
...Ruang Tahta...
‘Braaak!! Wuuoossh!!!’
Puluhan prajurit terlempar ke udara seketika setelah menerima pukulan dari Lucien. Beberapa yang lain nampak anggota tubuhnya terpotong-potong karena terkena kuku tajam miliknya.
Tak hanya itu, semburan api yang sama sekali tak butuh waktu untuk perapalan itu telah menelan lebih dari 20 korban. Mereka semua mati seketika karena terbakar hingga menjadi abu.
“Fufufu! Lemah sekali!” Teriak Lucien sambil memprovokasi lawannya.
Arlond yang berada di pihak Raja nampak berusaha untuk melawan Lucien sekuat tenaga. Meski dengan kekuatan baru yang Ia peroleh dari buku kuno itu, Ia masih belum yakin bisa mengimbangi pergerakan Lucien.
Sedangkan Agmar?
“Sialan! Mati kau!” Teriaknya sambil berlari ke arah Lucien. Perisai besarnya nampak begitu kokoh ketika dihadapkan ke depan.
Tapi itu semua seakan tak ada gunanya.
‘Sreet!!’
Dengan kecepatan yang tak bisa diikuti oleh mata, Lucien telah berhasil mencekik leher Agmar. Ia juga mengangkatnya cukup tinggi di udara.
“Kugh! Lwepwaskan waku!” Teriak Agmar sambil meronta-ronta kesakitan.
Beberapa prajurit nampak berusaha untuk menyerang Lucien dengan pedang maupun tombak. Tapi itu semua tak berguna.
“Familiar Summoning. Vicious Bat.” Ucap Lucien sambil tetap mengangkat tubuh Agmar.
Seketika, ribuan kelelawar yang sangat ganas muncul dari balik jubah milik Lucien. Ribuan kelelawar itu menyerbu seluruh prajurit yang ada. Mereka nampak menggigit dan menghisap darah para prajurit itu.
“Aaaarrggh!!!”
“Tolong! Tolong aku!!”
“Kelelawar sialan!!!”
Teriak puluhan prajurit yang masih tersisa itu.
Sedangkan Lucien?
“Ini adalah penghakiman dariku karena telah menghina Tuanku. Endless Torment.” Ucap Lucien.
Tak ada apapun yang istimewa terjadi pada tubuh Agmar. Meski begitu….
“Kyaaahhh!!! Huaaaah!!! Aaaaarrrgggh!!!” Teriaknya penuh rasa kesakitan.
Hal yang wajar karena skill [Endless Torment] adalah salah satu skill dengan jenis kutukan yang hanya dimiliki ras iblis tingkat tinggi. Skill ini mampu memberikan rasa sakit yang sangat besar kepada targetnya. Parahnya lagi, skill itu sama sekali tidak memberikan damage.
Tentu saja, bagi player dan NPC yang masih mampu merasakan rasa sakit di dunia ini maka skill itu adalah hal terburuk yang bisa mereka harapkan. Menerima rasa sakit tanpa akhir? Lebih baik segera mati daripada merasakannya lebih lama.
Alasan kenapa skill ini tidak terlalu berguna adalah Cooldown yang sangat lama, penggunaan Mana yang sangat besar, serta tak memiliki kemampuan untuk membunuh target.
Segera setelah seluruh pasukan yang tersisa, termasuk Agmar dihabisi oleh para kelelawar itu, mereka segera kembali masuk ke dalam tubuh Lucien.
Kini yang tersisa di ruangan yang megah ini hanyalah sang Raja, Arlond, dan juga Lucien.
‘Prok. Prok. Prok.’
Sang Raja nampak menepukkan tangannya secara perlahan sambil berjalan menuruni singgasananya.
Arlond yang melihat hal itu nampak kebingungan. Tentu saja Ia masih memasang kuda-kuda dan bersiaga terhadap Lucien.
“Kau memiliki bawahan yang sangat lemah, wahai Raja pandai besi. Terlalu lemah hingga kurasa mereka tak berhak untuk hidup di dunia ini.” Ucap Lucien dengan senyuman yang tipis.
“Kau berpikir demikian? Hahaha…. Nampaknya manusia di hadapan iblis sepertimu hanyalah seperti seekor semut. Arlond, perintah mutlak untukmu. Segeralah pergi dari sini dan panggil bantuan. Sebelum itu, terima ini.” Ucap Raja Trias sambil melemparkan sebuah liontin dengan permata jenis Ruby yang berwarna merah menyala kepada Arlond.
Di tengah permata itu, nampak ukiran kobaran api yang berwarna emas. Pada saat Arlond memeriksa Item itu dengan sekilas....
[Pendant of True Fire]
[Rarity : Legendary]
[Tipe : Accessory]
[Atribut]
Health Point : + 150.000
Health Point : + 40%
Mana Point : + 50.000
Mana Point : + 20%
Defense : + 3.500
Defense : + 25%
Strength : + 30%
Vitality : + 100%
Stamina : + 60%
True Fire Blessing
Efek : Meningkatkan regenerasi Health Point sebesar 200% dan juga regenerasi Stamina Point sebesar 50%.
Memberikan ketahanan terhadap elemen api sebesar 85%. Meningkatkan kekuatan serangan dengan elemen api sebesar 50%.
[Keterangan Khusus]
Merupakan warisan dari Raja Pandai Besi pertama Kerajaan Farna. Memperoleh kepercayaan dari Raja untuk memegang liontin ini berarti menerima kepercayaan untuk menjadi Raja berikutnya.
