
Episode 128 : Keenan pulang ke Inggris.
***
Keesokan harinya,
Cinta sudah sibuk mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan suaminya, dia berjalan mondar mandir mempersiapkan ini dan itu.
Sebenarnya bisa saja pelayan menyiapkan segalanya, akan tetapi sebagai seorang istri yang sudah memutuskan dirinya akan berbakti pada suami memutuskan untuk melayani Keenan dengan sepenuh hatinya.
Setelah semuanya selesai, Keenan harus berangkat pergi ke Inggris, Keenan memeluk istrinya lama sekali.
"Aku pasti akan sangat merindukan mu,"
"Jangan nakal ya selama aku tidak ada,"
"Awas ya jika kau tidak mengangkat panggilan dariku,"
"Seandainya aku bisa membawamu kesana,"
Keenan sejak tadi berbicara banyak hal, tentang bagaimana dia sebenarnya tidak suka berjauhan dengan istrinya.
Dia pasti akan sangat merindukan nya, jadi sejak tadi dia memeluk Cinta erat sekali dan memejamkan matanya, dia akan mengingat pelukan ini selama dia tidak bisa memeluk Cinta nantinya.
"Aku juga akan merindukan mu, aku akan menurut disini dan tak pergi kemanapun, cepat pulang ya sayang," Cinta juga sama.
Dia pasti akan merindukan kejahilan suaminya, tetapi sebagai seorang istri dia tidak boleh bermanja-manja dan menghambat urusan suaminya, jadi dia harus mendukung dan menunggu suaminya pulang.
Setelah itu dengan berat hati akhirnya Keenan berangkat, walau tatapan matanya memperlihatkan jika ia masih tidak ingin berjauhan dengan sang istri.
Cinta bisa melihat Keenan pergi semakin jauh, setelah ia memutuskan membuka hatinya, sungguh ini kali pertama Keenan meninggalkan nya sendiri.
Ada rasa aneh di hatinya, seolah dia tidak ingin melepaskan Keenan pergi menjauh.
Cinta langsung menggelengkan kepalanya, "Apa yang kau pikirkan Cinta, dia hanya pergi dalam beberapa saat, sebentar lagi dia juga akan pulang kok," Cinta meyakinkan dirinya sendiri.
Dia menepis segala rasa gundah di hatinya, setelah mobil yang dikendarai Keenan sudah menghilang dari jarak pandangnya, Cinta kembali masuk kedalam rumah.
Malam ini dia hendak mengundang kedua sahabatnya yang berisik agar dia tidak merasa terlalu sepi.
***
Keenan akhirnya kembali ke Inggris, rumahnya yang sudah lama ia tinggalkan.
Keenan sedikit kesal mengingat bahwa ia akan kembali ke rumah itu lagi, akan tetapi dia merasa hal ini sangat perlu dilakukan untuk memberikan peringatan keras bagi siapa saja yang mengincar kehidupannya bersama Cinta.
Dia tidak akan tinggal diam dan membiarkan mereka semua merajalela.
Time skip,
Setelah beberapa saat,
Hanya membutuhkan beberapa waktu akhirnya Keenan sampai di kediaman super megah, dimana ia besar dan semua kenangannya masih melekat disana, dia disambut dengan meriah, tetapi wajahnya kelihatan tidak senang.
Seperti biasa, Lucia akan kelihatan seperti seorang ibu yang mengayomi, dan menyayangi Keenan.
Keenan menyapa Lucia dengan wajah yang datar, dia tidak ingin membuat kerusuhan, dan menghancurkan keluarga ini, jadi dia hanya ingin langsung pergi ke ruangan ayahnya dan meminta dilakukan pertemuan besar-besaran untuk memberikan peringatan yang telah ia rencanakan.
Lucia yang melihat Keenan bahkan tak menghiraukannya sedikitpun berdecak kesal dalam hati, akan tetapi dia tetap harus tersenyum dan berusaha agar Keenan tetap ada di kediaman mereka sampai pernikahan keenan dan Clara dilakukan.
