Boss Playboy

Boss Playboy
Bos Keenan galau?


Episode 143 : Bos Keenan galau?


***


Di dalam ruangan pribadi Keenan,


Saat Keenan membaca semua laporan itu ditengah ruangan yang sudah bagaikan kapal pecah, seseorang mengetuk pintu ruangan pribadi Keenan lagi.


Dan dia adalah kepala pelayan yang sudah kembali mengantarkan Cinta, membawa berkas perceraian dan perhiasan yang tadi tertinggal diatas meja.


"Tok ... Tok ... Tok!"


Saat mendengar ketukan itu, Bram yang tadi berfokus melihat ruangan kapal pecah itu segera terperanjat dan langsung membuka pintu.


Saat kepala pelayan melihat ada Bram, kepala pelayan segera menyerahkan hal yang ia bawa kepada Bram.


"Tolong sampaikan kepada Tuan ya," seru kepala pelayan itu sopan dan diterima baik oleh Bram.


Bram kembali masuk dan saat itu Keenan sudah selesai membaca semua berkas yang telah ia siapkan.


"Hah," Keenan menghela nafasnya dalam-dalam.


"Kau akan mengurus perusahaan yang disini lebih lama dari yang aku duga, aku akan kembali secepatnya ke Inggris dan menyelesaikan urusan ku, aku tidak tahan dengan keadaan ini!" geram Keenan membuat Bram hanya mengangguk tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi sekarang ini.


Hanya saja hati kecil Bram berteriak, jam tidur dan kualitas tidurnya akan terganggu lagi, tapi apa boleh buat, dia sangat membutuhkan pekerjaan nya karena gajinya yang terbilang fantastis.


"Baik Pak, apakah berkas yang Bapak minta sudah lengkap semua? kalau ada kekurangan agar saya segera perbaiki Pak," Bram menjawab dengan sopan dan lugas.


Keenan menggelengkan kepalanya, "Tidak ada, hanya saja aku ingin kau melakukan sesuatu untukku," seru Keenan kemudian tiba-tiba serius.


Bram yang mendengar itu menantikan sesuatu yang sangat rahasia dan ternyata ....


"Aku ingin kau sampaikan surat cerai itu Jepara Cinta satu minggu setelah aku kembali ke Inggris, jangan sampai ada yang tahu,"


"Juga perhiasan yang ada di tanganmu, bungkus dengan indah dan kembalikan kepadanya beserta surat cerai itu!" perintah yang begitu rahasia bagi Keenan tapi tidak terlalu bagi Bram.


"Aih, aku mengira aku akan mendapatkan misi antara hidup dan mati melihat betapa hati-hati Bos mengatakannya tapi ternyata ..."


Saat Bram menggumam hal itu dia tiba-tiba dikejutkan dengan kata cerai.


"Ha? cerai? Bapak dengan dengan Nona Cinta? tapi kenapa? bukankah Bapak sangat mencintai nya?" Bram lagi-lagi keceplosan, membuat Keenan menjadi semakin sedih.


Raut wajahnya kemudian berubah dan ekspresi galau nan patah hatinya membuat Bram semakin syok.


Lagi dan lagi ini adalah kali pertama Bram melihat Bosnya patah hati dan galau seperti itu.


"Bram, sudahlah ...."


(Rey, adalah nama penjaga Cinta yang saat lalu datang ke pemandian air panas, jika Bram adalah tangan kanan Keenan maka Rey adalah tangan kirinya)


"Ba ... Baik Pak," balas Bram hendak ijin pergi ke kantor kembali.


Walau ia masih sangat bingung, kenapa harus menunggu satu minggu agar memberikan semua yang disampaikan oleh Keenan kepada Cinta, Bram sekarang jauh lebih fokus kepada bagaimana dia akan menyelesaikan tugas menumpuk agar jam tidurnya tak terganggu.


"Ka ... kalau begitu saya permisi dulu Pak, saya akan menghubungi dokter pribadi anda ke sini," balas Bram menunduk dan pergi dengan damai.


Sedangkan Keenan kembali digeluti oleh kekalutan hatinya.


***


Disisi lain, di sudut rumah Keenan paling belakang,


"Tuan, saya sudah pastikan jika Tuan Keenan dan wanita itu telah berpisah, baru saja wanita itu menandatangani surat perceraian,"


Seorang wanita berpakaian pelayan. memberikan laporan kepada Tuan nya yang sekarang sedang melakukan meeting besar-besaran dengan rekan nya yang lain.


"Baiklah, tetap awasi dari dekat, jika keduanya masih memiliki hubungan, lenyapkan wanita itu," perintah nya memberikan perintah kepada suruhannya.


"Baik Pak," balasnya langsung mematikan panggilan sambil celingak-celinguk memastikan tak ada yang mendengar dan melihatnya.


Orang yang memberikan perintah itu adalah seorang yang berhubungan dengan keluarga Keenan, dia tidak ingin tradisi keluarga nya hancur dan rusak oleh karena satu wanita biasa.


Juga dia tidak ingin kehilangan keuntungan jika Keenan dan Clara menikah, maka akan banyak keuntungan yang ia dapatkan, bukan saja berupa harta akan tetapi juga kekuasaan yang semakin meluas.


Setelah menerima laporan itu, dia tersenyum sembari mengetuk-ngetuk meja kaca yang ada di hadapan nya menggunakan jemari telunjuknya.


Dia segera memulai pertemuan penting ini untuk membicarakan sesuatu yang penting untuk mereka.


***


Di kediaman Cinta,


Sejak tadi Cinta hanya menangis saja, dia belum menceritakan apapun kepada Ibunya, dia tidak bisa untuk saat ini, jadi yang bisa ia lakukan hanyalah menangis untuk hari ini saja.


Harapan yang diruntuhkan begitu saja, dan keinginan semua yang telah dirobek tak bersisa, hatinya seperti kosong memilukan.


"Bajingan, brengsek! kenapa saat aku pergi dia malah kelihatan lebih sedih dariku? padahal dia yang mencampakkan aku! sialan!" Cinta mengumpat dalam dirinya sembari mencengkeram tangannya.


***


Maaf update nya lama :(


Buat novel Ini Sangat susah, maaf juga tanda end nya gabisa aku lepas :(