
Setelah kemenanganku melawan Miyamoto, kini aku sudah dipastikan memasuki perempat final atau lolos sebagai 8 Player terbaik di dunia ini dalam segi PvP.
Aku pun segera keluar dari kapsul dan melihat namaku yang terpampang jelas di seluruh layar hologram yang ada.
"Sialan...." Keluhku dengan suara yang cukup lirih.
Tapi tanpa ku duga, seseorang berhasil mendengar keluh kesahku itu.
"Nikmatilah kemenanganmu itu, Erik. Meskipun gagal memasuki perempat final, tapi aku sudah masuk dalam 16 player terkuat di dunia ini." Ucap Miyamoto sambil menghampiri diriku.
Ia nampak mengulurkan tangannya seakan ingin berjabat tangan.
"Aku tidak menerima kemenangan ini." Balasku dengan wajah kesal sambil berusaha menghindari kontak mata dengan Miyamoto.
"Kalau begitu, mari bertarung lagi di kompetisi yang berikutnya. Kau juga bisa menantangku sebanyak yang kau mau di dunia game. Bilang saja kepada Luna untuk menjemputmu." Balas Miyamoto dengan senyuman yang cukup lebar.
Aku tak pernah menyangka....
Meskipun kalah dengan cara yang sangat buruk itu, Ia masih mampu tersenyum lebar kepada lawannya.
'Jika aku yang berada di posisinya.... Apa yang akan kulakukan? Ah.... Mungkin aku akan marah besar. Kurasa, aku harus lebih memperbaiki sikapku ini. Bukankah dia sudah rela menerima kekalahannya? Lalu apa yang ku lakukan?'
Setelah terdiam selama beberapa saat, aku pun segera menjabat tangan Miyamoto dengan kuat sambil tersenyum selebar mungkin.
"Hah! Aku akan kembali mengalahkanmu lagi di pertandingan berikutnya! Dan berikutnya lagi!"
"Jawaban yang bagus Erik!"
Seluruh penonton pun nampak bertepuk tangan dengan sangat meriah melihat dua orang yang sebelumnya bertarung dengan sangat sengit itu kini nampak begitu akrab.
Bahkan sang pembawa acara nampak mengocehkan berbagai kalimat yang memuji tingkat sportifitas kami berdua.
Tapi mengabaikan hal itu, aku memberanikan diriku untuk kembali bertanya kepada Miyamoto.
"Soal menghubungi Luna untuk bertemu dengan kalian para Rebellion, apakah tidak masalah? Maksudku, bukankah aku hanyalah orang luar bagi kelompok kalian?" Tanyaku sambil terus melambaikan tangan ke arah penonton.
"Ah soal itu? Tenang saja, sejak insiden Leviathan itu, kami akan selalu menyambutmu. Bahkan Angie nampak sangat ingin bertarung lagi denganmu hahaha. Sejujurnya tentang Luna...."
Miyamoto masih terus melambaikan tangannya ke arah penonton hingga akhirnya mulai membisikkan suatu hal kepadaku.
Mendengar hal yang dibisikkan oleh Miyamoto, aku membuka mataku lebar-lebar dan menghentikan lambaian tanganku. Bahkan aku segera menoleh ke arah Miyamoto untuk mengetahui kebenarannya.
Tapi sungguh disayangkan....
Miyamoto nampak tersenyum sambil menutup kedua matanya seperti biasa. Akan tetapi, senyumannya kali ini nampak begitu mengesalkan dan menjengkelkan.
Aku pun dengan segera melepas alat penerjemah otomatis yang sejak awal terpasang di telinga kiriku, seakan tak mempercayai hasil terjemahan yang diberikan.
"I spik inglish litel. You say true?" Tanyaku dengan bahasa inggris yang paling aku kuasai. Tentu saja dengan raut wajah serius karena penasaran dengan pernyataan Miyamoto barusan.
Akan tetapi, mendengar perkataanku Miyamoto justru tertawa terbahak-bahak dengan keras. Tak cukup sampai di situ, Ia bahkan sampai memukuli pahanya sendiri berkali-kali karena tak sanggup menahan tawa akibat perkataanku.
Miyamoto pun ikut melepas alat penerjemahnya dan segera berbicara padaku.
"Bahasa inggrismu buruk sekali. Bicaralah dengan bahasa indonesia. Aku sedikit banyak mempelajarinya ketika berlibur disana." Balas Miyamoto dengan senyuman yang sangat mengejek.
"Hah?! Lalu untuk apa semua penderitaanku barusan?!"
...***...
Di sisi lain....
