
Episode 76 : Memancing amarah Keenan.
***
Cinta langsung menghempaskan tarikan Keenan dari tangannya, walau tangannya sudah memerah Cinta sama sekali tidak peduli.
"Apa maksudmu? apa kau berencana menjadikan aku simpanan mu? apa kau mau menikahi wanita lain dan aku akan tetap menjadi simpanan mu? begitu maksud nya?" geram Cinta tidak peduli lagi.
Dia merasa lelaki ini sudah keterlaluan, kali ini dia bahkan ingin menjadikan cinta sebagai simpanan nya.
Mendengar itu dan melihat Cinta berani menghempaskan tangannya membuat Keenan menatap tajam kearah tangan Cinta.
Kemudian tatapannya naik ke arah wajah dan sekarang menatap Cinta dengan tatapannya yang sangat tajam.
"Sayang, kau seperti nya lupa siapa aku!" bisiknya melangkah perlahan namun pasti.
Langkahnya diikuti oleh Cinta yang melangkah mundur sekarang ini.
"Aku akan mendapatkan apa yang aku mau, aku mau kau maka aku akan mendapatkan mu! aku tidak akan berhenti sampai aku berhasil!" bisikan itu semakin terdengar menekan.
Lelaki gila yang arogan ini sungguh mengerikan, ucapannya terlalu menekan sampai sampai membuat Cinta gemetaran ketakutan.
"Jadi maksud mu, aku hanyalah sebuah objek atas keinginan gila mu? Dengar ya Tuan Keenan, selama ini aku menurut kepadamu semua hanya karena kau selalu membawa ayah dan ibuku!"
"Suatu saat aku akan pasrah dan tidak akan peduli, karena bagaimanapun tidak ada yang peduli kepadaku!"
"Jika memang yang kau inginkan adalah tubuhku maka aku akan berikan sekarang juga, kau mau tubuh ku kan? tetapi kau harus melepaskan aku! aku terlalu lelah menghadapi sikap arogan mu yang tidak bisa aku mengerti!"
Cinta yang hanya bisa membela dirinya memalui kata-kata ini menekan kan ucapannya, dia terlalu lelah, tubuhnya juga sudah dipermainkan maka biarlah tenggelam sekalian saja.
Dia sudah tidak peduli lagi, yang jelas dia ingin lepas dari lelaki arogan ini.
"Brak!"
Keenan memukul tembok dimana Cinta sedang bersandar karena takut sekarang ini.
"Hei wanita! kau benar-benar mengatakan itu loh! apakah kau tahu apa yang sedang kau katakan? apa kau yakin? aku akan menghabisi mu, ucapan pedas mu ini bisa bisa akan membawamu ke neraka!" geram Keenan sudah dekat sekali dengan Cinta.
Meraka bersitatap dan saling melayangkan tatapan kemarahan sekarang.
"Jika neraka satu malam itu akan membuat ku lepas dari mu maka akan aku lalui Tuan Keenan, ambil lah, dan lepaskan aku, maka kita akan impas, saat itu selesai kita tidak akan memiliki hubungan lagi!"
Cinta sama sekali tidak takut, ucapan Keenan yang katanya tidak mungkin menikah sudah membulatkan tekad Cinta.
Dia tahu jika lelaki ini bukanlah seseorang yang bisa ia jadikan harapan dan tempat sandaran.
Hatinya yang berbunga-bunga beberapa saat terakhir hanyalah sebuah ilusi semata.
"Sayang, sebelumnya tidak ada yang bisa membuat ku gila seperti ini, sebelumnya kau mempertahankan dirimu sekarang kau menyerah kan nya begitu saja? apakah sebegitu menderita kau bersamaku? kau akan tahu apa konsekuensi dari ucapan mu, karena aku akan menghabisi mu sampai kau pingsan! saat kau menolak pun aku tidak akan melepaskan mu!"
"Dan saat aku mendapatkan nya, aku akan membuat hidup mu menderita karena selalu menolak aku!"
Geram Keenan sudah gelap mata, dia benci bagaimana wanita ini tidak berhenti menolaknya, apapun yang ia lakukan penolakan selalu saja ia terima.
Ancaman dan tekanan itu membuat Cinta sedikit sesak, dia merasa pusing, mungkin karena terlalu kelelahan juga dari pulau dan ancaman lelaki ini terlalu mengerikan membuat Cinta pingsan seperti yang terjadi saat lalu di kantor Keenan.
