Boss Playboy

Boss Playboy
Tunggu kemarahan ku!


Episode 148 : Tunggu kemarahan ku!


***


Setelah itu Keenan beranjak pergi, setelah ia memastikan keamanan Cinta dan jika Cinta baik-baik saja dia kembali ke kediamannya sebelum dia pulang dan menggantikan posisi ayahnya di perusahaan Thomson.


Keenan merasa dirinya tidak memiliki waktu untuk menangisi kesedihan dan kehilangan nya, semuanya baru saja dimulai, dan hal berharganya akan dipertaruhkan sekarang, jadi dia tidak boleh setengah-setengah dalam rencananya ini.


"Tring ... Tring ... Tring!"


Keenan sedang menghubungi Rey, bawahannya yang memang bertugas melindungi Cinta dari bayang-bayang.


"Halo Tuan?"


"Rey, tetap jaga Cinta dan berikan laporannya secara berkala kepadaku, jangan biarkan apapun mendekat dan mengancam nya, mengerti?"


Keenan memberikan perintah kepada Rey dan timnya, kali ini suaranya tidak kelihatan lesu dan panik lagi, akan tetapi lebih kepada seorang lelaki yang sudah tahu tujuannya.


"Baik Tuan," Rey segera menyanggupi perintah Tuan nya.


Lalu setelah itu Keenan berkendara ke kediamannya lagi, sebelum ada orang yang curiga jadi dia harus kembali dengan cepat dan bersandiwara jika tak ada apapun yang terjadi.


Clara yang memang sudah tak ragu lagi dengan keputusan nya membantu Keenan dalam hal ini, dia memastikan jika seluruh orang di rumah ini yakin jika Keenan keluar karena memang Clara meminta Keenan untuk mencarikan sesuatu.


Agar hubungan Keenan dan Clara kelihatan semakin intim dan baik.


Clara yakin dengan keputusan nya karena sekarang lelaki yang ia cintai itu akan memiliki bayi, dimana Clara tidak akan mampu menyakiti seorang anak tak bersalah demi keegoisan hatinya saja.


***


Waktu akhirnya berlalu,


Pagi telah menyingsing, Cinta bangun dengan kepalanya yang sedikit pusing, dia mencium aroma wangi aromaterapi di sisinya, dia melihat samar-samar jika Ibunya sedang menyiapkan sarapan untuknya di sisinya.


Dia akhirnya membuka matanya dengan lebar, saat ia melihat jika terbangun di ruangan rumah sakit dia langsung panik, yang ia pikirkan sekarang adalah bayinya.


"Bayiku .... apakah dia baik-baik saja?" Cinta memegangi kepalanya yang masih sedikit pusing.


"Kenapa aku bisa bangun disini? apa yang kulakukan sampai aku tidak sadarkan diri?" Cinta melanjutkan ucapannya dan menyalahkan dirinya karena lalai sampai bisa berada di rumah sakit, padahal dia sedang hamil muda dimana dia harus sangat hati-hati dengan kehamilannya.


Layla yang menyadari putrinya sedikit panik langsung duduk di sisi Cinta dan menggenggam tangannya.


"Tenang Nak, semuanya baik-baik saja, bayimu juga baik-baik saja, jangan khawatir, tadi malam kau hanya kelelahan saja," Layla menenangkan Cinta dan mengatakan jika bayinya baik-baik saja dan tak ada yang perlu di khawatirkan.


"Haahhh!"


Cinta menghela nafasnya lega, matanya yang masih sembab dan wajahnya yang sudah tidak terlalu pucat melihat kearah jendela kaca yang menunjukkan sinar matahari yang terasa hangat.


"Ibu ...."


Cinta memanggil ibunya yang masih menyiapkan sarapan yang ia siapkan untuk putrinya.


Layla berhenti sebentar dari kegiatannya dan menatap kearah putrinya yang mengarahkan pandangannya kearah jendela kaca ruangan, menunggu apa yang akan diucapkan oleh putrinya ini sekali lagi.


"Inikah yang Ibu rasakan saat dulu Ayah berselingkuh dan meninggalkan Ibu? apakah sesakit ini? rasanya hatiku seperti kosong dan mati rasa, Ibu ...." Cinta mengalihkan pandangannya sekarang dan melihat kearah ibunya.


