Pencipta.” ]


📞[ “Apa Mama dan tante tidak marah karena aku belum juga mendapatkan anak?” ]


📞[ “Tentu saja kami tidak marah sama kamu. Jika kami marah kepada anak sendiri hanya karena menginginkan cucu. Berarti kami juga marah dengan Allah.” ]


📞[ “Jadi tante sama Mama tidak marah sama ku?” ] tanya Aulia menyakinkan.


📞[ “Tentu saja tidak. Sekarang kami hanya meminta kamu untuk menjaga kesehatan, jangan telat makan, dan kamu juga harus banyak-banyak meminum air mineral sewaktu bekerja.” ]


📞[ “Terimakasih Ma…tante. Mama dan tante tenang saja, aku pasti akan menjaga kesehatan dan sering minum air meneral.” ]


📞[ “Kalau gitu jangan bersedih dan menangis lagi ya. kalau kamu terus bersedih nanti ada yang kebingungan. Pria itu terus menelpon kami semua di sini, dan kami sangat bosan mendengar semua pertanyaannya.” ]


Andra langsung merampas benda pipih dari tangan Aulia.


📞[ “Jangan bongkar semua kejujuran itu di depan Aulia. Aku jadi malu. Kalau gitu aku tutup panggilan telponnya. Assalamu'alaikum.” ]


📞[ “Eh, kami belum siap ngomong.” ]


Tutt!!


Andra merasa malu langsung menutup panggilan teleponnya, dan menyimpan kembali benda pipih dari dalam sakunya.


“Apa kamu malu?” tanya Aulia.


Andra membuang wajah merahnya, “Tidak.”


“Jadi kenapa kamu memiliki wajah seperti buah tomat?” tanya Aulia.


“Sepertinya aku melupakan sesuatu,” ucap Andra.


Merasa malu diketahui jika dirinya mencemaskan Aulia dan terus mengusik Marsya dan Ningrum hanya untuk mengetahui bagaimana membujuk Aulia. Andra segera bangkit dan pergi meninggalkan Aulia bersama dengan Grey.


...Bersambung...