Cinta Masa Kecil Presdir Cantik

Cinta Masa Kecil Presdir Cantik
BAB 41. Mencoba tegar meski rapuh


"Saya juga masih mencari keberadaannya. Tapi saya sudah mengantongi identitasnya. Tuan tenang saja. Saya pastikan mereka akan mendapatkan balasannya,” sahut Azzuri dengan nada suara sedikit menekan. Kedua tatapan bola mata di penuhi dengan kebencian.


“Aku ikut,” sela Andra tegas. Tatapan diselimuti amarah dan kebencian membara di kedua mata Andra, “Aku akan ikut untuk mencari dalang ini semua.”


Tuan Agung memukul bahu kanan Andra, kepala menggeleng, "Sebaiknya kamu tetap di sini. Saya yakin jika Aulia pasti akan mencari keberadaan kamu nantinya," tuan Agung menatap serius wajah Andra, "Saya titip Aulia dan Marsya. Biar saya dan tuan muda Azzuri yang mencari orang ini!" tegas tuan Agung.


"Benar, tadi sebelum Aulia pingsan dirinya juga sempat memanggil nama kamu," sambung Azzuri meski hati terasa perih saat berkata seperti itu. Tangan kanan memukul pelan bahu kiri Andra, "Kamu tenang saja. Aku akan segera menangkap pelakunya," Azzuri berbalik badan. Langkah tegas ia pacu meninggalkan ruang ICU.


Meski Azzuri mulai mencintai Aulia, dan rasanya tidak rela ingin berbagi cinta milik Aulia kepada pria lain. Tapi di saat Aulia dalam keadaan seperti ini Azzuri mampu menahan hatinya, dan menutupi status hubungan mereka kepada Andra.


Azzuri, tuan Agung, Jack dan Venus terus melangkah di koridor. Tatapan tajam dan suram memandang lurus ke depan. Tidak ingin membuang waktu, Azzuri dan tuan Agung menghubungi seseorang untuk memblokir semua jalan, tempat pelaku berada.


Andra masih terus menatap koridor dimana Azzuri, tuan Agung, Venus, dan Jack lalui. Dahinya mengerut, sejenak Andra berpikir apakah Azzuri ada hubungan yang cukup akrab dengan Aulia. Sehingga Azzuri bisa dengan mudah mengetahui semuanya, dan kenapa Azzuri terus meminta maaf kepada tuan Agung.


Apa Azzuri sedang menjalin hubungan dengan Aulia? jika memang benar, kenapa Aulia memberi harapan kepada Andra untuk terus bangkit dan berjuang? dan kenapa Aulia berkata ingin menunggunya 1 tahun lagi sampai Andra bisa menjadi pria mapan dan bisa menikah dengan Aulia?


Berjuta pertanyaan terus bermain di kepala Andra. Rasanya Andra ingin bertanya, tapi tidak mungkin. Andra akan menyimpan seribu pertanyaan tersebut sampai Aulia bisa melihat kembali.


Andra menatap Marsya masih berdiri di depan pintu. Terlihat wajah Marsya sedikit bingung, ingin masuk tapi dirinya takut membuat Aulia bertambah sedih karena mendengar suaranya sedikit serak karena menahan tangis. Aura itulah di lihat Andra saat ini. Andra menarik nafas, setelah menjernihkan pikirannya Andra mendekati Marsya. Tangan kanan memegang bahu kiri Marsya, "Tante," panggil Andra membuat Marsya terkejut.


"Iya, ada apa Andra?"


"Sebaiknya kita masuk. Jangan buat Aulia menunggu kita terlalu lama di dalam. Kasihan dia," ajak Andra untuk segera masuk ke dalam.


"Tapi tante takut tidak bisa menahan air mata ini," Marsya menggeleng, tangan kanan menggenggam erat baju bagian depan, "Tante seperti tidak sanggup melihat Aulia menjadi buta, walau hanya sementara."


"Tante salah, justru yang dibutuhkan Aulia sekarang adalah semangat dari tante. Singkirkan pikiran buruk itu, dan mari kita masuk. Aku yakin Aulia sangat menunggu kita," sahut Andra membujuk lembut Marsya.


"Baiklah," Marsya menarik nafas. Kedua bola mata melirik Andra, dan menggandeng tangan Andra, berjalan masuk ke dalam ruangan.


