Boss Playboy

Boss Playboy
Sebelum malam pertama terlaksana.


Episode 85 : Sebelum malam pertama terlaksana.


***


Di kediaman Rehan Heit,


"Pah, kau kenapa? dari kemarin selalu diam dan seperti memikirkan sesuatu," istrinya yang memperhatikan perubahan sikap suaminya merasa terganggu.


Rehan langsung melihat kearah istri keduanya ini, dia menghela nafasnya dalam-dalam, "Aku lelah, itu saja, aku mau tidur dulu," ketus Rehan entah kenapa pikirannya dipenuhi tentang mengapa ibu Cinta yang merupakan mantan istrinya menghubungi dia dan katanya hendak mengatakan sesuatu.


Sungguh hal itu benar-benar mengusiknya sekarang ini.


Istrinya yang melihat hal itu tentu saja kesal bukan main, tetapi akan dia biarkan dulu, mungkin suaminya benar-benar sedang lelah saja.


Dia segera melangkah ke kamar putrinya yang juga entah kenapa sejak ulangtahun nya selalu mengurung diri kamarnya.


Dia ingin tahu kenapa putri tersayang nya itu kelihatan sedih sekali akhir-akhir ini.


"Tok ... Tok ... Tok!"


Dia mengetuk pintu kamar putrinya dimana Rara sedang menangis sendirian sembari memeluk bantal.


"Sayang, Mama masuk ya," serunya segera membuka pintu dan melihat putrinya yang manja kelihatan menangis.


Tentu saja ia segera datang menghampiri dan memeluk putrinya.


"Ada apa Ra? apakah kau baik-baik saja?" Tanya Monic pada putrinya ini.


"Mama ...." Rara semakin menangis dengan hebat, dia memeluk Monic.


Apapun yang ia lakukan tetap saja Rama menolaknya, hatinya hancur sekali, dan semuanya ini hanya karena Cinta, Rama tidak menyukai Rara melainkan Cinta.


"Kak Rama Mah, dia menolak aku karena suka pada Cinta, aku harus bagaimana? aku suka sekali dengan Kak Rama," Rara menangis sesenggukan, mengadu kepada ibunya.


Monic yang mendengar nama Cinta langsung panas hatinya, dia tidak suka putrinya kalah dari putri istri pertama suaminya.


"Ck!" Monic berdecak kesal. Lalu ia menggenggam bahu putrinya.


"Rara, dengar Mama ya, kau pasti akan menang dari si Cinta, putri Mama tidak akan kalah, kita akan membuat Rama membenci Cinta, percaya pada Mama!" seru Monic menyakinkan putrinya.


Jika nanti pasti Rama akan suka pada Rara, apapun akan ia lakukan sama seperti saat dulu dia menggoda dan merebut suaminya yang sekarang dari Ibunya Cinta.


"Benarkah Ma?" seru Rara dengan mata berbinar-binar.


"Tentu saja, semuanya akan Mama lakukan untuk kebahagiaan mu," balas Monic mengusap rambut putrinya.


Rara yang bahagia sekali saat mamanya mendukung nya langsung memeluk erat sekali


"Terimakasih Ma," seru Rara girang sekali.


***


Disaat yang sama,


Keenan benar-benar turun secara langsung memilihkan cincin untuk Cinta, dia teliti sekali saat memilih model yang ia rasa akan cocok di jari manis istrinya.


Dia melihat ada sebuah cincin berbentuk love kecil ditutupi sebuah lingkaran, dia langsung menyeringai.


Dia meraih cincin itu, "Ini tetap sekali, dia cinta dan aku adalah lingkaran yang melindungi nya, haha, pasti dia akan terharu saat melihat ku membeli ini untuknya, aku yang hebat dan berbesar hati ini,"


Sungguh tiada hari bagi Keenan jika tidak memuji dirinya sendiri.


Setelah itu ia memutuskan untuk membeli cincin bernilai fantastis akan tetapi seolah tidak mahal baginya.


Dia dengan semangat sekali membawa cincin itu, dia tidak sabar ingin berjumpa lagi dengan istrinya.


