Boss Playboy

Boss Playboy
Ibu dan putrinya.


Episode 132 : Ibu dan putrinya.


***


Masih di taman rumah sakit,


Setelah mendengar tangisan ibunya, tentu lah Cinta tak bisa menahan air matanya juga, dia merindukan ibunya, sangat amat merindukan hanya saja dia mengira ibunya tak peduli lagi padanya dan memilih lelaki asing yang lalu dikenalkan ibunya.


Cinta tidak tahu jika Layla membatalkan pernikahan nya sendiri karena merasa tak pantas bahagia, Daren telah kembali ke desa untuk mengobati orang-orang miskin disana.


Pertemuan antara Layla dan Daren adalah memang di desa itu, keduanya memiliki jiwa sosial yang tinggi.


Perasaan mereka tumbuh karena mereka menghabiskan waktu bersama yang banyak, dan mereka memiliki cita-cita untuk tetap tinggal di desa dan mengabdi.


Saat itu Layla memang meminta ijin secara langsung kepada Cinta karena tidak mungkin ia membawa Cinta ke pelosok desa seperti itu, dengan kehidupan dan pergaulan yang tidak memadai.


Dia ingin Cinta tetap bisa merasakan kebebasan dan kebahagiaan anak muda diperkotaan, tetapi ternyata caranya salah, dia lupa jika dia telah secara tidak sengaja menelantarkan anaknya sendiri.


***


Tanpa bisa mengucapkan apapun, Cinta menangis sesenggukan dan memeluk ibunya.


"Tidak apa Bu, maafkan Cinta juga karena sat lalu marah marah, aku hanya, aku hanya merindukan Ibu," Cinta menangis, memeluk ibunya yang sakit dan terlihat kurus.


Mendengar itu Layla juga semakin menangis dengan hebat, dia merasa hati putrinya ini terlalu lembut dan besar, dia merasa kebaikan hati putrinya ini telah membuat dirinya sendiri menderita dan berkorban sendiri.


Keduanya menangis dengan hebat, untung saja tak ada orang di taman itu, membuat Layla dan Cinta bisa menangis sembari sesenggukan.


Setelah tangisan tiada akhir itu, keduanya terdiam sebentar, yang terdengar hanyalah sesenggukan yang tak bisa ditahan membuat Cinta dan Layla saling melihat dan tertawa bersama.


Hubungan mereka langsung mengalir begitu saja, Cinta langsung bercerita banyak hal, dan bertanya banyak hal pula.


Cinta memberitahu jika dia sebenarnya telah menikah secara sembunyi-sembunyi bersama Keenan, jadi dia tidak melakukan hubungan secara ilegal.


Saat mendengar cerita itu, Layla melebarkan matanya dan dia tak bisa berkata-kata apapun lagi.


"Maafkan aku Ibu, harusnya aku meminta ijin, tetapi saat itu .... aku tidak bisa menjelaskan tapi situasinya sangat rumit, jadi ..."


Cinta kelabakan bercerita, dia tidak tahu harus bagaimana menjelaskan jika saat itu pernikahan mendadak nan aneh itu dipaksa oleh Keenan dengan mengatakan jika Cinta melamarnya.


Layla mengatur pernafasannya, dia tidak menduga jika putrinya telah menikah, seolah dia belum bisa menerima jika Cinta benar-benar telah tumbuh menjadi wanita dewasa yang cantik, apalagi sudah menikah.


Seperti Ibu pada umumnya, Layla entah mendapatkan darimana kebugarannya lagi, dia segera menanyai Cinta mengenai pernikahan aneh yang dialami putrinya.


Cinta yang mengetahui jika ibunya pasti sedang khawatir tersenyum bahagia, dia menggenggam tangan ibunya.


"Ibu, percaya padaku, dia lelaki yang sangat baik dan tepat untuk ku, jangan khawatir dia memiliki alasan kenapa pernikahan kami dilakukan secara sembunyi sembunyi, percayalah padaku," Cinta tersenyum dan memberikan penjelasan yang meyakinkan kepada ibunya.


Kemudian Layla mengingat bagaimana Keenan dengan begitu lantang nya membela Cinta saat lalu di rumah mereka, entah kenapa Layla bisa langsung tahu jika Keenan memang lelaki yang baik.


"Tapi Cin, dia sepertinya kaya sekali, apakah mertuamu menerima mu? bukan karena Ibu tidak setuju dengan pernikahan tersembunyi mu, akan tetapi Ibu khawatir jika akan ada masalah nantinya, karena status sosial kita berbeda dengannya," Layla menjawab ucapan Cinta.


Cinta kemudian tersenyum, "Ibu, aku percaya pada suamiku, dia tidak akan meninggalkan aku, dia melindungi aku selama ini, dan memberikan segalanya kepadaku, tugasku hanyalah mempercayai nya Bu,"


Dengan mata yang tajam dan keyakinan yang kuat, dia memuat Layla tak bisa berkata-kata lagi.


