
Episode 120 : Aku tidak bisa mengontrol hatiku
***
Di kamar pribadi Keenan,
Keenan menarik tangan Cinta, dan membuatnya duduk di ranjang, dia kemudian melipat tangan dan melihat Cinta dengan tatapan yang seperti sedang menghakimi.
“Sayang, lihat aku!”
Ketus Keenan dengan tatapan tajamnya, karena sejak tadi Cinta tertunduk dan tidak mau menunjukkan wajah sedihnya, bagaimana pun dia melihat ayahnya berlari seperti itu, kelelahan dan sepertinya menunggunya seharian.
“Aku hitung sampai tiga, jika kau belum melihat kearah ku aku akan menghukum mu,”
“Satu ….”
“Tiga!”
Belum ada angka dua, Keenan langsung dengan arogan mengatakan angka tiga, membuat Cinta langsung mendongakkan wajahnya dan melihat keheranan kearah Keenan.
“Kau bilang sampai tiga, mana dua nya?” balas Cinta akhirnya memperlihatkan wajahnya, dimana sekarang matanya kemerahan karena menahan tangis.
“Tak!”
Keenan langsung menjitak jidat Cinta menggunakan telunjuk jarinya.
Hal itu membuat Cinta segera mengusapnya dahinya, hal ini telah menjadi ciri khas Keenan, jika dia kesal pada istrinya maka jidat Cinta uang akan di jitak.
“Jika tidak ada aku tadi pasti kau akan dengan bodohnya turun dan memaafkan ayahmu itu kan? Kenapa kau bodoh sekali? Dia itu hanya memanfaatkan mu, jangan mau tertipu dengan wajah munafik nya, mengerti!”
Keenan sekali lagi berbicara seperti sedang menggurui, wajahnya benar-benar serius dan matanya sangat tajam, tetapi dia mengatakan ini semua demi kebaikan Cinta.
Selama ini Cinta memang hidup dan besar dengan hati yang baik, dia mengalah seumur hidupnya, jadi dia tumbuh dengan hati yang mudah terenyuh dan kadang mudah dibodohi.
Cinta yang mendengar ucapan Keenan yang sedikit meninggi malah membuat Cinta tanpa sadar menitikkan air matanya, nafasnya jadi berat dan dia menatap suaminya dengan berbagai perasaan.
“Ke … kenapa kau menangis? Bukankah aku sudah bilang jangan menangis karena orang lain?” Keenan langsung panik, dia melepaskan lipatan tangannya dan langsung hampir luluh begitu saja.
Akan tetapi ….
Tanpa aba-aba, saat tangan Keenan hendak mengusap rambut Cinta yang tiba-tiba terisak, Cinta langsung memeluk Keenan erat sekali, tangannya gemetaran dan dia menangis semakin keras.
"Deg ... Deg ... Deg!"
Keenan langsung terdiam membisu, jantung nya tak karuan lagi berdetak begitu kencang.
Karena Keenan terbiasa menjadi pihak yang bertindak duluan, membuat Keenan selalu kehilangan akalnya jika Cinta tiba-tiba melakukan hal seperti ini dengan inisiatif nya sendiri.
"Ehem!"
"Keenan, tahan amarah mu sebentar, jangan langsung luluh! ini semua demi kebaikan nya!" geram Keenan berbicara memerintahkan dirinya sendiri.
Dia memejamkan matanya dan mengepal tangannya, dia menahan nafasnya yang terengah-engah.
Sedangkan Cinta yang sedang memeluk suaminya melanjutkan ucapannya ....
“Lalu apa yang harus aku lakukan? aku tidak bisa mengontrol hatiku, kau bisa mengatai aku bodoh, kau bisa memarahiku, tapi aku tetap tidak bisa melihat ayahku kelihatan menyedihkan seperti tadi, lalu apa yang harus aku lakukan?” tangisan Cinta yang benar-benar polos.
Seorang anak yang tidak tega melihat ayahnya kelelahan dan kelihatan pucat seperti tadi, dimana seharusnya orangtua beruntung memiliki putri sepertinya, akan tetapi kenyataan yang memiliki empati dan hati lembut itu hanyalah Cinta seorang.
Saat mendengar ucapan istrinya barusan, keteguhan hati Keenan yang tadi masih ingin berceramah dan marah demi kebaikan istrinya langsung luluh begitu saja.
