
***
Episode 78 : Clara harus bersandiwara.
Di kediaman Keenan,
Sejak tadi Clara sudah kembali ke kediaman Keenan, dia sudah terbiasa melihat Keenan bermain-main dengan wanita akan tetapi baru tadi ia mendengar Keenan mengatakan dengan mulutnya sendiri jika dia tidak main-main.
"Ah, aku harus cari cara, ini semua bukan karena perasaan egois ku saja! jika kami tidak jadi menikah maka keluarga besar ku akan menganggap aku sebagai wanita gagal!"
"Lagian Keenan juga sudah biasa bersama gadis lain, dia tidak mungkin dengan mudah melukai aku kan?" geram Clara sedikit risau.
Dia sejak tadi berbicara dengan dirinya sendiri, mencari cara agar setidaknya dia berhasil membawa Keenan ke Inggris, dimana kediaman ayah dan ibunya sekarang berada.
"Tring ... Tring ... Tring!"
Ponselnya berbunyi dan saat ia lihat layar ponselnya, yang ia lihat adalah Ibu Keenan sedang menelepon dirinya.
"Ais, baru juga dipikirkan, sudah di telepon!" gerutu Clara harus bersandiwara di hadapan ibu Keenan.
"Halo Bu?" jawab Clara dengan lembut sekali dan penuh tata krama, walaupun tidak melakukan video call Clara tetap terlihat tersenyum dan duduk tegak di kursi sofa.
"Clar, kau sudah bertemu Keenan? kau bisa membawanya kesini kan? dia sama sekali tidak mau mengangkat panggilan dan membalas pesan dari Ibu," Ibu tiri Keenan itu bertanya mengenai perjamuan besar dan penentuan tanggal pernikahan antara Keenan dan Clara yang akan diadakan beberapa waktu lagi.
"Umm ... Clara sudah bertemu Keenan Bu, Clara akan membawa dia kesana, percaya saja pada Clara," seru Clara tersenyum kaku.
Mau bagaimana pun, dan mau apapun yang dilakukan Keenan sekarang, perjodohan mereka tidak bisa dibatalkan, karena perjodohan ini sudah diatur bahkan sebelum keduanya lahir.
"Baiklah Clara, Ibu percaya padamu yaa ...." seru Ibu Keenan segera mematikan panggilan itu.
Setelah panggilan itu berakhir, Clara menghela nafasnya dalam dalam, seolah saat menjawab dia sedang menahan nafasnya, dia mengusap dadanya yang dan lega telah berhasil melakukan kebohongan yang mulus nan sukses.
"Setidaknya dia percaya, sekarang aku harus memberitahu ini pada Keenan, jika dia bersama wanita itu lebih lama juga tidak baik bagi si wanita yang memang cantik sih!" gerutu Clara sekarang sedang membaringkan tubuhnya yang kelelahan di atas kursi sofa.
Dia menatap langit langit dan senyuman ceria nya yang menggambarkan dirinya itu lenyap, entah kenapa butiran air matanya membasahi pipinya.
Tadi siang, saat ia melihat Keenan membawa gadis itu dalam gendongan nya dan saat Keenan mengatakan jika dia tidak main-main pada gadis itu sebenarnya membuat hatinya sakit.
Dia hanya menahannya, dia tetap tersenyum karena dia tidak ingin merusak mood Keenan dan suasana.
Clara memejamkan matanya dan menutup matanya menggunakan tangannya, dia menangis dalam diam.
"Kau tidak berubah, tidakkah kau tahu jika aku menyukai mu sejak dulu? dasar Keenan jahat!" ketus Clara menangis menutupi wajahnya.
Keenan adalah cinta pertama Clara, mereka sudah berteman sejak kecil dan sudah lama perasaan ini ia pendam sendirian.
Tangisannya akhirnya membawa dia tidur diatas kursi sofa itu, berharap setidaknya Keenan akan kembali pulang malam ini.
***
Disaat yang sama di apartemen Keenan,
Setelah ucapan aneh Keenan ini membuat Cinta gelagapan dan tidak mengerti sama sekali bagaimana cara otak Keenan memproses sebuah kata-kata.