***


Di kediaman Keenan,


Dia duduk diatas meja makan dan menatap pahit kearah makanan yang ia masak.


"Bukannya masakan ku tidak enak, tetapi lelaki itu terlalu berlebihan membuat aku malu," ketus Cinta duduk di meja makan menunggu suaminya pulang.


Hanya dalam beberapa saat, ketika Cinta berpangku tangan menatap makanan malangnya di tatap sinis oleh para koki, dia mendengar suaminya sudah sampai di rumah.


"Sayang ...." Keenan sedikit berteriak karena terlalu bersemangat.


Cinta menoleh dan melihat betapa bahagianya Keenan malam ini.


"Cup!"


Keenan langsung mengecup bibir Cinta sesaat setelah mereka bertemu, padahal masih banyak pelayan dan koki di sekitar mereka.


"Deg!"


Wajah Cinta langsung memerah, dia celingak-celinguk melihat para koki dan pelayan yang langsung menunduk.


"Masih banyak ...." belum selesai Cinta melanjutkan ucapannya, Keenan langsung menarik Cinta agar duduk di pangkuannya.


"Ssstt!"


"Aku tahu kau hanya akan mengatakan penolakan, jadi jangan mengatakan apapun dan diam saja, duduk di sini dan kita makan sebelum berolahraga," bisik Keenan membuat Cinta mengingat jika malam ini adalah malam pertama mereka.


"Oh astaga aku lupa dengan hal itu, ah! jantungku rasanya mau copot!" teriak Cinta dimana kedua sisi berbeda dari dirinya keluar lagi.


Siapa lagi jika bukan sisi iblis dan sisi malaikat yang ada di dalam imajinasinya.


"Aku tidak akan tidur malam ini, aku mau melakukan siaran langsung, ehe!" seru sisi iblis sedang berpesta ria dan bersemangat untuk menantikan malam pertama seperti Keenan.


Sedangkan sisi malaikat,


"Sisi iblis kau mesum sekali sih? aku mengintip sajalah malam ini," seru sisi malaikat dengan pipi merah dan sudah membayangkan hal yang tidak tidak.


Sungguh walau seharusnya sisi malaikat sebenarnya harus melarang sisi iblis mengatakan hal hal nakal, akan tetapi sepertinya sikapnya pun sama dengan sikap si iblis, tak ada beda.


"Deg ... Deg ... Deg!"


Malam ini menelan sesuap nasi saja terasa berat bagi Cinta, dia selalu melirik kearah Keenan, setiap ia lihat wajah super tampannya itu Cinta akan geleng-geleng kepala.


Bayangan saat ia lupa diri di pulau pribadi saat lalu saja sudah hampir membuat nya ingin melupakan segala ingatan, apalagi malam ini saat dia sudah tidak memiliki alasan lagi untuk menolak.


Sedangkan Keenan, makan dengan lahap sembari sekali-kali menggoda Cinta dengan tatapan matanya yang tajam nan menggoda itu.


"Kalian lihat kan kemampuan istri ku memasak? aku sudah bilang jika masakan istriku seribu kali lebih enak dari makanan koki terhebat sekalipun!" Keenan tetap tak lupa membanggakan masakan yang sesuai dengan seleranya ini.


"Ck! mulai lagi kan .... bisa dipastikan dari cara melihat para koki itu, mereka sudah tak bisa berkata-kata karena masakan ku terlalu biasa yang ada malah masakan ku yang tidak ada apa-apanya dengan masakan dari koki di rumah ini.


"I ... iya Tuan, kami mengakuinya," balas kepala koki itu terlihat wajahnya tak ikhlas sama sekali.


***


Novel ini akan update setiap hari yaa, jadi mohon di tunggu, berikan komentar membangunnya biar aku makin bagus dalam menulis.


Btw aku tahu banyak kekurangan dalam novel ini, jika kalian menemukan ada salah ketik, tinggalkan komentar saja ya, biar ;langsung aku perbaiki hehe.


Makasih ya semuanya, lope you.


***


Jangan lupa follow ig author : @nitanaiibaho


Kalian bisa DM dan tanya2 disana


***