Boss Playboy

Boss Playboy
Aku benci namaku.


Episode 107 : Aku benci namaku.


***


"Tu ... Tuan," kepala pelayan itu memanggil Tuan nya yang sejak tadi marah marah tidak jelas.


"ADA APA?" ketus Keenan dengan suaranya yang menggelegar.


"Umm, mengenai Nyonya Cinta, tidakkah menurut Tuan, akan lebih baik jika Tuan menyusulnya kesana? Nyonya Cinta pasti sangat senang jika tahu Tuan memberikan kejutan dengan datang menyusul kesana," dengan tersenyum dan mempertaruhkan segalanya.


Kepala pelayan itu memberikan saran, lalu Keenan langsung menghentikan langkahnya saat mendengar saran itu.


"Hmm, saran mu bagus juga, kenapa kau tidak katakan sejak tadi sih? jika aku datang kesana dan memberikan kejutan pasti dia akan tergila-gila kepadaku kan? ha ha ha!"


Mood Keenan langsung berubah, kebetulan hari ini adalah hari sabtu jadi tidak ada pekerjaan yang harus ia lakukan.


“Kalian semua akan aku berikan bonus tahunan yang lebih nanti atas ide brilian mu, ha ha ha!”


Tawa Keenan masih menggelegar, dia segera mempersiapkan dirinya, hendak menuju kediaman Cinta untuk memberikan kejutan seperti yang di sarankan oleh kepala pelayan di rumahnya.


Keenan segera melangkah ke kamar pribadinya, mempersiapkan dirinya agar kelihatan menawan di hadapan keluarga Cinta nantinya.


***


Beberapa saat kemudian dalam perjalanan, akhirnya Cinta sampai di kediamannya, dia memang belum mengatakan jika dia sudah menikah secara tiba-tiba kepada ibunya, karena jika dia jelaskan pun ibunya pasti tidak akan mengerti.


Jadi dia akan menunggu waktu yang tepat, Cinta juga yakin ibunya akan lama tinggal di kota, jadi lebih banyak waktu baginya untuk menjelaskan hal itu kepada ibunya.


Untuk saat ini, jika ibunya bertanya kenapa dia tidak ada rumah, Cinta akan beralasan jika dia menginap di rumah Rita.


Hati Cinta sedang berdebar-debar sekarang, dia memasuki pekarangan rumah dan matanya segera memicing setelah melihat ada mobil ayahnya di pekarangan.


Yang tadinya hatinya berseri-seri sekarang Cinta sudah menaruh rasa curiga.


Cinta melangkah memasuki kediamannya, disana dia melihat ibunya yang sudah sangat ia rindukan duduk di kursi sofa menunggu Cinta.


"Ibu ...." Cinta bersemangat sekali, dia berlari dan memeluk ibunya erat sekali.


Ibunya membalas pelukan Cinta dan menepuk-nepuk pundaknya, "Ibu, aku rindu padamu," Cinta bahkan sampai menangis.


Dia sungguh sangat merindukan ibunya, sudah bertahun-tahun dia tidak bertemu karena kesibukan ibunya ini.


"Ehem!"


Karena sangat serius dengan ibunya, Cinta sampai tidak memperhatikan jika disana ada ayahnya, Monic juga ada seorang lelaki yang kelihatan satu umuran dengan ayahnya.


Dan anehnya lagi lelaki itu duduk berdekatan dengan ibunya.


"I ... Ibu, ada apa ini?" Cinta masih tersenyum, dia mencoba menanyakan sebenarnya apa yang terjadi.


Dan apa hubungan semua ini dengan apa yang hendak disampaikan oleh ibunya.


Layla, Ibu kandung Cinta meraih tangan Cinta dengan erat, dia tersenyum begitu lugas.


"Sayang, perkenalan ini Daren," Layla tersenyum, mengusap rambut putrinya dan memperkenalkan lelaki yang sejak tadi sebenarnya duduk berdekatan dengannya, akan tetapi tidak diperhatikan oleh Cinta.


"Ha ... halo Paman Daren," Cinta masih hormat dan sopan, dia menyalim tangan lelaki yang satu umuran dengan ayahnya itu.


Matanya sudah sedikit berair dan wajah sudah sedikit memerah karena tidak mau percaya dengan apa yang ada di pikirannya.


"Cinta ...." Layla kembali mengusap tangan putrinya.