Dia terjatuh ke dada Keenan, dan Keenan yang menyadari itu menatap tajam dan segera menggendong Cinta ke dalam apartemen.
***
Setelah beberap saat, malam akhirnya menyingsing, Cinta yang tidak sadarkan diri sudah bangun, saat ia membuka matanya, yang ia lihat adalah pemandangan familiar, karena ia sebenarnya bangun di kamar tidur Keenan.
Cinta hendak bergegas bangkit, ketakutannya langsung mencekam dirinya, seolah lebih takut saat diancam tadi.
“Aku harus kabur, aku harus cepat pergi,” keluh Cinta beberap saat setelah sadar, tetapi ia baru sadar jika kedua tangannya diikat dengan tumpuan tiang ranjang, dia bahkan tidak bisa bergerak sama sekali.
“Ho? Kau sudah bangun? Sayang?” suara Keenan terdengar dari sisi kirinya, Cinta yang sudah ketakutan setengah mati bahkan tidak berani melihat ke samping nya.
Keenan hanya mengenakan piyama birunya seperti biasa, di tangannya sedang ada gelas berisikan wine merah yang beberap detik setelah itu, dirasakan oleh Cinta jika Keenan menyiram tubuhnya dengan air, yang baru diketahui oleh Cinta jika itu adalah wine yang ada ditangan Keenan.
Tatapan Keenan sangat menyeramkan, senyumannya yang selalu lembut pada Cinta telah lenyap, yang ada hanya seringaian menyeramkan yang membuat jantung berdegup kencang dan rasa takut yang hebat.
“Bagaimana rasanya menolak aku setiap hari? apakah menjadi hiburan bagimu? apakah kau bangga selalu menolak aku?” Keenan melempar gelas wine itu sampai pecah, lalu ia naik ke ranjang dan menarik wajah Cinta yang sudah sangat ketakutan agar melihat kearahnya.
Hanya suara pecahan gelas itu saja sudah hampir membuat Cinta menangis, rasanya ini sangat menakutkan, aura kemarahan yang terasa dari Keenan tidak main-main menekannya, seolah Cinta bisa ditelan hidup-hidup olehnya.
“Ke … Keenan,” dengan segala tenaganya yang tersisa Cinta mencoba meminta maaf tetapi tangan Keenan semakin mencengkeram dengan kuat.
Mungkin karena emosinya yang ingin selalu berpisah membuat emosi lelaki ini meluap tak karuan.
“Sssttt! DIAM! Kau jangan berbicara, jika kau berbicara satu kata lagi mungkin aku akan melenyapkanmu sampai tidak berbekas, kau sudah aku peringatkan beberapa kali, jangan membicarakan tentang perpisahan tetapi kau selalu menganggap remeh peringatan ku,” bisik Keenan menyeringai membuat Cinta gemetaran hebat, wajahnya sudah pucat pasi.
Wajah hangat Keenan yang selama ini menenangkannya telah hilang, yang ada hanyalah seorang lelaki menyeramakan yang haus akan kemarahan.
“Srek!”
Keenan kemudian merobek baju yang dikenakan oleh Cinta, lalu tangannya mengusap leher Cinta, memberikan gigitan sampai berbekas, nafasnya yang panas dan memburu menambah rasa sakit diarea itu.
“Ah, sakit,” keluh Cinta tidak bisa melarikan diri karena tangan dan kakinya diikat.
Tanpa menghiraukan rasa sakit Cinta, wajah Keenan yang tadi bermain dileher naik ke wajah Cinta, dia berbisik dekat sekali, tatapannya adalah tatapan merendahkan, “Sakit? kau sudah setuju melakukan nya, kau yang ingin melakukan nya denganku, dan sesuai dengan ucapan ku aku tidak akan menahan diriku!!" bisik Keenan kemudian menyebarkan wine yang tadi jatuh kebaju Cinta ke seluruh tubuh Cinta yang terbuka.
Sekarang ini, yang ada di kepala Keenan hanyalah bahwa Cinta mempermainkannya hanya karena Keenan bersikap sedikit lembek, bahkan dikepala Keenan yang terpikirkan adalah bahwa Cinta sebenarnya sudah memiliki lelaki lain yang ingin dikejar oleh Cinta, karena itulah Cinta ingin selalu berpisah dari Keenan.