“Dimana Ayah?” Keenan menanyakan kepada seorang kepala pelayan yang ia kenali, ialah seorang pelayan yang menjaganya sejak kecil.
“Ayah anda ada di ruangan pribadinya Tuan,” balas kepala pelayan itu menunduk dengan sopan dengan gaya yang memang khas kerajaan.
Keenan langsung melangkah dengan cepat agar ibu tirinya yang cerewet itu tidak bisa mengejarnya dan mengimbangi langkahnya.
“Tak!”
Keenan langsung membuka ruangan pribadi ayahnya, dimana Ayahnya sedang membereskan beberapa berkas.
Keenan akhirnya melihat lagi ayahnya, ayah yang sudah lama sekali tidak pernah ia jumpai, perawakan nya tetap tegap akan tetapi rambutnya sudah beruban dan wajahnya semakin keriput.
Seolah tahu Keenan sudah kembali pulang, Josh hanya melirik sebentar lalu melanjutkan apa yang sedang ia lakukan.
"Kau sudah pulang ..." hanya suara datar dan parau yang terdengar, di usia senja seperti ini dia masih melakukan pekerjaan yang sangat berat.
Keluarga Keenan Thomson memang memiliki perusahaan yang sangat besar, dimana para tetua juga memiliki saham di dalam perusahaan itu, karena Keenan tak mau mengambil alih perusahaan membuat Josh Thomson hingga sekarang ini masih menjalankan perusahaan keluarga bangsawan itu.
Keenan dengan wajah angkuhnya datang dengan mengangkat dagu, melangkah dengan lantang dan duduk di depan meja kebesaran Josh.
"Aku tidak ingin berbasa-basi, aku tahu Ayah pasti sudah mendengar ini, tetapi sekarang aku sudah memiliki seseorang yang aku cintai, dan kalian semua keluarga bangsawan kalian itu selalu saja menyuruh suruhannya untuk mencelakai wanitaku!" Keenan segera mengatakan apa yang hendak ia katakan.
Dia berbicara dengan sangat tegas dan lantang, dia masih membenci ayahnya, hingga saat ini dia masih tidak mengerti mengapa ayahnya harus menyakiti ibunya dahulu dan meninggal.
Tetapi saat mendengar itu Josh kelihatan biasa saja, karena memang dia sudah mengetahui semuanya, setiap orang berkedudukan di keluarga kerajaan ini memiliki mata-mata sendiri, setiap orang memata-matai yang lain.
Dan Josh sendiri memang selalu memantau perkembangan putranya, bahkan perusahaan Keenan yang sekarang bisa sukses karena Josh membantunya dari belakang layar.
Josh menghela nafasnya sejenak, lalu ia hendak berdiri, "Kau pasti lapar, kita makan dulu," Josh yang biasanya kelihatan tegas dan arogan itu entah kenapa hari ini melembek.
Dia tidak marah saat Keenan datang dan malah membentaknya, mungkin dia hanya terlalu senang anaknya kembali pulang, atau ada yang ia rencanakan.
Keenan pun tidak tahu.
"Tak ... Tak ... Tak!"
Josh melangkah hendak menuntun Keenan menuju ruangan makan akan tetapi Keenan yang sedari tadi memang sudah tidak bisa menahan emosinya ketika melihat ayahnya langsung berdiri dan memukul meja.
"Cukup Ayah! aku sudah bilang tidak ingin berbasa-basi, cukup sandiwara kalian yang ingin menganggap aku sebagai anak kalian! aku datang kesini hanya ingin mengumpulkan semua para tetua, dan mengumumkan jika aku ingin keluar dari keluarga Thomson,"
"Aku tidak ingin memiliki ikatan dengan kalian, agar kalian tidak memiliki alasan untuk menyakiti wanita ku, juga agar aku memiliki alasan untuk bisa membunuh siapapun suruhan dari keluarga kerajaan ini!"
Keenan begitu lantang, menggema di seluruh ruangan membuat langkah kaki Josh terhenti dan raut wajahnya menjadi masam.
Josh mengepal tangannya dan nafasnya menjadi memburu, dia membalikkan badan dan menatap tajam kearah putranya.
***