The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 267 - Babak Akhir 3


...Gunung Vesuvius...


Pertarungan antara pemain Eropa dengan Angie, Brunhilda dan Miyamoto terus berlanjut.


Rose yang pada awalnya hanya mendukung dari garis belakang, kini terpaksa harus maju bersama dengan Frans untuk mendukung Robert secara langsung.


Pertarungan satu lawan tiga itu sangat berat sebelah bagi Robert.


'Staaab!!!'


Tusukan tombak milik Angie itu sangat sulit untuk dihindari karena Robert masih harus bertahan dari tebasan katana milik Miyamoto.


Sementara itu, Brunhilda terus menerus menyerang titik lemah zirah yang dikenakan oleh Robert. Serangan yang bisa dianggap tak menyakitkan bagi HP milik Robert itu justru sangat menyakitkan bagi durabilitas zirah yang dikenakannya.


Jika serangan itu dibiarkan terus menerus, lama kelamaan zirah milik Robert akan segera rusak, menurunkan Defense yang dimilikinya secara drastis.


"Fireball!" Teriak Rose sambil mengarahkan tangan kanannya kepada tiga orang pemain itu. Sementara itu, Frans segera menarik Robert menjauhi medan pertarungan dan segera menyembuhkannya.


"Healing light." Ucap Frans dengan suara yang lirih itu sambil mengarahkan tangan kanannya ke tubuh Robert.


"Terimakasih banyak." Ucap Robert singkat setelah menerima bantuan itu.


Di sisi lain, Angie, Brunhilda dan juga Miyamoto segera membahas rencana mereka yang berikutnya.


"Nampaknya pria culun itu adalah penyembuh mereka. Miyamoto, apakah kau bisa menyingkirkannya?" Tanya Angie dengan singkat.


Mendengar pertanyaan itu, Miyamoto hanya mengangguk ringan sambil berkata.


"Hal yang mudah jika kau bisa menjauhkan Robert dan juga penyihir itu."


Brunhilda yang belum berbicara sejak tadi justru mengajukan dirinya sebagai relawan.


"Aku akan memancing dan menjauhkan penyihir bertangan satu itu dari kalian. Angie, kau sebaiknya bisa bertahan dari Robert. Ingat, dia memiliki level yang sangat tinggi dan juga Class legendaris." Ucap Brunhilda sambil menarik Rapiernya.


Setelah anggukan ringan ketiga orang itu, pertarungan pun kembali berlanjut.


...***...


'Syuuutt! Syuuut!'


Eric menembakkan panahnya ke berbagai arah untuk menyerang tiga orang yang jauh lebih lemah daripada assassin yang sebenarnya itu.


Meski begitu, Eric saat ini masih mengalami kesulitan.


Itu semua karena intervensi pengguna scimitar itu pada saat Eric masih sibuk membidik.


'Sraaaassh!'


Ayunan pedang tak terlihat yang mengarah tepat di leher Eric itu berhasil dihentikan dengan cukup mudah.


Setelah menundukkan badannya, Eric segera memutar tubuhnya dan mengayunkan kakinya untuk menjegal Assassin itu.


'Bruk!'


Akhirnya Assassin itu jatuh. Efek skill bersembunyinya pun menghilang, memperlihatkan sosoknya yang sebenarnya.


Tapi pada saat Eric masih mengayunkan pedang yang baru saja Ia ambil dari inventorynya itu, tiga sayatan telah diayunkan ke arahnya yang berasal dari tiga pemain sebelumnya. Hal itu memaksa Eric untuk membatalkan serangannya dan segera pergi dari tempat itu.


'Sialan! Jika aku tak segera membunuh tiga idiot itu, aku takkan bisa mengalahkan Assassin ini. Sebaliknya jika aku tak segera mengalahkan Assassin ini, aku takkan pernah bisa membunuh tiga idiot itu dengan tenang. Lingkaran setan sialan ini membuat diriku muak!' Pikir Eric sambil terus berlari keluar dari hutan itu.


Arah tujuannya sangat jelas yaitu gunung Vesuvius yang merupakan panggung terakhir permainan ini.


'Jika saja aku belum menembakkan Silent Killer itu, statusku saat ini akan lebih dari cukup untuk mengungguli mereka.' Keluh Eric sekali lagi dalam hatinya.


Sesekali, Eric menembakkan panahnya ke belakang untuk memperlambat pengejaran mereka. Meskipun tak mampu membunuh mereka secara langsung, Eric mampu mencicil darah mereka secara perlahan.


Pengejaran itu berlangsung selama sekitar 5 menit lebih.