"Ah, masa bodohlah, yang penting sekarang aku harus lepas dari ikatan ini," geram Cinta sekarang sedang di tatap tajam oleh Keenan saat sudah selesai melakukan panggilan dari assisten nya tadi.
Dengan wajah yang memelas dan mata yang bulat dan menggemaskan, Cinta melihat kearah Keenan yang sekarang sepertinya hendak melahap Cinta hidup hidup.
Keenan masih tidak mengerti mengapa gadis yang tadi siang tidak membuat wanita ini cemburu malahan ingin berpisah, jalan pikiran wanita ini seperti puzzle, sangat sulit di mengerti olehnya.
"APA?" Keenan masih marah, kedua tangannya di pinggang dan nafasnya terasa berat.
Cinta adalah wanita pertama yang harus repot repot ia pikirkan seperti ini.
Cinta segera mengeluarkan senjata pamungkas nya, dia membuat wajahnya semenyedih kan mungkin.
"Tanganku dan kaki sakit, bisa tolong lepas?" sembari tersenyum kaku dan wajah penuh sandiwara yang terlihat jelas dia ingin Keenan melepaskan dia dari ikatan itu.
Matanya yang tajam itu melihat kearah tangan dan kakinya yang terlihat memerah karena ikatan itu.
Dia mengusap kasar rambutnya dan melepaskan ikatan itu dengan cepat.
"Pakai bajumu, aku mau mandi!" ketus Keenan sama sekali tidak ingin melihat kearah tubuh Cinta yang sebenarnya sudah polos karena ulahnya sendiri.
Keenan kembali menahan gairahnya, entah sudah berapa lama dia tidak melakukan itu karena wanita yang selalu menolaknya ini.
"Jika saja dia bukan Cinta mungkin sudah ku kubur hidup-hidup dia itu!" geram Keenan masih kesal sekali.
Dia memasuki kamar mandi dan mandi air dingin setelah melakukan solo karir di dalam sana.
Sedangkan Cinta yang sudah lepas itu tentu saja segera mengenakan pakaian nya buru-buru, entah dia sial atau beruntung atau mungkin keduanya ada dalam dirinya.
Entah kenapa sudah berapa kali dia bebas dan lepas dari cengkeraman dan terkaman lelaki buas seperti Keenan.
Akan tetapi ada satu hal yang diketahui oleh Cinta, jika lelaki itu walau ucapannya sangat kasar dan tidak mengerti cara memperlakukan wanita, dia tetap berusaha menahan dirinya agar menghargai pendapat dan keinginan Cinta.
Lelaki itu memang menyeramkan akan tetapi disaat yang sama juga hangat dan menghargai Cinta yang sebenarnya sudah di beli oleh Keenan.
Ya, bisa dibilang Cinta telah dibeli sejak saat Ayah Cinta menjual nya demi perusahaan yang hampir bangkrut.
Tetapi walau Keenan merasa berhak karena dia sudah dibeli, tetap saja pendapat Cinta di hargai oleh lelaki ini.
Saat Cinta melihat pergelangan tangannya dan kaki nya memerah dan sedikit perih, ponselnya berbunyi.
Cinta melihat jika panggilan itu berasal dari ibunya.
"Halo Bu?" seru Cinta sudah senang sekali saat ibunya menghubungi dirinya.
Walau hanya di telepon begini, Cinta sudah sangat senang.
"Cinta, apa kabar Nak? maafkan Ibu ya jarang sekali menghubungi mu akhir-akhir ini, Minggu depan Ibu akan ke kota, ada sesuatu yang ingin ibu bicarakan,"
Ibunya yang memiliki suara lembut dan hangat itu langsung memberitahukan maksud nya menghubungi putrinya ini.
Entah kenapa firasat Cinta tidak bagus akan hal ini, tetapi walau begitu Cinta masih senang setidaknya ibunya menghubungi dirinya.
***
Novel ini akan update setiap hari yaa, jadi mohon di tunggu, berikan komentar membangunnya biar aku makin bagus dalam menulis.
Btw aku tahu banyak kekurangan dalam novel ini, jika kalian menemukan ada salah ketik, tinggalkan komentar saja ya, biar ;langsung aku perbaiki hehe.
Makasih ya semuanya, lope you.
***
Jangan lupa follow ig author : @nitanaiibaho
Kalian bisa DM dan tanya2 disana
***