
Tuan Agung, dan Venus, kini sudah sampai di depan Kafe milik mendiang Andra. Venus membuka seatbelt miliknya, bergegas turun membuka pintu tuan Agung.
“Kita sudah sampai tuan,” ucap Venus memberitahu tuan Agung.
Tuan Agung turun dari mobil. Kedua bola matanya memandang luas ke seluruh depan Kafe, lalu memandang Venus.
“Mengingat Aulia sedang mengandung cucu kembar ku. Apa aku perlu turun tangan untuk merubah Kafe ini menjadi Kafe yang besar?” tanya tuan Agung meminta saran kepada Venus.
“Sepertinya tidak perlu tuan. Nona muda sangat menyukai Kafe dengan konsep sepeninggalan milik tuan Andra. Jika nona muda Aulia mengetahui tuan Agung ada ikut campur di dalam bisnis yang ia pegang, saya rasa nona muda Aulia akan sangat marah nantinya,” jelas Venus sudah paham betul karakter dan sifat Aulia.
Tuan Agung menundukkan wajah sedihnya, “Entah mirip siapa putri ku yang satu itu. Dimana-mana kalau anak memiliki orang tua kaya raya, tajir melintir dan lainnya. Pasti sang anak akan terus meminta ini dan itu. Tapi Aulia, dia gadis yang berbeda,” puji tuan Agung mengingat Aulia terlalu mandiri sejak TK.
Dengan santainya Venus berkata, “Tentu saja mirip dengan nona besar. Masa mirip tuan muda Alexdian.”
“Kamu!”
“Siang pria dingin, dan pria berkharisma,” sapa Willy keluar dari mobil.
Joko, dan 7 karyawan lainnya keluar dari dalam mobil. Mereka melangkah mendekati tuan Agung, dan Venus.
“Kalian karyawan di sini?” tanya tuan Agung.
“Iya! Kami adalah karyawan pekerja keras untuk meningkatkan kualitas Kafe mendiang Bos Andra. Kami juga sudah berjanji akan terus berusaha untuk mengharumkan, dan memviralkan Kafe milik mendiang Bos Andra. Walau dia sudah meninggal dunia, tapi kami masih terus mengingat semua kebaikan dan ketulusan mendiang Bos Andra saat menerima kami semua!” jelas Joko, dan 8 karyawan serentak berdiri di hadapan tuan Agung dan Venus.
“Oh ya, tuan ini siapa ya? kenapa dari raut wajah datarnya mirip seperti nona muda Aulia?” tanya Joko, Carlos, dan Dodo serentak.
“Sebaiknya kita mengobrol di dalam saja, sambil aku ingin mengenal lebih dekat karyawan-karyawan milik Aulia,” ajak tuan Agung mengarahkan tangannya ke pintu masih terkunci.
“Kalau gitu biar saya buka tuan,” ucap Venus, kedua kaki bergegas mendekati pintu, lalu membuka pintu.
Tuan Agung masuk terlebih dahulu, di susul Venus, Joko, Willy, Jack, Daniel, Bimo, dan beberapa karyawan lainnya. Kecuali, Carlos, dan Didin.
“Apa pria penuh kharisma itu akan menjadi Sugar Daddy nya nona muda Aulia?” tanya Didin berbisik lembut.
“Nggak mungkinlah. Nona muda Aulia itu cinta matinya mendiang Bos Andra! bukan hanya cinta mati. Tapi ‘CINTA MASA KECIL PRESDIR CANTIK’ nya mendiang Bos Andra!” sahut Carlos serius.
“Kok kayak kisah di novel-novel itu ya? yang laki nya meninggal mendadak itu ‘kan, lalu wanitanya hamil karena pria lain. Dan laki-laki yang menghamili wanitanya menghilang entah kemana. Iih…benci kali aku kalau baca cerita itu,” jelas Didin.
“Kau suka baca novel itu?” tanya Carlos histeris.
“50 aja. Aku benci sama Author nya. Sudah protagonis wanitanya dari awal di buat tidak mau mendekati sih pemeran pendukung. Eh…malah di pepet-pepet. Pingin aku datangi yang nulis kisah itu!” omel Didin.
“Hei, kalian sedang apa di luar?” tanya Joko berdiri di depan pintu.
“Maaf-maaf. Kami akan masuk,” ucap Didin.
