The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 89 - Dungeon Padang Pasir


Segera setelah aku dan Chris menyetujui kerjasama ini, Alice mengantarkanku ke bagian terluar dari wilayah Barbarian Horde.


Pemandangan yang nampak di arah Timur hanyalah pasir dan bukit-bukit batuan yang juga dipenuhi oleh pasir. Sesekali nampak beberapa monster dan bahkan hewan liar. Sedangkan di arah Barat nampak dataran hijau yang subur.


“Kalau begitu… aku mempercayakan semuanya padamu, Eric. Juga terimakasih atas bantuanmu.” Ucap Alice sambil pergi meninggalkanku sendirian di tengah padang pasir ini.


“Sekarang aku harus menemukan sebuah gua yang cocok untuk kujadikan sebagai Dungeon baruku. Chris telah memberikan 80.000 koin emas kepadaku. Ah! Sial! Seharusnya aku juga berbicara soal Aamori padanya…. Mungkin lain kali saja jika sudah begini.” Ucapku pada diriku sendiri.


Aku terus berjalan ke arah Timur menyusuri padang pasir yang seakan tak memiliki ujung ini. Sesekali aku menemukan sebuah bukit batuan. Sesekali aku menemukan gua kecil.


Tapi semua itu tidak cocok sebagai tempat pembuatan Dungeon baru.


Tempat yang kuinginkan adalah sebuah gua yang cukup besar untuk memuat setidaknya 3 lingkaran sihir. Satu untuk ke Dungeon Origin, satu untuk ke Dungeon Barrack dan satu lagi untuk ke Dungeon Deus.


Dengan begitu, aku bisa mengatur pergerakan pasukan monster dengan lebih baik. Termasuk urusan makanan dan minuman yang diperlukan.


Berbicara tentang minuman….


“Bagaimana jika aku memiliki sebuah sihir air tingkat tinggi dan membanjiri daerah ini? Apakah akan menjadi subur? Entahlah, aku bahkan tidak mengerti sama sekali soal itu.”


Waktu terus berlalu….


“Lagipula…. Bukankah ini dunia game?! Kenapa terasa begitu panas dan tidak nyaman disini?! Ah! Aku haus!”


Aku membuka menu Inventoryku dan mencari apakah aku memiliki minuman. Sialnya, aku tak memiliki satupun air minum. Mungkin karena aku tak pernah peduli soal makan, minum dan tidur di dunia virtual ini. Akhirnya aku mengambil langkah ekstrim. Meminum Health Potion.


“Sialan… potion ini… tidak mampu… menghilangkan… rasa hausku….”


Hingga akhirnya, aku menemukan sebuah gua yang cukup besar. Letaknya berada di suatu perbukitan batuan. Tanpa berlama-lama, aku segera berteduh di dalamnya dan menggunakan skill [Install Dungeon].


...[Tentukan Efek Khusus yang diinginkan!]...


“Ah sialan… aku masih perlu memikirkan ini? Baiklah…. Buat tempat ini subur, sejuk atau apalah. Tempat sialan ini masih panas bahkan di dalam gua.” Ucapku dengan setengah hati kepada sistem.


...[Memproses Informasi….]...


...[Menganalisa Informasi….]...


...[Mempelajari Sejarah….]...


...[Menganalisa Dungeon….]...


...[Peningkatan Kondisi Lingkungan telah ditentukan!]...


...[Dungeon memiliki efek Thermal Stabilization, membuat seisi Dungeon selalu memiliki suhu yang tidak terlalu panas maupun dingin]...


...[Dungeon memiliki efek Fertile Land, membuat seisi Dungeon dan wilayah sekitarnya subur]...


...[Dungeon memiliki efek Infinite Water Source, membuat sebuah sumber air yang tak terbatas di bagian bawah Dungeon]...


...[Dungeon memiliki efek Resting Place, membuat regenerasi Health, Mana dan Stamina Point meningkat sebesar 100% ketika berada di dalam Dungeon]...


...[Dungeon Perbatasan telah resmi didirikan!]...


“Hmm…. Bukankah efeknya lumayan bagus? Kurasa aku juga bisa memindahkan airnya dari tempat ini ke Dungeon Origin.”