Walau hatinya tetap waspada tetapi dia tidak ingin menghancurkan kebahagiaan putrinya yang satu itu, yang bisa dilakukan oleh Layla saat ini hanyalah mendukung putrinya dan berada di sisi putrinya apapun yang terjadi.


"Baiklah Cinta, Ibu akan mendukung mu, biarkan Ibu membayar semua kesalahan Ibu perlahan-lahan," ucap Layla memeluk putrinya.


Dia mengusap pundak Cinta dan memejamkan matanya, Cinta yang bahagia karena akur lagi dengan ibunya tersenyum.


"Umm, Ibu ..."


"Sebenarnya masih ada satu kabar lagi yang harus aku beritahu kepada Ibu?"


Layla melonggarkan pelukannya dan wajahnya sedikit keheranan.


"Satu lagi? apa itu?" jawab Layla sedikit heran mengapa Cinta sedikit gugup saat mau mengatakan hal itu.


"Sebenarnya aku sudah ... emm, aku sudah hamil," Cinta entah kenapa sedikit gugup mengatakan hal itu, Layla yang mendengar itu terlalu syok sampai harus menutupi mulutnya menggunakan tangannya.


"Ha ... hamil?" Layla memperjelas, dia seolah sedang bermimpi.


Cinta menganggukkan kepalanya, kemudian Layla menangis lagi dan memeluk putrinya.


Layla tak tahu lagi apa yang sedang ia rasakan ini.


Seolah Layla mendapatkan hadiah paling membahagiakan yang seharusnya tak pantas ia dapatkan.


***


Setelah beberapa waktu bercerita banyak hal dengan Ibunya, tak terasa hari sudah sore, Layla entah kenapa berangsur sembuh hanya dengan menghabiskan waktu bersama putrinya.


Kerinduan di hatinya dan keinginan untuk menebus semua kesalahannya seolah mendorongnya untuk tetap berjuang dan sembuh.


"Ibu, haruskah aku menginap di rumah sakit bersama Ibu?" Cinta masih bersandar di bahu ibunya.


Layla tersenyum dan mengusap pundak putrinya, "Jangan Nak, suami mu mengalami kesan buruk kepada Ibu, jika dia tahu jika menghabiskan waktu bersama seperti ini pasti dia akan memarahi mu, nanti saja, jika waktu sudah berlalu dan Ibu sudah bisa membuktikan jika Ibu akan berubah menjadi lebih baik, Ibu akan datang kepadanya sendiri dan berbicara dengannya,"


"Semuanya butuh waktu, jadi sekarang, pulanglah dulu, Ibu baik-baik saja, setelah sembuh nanti Ibu akan kembali pulang ke rumah kita, kau bisa menjumpai Ibu disana setiap waktu,"


Layla dengan bijak dan tak egois lagi memberikan saran kepada putrinya.


Mendengar itu Cinta memeluk ibunya erat.


"Ibuu," ucapnya setengah merengek manja.


Layla hanya terkekeh sedikit dan mengusapnya putrinya yang tetap saja ia rasa masih kecil.


Setelah itu Cinta dan Layla bangkit, Cinta membawa Layla kembali ke ruangannya, dan setelah itu keluar meminta ijin kepada ibunya untuk kembali pulang.


Setelah diluar dia melihat ponselnya dan sudah banyak panggilan terlewat dari Rita.


"Tring ... Tring ... Tring!"


Panggil itu masuk lagi.


"Mampus aku lupa, pasti anak ini akan merepeti aku," ketus Cinta langsung mengangkat panggilan itu.


"Halo?"


"Halo Cin? kau masih di rumah sakit? dari tadi aku telepon tidak diangkat," seru Rita dengan suara yang khawatir.


"Masih, memangnya kau tidak?" balas Cinta sedikit mengerti dahinya, mengapa Rita mengatakan seolah dia sudah tidak ada di rumah sakit.


"Yaampun, maafkan aku sahabat, tadi kakak ku pulang cepat, terus ternyata dokter yang memeriksa keponakan aku adalah tetangga jauh ku, dan dia menawari aku tumpangan pulang,"


"Dan karena dia menawan dan tampan, bibirku tak bisa menolak, mungkin jiwa jomblo ku sedang meronta-ronta, sehingga aku tidak ingat jika aku membawamu ikut bersamaku ke rumah sakit, begitu ceritanya sahabat,"


Tiba-tiba Rita berbicara dengan sangat formal dan detail, kelihatan sekali dia sedang merasa bersalah.


Rita tidak tahu jika hal itu malah menguntungkan bagi Cinta, jadi Cinta tidak harus repot-repot menjelaskan jika Cinta juga sebenarnya lupa jika dia bersama Rita di rumah sakit.


***