Boss Playboy

Boss Playboy
Penyesalan seorang Ibu.


Episode 131 : Penyesalan seorang Ibu.


***


Detak jantung yang berdegup semakin memburu, tangan yang entah kenapa menjadi dingin, Cinta tidak tahu apa yang sedang ia rasakan, perasaan takut, senang namun juga khawatir.


Dia akhirnya memberanikan diri untuk menanyakan kepada perawat yang kebetulan lewat dari lorong, bagaimana prosedur untuk bisa diperiksa oleh dokter kandungan.


Kebetulan sekali, dokter kandungan yang sedang berjaga tidak terlalu memiliki jadwal yang padat, jadi Cinta bisa segera langsung melakukan pemeriksaan dan untuk biaya administrasi bisa menyusul.


Perawat dan dokter yang langsung menyambut Cinta dengan hangat langsung melakukan prosedur pemeriksaan yang sesuai dengan protokol di rumah sakit tersebut.


Setelah beberapa saat melakukan pemeriksaan, dokter menyarankan Cinta untuk kembali duduk di kursi yang sudah tersedia di ruangan tersebut.


Cinta tak bisa berhenti mengepal tangannya, dia tegang dan jantungnya berdegup cepat sekali, dia menanti apa yang akan diberitahukan oleh dokter itu.


"Bagaimana dok? bulan ini memang saya tidak mengalami menstruasi, apakah kesehatan saya sedang terganggu ataukah mungkin ..." dengan mata yang penuh harap dan dahi yang mengernyit penasaran, Cinta buru-buru bertanya kepada dokter yang baru saja duduk di hadapan Cinta.


"Selamat ya Ibu Cinta, anda sudah mengandung dan usia kandungan anda sudah memasuki usia satu bulan,"


"Anda sehat-sehat saja dan tidak ada masalah, kedepannya disarankan untuk melakukan pemeriksaan berkala,"


Dokter itu memberikan berita bahagia namun juga mengejutkan kepada Cinta, Cinta melebarkan mata dan dia tak bisa berkata-kata.


Untuk seorang wanita yang baru pertama kali mengetahui dia hamil memang rasanya tak tergambarkan, rasanya sangat membahagiakan namun disaat yang sama juga menakutkan dan mendebarkan.


Bagaimana pun tanggung jawab seorang ibu sangat berat, Cinta tak ingin menjadi seperti ayah dan ibunya.


Jadi Cinta meredakan dan menenangkan dirinya dahulu, dia mengusap perut ratanya dan tersenyum.


Tanpa sadar dia menitikkan air mata, "Kenapa aku harus takut? aku kan memiliki ayahmu," gumam Cinta mengusap-usap perutnya yang masih rata.


Dia menepis segala ketakutan dan kecemasannya, dia yakin Keenan bisa menjaganya dan bayinya, tidak seperti ayahnya.


"Baik dok, apakah ada pantangan yang harus saya hindari,"


"Seperti makanan, atau mungkin saya harus melakukan rutinitas apa ya dok dalam kehamilan muda ini?"


Cinta bertanya banyak hal, layaknya ibu yang baru pertama kali hamil, banyak yang tidak ia mengerti.


Dokter itu segera menjelaskan dengan baik, jika Cinta hanya tidak boleh terlalu kelelahan saja, dia bisa memakan makanan yang ia mau kecuali makanan yang terlalu pedas atau asam, tidak ada hal lain yang terlalu berat yang harus ia lakukan.


Setelah mendengar semua penjelasan dan mendapatkan beberapa jawaban dengan pertanyaan pertanyaan nya, Cinta langsung dengan bahagia dan debaran jantung yang menggebu permisi dari ruangan itu.


"Baiklah dok, terimakasih ya, saya permisi dulu," Cinta pergi dengan sopan, lalu melakukan pembayaran di kasir dimana perawat yang sejak tadi mendampingi dokter segera menuntun Cinta.


Akan tetapi saat ia membalikkan badannya, dia seperti melihat seseorang yang ia kenali, terlihat begitu pucat, kurus dan tatapan matanya kosong.


