Boss Playboy

Boss Playboy
Pagi hari yang menggebu-gebu.


Episode 99 : Pagi hari yang menggebu-gebu.


***


Malam itu, Keenan tertidur memeluk wanitanya, memeluknya begitu erat.


Sebenarnya Keenan tidak suka bersentuhan lama dengan wanita, dia tidak terlalu suka aroma menyengat yang dipakai wanita wanita yang menghiburnya selama ini.


Akan tetapi wanita biasa yang selalu menolaknya ini memiliki aroma yang manis, Keenan suka bersentuhan dan berpelukan dengannya, menemaninya di akhir hari setelah banyak pekerjaan menyita pikirannya, pelukan dan aroma manis istrinya akan menjadi candu yang membuatnya tenang.


Beberapa kali Keenan mengecup dahi istirnya, “Aku berjanji, apapun yang terjadi selama kau tidak berselingkuh dan meninggalkan aku, aku akan memperjuangkan mu, karena sepertinya aku telah terperangkap dengan sihirmu!” Keenan mencubit pelan pipi istrinya.


Keenan masih terkekeh dengan betapa imutnya wajah dan tingkah Cinta saat ia mencubit pipinya, setelah memerhatikan wajah istrinya beberapa saat akhirnya matanya mulai terpejam, dia tertidur dengan tenang malam itu.


Disaat yang bersamaan,


Karena Rara gagal mengundang Cinta, membuat Monic sedikit geram, akan tetapi masih banyak rencana lain yang bisa ia gunakan untuk menjebak Cinta.


Monic seolah ingin melampiaskan kemarahannya kepada Cinta, bukan karena ingin membantu putrinya saja akan tetapi seperti kepada bagaimana Monic ingin melampiaskan segala kebenciannya kepada Cinta yang sebenarnya tidak bersalah.


"Tunggu waktu nya, aku tidak ingin suamiku suatu hari nanti lebih memilih mu daripada putriku, Rara, kau harus menjadi anak yang membuat malu agar suamiku tak lagi memiliki niat untuk menerima mu dan ibumu!" Monic bertekad dalam hatinya.


Monic memiliki maksud yang lain tentunya, dia tidak ingin suatu hari nanti, suaminya memberikan warisan kepada Cinta, dan sebenarnya Monic juga benci kepada Cinta.


Karena adanya Cinta, makanya Rehan tetap bisa berhubungan dengan mantan istrinya yaitu ibu kandung Cinta.


***


Keesokan harinya,


Seperti biasa seperti pagi sebelumnya, Cinta akan kesulitan hanya untuk bisa melepaskan dirinya dari dekapan lelaki yang kelihatan nyaman sekali memeluknya.


Setiap kali Cinta hendak menjauh dan pergi mandi, tangan kokoh suaminya akan langsung menariknya ke tempat semula.


Lalu ia akan memeluknya erat dan tangan nakal nya akan selalu menyentuh buah dadanya.


Beberapa kali Cinta melepaskan genggaman tangan suaminya, akan tetapi tangan nakal itu akan kembali lagi ke tempat semula dan membuat Cinta sudah geram.


***


Merasa Cinta selalu hendak pergi dan bergerak-gerak tentu saja membuat Keenan sedikit geram, dia sudah menahan gairahnya sejak tadi akan tetapi wanita ini selalu saja bergerak-gerak dan membangunkan adik kecilnya.


“Sayang ….” Keenan tiba-tiba membuka matanya dan bangkit, menatap kearah Cinta yang sejak tadi hendak melepaskan dirinya dari dekapan lelaki yang tak mau melonggar ini.


“A … ada apa?” Cinta sudah sedikit gugup, seolah tahu apa yang hendak dikatakan oleh suaminya ini selanjutnya.


“Apakah masih sakit? Bagaimana dengan pagi ini?” tanya Keenan dengan matanya yang berbinar dan begitu menggebu-gebu.


Sesuai dengan dugaan Cinta, jika Keenan benar-benar menanyakan tentang hal itu.


Dengan cepat dan lugas Cinta langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat. “Masih! masih sakit! sakit sekali!” ketus Cinta dengan sangat serius dan sedikit terburu-buru.