"Aku juga ingin melarikan diri seperti yang Ibu lakukan, Bu, ayo kita pergi jauh, ke pelosok desa, menghabiskan waktu disana, ya?" Cinta seperti memohon, dengan linangan air mata yang membuat mata putrinya ini berkaca-kaca.


"Sayang, dengarkan Ibu ..."


"Melarikan diri seperti yang Ibu lakukan dahulu tidak benar, banyak hal yang Ibu korbankan bahkan dirimu, biarkan penyesalan itu menggerogoti Ibu saja, coba pikirkan jika kita pergi ke pelosok desa, atau pergi ke kota yang tidak kita kenali, bagaimana dengan bayimu?"


"Kehamilan mu masih sangat muda, kau tidak boleh stress dan terlalu lelah, belum lagi kita tidak tahu apakah pengobatan dan fasilitas disana lengkap,"


"Sekarang pikirkanlah bayimu, jangan melakukan kesalahan yang sama seperti Ibumu ini, karena sakit hati malah mengorbankan hal yang sangat berharga,"


Layla mencoba memberikan pengertian, jika keputusan Cinta itu untuk saat ini belumlah tepat.


Mendengar itu Cinta yang masih tak bisa melupakan rasa sakit yang mungkin akan ia ingat seumur hidup ini terdiam, dia mengusap perut ratanya.


"Benar, sekarang bukan hanya tentang diriku saja, tapi ada kehidupan yang harus aku lindungi," ucapannya pelan dan menunduk.


Dia kembali melihat kearah ibunya, "Ibu ... bisakah Ibu memeluk aku? aku sangat sedih dan terluka tapi maaf masih tak bisa menceritakan apa yang terjadi," Cinta tersenyum pilu dan akhirnya menitikkan air matanya lagi untuk kesekian kalinya.


Layla yang tak tega melihat putrinya yang kelihatan sangat terluka itu langsung memeluk Cinta dengan sangat erat.


"Tidak apa Nak, tidak apa," Layla memeluk putrinya dan memeluk putrinya ini.


***


Disisi lain,


Keenan dan juga Clara telah bersiap-siap hendak kembali ke Inggris, Clara telah sepakat membantu Keenan dimana hal itu akan sangat mempersingkat waktu Keenan tentunya dalam masa pembalasannya ini.


Juga Bram telah menyebarkan berita mengenai hubungan Keenan dan Clara, dimana hal itu sangat penting untuk memperkuat dugaan para musuh Keenan jika sekarang Keenan dan Cinta benar-benar telah berpisah.


Hal itu tentu membuat Lucia girang, tidak hanya Lucia yang sebentar lagi akan bisa membanggakan dirinya semakin tinggi di keluarganya, akan tetapi juga para tetua dan kekuatan Clara juga akhirnya puas dengan keputusan Keenan yang melepaskan wanita yang sama sekali tidak dibutuhkan itu.


Bagaimana pun pernikahan antara Keenan dan Clara akan menghasilkan keuntungan yang tak terhitung karena dua perusahaan akan menyatu, tentu lah halangan seperti Cinta harus disingkirkan.


Keenan dan Clara sudah dalam pesawat pribadi keluarga Thomson, Keenan sedang membaca beberapa berkas di tempat ia duduk.


Beberapa berkas yang harus ia pelajari, juga beberapa profil tetua dimana para tetua itu tidak lain adalah keluarganya sendiri, dimana para tetua itu adalah keturunan dari kakek Keenan juga.


Akan tetapi karena Josh adalah pewaris maka yang lain otomatis akan menjadi jajaran pemilik saham dan menjadi penasehat atau tetua.


"Jika kalian hendak bermain-main denganku dan menganggap ku sama seperti ayahku, kalian akan lenyap dengan cepat! tunggulah aku dan akan kubalas satu persatu, karena berani memisahkan aku dan ibuku, bahkan memisahkan aku dengan istriku!"


"Kemarahan ku akan ku limpahkan kepada kalian semua!"


Keenan telah bertekad, selama hidupnya, ini lah kali pertama ia benar-benar serius dan bertekad.


Memiliki seseorang yang penting memang sangat berpengaruh.


***


Jangan lupa like dan komen, maafkan jika banyak sekali kekurangan, author tahu terlalu banyak kekurangan di novel ini :( semoga bisa cepat tamat dengan segera, author akan usahakan ya.


Btw jika berkenan jangan lupa follow akun author