Boss Playboy

Boss Playboy
Aku terbiasa diabaikan.


Episode 138 : Aku terbiasa diabaikan.


***


Di kediaman Keenan,


Cinta memasuki kamar dengan tangisan tak bisa ia bendung, semua yang terjadi hari ini terlalu mengejutkan dan seperti tidak nyata, masih ada harapan di hati Cinta jika semua itu hanyalah sebuah kebohongan.


Dia duduk di ranjang, tangannya tak bisa berhenti mencengkeram, kuku jarinya selalu saja beradu dengan jari yang lain karena takut dan syok.


"Dia tidak akan meninggalkan aku, dia bilang akan bersamaku, ini semua bohong! ini semua hanya kebohongan! ya, semua kebohongan, dia pasti hanya bercanda!"


Ucapan ucapan bergetar dan memilukan dari mulutnya, tak mau menerima kenyataan mengenai bagaimana suaminya itu mengatakan jika dirinya telah bosan.


Sampai dititik kuku jarinya yang terus beradu sebagai respon syok tak terbendung dari dirinya, tak sadar dia melukai dirinya sendiri.


"Ah ..."


Dia melihat jari-jarinya berdarah, air matanya yang menggenang di kedua bola matanya membuat pemandangan itu serasa kabur, air mata yang lagi dan lagi harus mengalir karena dia tak dibutuhkan lagi dan akan dibuang.


"Tes!"


"Tes!"


Air mata nya menetes ke luka berdarah ditangan yang disebabkan oleh dirinya sendiri.


Guncangan emosi yang memilukan seolah luka lama yang hendak ia sembuhkan tertoreh kembali tetapi ribuan kali jauh menyakitkan dari yang lalu.


"Tak!"


Terdengar pintu terbuka saat itu, dan ia melihat jika Keenan memasuki kamar pribadi mereka, Cinta segera berdiri dan matanya melebar, Cinta mengikuti langkah kaki Keenan, Keenan seolah menghindari untuk tidak melihat dirinya.


"Srek!"


Keenan mengambil semua bantal dan selimut yang ada diatas ranjang dan memeluknya erat, "Aku akan tidur di ruangan pribadiku, jika kau mau tidur disini tidur saja," ketusnya masih mengalihkan pandangannya.


"Kenapa kau bawa selimut dan bantal yang disini, diruangan pribadimu juga ada bantal dan selimut, apa kau mau aku kedinginan sampai mati disini?" ketus Cinta dengan nafas yang semakin memburu.


Moodnya jadi naik turun, dan kesedihan, kemarahan juga kekecewaan adalah yang memenuhi hatinya sekarang.


Keenan yang mendengar itu tentu saja tidak setuju, dia mengambil selimut dan bantal yang ada di ruangan ini karena selimut dan bantal di kamar ini memiliki wangi tubuh Cinta, jika dia tidak bisa tidur bersamanya setidaknya dia bisa memeluk selimut dan bantal nantinya.


"Kenapa jadi mati? selimut dan bantal di seluruh rumah ini milikku, nanti aku berikan selimut dan bantal yang baru!" ketus Keenan akhirnya tak sengaja melihat kearah Cinta.


Saat itu ia lihat wajah Cinta yang kemarahan seperti sedang sakit, jemarinya mengalirkan darah dan tubuhnya kelihatan bergetar hebat saat sedang berdiri.


"Brak!"


Tanpa sadar dia melempar semua selimut dan berjalan melangkah dengan langkah yang besar.


Dengan nafas yang memburu dan kemarahan di wajahnya, Keenan merasa kesal bagaimana wanita ini akan berakhir terluka jika ia tinggalkan.


"Bagaimana dia akan bisa hidup tanpa ku jika hanya begini saja sudah terluka?"


"Wanita lemah, membuatku khawatir saja! sialan!"


Dia menggeram dalam hatinya, dia membalut luka Cinta dengan ekspresi marah namun ia kembali diam.


Cinta yang melihat itu tentu saja kebingungan, saat jemarinya yang terluka itu telah dibalut, Keenan berdiri dan hendak pergi begitu saja.


"Srek!"


Cinta menahan tangan Keenan, "Jangan pergi, aku berjanji akan menjadi wanita yang baik, tolong jangan buang aku seperti orang lain, katamu akan melindungi ku dan memberikan apa yang tidak pernah aku dapat, aku hanya ingin kau, aku tidak ingin apapun jadi tolong jangan pergi, jangan membuang ku,"


Cinta menunduk, tangisannya pecah lagi, dan ia mencengkeram tangan Keenan dengan sangat kuat.


"Deg!"


Hati Keenan sakit sekali, dia ingin sekali memeluk wanita ini dan mengatakan jika sesungguhnya tidak sekalipun dia membenci atau membuangnya, jika perasaan nya tetap sama bahkan lebih besar setiap harinya.


Tetapi semakin Keenan mencintai Cinta, maka Keenan harus semakin melepaskan Cinta.


Keenan tak berani melihat dan menatap mata Cinta, jika ia melakukan itu ia tahu jika semua usahanya akan sia-sia.


Dia akan langsung memeluknya dan semua usaha untuk memisahkan dirinya dan Cinta akan tak berguna.


Keenan tetap diam saja, dia melepaskan tangan Cinta dan mengambil selimut dan bantal yang terlempar tadi.


"Besok, pelayan akan datang dan memberikan surat itu lagi, jika tidak ingin ada masalah lebih lanjut sebaiknya tanda-tangan saja, aku tidak suka saat wanita memohon seperti ini, itu membuat mu menjadi sama seperti wanita wanita mainanku selama ini, yang akhirnya memohon kepadaku," ketus Keenan membuat Cinta terdiam membisu.


Dia melihat pundak itu lagi, yang seolah tak akan lagi melihat dan mendekat kearahnya, tak akan lagi memeluknya dan memberikan perlindungan kepadanya.


Tangisannya berhenti seketika, lalu saat langkah kaki Keenan sampai di depan pintu kamar, Cinta mengatakan ucapan yang menyakiti Keenan lebih dari apapun.


"Keenan, jika kau pergi melewati pintu itu, hubungan kita akan benar-benar berakhir, aku memang mengatakan menyukaimu tetapi semua ada batasnya, jika kau melukai aku terlalu dalam dan melangkah lebih jauh, aku tak akan benar-benar pergi dan tak akan kembali sampai kapan pun!"


"Kau ingat ucapan ku? aku ini orang yang suka mengalah, aku juga pelupa, aku akan mengalah dan pergi juga akan melupakan mu dengan cepat!"


"Aku sudah terbiasa dibuang, aku terbiasa diabaikan, jadi jika kau berani melewati pintu itu, maka perasaan ku juga akan berakhir untukmu sama seperti perasaan ku kepada orang orang yang membuang aku!"


Cinta bersungguh-sungguh, walau sebagian dari ucapannya adalah kebohongan, karena rasa cintanya sudah semakin dalam, pastinya dia tak akan bisa melupakan Keenan.


Akan tetapi Cinta akan membuat lelaki ini membalikkan badannya dan tak hanya memperlihatkan pundaknya seperti hari ini.


***