
***
Cinta yang sadar dirinya hanyalah butiran debu di kantor itu segera membuatkan kopi pada atasannya, dia harus segera kembali ke ruangan Keenan, kalau tidak dia akan kena marah dan caci maki lagi.
"Lupakan lah kejadian tadi Cinta, apapun yang dia lakukan anggap saja dia batu atau benda, jangan pernah menunjukkan ekspresi tadi lagi!" ketusnya membawa kopi tersebut ke ruangan Keenan.
"Tok ... Tok ... Tok!"
"Masuk!" sahut Keenan dengan siarannya yang menekan, Cinta segera masuk sembari membawa kopi.
"Saya membawakan kopi untuk anda Pak," seru Cinta tersenyum kaku, seolah tidak ada yang terjadi antara dia dan Keenan sesaat yang lalu.
Keenan hanya mengangguk sembari membaca berkas yang tadi dibawakan sekretarisnya untuknya.
Cinta meletakkan kopi diatas meja atasannya dan kembali berdiri tidak jauh dari tempat Keenan duduk.
Sesungguhnya dia masih belum tahu dimana kah meja kerjanya, dia juga belum tahu apa jobdesk nya karena Pak Bram belum datang untuk memberitahunya.
Jadi Cinta tidak lebih dari sekedar patung tak terlihat di kantor itu, dia mengikuti gerakan Keenan membaca berkas karena tidak memiliki hal lain untuk dilakukan.
Keenan yang risih sedari tadi dilihat terus langsung menatap tajam ke arah Cinta.
"Kau, apakah kau sudah jatuh cinta padaku sampai kau melihat ku seperti itu?" tanya Keenan dengan wajah serius dan tegas.
"Ap ... apa? ci ... cinta? wah wah, anda terlalu menilai tinggi diri anda Pak Keenan, saya tidak akan mungkin suka bahkan cinta kepada seseorang seperti anda! karena apa? karena saya tidak suka dengan segala kegermelapan yang mengelilingi anda, saya lebih suka menjadi seseorang yang bebas!" dengan tegas, teguh dan penuh pendirian Cinta menjawab seperti sedang membaca proklamasi, dia sangat lantang dan percaya diri dengan apa yang ia bicarakan.
"Oh ya, sepertinya kau harus hati-hati, karena pesonaku terlalu besar untuk kau tangani! dan lagian aku tidak ingin dicintai oleh perempuan bar bar bersuara nyaring seperti mu, bisa-bisa telingaku tuli jika terus berada di dekatmu!" ketus Keenan kembali membaca laporan yang ada di tangannya.
"Aaaaaaa!" didalam diri Cinta sudah ada bom yang meledak karena emosinya yang sudah diatas kepalanya.
Entah mengapa setiap detik dan menit, lelaki ini akan selalu memberikan penghinaan verbal terhadap dirinya.
"Tak!" Tiba-tiba Keenan melemparkan berkas yang ada di tangannya.
"Oh ya, sudah berapa kali kau berani menolakku? apakah kau lupa posisimu?" Keenan mengingat jika Cinta telah berkali-kali menolak dirinya dan itupun tanpa berpikir panjang.
Sedari mereka berjumpa Cinta telah menolak dirinya dengan berbagai alasan tidak masuk akal.
Sepatunya yang mengenai lantai menggema di seluruh ruangan.
Jika Keenan melangkah satu langkah maka Cinta akan melangkah mundur dua langkah, entah mengapa Cinta merasakan ada ancaman maut sedang mendekatinya saat melihat ekspresi Keenan yang sudah terlihat murka.
"Kenapa lagi dia ini? apakah dia memiliki dua kepribadian? jawabanku kan tidaklah salah, aish!" Cinta celingak celinguk mencoba memikirkan cara terbaik agar bisa menjawab apapun pertanyaan bosnya ini dengan bijak dan tanpa memancing emosi meledak-ledak bosnya.
"Jika kau berani mundur satu langkah lagi, aku akan melempar mu dari atas gedung ini sampai kebawah!" dengan nada penuh ancaman, Keenan tetap melangkah, dia tidak suka saat Cinta lagi-lagi berjalan menjauh dari arahnya.
"Me ... melempar aku? ke ... kebawah? maksudnya itu dia mau membunuhku jika aku berjalan mundur? tidaaakkk! aku tidak mau mati!" gumam Cinta, otak sudah berhenti bekerja dan langkahnya sudah berhenti melangkah.
Baru kali ini ada orang yang mengancamnya secara langsung, dia hanya bisa mempertahankan kehidupannya yang tidak seberapa, jadi dia berhenti menjauh.
"Srek!"
Keenan sudah sampai dekat sekali di hadapan Cinta.
Dia menarik pinggang Cinta sampai berada dipelukannya.
Cinta sampai harus menahan nafasnya dan memalingkan wajahnya.
Keenan lalu menarik wajah Cinta sampai dekat sekali ke wajahnya.
"Hei gadis bar bar, aku katakan ya sekali untuk selamanya, walau aku tidak akan pernah suka atau cinta padamu, tetapi kau harus cinta padaku, itulah syarat agar aku bosan dan membiarkan mu pergi! aku membiarkan mu di sisiku karena aku penasaran apa yang membuatmu menolakku! hanya itu saja!"
Keenan semakin mendekat, wajahnya menyentuh wajah Cinta, lalu Keenan membisik di telinga Cinta.
"Jika kau belum cinta padaku, jangan harap bisa pergi dariku! semua yang ku mau harus ku dapatkan, tetapi akan aku buang, itulah nilai mu bagiku! paham!"
Bisikan itu entah mengapa menyadarkan Cinta, jika selama ini dia telah terjerumus ke jebakan Keenan, walaupun Keenan tampak suka bercanda tetapi dia nyatanya adalah seseorang yang menyeramkan.
Buktinya, dia mengancam Cinta sampai Cinta pusing dan pingsan.
Ya, Cinta pingsan hanya karena diancam akan di lempar dari atas gedung dan diancam dengan kata-kata barusan oleh Keenan.
Sungguh keberaniannya berbicara dan mentalnya yang sesungguhnya berbeda sangat jauh.