Boss Playboy

Boss Playboy
Malam bertabur bintang (+21)


Episode 115 : Malam bertabur bintang (+21)


***


Warning : Dibawah ini akan ada adegan dewasa, jika tidak suka adegan dewasa tinggal skip aja ya dan tolong jangan bilang kenapa banyak adegan dewasa nya, adegan dewasa ini perlu dibuat untuk menunjukkan keintiman mereka.


Khusus yang umurnya belum dewasa tolong dilewatkan episode ini juga.


Terimakasih


Author Joy


***


Tubuh Cinta bergetar hebat, nafasnya terengah-engah saat jemari suaminya memasuki dirinya.


“Ahh … Ke … Keenan be … berhenti,” Cinta sedikit terengah-engah, akan tetapi kecepatan jemarinya malah semakin cepat saat mendengar suara menggoda Cinta, hal itu membuat Cinta kehilangan akalnya.


Saat kecepatannya semakin cepat, Cinta menahan nafasnya, matanya melebar dan mulutnya sedikit terbuka, lalu tubuhnya menegang dan akhirnya dia sampai pada puncaknya.


Dia terengah-engah, tidak berani melihat wajah suaminya setelah memperlihatkan reaksi tubuh dan respon menggebu-gebu seperti barusan.


Akan tetapi berbeda dengan Keenan, setelah ia melihat kepuasan dalam wajah Cinta, dia malah menyeringai puas, ia mengeluarkan jemarinya dari tubuh Cinta dan membisik sembari menyesap daun telinga istrinya.


“Bagus, kau menikmatinya, sekarang giliran ku merasa enak juga,” bisik Keenan sudah tidak sabar menikmati puncak dunia bersama istrinya.


Dia segera menggendong istrinya dalam tangannya, merebahkannya diatas kursi tidur yang memang tersedia disekitar kolam pemandian air panas, dia membuka celana boxer yang tadi masih melekat di tubuhnya.


Lalu terlihatlah batang yang sudah mengeras begitu kokoh, dia kemudian menarik kedua tangan istrinya keatas kepala Cinta yang sudah terbaring, salah satu tangannya menggenggam tangan Cinta dan salah satu lagi mengarahkan batangnya agar bisa segera memasuki tubuh istrinya.


“Ah ….” Cinta sedikit berteriak pelan saat batang suaminya memasukinya, perlahan-lahan, akan tetapi membuat tubuh Cinta bergetar hebat.


Setiap kali tubuh Cinta bergetar, Keenan akan tersenyum puas dan terlihat sangat nakal, dia meraih wajah Cinta dan langsung mengecup bibirnya, nafas mereka saling bergantian dan memburu.


“Ke … Keenan,” Cinta mencoba menghentikan Keenan, karena rasanya dia seperti mau meledak karena kenikmatan yang ia rasakan.


“Panggil aku suamiku,” geram Keenan mulai mempercepat gerakan nya membuat Cinta menahan nafas dan tanpa sengaja mencakar pundak suaminya.


Namun anehnya Keenan tidak merasakan sakit sedikitpun, dia lebih berfokus pada penyatuan intens nya dengan istrinya.


“Hah, tu … tunggu, su … suamiku, ini sangat panas,” semakin cepat gerakan Keenan dan kuat hentakannya semakin tidak berdaya Cinta dan semakin terbata-bata ucapannya.


Yang lebih terdengar malah suara suara nakal yang tidak bisa ia kontrol, Keenan kelihatan sangat menikmati ini, bagaimanapun hanya Cinta yang bisa memuaskannya seperti ini, juga hanya Cinta yang membuatnya menahan diri untuk melakukan kenikmatan ini.


Istrinya ini memberikannya segalanya.


“Hah!”


“Ahh!”


“Hmm!”


Suara suara yang nakal, tidak hanya dari Cinta namun juga Keenan, setelah beberapa saat cengkeraman tangan Cinta mulai semakin kencang sekali dan dia menahan nafasnya.


“Aku mau … ahh,” Cinta merasa dia akan kembali merasakannya lagi, sampai di puncak untuk kedua kalinya.


“Hah, aku juga sayang ….” Balas Keenan bergerak semakin kencang dan kuat, sampai pada akhirnya keduanya sampai pada puncaknya.


Akan tetapi melihat istrinya yang sudah lemas tak berdaya itu, dia menahan dirinya untuk sebentar lagi, dia mengusap rambut Cinta yang terurai begitu saja akibat kegiatan panas mereka, dia mengecup keningnya dan bibirnya.


“Sayang, maafkan aku membuatmu lelah lagi, kau tahu aku sangat tidak bisa menahan diriku jika bersamamu,” Keenan mengusap keringat Cinta yang sudah tercetak di dahi.


Dia kemudian menggendongnya, ke arah bath tub yang juga tersedia tidak jauh dari kolam renang air panas, dia mengalirkan air hangat dan keduanya bersandar disana, Keenan memeluk Cinta yang kelelahan sembari menatap pemandangan spektakuler di hadapan mereka.