Lalu ia melanjutkan ucapannya lagi, "Niatan Ibu untuk bertemu kalian semua disini adalah untuk memberitahu jika sekarang Ibu sudah menemukan orang yang tepat, Ibu akan menikah dan hidup bahagia bersama Daren, Ibu ingin memberitahukan secara langsung padamu, jadi ...."


Belum selesai Layla menjelaskan apa yang hendak ia sampaikan, Cinta langsung melepaskan tangan ibunya.


Cinta menggeleng-gelengkan kepalanya seolah tidak mau percaya dengan apa yang dikatakan oleh ibunya.


"Ibu bicara apa?" dengan suara gemetaran dan tetap mencoba tersenyum walau air matanya sudah menetes membasahi pipinya, Cinta melanjutkan ucapan Pilu nya.


"Bukankah Ibu kembali karena merindukan aku? kenapa Ibu membahas pernikahan? jangan bercanda Bu, aku bahkan ...."


"Aku bahkan memiliki banyak sekali rencana tentang apa yang akan kita lakukan selama Ibu di rumah," Cinta menangis dengan hebat tetapi dia juga tersenyum, kelihatan begitu menyedihkan dan pilu sekali.


"Kita akan pergi berbelanja, mengenakan masker wajah, kita bisa pergi ke pemandian air panas dan menghabiskan waktu sebanyak yang kita mau,"


Cinta menangis dengan hebat, mencoba menerima penjelasan akan tetapi nyatanya sepertinya dia memang sudah lama terlupakan.


Sepertinya kehadirannya mungkin hanya sebuah kesalahan yang diciptakan oleh ayah dan Ibunya.


"Cinta, kita bisa kok menghabiskan waktu seperti yang kau katakan, kita bisa pergi bersama calon ayahmu ini,"


"Cinta ...." Layla mencoba mencairkan suasana, akan tetapi sebelum Layla melanjutkan ucapannya, Cinta langsung menimpali ucapan ibunya.


"Jangan panggil namaku, Cinta? kalian menamai ku Cinta? aku benci nama itu, kalian menamai aku Cinta akan tetapi tidak sedikitpun aku pernah menerima Cinta dari kalian!"


"Bu, apa Ibu pernah sekalian saja merindukan aku? saat aku merindukanmu ibu di hari ulangtahun ku, apa Ibu sedang makan malam dengan kekasih ibu dan berbahagia?"


"Apakah Ibu datang ke rumah hanya untuk mengatakan perpisahan dengan dalih kebahagiaan Ibu? lalu bagaimana denganku Bu? bagaimana dengan kebahagiaan ku?" Cinta berteriak histeris, hatinya sangat sakit.


Harapan dan kebahagiaan yang ia bawa menjatuhkan nya kedalam jurang terdalam.


Rehan yang melihat sikap Cinta mencoba melerai, "Cinta, cukup," seru Rehan membuat Cinta semakin histeris.


Dia menatap kearah ayahnya.


Sembari menangis dengan wajahnya yang sangat menyedihkan dia berbicara pelan sekali.


"Ayah, apakah Ayah ingat saat ulangtahun Rara, Ayah bahkan tidak mengucapkan selamat ulangtahun kepadaku bahkan hingga sekarang, Ayah selalu menghiraukan aku,"


"Aku juga, aku juga ingin disayang Ayah, Ibu, aku juga ingin saat hari ulangtahun ku, dirayakan seperti Rara,"


"Aku juga ingin setiap pagi di masakin sarapan oleh Ibu, aku ingin dimarahi ayah saat aku pulang larut, aku ingin ...." Cinta tiba-tiba terdiam, air matanya tetap mengalir deras.


"Ah, kalian ternyata selama ini hanya menganggap aku sebagai kesalahan, kalian ingin menghapus aku,"


"Ayah, Ibu ... apakah kalian tahu berapa kali aku menghancurkan hatiku dan mengalah untuk kebahagiaan kalian? aku kira berkorban akan membuat kalian melihat kearah ku, akan membuat kalian sedikit menyayangi ku, tetapi ternyata tidak,"


"Aku tidak pernah berharga di mata kalian, aku tidak pernah ada kan bagi kalian?" Cinta berteriak, dia terluka sekali.


Sampai ketika seseorang yang begitu berkuasa datang dan melindungi hati nya yang hancur seperti pohon besar yang rindang.


***