Hingga akhirnya, Eric dan para Assassin itu tiba di sebuah lapang terbuka. Sebuah medan yang didominasi oleh bebatuan yang cukup datar dan sedikit lahar di beberapa tempat.


Tempat yang cukup dekat dengan posisi Angie jika saja situasi memburuk, serta terlindungi karena tidak ada banyak tempat untuk bersembunyi bagi para Assassin itu.


Eric menghentikan langkahnya dan segera membalik badan.


'Enam.' Ucapnya dalam hari sambil mengembalikan busurnya ke dalam inventory.


Posisi tangannya saat ini seakan sedang memegang pedang dua tangan yang berukuran cukup besar. Postur tubuh Eric pun terlihat sudah sangat siap untuk mengayunkan pedang yang tak ada itu.


Akan tetapi setelah Eric mengucapkan angka enam itu, pedang dua tangan berukuran besar muncul di tangan Eric dengan posisi yang sangat pas.


Tanpa adanya keraguan sedikit pun, ayunan pedang itu dibumbui salah satu skill tingkat rendah dari teknik berpedang.


'Power Strike!'


Sebuah skill sederhana yang meningkatkan damage dengan bayaran berupa Mana Point dan juga Stamina Point.


Tebasan yang sangat mendadak itu pun berhasil membunuh ketiga orang yang mengejarnya secara bersamaan.


Segera setelah membunuh tiga orang itu, Eric segera melompat mundur dan meletakkan kembali pedang itu ke dalam inventory nya.


'Empat.' Ucap Eric dalam hati.


Pada saat itu juga, sebuah busur yang terbuat dari Mithril muncul di tangan kirinya.


Assassin terkuat yang mengejarnya itu segera menghentikan langkahnya dan melepaskan skill bersembunyi miliknya itu.


"Sudah kuduga." Ucap Assassin itu.


"Apanya?" Tanya Eric keheranan.


"Quick swap, dengan kecepatan seperti itu, pasti kau juga menggunakan teknik Numbering kan?"


"Memangnya kenapa? Bukan hal yang istimewa juga." Balas Eric kesal.


Meski terkesan tidak istimewa bagi Eric, apa yang baru saja dilakukannya sangatlah sulit untuk diterapkan di pertarungan yang sesungguhnya.


Keahlian Eric melakukan Quick Swap dengan tambahan Numbering berhasil Ia peroleh karena terus menerus menonton video Angie di MeTube serta latihan keras di dalam game.


Bantuan dari mentor-mentor hebat membuatnya mampu sampai di tingkat ini setelah menjalani latihan keras setiap harinya.


Luvelia sang pemanah Elf, yang mengajarinya tentang fleksibilitas dan kemampuan adaptasi yang cepat.


Oliver sang Goblin Lord, yang mengajarinya taktik bertarung yang sangat efisien dan juga efektif.


Knox sang jendral pasukan, yang mengajarinya tak hanya penggunaan senjata jarak dekat tapi juga pertarungan tangan kosong.


Kemudian Lucien yang mengajarinya bahwa selalu ada lawan yang jauh lebih kuat dalam pertarungan. Latihan dengan Lucien yang membuat Eric mati berkali-kali itu memberikannya kemampuan analisa yang sangat kuat serta teknik bertarung yang sulit diprediksi.


Mendengar jawaban dari Eric....


"Hahahaha! Bukan hal yang istimewa kau bilang?! Hahhaa! Tolong jangan bercanda!" Teriak Assassin itu sambil tertawa puas.


Sedangkan Eric? Ia hanya terdiam karena bingung harus bereaksi seperti apa terhadap orang gila seperti itu.


Setelah beberapa saat....


"Hah.... Eric. Kau benar-benar luarbiasa. Jika diperbolehkan, ijinkan aku memperkenalkan diriku." Ucap Assassin berambut hitam lurus dan kulit agak kecoklatan itu.


"Sudah ku duga kau mengenal diriku. Baiklah terserah kau saja." Balas Eric dengan wajah sedikit kesal.


"Namaku adalah Straf. Seorang mantan penjahat yang pernah berencana untuk mengeksploitasi pemain pemula di kaki Pegunungan Alpa."


Mendengar nama yang membuat Eric mengingat masa lalu itu, Ia memperlebar matanya sebesar-besarnya.


"Kau.... Jadi kau orang yang pernah memburuku saat itu?!"


Bertolak belakang dengan perkataannya, Eric justru tersenyum lebar mengetahui identitas lawannya.


"Kalau begitu, bagaimana jika kita tanding ulang?!"