Hati Cinta seolah diremas, tangannya bergetar dan dia tak bisa menyembunyikan hatinya yang sakit melihat orang itu.


"Ibu ...." suaranya yang pelan dan sedikit gemetaran, diantara kerumunan orang itu, dia melihat wanita kurus yaitu ibunya sedang melangkah menggunakan alat bantu jalan, sepertinya dia hendak dipindahkan ke ruangan yang lain, melihat ada beberapa perawat di sekitarnya.


Cinta yang berjarak sedikit jauh dari ibunya langsung berlari mendekat, mungkin saat lalu Cinta memang marah dan kecewa, tetapi dia tetap tidak bisa menyembunyikan rasa sayangnya kepada ibunya.


"Ibu," Cinta memanggil ibunya lagi, jaraknya sudah dekat dan saat itu pula Layla bisa mendengar suara putrinya.


Saat melihat jika Cinta ada dihadapannya, Layla yang langsung gugup itu hendak kabur, dia merasa belum pantas, selama ini dia menyalahkan dirinya sendiri atas semua yang telah terjadi.


Menganggap dirinya tak pantas menjadi ibu sampai mantan suaminya menjual putrinya sendiri demi kekayaan, putri yang ia anggap masih kecil telah dijual karena keegoisan dan karena sakit hatinya telah dikhianati.


"Ibu, tolong jangan pergi, aku ingin bicara," Cinta meraih tangan ibunya yang gemetaran, dia ingin berbicara dengan ibunya, banyak hal yang ingin ditanya oleh Cinta dan juga ingin tahu mengapa ibunya bisa sakit dan bagaimanapun keadaannya sekarang.


Setelah itu, karena Layla sudah tidak bisa pergi, keduanya akhirnya memutuskan untuk bisa berbicara berdua di taman dekat rumah sakit.


"Kenapa Ibu sangat kurus? kenapa tidak bilang padaku jika Ibu sakit? Ibu sakit apa?" Cinta berbicara dengan sangat gemetaran, dia mencoba melihat ibunya tetapi Layla terus saja menunduk.


Mendengar suara Cinta yang gemetaran itu, Layla yang wajahnya pucat sekali, dia melihat kearah Cinta lalu ia menangis.


"Ibu tidak pantas, Ibu tidak pantas menjadi Ibumu, maafkan Ibu, Cinta, karena keegoisan dan rasa sakit hati Ibu, Ibu membiarkan mu di sini sendirian, menganggap jika ayahmu bisa menjagamu dengan baik, tetapi nyatanya ...."


"Kau pasti berjuang sendirian karena keegoisan ku dan ayahmu, setiap mengingat hal itu hati Ibu rasanya terkoyak dan sakit, bagaimana mungkin aku bisa menghubungi mu lagi setelah apa yang Ibu lakukan,"


"Bagaimana mungkin Ibu ingin bahagia saat kau menderita karena Ibu,"


Layla menangis dan suaranya bergetar hebat, dia melihat putrinya yang pastinya merasa lebih sakit, tetapi ia merasa tak pantas memeluknya.


Layla tidak akan membela dirinya sendiri, dia memang salah, karena rasa sakit hati atas perselingkuhan suaminya dahulu, dia merasa tidak akan bisa lagi merawat Cinta dengan baik, setiap melihat Cinta, ia akan teringat Rehan.


Bukan karena Layla membenci Cinta, akan tetapi Layla takut jika dia berada di dekat Cinta maka semua kemarahan nya akan tertuju kepada Cinta yang tak memiliki salah apapun.


Karena itulah dia meninggalkan Cinta bersama ayahnya, karena Rehan memiliki dana yang cukup untuk membiayai Cinta.


Sedangkan Layla saat itu memilih pergi ke desa terpencil untuk mengabdi dan mengobati orang-orang yang membutuhkan secara gratis, dia ingin menghabiskan waktunya tanpa memikirkan hal yang akan membuatnya gila.


Jika dulu dia tidak pergi ke pelosok maka dia pasti akan gila, karena perselingkuhan lelaki yang sangat ia percayai.


***