Waktu berlalu begitu indah, seolah keduanya tidak ingin waktu ini berlalu, Cinta memang masih malu sekali, dia tidak bisa mengontrol dirinya dan sejak tadi dia mencoba tidak membalas tatapan ataupun ucapan suaminya karena terlalu malu.


Bagaimanapun ini adalah kali pertamanya melakukan olahraga panas di luar ruangan, rasanya begitu berbeda dan tidak familiar baginya.


Keenan mengerti mengapa istrinya sejak tadi diam saja, dia terkekeh dan merasa gemas sekali, dia mengecup tengkuk Cinta yang sebenarnya sudah penuh dengan tanda kepemilikan, “Istirahatlah sayang, sebentar lagi kita makan, aku janji tidak akan melakukan itu lagi malam ini, jangan takut,” goda Keenan terkekeh.


“Ck, haruslah, kalau kau melakukannya lagi, mungkin aku akan benar-benar pingsan, dan lagi pula apa-apaan tadi teriakan ku itu? aku terlihat memalukan huaa!” Cinta berteriak dalam dirinya.


Lagi-lagi konflik dalam dirinya yang tak berkesudahan.


Akan tetapi tidak bisa dipungkiri oleh Cinta, setelah dia membuka hatinya dan mempercayai Keenan, segalanya terlihat lebih indah dan hangat, walau dia memang sangat malu akan tetapi ada hal yang tidak bisa ia jelaskan, ialah tubuh dan jiwanya merasakan kepuasan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.


***


Waktu akhirnya berlalu, keduanya terdiam menikmati waktu yang berharga, mata mereka melihat kearah langit yang bertaburan bintang, seperti kisah cinta di negeri dongen, kisah cinta berakhir bahagia yang diimpikan oleh Cinta sejak dulu.


Keenan bangkit dari bath tub, dia bangkit mengambil handuk dan jubah mandi, dia mengusap tubuhnya dan mengenakan jubah mandi yang memang sudah tersedia, dia melangkah kearah istrinya yang masih duduk di bath tub dan menatap pandangan yang membuatnya tidak bosan sama sekali.


“Sayang, ayo kita makan, istriku harus makan banyak agar pipinya semakin tembem dan menggemaskan,” seru Keenan gemas duduk di sisi bath tub sembari mencubit tipis pipi Cinta.


Cinta yang masih malu itu langsung menunduk, apalagi tanpa sengaja matanya bertemu pandang dalam jarak yang sangat dekat dengan suaminya membuat Cinta sedikit terperanjat.


“Ba … baiklah, to … tolong jangan lihat kearah ku, aku akan mengeringkan tubuhku dan memakai jubah mandi dulu,” seru Cinta sedikit gugup.


Pipinya yang semerah tomat dan sikapnya yang tetap sama begitu menggemaskan membuat Keenan tersenyum puas sekali, dia ingin menggoda istrinya lebih lama lagi akan tetapi dia tidak ingin jam makan malam istrinya terganggu, jadi akan ia tunda menggoda Cinta.


“Baiklah … baiklah, aku akan membalikkan tubuhku,” balas Keenan mengusap rambut istrinya yang sudah basah.


Cinta yang tadi menunduk malu sekali melihat kearah Keenan yang sungguh berdiri dan membalikkan tubuhnya, Cinta dengan cepat bangkit dan mengeringkan tubuhnya dengan handuk yang dibawakan oleh suaminya.


Setelah itu dia memakai jubah mandi yang kelihatan kebesaran padanya, “Emmm, su … sudah, ayo kita makan,” seru Cinta meraih tangan suaminya namun masih kelihatan malu sekali.


Keenan melihat tampilan imut istrinya lagi dan dibuat gemas lagi dan lagi.


“Ck! Sayang, kenapa kau menggemaskan sekali sih?” seru Keenan langsung menggendong istrinya ala bridal style menuju meja makan mewah yang sudah disediakan tidak jauh dari tempat mereka.


Malam itu begitu lengkap, tiada yang kurang, dan Keenan berhasil mengubah rasa sakit Cinta menjadi kenangan menggairahkan dan berharga.


Bahkan saat makan pun, Keenan tidak berhenti menatap istrinya, dia berpangku tangan dan menikmati keberadaan istrinya yang kelihatan mungil mengenakan jubah mandi, pipinya yang mengembung karena makanan, semuanya kelihatan menggemaskan sekali di mata Keenan.


Sedangkan Cinta, dia yang kehabisan energinya langsung melahap makanan sebanyak mungkin.


Dia sedikit iri melihat suaminya, bagaimana mungkin suaminya seperti memiliki energi tak terbatas dalam tubuhnya, seolah suaminya tidak akan kelelahan berapa kali pun dia melakukannya.


***