“Ya sudah jangan menangis, kau mau aku berbuat apa sekarang?” Keenan yang tadinya hendak tegas dan marah agar Cinta mengerti jika tidak semua kebaikan pantas diterima beberapa orang langsung luluh seketika.
Istrinya ini memang sudah menjadi kelemahan utamanya.
***
Cinta melanjutkan ucapannya lagi,
“Aku tidak bisa menjadi sepertimu, suka marah, memiliki hati yang dingin, menakutkan, dan berkeras hati, tega melakukan apa saja dan ….”
Belum sempat Cinta menyelesaikan ucapannya, Keenan langsung menatap datar, dia tidak jadi luluh, karena baru saja Cinta tanpa sengaja malah mengungkit semua sifat buruk yang memang dimiliki oleh nya.
“Sayang, apa kau sengaja hendak menghina ku? apa kau mencoba memancing amarahku? lakukan saja, dan aku akan menghabisi mu sepanjang malam, aku sih suka saja ya ….” Balas Keenan menyeringai, dia mengusap pundak Cinta dan membuat Cinta terdiam dan membisu.
Tanpa sadar dia malah mengatakan semua keburukan suaminya.
“Glek!”
Cinta menelan salivanya dengan kasar, dekapan tangannya semakin kencang memeluk Keenan.
Sadar dirinya keceplosan, Cinta segera mengeluarkan jurus imut yang memang merupakan kelemahan terbesar Keenan.
Keenan mencoba melepaskan tangan Cinta, agar ia bisa melihat wajahnya akan tetapi dekapan Cinta semakin kencang, “Aku lelah, tolong jangan menghukum ku, aku tidak bermaksud untuk mengatakan itu,” Cinta langsung berbicara dengan sangat cepat, seperti seorang rapper sedang bernyanyi.
“Pfft!” hanya dalam beberapa saat suasana menjadi berubah menjadi lucu karena Cinta.
“Aku kerjain saja ah,” gumam Keenan kejahilannya langsung aktif dengan segera.
Keenan yang masih berdiri mulai menunduk, dia mendorong Cinta sampai terjerembab ke ranjang, dimana Cinta masih mendekapnya erat sekali, Cinta tentu takut jika Keenan akan benar-benar menghabisinya malam ini, maka mungkin esok hari dia tidak akan bisa berjalan karena itu.
Cinta memejamkan matanya erat sekali saat dia terjatuh ke ranjang dan suaminya menjamah pundaknya.
"Sayang ...." Keenan membisik dan sekarang tersenyum jahil sekali.
"Ais, habis lah aku, aku lupa jika dia ini sangat tidak suka dibantah apalagi barusan aku keceplosan! ck, pasti aku akan kelelahan sekali!" geram Cinta menyalahkan dirinya dalam benaknya tentunya.
"Kau yang memeluk aku loh, lihat lah kau tidak melepaskan aku sedikit pun, apakah kau sedang ingin? aku sih mau saja ya," bisik Keenan membuat Cinta melebarkan matanya dan melepaskan suaminya hanya dalam beberapa detik.
Saat Cinta otomatis menjauh sedikit, ia akhirnya melihat wajah jahil suaminya yang sejak tadi terkekeh melihat nya ketakutan.
"Kau mengerjai ku, memang nya menyenangkan ya mengerjai saat aku ketakutan!" ketus Cinta ngedumel dan mengerucutkan bibirnya kesal.
"Srek!"
Keenan gemas sekali melihat istrinya langsung menarik Cinta dalam sekali hentakan dan masuk kedalam dekapannya.
"Siapa suruh kau bisa melepaskan aku sayang? kau yang memeluk aku duluan, kau harus tanggung jawab sepanjang malam memeluk aku seperti ini! mengerti?" suaranya lembut sekali.
Sekarang Keenan hanya bersandar di tengkuk istrinya, keduanya berbaring di ranjang dan sebenarnya tubuh mereka sudah lelah dan mengantuk.
"Tenang saja, aku tidak jadi menghabisi mu mal ini, kita bisa lanjutkan nanti, kau tidur lah dan jangan memikirkan apapun, apalagi ayahmu, mengerti!" Keenan memejamkan matanya.
Dan kebiasaan nya memang suka mengusap rambut istrinya, membuat Cinta merasa nyaman dalam dekapannya.
Cinta yang mendengar itu menganggukkan kepalanya, walau dia masih kepikiran dengan ayahnya akan tetapi dia yakin ayahnya pasti sudah pulang sekarang.
Dan Keenan ada benar nya juga, tidak semua orang pantas menerima kebaikan.
***