
28 Juli, 2069.
1 tahun lebih telah berlalu sejak musibah menimpa keluargaku. Pada akhirnya kasus ditutup sebagai kecelakaan. Sungguh aku tidak puas dengan hasil penyelidikan itu.
Alasannya?
Itu karena Paman dan Bibiku menghilang entah kemana semenjak kejadian di hari itu. Aku bahkan tidak mampu untuk menghubungi mereka sama sekali. Sangat mencurigakan, tapi di sisi lain juga sangat bersih. Tidak ada bukti sama sekali yang menunjuk kepada mereka.
Tapi aku tidak punya waktu untuk peduli akan hal itu.
Semua kapasitas otakku telah habis kugunakan untuk menghasilkan uang. Aku juga sudah menyerah untuk menyicil hutang itu.
Setiap bulan, hutang yang ditinggalkan oleh orangtuaku mengganda sebesar 5%.
Jumlah awal yang sudah berada di angka yang fantastis yaitu 1.2 Miliyar Rupiah, kini telah menjadi 4 Miliyar lebih. Aku memahami kengerian dari bunga majemuk melalui kejadian ini.
Bahkan diriku yang bekerja sebagai SPG sekaligus sebagai pramusaji di pagi dan sore hari tak mampu untuk menggores peningkatan bunganya.
Oleh karena itu, aku tidak akan membayarnya selama 5 tahun. Setelah waktuku habis, aku akan menerima apapun yang menantiku.
Tapi setelah menjalaninya selama ini…. Aku mulai lelah.
Pada akhirnya, tanggal 4 Agustus 2069 menjadi hari kemerdekaanku. Aku memutuskan untuk berhenti bekerja. Uang tabunganku masih tersisa sekitar 6 juta Rupiah. Setelah uang itu habis, aku akan kabur entah kemana, memalsukan identitasku dan hidup damai di suatu tempat terpencil.
‘Setidaknya… hanya inilah yang mampu kupikirkan untuk bertahan hidup di neraka ini.’ Pikirku dalam hati sambil meneguk sebotol cola. Taman indah yang ada di hadapanku tak mampu sedikitpun membuat hatiku sejuk.
Tapi….
“Hey! Apakah kau nanti juga akan bermain Re:Life?!”
“Tentu saja! Game itu baru saja rilis tanggal 13 Juli kemarin kan? Jika kita berjuang dari sekarang kita mungkin bisa mencapai posisi teratas!”
“Hahaha…. Boleh juga!”
Mendengar canda tawa mereka sambil membicarakan suatu game hanya menyayat hatiku. Mengingatkanku akan kenangan yang sudah lama kupendam.
‘Nikmatilah hidup kalian, dasar bocah-bocah sialan….’ Pikirku dalam hati.
Tapi kenyataan berkata lain.
“Kakakku bahkan menghasilkan lebih dari 1 juta tiap harinya!”
‘Hah? 1 juta? Apa yang dia maksud 1 juta koin di dalam game?’ Pikirku heran saat menguping pembicaraan mereka.
Tapi sayangnya mereka telah berjalan cukup jauh dan aku tidak bisa mengupingnya. Dihantui oleh rasa penasaran, akupun pergi mencari informasi mengenai game Re:Life itu.
[Re:Life]
[Nikmati dunia virtual baru sebagai kehidupan kedua Anda!]
‘Basi banget! Sudah jelas kalau ini merupakan penipuan!’ Pikirku dalam hati. Namun mataku tak pernah berhenti membaca.
[… Tukarkan uang di dalam game untuk uang asli! …]
‘Sebuah perusahaan game yang melegalkan Real Money Trading? Hah…. Mereka akan bangkrut dalam waktu yang singkat.’
Akupun mengurungkan niatku untuk mencoba game itu karena sangat mahal dan penuh dengan aroma penipuan. Tapi jumlah pemain di seluruh dunia telah mencapai lebih dari 500 juta pemain. Jumlah yang sangat mengerikan bagi sebuah game.
‘Mungkin…. Sekali saja….’
Akupun menguras sebagian besar uangku untuk mencoba game itu. Untuk menyewa game sialan ini aku harus membayar sekitar 30 ribu Rupiah per jam. Benar-benar harga yang mahal. Meski begitu aku mencoba untuk menyewa selama 2 jam.
‘Bermain game di dalam kapsul? Apa maksudnya ini?’ Pikirku setelah melihat perangkat yang aneh untuk digunakan.
Setelah memasukinya, kesadaranku berpindah.
Seakan….
Pergi ke dunia lain.
[Selamat datang di dunia Re:Life!]
[Silakan atur karakter Anda!]
[Peringatan : Jenis kelamin dan karakteristik fisik tidak dapat dirubah!]
[Sistem akan melakukan scan untuk tubuh karakter di dunia virtual!]
[Anda dapat mengatur : warna rambut dan warna mata]
Dengan segera aku mengatur semuanya. Aku memilih untuk memiliki merah muda pada rambut dan mataku.
