Boss Playboy

Boss Playboy
Cinta memang memabukkan


Episode 113 : Cinta memang memabukkan


***


Setelah janji dan keromantisan itu, sikap Keenan semakin menjadi-jadi tentunya, dia selalu senyum dan tangannya tak pernah ia lepaskan dari istrinya.


Seperti biasa dia memang suka berdekatan dan bersentuhan terus dengan istrinya.


“Aku harus mengganti pakaian,” Cinta yang juga masih malu setelah meminta Keenan hanya mencintainya seorang sedang menggenggam baju tradisonal ala negeri sakura di tangannya, yang sering di gunakan saat berada di pemandian air panas dan penginapan tradisional negeri sakura seperti ini.


Keenan masih senyam senyum, dia menatap istrinya karena dia juga harus mengganti pakaiannya tentunya.


“Kenapa tidak ganti di hadapanku saja sayang? kau kan sudah meminta aku hanya harus mencintaimu seorang? berarti kan kau milikku seutuhnya, jadi tubuhmu juga sudah menjadi milikku, dan ….” Keenan berbicara sembari tersenyum sangat nakal.


Matanya langsung tertuju dan berfokus ke tubuh istrinya, tidak sedikit pun pandangannya ia alihkan, seolah tubuh Cinta adalah sebuah magnet yang membuat pandangan Keenan berhenti di tempat yang sama.


Akan tetapi Cinta yang masih merasa sangat malu itu segera menarik baju Keenan dengan tangannya, dia menariknya dengan sangat tipis dan sambil menunduk karena malu dia menghentikan Keenan dari ucapan ucapan nakalnya.


“Sayang, aku masih malu, jadi … bisakah aku mengganti pakaian ku sendiri,” sungguh ucapannya sangat pelan dan lembut, wajahnya menunduk malu malu, membuat Keenan tidak tahan lagi.


Dia segera memejamkan matanya dan menelan salivanya, dia sudah menahan dirinya sejak tadi, dia sudah sangat ingin melakukan nya akan tetapi sengaja ia tunda agar momen nya tepat.


Apalagi saat melihat Cinta menggemaskan begini, itu sama saja dengan penggodaan level maksimum bagi Keenan.


“Glek!”


Keenan menelan salivanya dengan kasar, lalu ia mengalihkan pandangannya, “Ka … kali ini akan ku biarkan, ta … tapi jika kau berani menggodaku sekali lagi, aku benar-benar akan memakan mu!” ketus Keenan benar-benar dimabuk asmara.


Belum pernah dia seperti ini sebelumnya, tergila-gila hanya karena sikap menggemaskan seseorang.


Setelah mengatakan itu, dengan kecepatan super dia langsung keluar dari salah satu ruangan ganti yang masih ada di dalam kamar mereka, dia lagi-lagi mengusap dadanya, Keenan sungguh tidak tahu jika jatuh cinta juga melelahkan, ya melelahkan, karena jantung akan terus berpacu tidak karuan.


“Huh, dasar wanita penggoda, menggodaku disaat seperti ini, masih banyak hal yang ingin aku lakukan sebelum menu utama, jadi aku harus menahan diriku, aku harus membuat malam ini tidak terlupakan olehnya, ha ha ha!” Keenan kembali menyalakan semangatnya.


Dia akan mengubah kesedihan Cinta hari ini menjadi momen paling berharga dan tidak mudah dilupakan oleh Cinta, Keenan akan mengubah hari buruk Cinta ini menjadi hari paling membahagiakan baginya.


Sekarang kebahagiaan Cinta sudah seperti kebahagiaannya juga, Keenan tidak tahu sejak kapan, akan tetapi dia merasakan perasaan ini jika bersama dan melihat wanitanya itu.


Keenan segera mengenakan pakaian khas jepang berwarna biru yang biasanya sering dikenakan di pemandian air panas, dada bidangnya kelihatan, tali pakaian ia ikatkan dengan pas, baju itu membuatnya kelihatan sangat memesona dan tampan sekali.


***


Sedangkan Cinta yang terkejut melihat respon suaminya sedang tersenyum berbinar, pipinya memerah dan dia terlihat sedang salah tingkah.


Dia segera mengganti pakaian yang disediakan untuknya, pakaian itu berwarna senada dengan pakaian yang digunakan suaminya.


Dia sedikit sulit saat mengenakan baju nya akan tetapi akhirnya ia bisa juga, dia mengikat dan menggulung semua rambutnya.


Cinta kelihatan cantik dan malah semakin menggemaskan saat rambutnya di ikat dan digulung seperti ini.


***


“Cklek!”


Dia membuka ruangan ganti baju yang berada di kamar mereka, entah kenapa dia malu sekali, dia berdebar-debar untuk menunjukkan tampilannya kepada Keenan, pipinya yang memerah dan ekspresinya yang malu malu malah menambah keimutan Cinta.


Dan benar saja, saat Cinta keluar dari ruangan itu, mata Keenan melebar, sudah banyak sekali wanita cantik yang pernah dilihat olehnya, sudah banyak pula yang langsung menyerahkan dirinya kepadanya, akan tetapi yang satu ini berbeda.


Kecantikan jika dibumbui dengan cinta maka di pandangan matanya tidak ada yang melebihi kecantikan orang yang ia cintai.


“Ada apa kenapa pipimu memerah?” tanpa disadari oleh Keenan, karena waktu seolah berjalan melambat, Cinta sudah ada di hadapan Keenan dan bertanya pada nya mengapa pipinya memerah sekarang ini.


“Hmm?” Keenan sedikit gelagapan akan tetapi dia merasa tidak boleh menunjukkan sisi berdebar dan malunya kepada Cinta, takutnya Cinta akan remeh padanya.


Dan juga sisi arogannya memang tidak membiarkan Cinta mengetahui jika dia sebenarnya akan merona juga jika berada di dekat Cinta.


“Itu, emm, karena dingin, aku alergi dingin,” jawaban cepat dan sedikit ketus, dia mencoba menyembunyikan rona merah di wajahnya.


“Hmmm? alergi dingin? lalu bagaimana dong? haruskah kita tidak keluar dan di kamar saja?”


Cinta kebingungan, jika Keenan merasa alergi kepada dingin mengapa Keenan membawanya ke tempat dingin seperti ini?


Cinta sama sekali tidak tahu jika itu hanyalah sekedar alasan untuk menyembunyikan rona merah di wajah nya.


“Ehem, ini dinginnya belum seberapa kok, ayo kita keluar, ada yang mau ku tunjukkan kepadamu,” Keenan segera mengalihkan pembicaraan, dia meraih tangan istrinya dan menggenggamnya.


Ia segera menuntunnya berjalan sedikit jauh dari kamar mereka, di sepanjang jalan Cinta bisa melihat kolam terbuka yang berisikan air panas yang langsung keluar dari gunung, disana ada beberapa orang pengunjung.


Sampai pada akhirnya langkah kakinya sampai di tempat tertinggi pemandian itu, tempatnya kosong dan hanya ada mereka berdua, Keenan memang sengaja mengosongkan tempat ini khusus untuk mereka berdua selama weekend.


Cinta sedikit ngos-ngosan, dia belum sempat melihat pemandangan yang ada di depannya.


Keenan nampak setia menunggu Cinta mengambil nafas perlahan, sampai pada akhirnya Cinta menatap ke depannya, lalu terlihatlah pemandangan spektakuler malam itu.