Aku segera mengelilingi Dungeon ini dan memasang 3 lingkaran sihir teleportasi. Tak kusangka ukuran gua ini lebih besar dari dugaanku.


Meskipun di bagian dalam gua ini memiliki struktur yang curam dan tidak rata, tapi itu semua bisa diusahakan dengan monster panggilanku nantinya.


Sekarang….


Aku berdiri di salah satu lingkaran sihir itu dan mengucapkan kata sandinya.


“Origin.”


Sesampainya di Dungeon Origin, aku menjelaskan semua situasi ini kepada Elin.


Aku pikir bahwa Elin akan marah dengan hal ini. Tapi reaksinya justru jauh melampaui imajinasiku.


“Eric! Kau membuat pilihan yang tepat! Jika kau bertanya padaku, maka aku akan mengusulkan hal yang sama! Aaaa…. Akhirnya kita memiliki tempat farming EXP yang baru!” Teriaknya sambil melompat-lompat kegirangan.


“Baguslah jika begitu. Tapi tolong…. Cari keberadaan Lucien. Aku ingin dia berburu disana sambil mengurangi jumlah pasukan barbar yang akan datang 2 tahun lagi.”


“Tenang saja! Aku akan mencarinya! Rina, kau mau ikut?”


Setelah itu mereka berdua memutuskan untuk pergi mencari Lucien. Sedangkan aku pergi ke Dungeon Treasure untuk mencari Oliver.


“Melawan pasukan barbar?” Tanya Oliver bingung mendengar penjelasanku.


“Ya, seperti itulah keadaannya. Apakah kau mau memimpin pasukan baru yang akan kupanggil disana? Atau kau akan tetap disini?”


“Sudah lama sejak aku bertarung! Mungkin jika diperbolehkan, aku akan kesana! Minis! Aku menyerahkan semua proyek pembangunan Dungeon ini kepadamu!” Teriak Oliver dengan suara yang lantang.


Di kejauhan nampak sosok Minis yang menganggukkan kepalanya dan memberi sebuah jempol.


Sesaat sebelum aku pergi menggunakan lingkaran sihir teleportasi, sebuah notifikasi muncul di hadapanku.


[Pengirim : Chris]


[Ini pesananmu, Eric. Semoga membantu!]


[Chris telah mengirimkan item!]


[Full Mana Potion x99]


[Full Mana Potion x99]


[Full Mana …. ]


Segera setelah itu, pandangan kami berdua berubah. Di hadapan kami nampak sebuah gua yang mulai gelap. Wajar saja karena sekarang matahari sudah mulai terbenam di Dunia Re:Life.


“Summoning…. Goblin….”


Teknik Summoning milikku yang telah mencapai Tingkat Atas level 2 membuatku mampu memanggil 50 monster sekaligus.


Meskipun, aku tidak memperoleh skill baru sejak lama. Waktu yang diperlukan untuk meningkatkan level Teknik Summoning juga semakin meningkat.


Selain itu, teknik Dungeon Mastery milikku sudah mencapai tingkat menengah level 3. Hal itu dikarenakan aku sangat sering membuat perangkap saat ini. Terutama perangkap untuk Dungeon Treasure.


Aku juga memperoleh beberapa jenis perangkap baru, tapi mungkin akan kupikirkan lain waktu.


Sekarang….


Dengan jumlah Mana Point milikku yang mencapai 400.000….


“Aku akan memenuhi padang pasir ini dengan Goblin!”


Oliver yang mendengar perkataanku hanya bisa tersenyum bangga sambil menyilangkan kedua lengannya yang berotot itu.


...***...


“Heh…. Jadi ini Kerajaan pertama yang dibuat oleh seorang Player?! Sungguh luarbiasa! Apakah kalian semua bisa melihatnya?! Jalanannya sangat rapi dan bersih, prajuritnya juga terlihat kuat dengan perlengkapan yang mengkilap! Ini semua menunjukkan kekuatan ekonomi dari Kerajaan Salvation!”


Angie nampak kegirangan sambil menjelaskan situasi di sekitarnya kepada kamera hologram yang dipegang tangan kanannya.


“Bukankah kalian semua penasaran seperti apa sosok Official Ranker peringkat pertama? Yang sekaligus Raja dari Kerajaan ini?! Ayo kita temui dia!!!”