Ciit!!!


Pintu ruang ICU terbuka.


Marsya baru saja melangkahkan kaki kanannya masuk ke dalam. Namun langkah itu Marsya bawa kembali ke luar. Kedua matanya tidak mampu melihat putri kesayangannya duduk dengan kedua bola mata terus memandang lurus tanpa berkedip.


Andra menghela nafas berat saat mendengar dan melihat Aulia seperti ini. Andra ikut keluar, mendekati Marsya sedang duduk di kursi tunggu. Andra memegang duduk di sisi kiri Marsya, tangan kanan memegang bahu kiri Marsya, "Biar aku saja yang masuk. Tapi tante harus janji jika tante akan menenangkan diri sejenak di sini. Dan tante harus berjanji akan segera menemui Aulia saat dirinya sudah indah ke ruang perawatan."


Marsya terus menangis, dirinya hanya bisa menjawab dengan menganggukkan kepala.


"Aku tinggal dulu. Tante tunggulah di sini sampai perawat memindahkan Aulia ke kamar inap," ucap Andra pelan.


"Tolong berikan Aulia semangat," sahut Marsya menatap Andra, penuh derai air mata.


Andra mengangguk, senyum tipis terukir di wajahnya. Andra berbalik badan, melangkah kembali menuju ruang ICU. Andra membuka pintu, menarik nafas berat, dan mengajak kedua kakinya mendekati ranjang Aulia.


"Apa itu kamu, Venus?" tanya Aulia sekali lagi.


"Ini aku," sahut Andra, duduk di samping ranjang.


Aulia menggeleng, "Kamu pasti bercanda. Bagaimana mungkin Andra bisa datang ke sini. Dia di sana pasti sangat sibuk dengan warung bebeknya..." kedua tangan berusaha mengulur ke depan dan ke samping, berharap bisa menyentuh tubuh Andra, "Katakan kamu siapa?" tanya Aulia kaku.


Andra langsung bangkit, memeluk tubuh Aulia, dan berkata, "Gadis bodoh. Ini aku...Andra. Calon suami kamu untuk satu tahun ke depan. Kenapa kamu masih belum percaya juga setelah suaraku sudah cukup jelas terdengar di kedua telinga kamu!"


"Hiks!! hiks!!" derai air mata Aulia menetes begitu saja. Kedua tangannya terus memukul punggung Andra, dan mencubitnya, "Kenapa kamu mau melihat aku? bukannya kamu tahu aku sekarang buta!" Aulia ingin melepaskan pelukan Andra. Namun Andra terus memeluk erat tubuh Aulia, "Lepaskan....aku wanita yang tidak patut kamu cintai. Bukan hanya buta! tapi aku juga telah mengkhianati janji kita. Lepaskan aku!"


Bukannya marah setelah mendengarkan kejujuran Aulia. Andra malah semakin mengeratkan pelukannya, tangan kanan membelai rambut bagian belakang, "Tidak perduli seberapa buruknya kamu, dan seberapa jahatnya kamu telah menduakan aku. Aku adalah aku, cintaku yang begitu besar untukmu tidak akan mungkin berkurang. Sesuai janjiku, aku juga sudah buka beberapa cabang warung kecil di kota tempat kita lahir," Andra melepaskan pelukannya, kedua jempol tangan menghapus jejak air mata di pipi Aulia, "Berhentilah menangis. Sebab air mata kamu sungguh berharga untuk di buang demi kesalahan yang tidak penting," ucap Andra berusaha tenang meski hati sedikit rapuh.


"Apa kamu tidak marah jika aku berselingkuh?" tanya Aulia polos.


Andra menggeleng, ia kembali memeluk Aulia, "Kamu pasti punya alasan kenapa kamu bisa menjalin hubungan dengan pria itu. Tapi sekarang bagiku itu tidak penting, yang terpenting itu adalah kesehatan kamu!" Andra melepaskan pelukannya, kedua tangan mencubit gemas kedua pipi tirus Aulia, "Sepertinya kamu sangat kurusan. Apa kamu di sini tidak makan?"


Aulia menggeleng, "Tidak ada yang bisa memasak seenak masakan Mama dan tante Ningrum."


"Mulai sekarang Mama yang akan memasak buat kamu!" sambung Marsya masuk ke dalam ruangan.


"Itu Mama!"


...Bersambung ...