
Episode 146 : Keenan dan Clara.
***
"Tok ... Tok ... Tok!"
Suara ketukan pintu yang sedari tadi terdengar tak lagi didengar oleh Keenan.
Itu adalah Clara yang datang melihat keadaan Keenan yang baru saja diobati oleh dokter pribadi Keenan.
Mengetahui ketukan pintu tak digubris membuat Clara memasuki kamar yang ternyata tidak dikunci sama sekali.
Saat ia masuk, Ia melihat Keenan terdiam dengan mata yang kosong dan wajah yang sangat pucat, ditangannya ada sebuah foto kecil dan di sisinya ada sebuah kotak biru dan surat yang terjatuh.
"Keenan? kau kenapa? apakah kau baik-baik saja?" Clara tentu saja khawatir melihat keadaan yang begitu mengkhawatirkan dari Keenan.
Tapi ucapannya sama sekali tak digubris oleh lelaki ini, seorang lelaki yang belum pernah memperlihatkan tampilan yang sangat menyedihkan.
Clara yang tak digubris itu mengambil surat kecil yang ada di sisinya, dan matanya melebar saat membaca surat tersebut.
"Ka ... kau akan memiliki anak?" dia bertanya dengan suara yang bergetar.
Keenan melihat kearah Clara dengan tatapan yang memilukan sekali, baru pertama kali Clara melihat tatapan menyedihkan itu.
"Apa yang harus aku lakukan Clar? aku menyakiti nya saat dia ingin memberitahu ini, aku sama sekali tidak pantas!"
"Aku ingin mengejarnya dan berlari kepadanya sekarang tapi aku tak bisa, aku lebih takut sekarang, jika keluargamu tahu dia hamil, jika para tetua itu tahu dia hamil, dia pasti akan dilenyapkan begitu saja!"
Clara yang mendengar itu hanya terdiam, dia juga tidak bisa melakukan apapun, dia tahu keluarga nya mengerikan, akan melakukan apa saja demi tujuannya, begitu juga keluarga Keenan yang merupakan para tetua itu.
Clara hanya diam saja dan mengumpulkan surat dan beberapa foto yang bertebaran, dia memasukkan nya kedalam kotak lagi dan menyerahkan kepada Keenan.
"Keenan, apa kau ingat dulu saat kita bertengkar memperebutkan sesuatu? kau bilang tidak akan berhenti dan mengalah, sekarang belum terlambat untuk membatalkan pernikahan kita,"
"Aku akan menanggung semuanya, jangan khawatir, aku akan mengurus keluarga ku, tetapi aku tidak bisa mengurus para tetua yang ada di perusahaan keluarga mu,"
"Bagaimana jika kita melakukan permainan seperti dulu, kita lihat siapa yang menang, aku yakin akan menang walau aku akan mengalami kesulitan, apalagi hinaan dari para saudariku nanti,"
"Tapi sekarang aku tahu aku tidak akan bisa bersama mu lagi, kehadiran seorang bayi adalah berkah yang artinya kau harus berjuang lebih keras lagi, tenang saja walau aku suka padamu aku masih memiliki hati nurani, aku juga seorang wanita,"
Clara yang memang memiliki hati yang terlalu lembut dan baik itu memberikan saran kepada Keenan, dimana saran itu sangat berguna bagi Keenan sekarang ini.
Clara memang seperti ini, dia tidak suka melihat Keenan dalam kesusahan, apalagi terlihat menderita seperti ini.
Arti cinta bagi setiap orang memang berbeda-beda, akan tetapi hakekatnya tetap sama, jika benar-benar cinta maka keegoisan akan sirna, dan akan lebih mementingkan keselamatan dan kebahagiaan orang yang ia cintai.
Keenan yang mendengar itu langsung memegang erat foto kecil yang ada di tangannya, dia meneguhkan hatinya, masih banyak yang harus ia lalui.
Karena sekarang kelemahan nya telah ia lepas sementara, dimana di mata para tetua dia telah bercerai dengan Cinta, jadi mereka tak akan bisa menggunakan Cinta sebagai sandera atau apapun lagi.
Hari itu Keenan dan Clara juga bekerjasama, dimana Clara juga tak ingin menikah dengan Keenan jika memang Keenan tak akan mencintainya, dia juga tidak ingin menghancurkan kebahagiaan seorang istri dan anak yang akan lahir nantinya.
Hanya wanita jahat yang mampu menghancurkan kebahagiaan orang lain apalagi anak tak bersalah demi kebahagiaan nya sendiri.
"Tring ... Tring ... Tring!"
Saat Clara dan Keenan masih berbicara, ponsel Keenan berbunyi dan itu adalah dari Rey, bawahannya yang bertugas untuk menjaga Cinta selama Keenan tak berada di sisi Cinta.
Keenan yang melihat panggilan itu dari Rey segera mengangkat panggilan itu.
"Halo?"
"Tuan, Nyonya Cinta sedang di rawat di rumah sakit, sepertinya dia syok dan melukai dirinya sendiri ...." belum selesai Rey memberikan penjelasan, Keenan langsung panik dan bangkit, turun dari ranjangnya.
"APA? DI RUMAH SAKIT MANA?" geram Keenan tak sabaran.
Rey segera memberitahukan rumah sakitnya, dan dengan tak sabaran Keenan langsung mengambil jasnya dan pergi dengan terburu-buru.
Keenan tak akan bisa menahan diri jika mendengar Cinta terluka atau sakit, dia akan lupa segalanya dan kehilangan kesabaran.
"Clar, aku pergi dulu, Cinta di rawat di rumah sakit, ini pasti karena aku, aku harus melihat keadaannya dengan mata kepalaku sendiri!" geram Keenan langsung meninggalkan Clara.
Clara yang mendengar itu hanya mengangguk dan tersenyum sampai akhirnya Keenan pergi menjauh dan hilang dari pandangannya.
Saat Keenan sudah pergi, Clara akhirnya melepaskan topeng sok kuatnya, dia berhenti tersenyum dan meneteskan air matanya.
"Kau sangat mencintainya, penantian ku yang berharap suatu saat kau akan datang kepadaku seperti itu ternyata hanyalah keinginan yang tak akan tercapai, tapi tak apa, asal kau bahagia aku akan membantumu," Clara berbicara pelan.
Lalu ia segera berdiri, menyembunyikan kotak itu kedalam laci lagi agar mata-mata yang ada di rumah ini tak menemukannya.
Dia menghapus air matanya dan harus mengalihkan perhatian semua pelayan yang termasuk adalah mata-mata dari keluarganya dan keluarga Keenan, agar mereka tidak mengetahui jika Keenan sedang tergesa-gesa hendak menemui Cinta.
***
Disisi yang lain,
Malam telah menghampiri, Cinta telah diobati di rumah sakit, oleh karena dia masih hamil muda, dia menjadi lemah dan harus melakukan rawat inap di rumah sakit.
Cinta masih tak mau menceritakan apapun, sekarang dia sedang tertidur di ranjang.
Layla yang tak bisa melakukan hal lebih hanya bisa menemani putrinya, sebagai tebusan atas kesalahannya selama ini, dia akan berada di sisi putrinya sampai putrinya membaik dan bisa menceritakan segala hal yang terjadi kepadanya.
***