Angie berlari dengan penuh kegirangan menuju ke Istana Kerajaan di Kota Reinard. Beberapa Player yang menyadari identitasnya segera mengikutinya. Bahkan tak sedikit MeTuber pemula yang mulai merekam Angie yang sedang merekam dirinya sendiri!


Tapi semua itu sirna seketika.


‘Bruuk!’


“Aduh!” Ucap Angie setelah jatuh tersungkur di tanah.


“Maaf, tapi orang tak dikenal tidak diperbolehkan untuk memasuki istana ini!” Teriak seorang penjaga gerbang istana.


“Eh?! Jadi begitu ya? Sayang sekali…. Padahal Angie ingin membuat video wawancara khusus dengan Raja kalian….” Ucap Angie sambil memasang wajah memelas.


“Video? Apa itu video?” Balas penjaga itu kebingungan terhadap kata yang didengarnya.


Waktu terus berlalu dan Angie terus merengek memohon untuk dibiarkan masuk. Tapi pada akhirnya Ia tetap tidak diperbolehkan untuk masuk. Hingga akhirnya, kekuatan orang dalam bekerja.


“Apakah kau…. Angie? Kenapa kau disini?” Ucap seorang Pria dengan badan kekar, Chris. Raja Salvation itu sendiri. Nampaknya Chris baru saja ingin keluar dari istana.


Seluruh penjaga dan prajurit yang melihatnya segera memberi hormat.


“Chris! Aku ingin membuat wawancara khusus denganmu!!! Boleh kan ya?! Pasti boleh!!!”


"Apa yang ingin kau tanyakan? Tanyakan saja sekarang karena aku sedang sibuk." Balas Chris dengan sikap acuh.


Pada kenyataannya Chris memang sedang sibuk karena membangun benteng di Padang Rumpu Milis. Hal ini Ia lakukan untuk mencegah serangan berikutnya dari Federasi Pedagang.


"Bagaimana caramu menaikkan levelmu secepat itu?!" Tanya Angie dengan wajah kegirangan.


"Tentu saja dengan berburu...."


Tapi belum sempat menyelesaikan perkataannya, Angie memotong secepat kilat.


"Berburu? Meskipun kau nampak sesibuk ini? Bahkan berdasarkan beberapa laporan media lain kau jarang meninggalkan istanamu.... Bagaimana bisa? Bukankah menurut kalian semua juga demikian?!" Tanya Angie sambil melihat kamera.


Mendengar provokasi dari Angie, Chris tetap tenang. Lagipula, mendengar gertakan dari lawan bicara sudah sering Ia alami.


"Angie, aku sedikit berbaik hati denganmu karena kau merupakan seorang MeTuber terkenal dari Amerika. Tapi aku tidak bisa memberikan toleransi lebih dari ini. Sekarang pergilah." Ucap Chris sambil melangkah melewati Angie.


Mendengar hal itu, Angie hanya tersenyum. Seakan Ia memang sudah menduganya.


Angie tiba-tiba mematikan kamera hologram yang ada di tangannya. Ia juga segera memasukkannya ke Inventorynya.


Semua orang yang merekam Angie dari jauh nampak kebingungan.


Itu semua karena Angie mendekatkan wajahnya ke telinga Chris sambil berjinjit.


Tak ada yang mendengar apapun yang dikatakan oleh Angie selain Chris.


Tapi dari kejauhan, terlihat ekspresi wajah Chris berubah. Kedua matanya mulai melebar. Bahkan Chris mulai menghentikan langkahnya.


Hal yang terjadi berikutnya....


"Penjaga! Usir semua wartawan itu dari sini! Angie, kau...." Ucap Chris sambil memberikan tatapan yang tajam kepada Angie.


Melihat hal ini, Angie hanya tersenyum puas karena tujuannya telah tercapai.


...___________________________________...


...[Sebelum lanjut membaca]...


...[Ada baiknya untuk menekan tombol Like]...


...[Dan juga meninggalkan komentar dalam bentuk apapun]...


...[Tak ada ruginya bagi kalian]...


...[Tapi percayalah, hal sederhana itu yang menyemangatiku untuk terus menulis]...