Sebenarnya dia sudah tidak terlalu sakit, akan tetapi dia sungguh tidak bisa dan belum siap melakukan adegan dewasa yang sejak hari itu hendak ia hilangkan dari ingatan.


***


Saat melihat tingkah gugup Cinta, Keenan langsung menyeringai, dia mendekat dan mata tajamnya membuat Cinta bergidik merinding, “Sayang, kau pembohong yang buruk, apakah kau kira aku tidak tahu saat kau sedang berbohong?” bisik Keenan sudah duduk dan melihat Cinta seperti sedang menatap mangsa yang hendak ia lahap.


Seringai di bibirnya dan matanya yang begitu tajam seolah bisa membuat Cinta diam membisu dan tak bisa melakukan apapun.


Cinta yang masih terbaring dan sedang menatap waspada kearah suaminya bisa melihat dengan jelas, lelaki tampan yang menyeringai di hadapannya, dia duduk menatap Cinta sembari jemari nya mulai melepaskan piyama biru yang ia kenakan untuk tidur.


Piyama yang hanya bisa menyatu karena satu ikatan tentu saja bisa terlepas dengan hanya satu hentakan jari, dan Cinta bisa dengan jelas melihat tubuh atletis yang proporsional Keenan, wajahnya yang baru bangun tidur kelihatan sangat tampan dan seringai di wajahnya membuat tampilannya seperti lelaki menawan yang hendak melahapnya hidup-hidup.


Dengan refleks Cinta menutup matanya, jantungnya berdegup tak karuan, dia merasa aneh sekali pagi ini, mulutnya membisu sejak ia melihat senyuman nakal dan tatapan suaminya yang selalu membuatnya membatu.


Sedangkan Keenan melihat Cinta memang benar benar tidak terbiasa dan kelihatan malu sekali malah membuat nya semakin bersemangat.


Dia meraih tangan istrinya dan menggenggamnya, sembari tubuhnya turun dan menyempit ke tubuh Cinta, dia mendekat dan wajahnya sekarang sudah tepat berada doi hadapan wajah wanita yang selalu membuatnya merasakan sensasi melayang setiap hari.


Dia menatap wajah Cinta yang kelihatan seperti mau meledak karena wajahnya sudah semerah tomat sekarang, nafas Keenan yang menyentuh wajahnya terasa panas, dan matanya yang setajam mata elang yang hendak menyantap mangsanya seolah merasuk jiwanya membuat Cinta tak mampu berkata-kata dan bergerak bebas.


Keenan dan hawa keberadaannya sudah mampu mengontrol Cinta, bahkan dia tak bisa bergerak sesuai dengan keinginannya.


“Ma … masih pagi,” Cinta mencoba sekuat tenaganya, dia mengalihkan pandangannya yang terpaku pada ekspresi nakal Keenan, akan tetapi saat ia hendak mengalihkan pandangannya, dagunya segera diarahkan oleh Keenan untuk bisa menatapnya kembali.


“Ssstt! Wanitaku ini suka sekali berbohong, kau pikir kali ini kau bisa lepas dariku lagi? kau tahu betapa aku tergila-gila kepadamu dan kau mempermainkan hatiku, kau harus diberikan hukuman,” bisik Keenan tersenyum sangat nakal, dia sudah mendekat semakin dekat.


Cinta bisa mencium aroma nafas yang wanginya seperti wangi mint, kehangatan dan debaran yang ia rasakan oleh Keenan sepertinya sampai kepadanya, Cinta tahu betapa lelaki ini sangat menginginkannya, hal itu membuat darahnya ikut mendidih dan tanpa sadar menjadi lemah dan tak bisa melepaskan dirinya lagi.


Tanpa disadari oleh Cinta, dia memejamkan matanya saat bibir lembut suaminya menyentuh dan melahap bibirnya dengan sangat menuntut namun lembut disaat yang bersamaan.


Ciuman yang sangat menggetarkan, hangat dan sedikit berair, Keenan menyesap bibir istrinya dengan nafasnya yang memburu dan tekanan yang menuntut.