Sosok seorang wanita dengan tubuh yang cukup kecil nampak berjalan di sebelah seorang pria berbadan besar.
Meski harus menghadapi negaranya sendiri, kedua pemain itu nampak bersikap profesional. Pertarungan ini akan menentukan siapa dari mereka yang layak untuk maju ke babak perempat final.
"Perlu kau ketahui aku takkan mengalah padamu meski kau memohon, Elin." Ucap Ilham sambil melirik ke arah wanita yang ada di sampingnya itu.
Setelah berdiri di atas panggung, sang pembawa acara pun segera berbicara dengan begitu meriahnya.
"Dan inilah! Pertarungan terakhir pada babak penyisihan untuk memperoleh 8 orang pemain terbaik di dunia ini akan dilakukan! Siapakah yang akan menang dan memasuki perempat final?!
Apakah seorang Wooden Elf yang anggun dengan keterampilan belatinya? Atau seorang manusia dengan zirah yang teramat tebal? Kepada kedua pemain, kami persilahkan untuk segera memasuki dunia permainan!"
Elin dan Ilham dengan segera menuruti perkataan pembawa acara itu.
Mereka berdua pun telah masuk di dunia virtual untuk memperebutkan gelar sebagai pemain peringkat 8 terbaik di dunia dalam PvP.
Pada salah satu layar hologram berukuran raksasa di atas panggung itu, nampak pemandangan dunia virtual yang akan menjadi lokasi pertarungan mereka berdua.
Pertarungan antata belati tercepat yang dilihat oleh semua orang selama kompetisi ini, melawan perisai paling kokoh yang pernah dikenal dunia.
Diantara kedua itu, siapakah yang akan memperoleh kemenangan?
...***...
...Ruang Tunggu Pemain...
'Klek!'
Aku membuka pintu itu untuk beristirahat sambil menonton pertarungan antara Elin melawan Ilham. Jujur saja aku tidak yakin Elin dapat menembus pertahanan milih Ilham.
Pasalnya, Ilham memiliki kemampuan pertahanan yang dapat dikatakan seperti monster setelah bergabung dengan kelompok Angie.
Ia memiliki Unique Passive Skill yang memungkinkannya mengurangi seluruh damage yang diterima sebesar 3.000 poin. Oleh karena itu, serangan berdamage kecil sangat tak mungkin untuk menembus pertahanannya.
Bahkan itu tanpa memperhitungkan status Defense miliknya yang begitu tinggi.
Sedangkan Elin setelah berubah menjadi Wooden Elf telah kehilangan 40% Status Strength miliknya. Hal itu tentunya menurunkan daya serang Elin sebagai ganti kecepatan yang Ia peroleh.
Pada saat aku masih fokus menonton siaran di TV ruang tunggu ini sambil duduk santai....
'Klek....'
Seseorang nampak membuka pintu ruangan yang cukup luas ini.
Pada saat aku menoleh untuk melihat siapa orang yang masuk, aku tak bisa mempercayai sendiri mataku.
Sosok wanita yang terkesan cukup liar dengan rambut pirang panjang yang diikat dengan gaya cepol yang terlihat acak-acakan itu.
"Hmm? Erik?" Ucap Wanita itu sambil sedikit memperlebar matanya.
Ia segera berjalan dan duduk di salah satu kursi untuk ikut menyaksikan pertandingan ini.
"A-Angie?! Apakah ini benar-benar dirimu?!" Teriakku terkejut mellihat sosok Angie yang sebenarnya di dunia nyata. Jika saja bukan karena kartu tanda pengenal yang Ia kenakan, maka aku takkan pernah tahu.
"Memangnya ada yang salah?" Tanyanya dengan santai sambil terus menonton siaran yang ada di TV itu.
"Erik, menurutmu siapa yang akan menang?" Tanya Angie segera setelah membuka minuman kalengan yang Ia bawa.
"Jujur saja.... Menurutku Ilham yang akan menang."
'Glek! Glek!'
Segera setelah beberapa tegukan itu, Angie kembali berbicara menanggapi diriku.
"Hmm.... Kupikir kau akan mendukung istrimu sendiri. Tapi nampaknya kau memang seorang Pria yang realistis ya? Aku setuju denganmu. Pada pertarungan kali ini, assassin itu takkan bisa mengalahkan Ilham. Terlebih lagi dengan medan pertarungan seperti itu...."
Pada akhirnya, kami berdua duduk bersama sambil menonton pertarungan yang akan segera berlangsung ini.
Sebuah pertarungan....
Yang di lakukan di pegunungan bersalju yang tebal.