'Tunggu.... Item ini?!' Teriak Arlond dalam hati. Tapi Ia segera menepis pikirannya dan mengikuti perintah Raja Trias.
“Dengan segera, Yang Mulia.” Balas Arlond segera. Ia pun terlihat segera lari dari ruangan ini dan mengenakan liontin tersebut.
“Siapa yang bilang kalian boleh memanggil bantuan?!” Teriak Lucien dengan keras. Ia segera melesat dengan cepat untuk memukul Arlond. Tentu saja, tanpa niat untuk membunuhnya karena Arlond merupakan tokoh kunci dalam rencana ini.
Tapi tepat sebelum itu terjadi….
‘Bruuuuk!!! Duaaarr!!!’
Raja Trias nampak mengayunkan palu adamantitenya itu ke arah Lucien. Pada saat mengenainya, Lucien terlempar sangat jauh hingga menabrak dinding. Tak hanya itu, dindingnya nampak mulai roboh hanya dari tubrukan itu.
“Kau…. Bukan manusia?” Tanya Lucien sambil sedikit tersenyum. Tapi kini, nampak sedikit darah yang mengalir dari mulutnya yang pucat itu.
“Apakah aku belum memberitahukannya kepadamu? Aku adalah seorang High Human. Seseorang yang telah melampaui batasan manusia dan telah terlahir kembali sebanyak 19 kali!” Teriak Raja Trias.
’19 kali?! Jangan katakan padaku….’ Pikir Lucien dalam hati. Kini Ia tersadar, lawan yang dihadapinya adalah seseorang yang sangat kuat.
“Sudah kukatakan sebelumnya, iblis rendahan sepertimu takkan mampu untuk mengalahkanku!” Lanjut Raja Trias dengan suara yang sangat lantang.
Tanpa memberikan jeda, Lucien segera berlari ke arah Trias dengan sangat cepat. Meski begitu….
‘Bruuuk!!! Duuaarr!!’
Tubuh Lucien kembali terpukul oleh palu besar milik Raja Trias.
Pertarungan yang berat sebelah ini terus berlangsung selama 10 menit. Lucien benar-benar dalam posisi yang sangat dirugikan.
“Meskipun tubuhmu ramping, gerakanmu terlalu lambat hingga dapat diikuti oleh palu besar seperti ini.” Ejek Raja Trias setelah terus menerus menghajar Lucien.
“Fufufu…. Berbicaralah selagi kau mampu! Blood….”
‘Brrruuuk!!!’
“Kugh!!!”
Kini Tubuh Lucien terlempar ke udara hingga meretakkan sebagian besar langit-langit itu. Ruang Tahta yang pada awalnya nampak begitu megah dan indah sekarang mulai hancur lebur hanya karena terhantam tubuh Lucien.
Lucien nampak mengalami luka parah di sekujur tubuhnya. Meski begitu, Raja Trias bahkan belum menggunakan satu pun skill miliknya.
“Kau akan mati disini, iblis rendahan!” Teriaknya sambil bersiap untuk melompat dan memukul Lucien di udara.
‘Tuan Eric…. Maafkan aku….’
...***...
...Tempat Tinggal Keluarga Kerajaan...
Bangunan yang pada awalnya nampak begitu indah dengan berbagai dekorasi dan ruangan-ruangan yang dipenuhi lukisan ini sekarang telah menjadi reruntuhan.
Semua itu disebabkan oleh pertarungan antara 3 pangeran Kerajaan Farna dengan Elin.
“Untuk seorang gadis kecil…. Bukankah kau terlalu kuat?!” Teriak Pangeran tertua, Triston.
“Aku setuju denganmu, Kakak. Bahkan Ia mampu untuk….” Balas Pangeran termuda, Wilfred.
Sedangkan pangeran kedua? Ia telah terbunuh oleh Elin karena celah yang ada di helm tebalnya itu mampu dilewati oleh belati milik Elin.
“Sialan! Jika saja Mana milikku tidak terkuras habis, aku pasti bisa menyelamatkannya!” Teriak Triston dengan wajah yang sangat kesal.
Hal yang wajar karena Mana yang ada dalam radius sekitar 15 meter telah kering karena Skill milik Elin [Mana Zone : Depletion]. Tentu saja, Elin termasuk. Oleh karena itu, Ia hanya bisa bertarung tanpa menggunakan skill sama sekali.
“Tenang saja, aku akan segera mengirimkan kalian untuk menemui pangeran kedua.” Ucap Elin dengan penampilan yang sangat mengerikan.
Seluruh jubah hitamnya telah lama robek. Bahkan zirah Mithril tipis yang Ia kenakan telah rusak parah dan tidak dapat melindunginya lagi. Yang tersisa baginya hanyalah Manticore Leather Cloth yang ada di balik zirah Mithrilnya itu.
Meminum Potion?
Segera setelah Ia mengangkat lengannya sebentar saja untuk meneguknya, maka kepalanya akan terpenggal oleh pedang milik Triston.
Ia tak bisa menurunkan kewaspadaannya sedikitpun pada saat melawan mereka bertiga. Begitu juga sebaliknya.
‘Setidaknya…. Aku telah membantai ratusan pasukan beserta cabang keluarga utama barusan. Jika aku gagal disini…. Maka hanya mereka berdua yang tersisa.’ Ucap Elin dalam hati.
Di sekelilingnya, nampak beberapa cahaya putih yang masih belum menghilang karena baru saja terbunuh.
Pada reruntuhan yang dibalut gelapnya malam berbintang ini….
Pertarungan penentuan akan segera berlangsung.