“Eh, kenapa kamu berdiri di samping tuan berwajah kharisma itu?” tanya Willy.
“Kenapa? Nggak suka!” ketus Didin.
“Tidak, pokoknya kalau ada yang tampan, dan gemesin itu hanya milikku,” ucap Willy.
Tuan Agung melirik ke Venus, “Kenapa dengan karyawan satu itu. Dan kenapa pria itu sedikit melambai Venus?” tanya tuan Agung sedikit berbisik.
“Memang melambai tuan, dulu dia menyukai mendiang tuan Andra. Saat saya datang dia juga mendekati saya, sekarang tuan datang ke sini. Willy juga menyukai tuan Agung. Harap maklum tuan, mungkin dulu saat ruhnya hendak tertiup masuk ke dalam perut sempat menyenggol ruh wanita genit. Cantik, cucok seperti itu,” sahut Venus sedikit berbisik.
“Ha ha ha, ada-ada saja sih Andra ini mencari karyawan,” ucap tuan Agung melepas tawa renyah dari mulutnya.
“Eh, kenapa tuan berkharisma tertawa? Apa tuan berkharisma menyukai ku?” tanya Willy menyela tawa tuan Agung.
Tuan Agung langsung terdiam, bola mata sinis memandang wajah genit Willy, “Kamu siapa namanya?” tanya tuan Agung berubah menjadi dingin.
“Aku adalah Willy. Pekerjaanku adalah pembuat kopi dari asal Negera ini. Apa tuan berwajah kharisma ingin mencicipi kopi buatan ku?” tanya Willy tanpa rasa sungkan.
“Iya. Aku dengar di sini menyajikan minuman, dan makanan dari dua Negera. Aku ingin mencicipinya. Tidak-tidak. Aku akan membayar nya, anggap saja sebagai buka dasar sebelum Kafe ini buka,” jelas tuan Agung ingin merasakan makanan, dan kopi dari tangan koki pilihan mendiang Andra.
Venus berdiri, “Kalau itu tunjukan pada tuan Agung jika kalian adalah karyawan yang baik pilihan dari mendiang tuan Andra. Semangat!” Venus menyemangati 9 karyawan milik mendiang Andra.
Joko, Didin, Carlos, dan Willy berdiri, “Baik. Kami akan tunjukan hasil masakan, dan minum olahan dari kedua tangan kami,” sahut Joko, Didin, Carlos, dan Willy serentak.
Mereka berempat pun bergegas pergi menuju dapur.
Dodo, Danies, Bimo, Daniel, dan Jack, mengambil tugas mereka masing-masing. Membersihkan Kafe, karena 1 jam lagi Kafe akan segera buka.
“Apa kalian tahu siapa pria berkharisma….eh, kok aku jadi ikut-ikutan Willy. Apa kalian tahu siapa pria yang di panggil tuan oleh Venus?” bisik Dodo, kedua mata melihat ke meja kasir, di mana tuan Agung, dan Venus sedang duduk dan seperti sedang terlihat sibuk membicarakan sesuatu.
“Aku rasa dia adalah Papa dari nona muda Aulia,”. sahut Danies ikutan melirik ke tuan Agung.
“Kalau memang tuan itu Papanya nona muda, kenapa orang berjabatan tinggi dan cukup di segani banyak orang mau datang ke sini!” sambung Bimo ikutan nimbrung. Berdiri di belakang Danies, dan Dodo.
“Eh, kau buat jantungku copot saja!” ucap Dodo memegang dada kirinya.
“Kalian kenapa seperti perempuan. Kita ini laki-laki, jadi jangan membicarakan orang lain dibelakang. Jika penasaran pria itu siapa, lebih baik tanya langsung,” ucap Bimo memperingatkan Dodo, dan Danies untuk berhenti membicarakan orang lain di belakang orangnya, karena hal itu tidak baik.
“Nggak berani, soalnya wajah tuan itu sangat dingin dan juga tegas. Kalau salah ucap, bisa-bisa aku di kembalikan ke kampung lagi. Malu lah aku jadinya,” jelas Dodo.
“Makanya, kita tunggu saja sampai tuan itu memperkenalkan dirinya siapa kepada kita semua. Jangan membicarakan seperti ini. Sudah cepat selesaikan semua pekerjaan kita. 45 menit lagi kita akan buka!” tegas Bimo membubarkan perkumpulan.
...Bersambung...