[Silakan atur Growth Point Anda!]
[Peringatan! Growth Point tidak dapat diubah lagi setelah ditentukan!]
[Harap atur dengan bijak!]
‘Sialan! Baru pengaturan karakter saja membutuhkan waktu selama ini! Tapi… bukankah dunia ini benar-benar seperti dunia nyata? Aku bahkan belum merasakan bedanya. Huh, lumayan lah untuk sebuah game mahal.’
Setelah selesai, aku mengikuti seluruh tutorial yang ada dan pergi ke desa pertamaku di Kerajaan Farna. Desa Hige.
...***...
Beberapa bulan telah berlalu, dan jujur saja aku ketagihan untuk memainkan game ini.
Bukan karena menyenangkan. Tapi karena menghasilkan banyak sekali uang. Kegiatanku? Aku menjadi seorang Thief di dunia ini. Berbekal kemampuan Agilityku yang sangat tinggi, aku mampu bergerak cepat sambil menggunakan skill Pickpocket untuk mencuri uang pemain lain.
Hasilnya? Aku mempu menarik hingga 3 koin emas setiap hari di dunia ini, atau 100.000 Rupiah per jam di dunia nyata. Sungguh hasil yang sangat luarbiasa jika dibandingkan dengan pekerjaanku dulu.
Tapi kegiatanku ini juga menimbulkan efek negatif.
Yang pertama aku menerima penalti karena melanggar hukum wilayah setempat dengan menjadi pencuri. Akibatnya di atas kepalaku muncul nama ‘Elin’ dengan warna kuning yang hanya bisa kusembunyikan jika mengenakan jubah yang menutupi kepala.
Jika aku tidak menutupinya, maka para penjaga desa dan kota akan mengejarku dan menghukumku. Aku telah beberapa kali menerima hukuman tapi itu tak menghentikanku menjadi seorang pencuri.
Hingga pada akhirnya….
“Jadi kau yang bernama Elin?” Tanya seorang Pria berbadan cukup besar kepadaku di gang sempit ini.
“Jika iya?”
“Bergabunglah dengan kami! Kemampuanmu untuk mencuri uang dengan lincah itu akan sangat berguna bagi kelompok penjahat seperti kami!” Balasnya.
Mereka semua merupakan Player yang bermain sebagai penjahat di Re:Life. Tujuan mereka sama denganku, yaitu mencari uang sebanyak mungkin. Setelah diyakinkan beberapa kali, aku akhirnya bergabung.
Kini keseharianku menjadi semakin indah.
Kelompok pencuri yang aku ikuti kini telah menjadi sebuah Guild dengan nama ‘Pillager’ dan cukup terkenal di wilayah ini. Aku juga berhasil memperoleh skill [Greedy Eyes] yang memungkinkanku untuk melihat informasi level dan uang yang dimiliki oleh target. Dengan kemampuan ini, Guild Pillager menjadi semakin kuat dan pintar dalam memilih target.
Permainan kami setiap hari cukup seru. Pertama kami akan memilih target yang kaya, kemudian membuntutinya. Setelah situasi cukup mendukung, kami akan menyerangnya dan merampas semua kepemilikannya. Penghasilan setiap hari bisa mencapai ratusan koin emas.
Anggota Guild semakin banyak dan penghasilan pun semakin lancar.
Hingga pada suatu hari….
“Apa maksudmu, Raf?” Teriakku pada seorang Pria yang merupakan pemimpin Guild itu.
“Bukankah sudah sangat jelas, Elin?! Kami ingin kau menyerahkan seluruh uangmu! Aku tahu kau menyimpan setidaknya 10 ribu koin emas disana!” Balasnya.
“A-apa?! Aku menyimpannya untuk membeli skill dan senjata baru! Kau tidak bisa….”
‘Jleb!’
[Anda telah menerima 1.294 damage!]
[Anda terkena efek Stun selama 3 detik!]
“Raf! Henti….”
Belum sempat menyelesaikan perkataanku, semua orang yang ada diruangan ini meneriakkan hal yang sama.
“Steal!”
Sebuah skill jenis mencuri yang lebih tinggi dari Pickpocket.
Jika target dalam keadaan tidak berdaya, maka akan meningkatkan jumlah uang dan barang yang berhasil di curi.
Hingga pada akhirnya, semua uang dan item yang kumiliki habis diambil mereka semua. Setelah selesai mencuri semuanya dariku, mereka pergi meninggalkanku.
[Anda telah menerima 100 damage dari efek racun!]
[HP Anda telah mencapai angka 0]
[Anda telah mati!]
[Penalti Player Kill (PK) Akan diterapkan!]
[Anda telah membunuh 39 Player!]
[Kalkulasi Hukuman ….]
[Hukuman : ….]
[ …. ]
[Bersiap untuk Log Out secara paksa!]
“Sialan! Sialan! Sialan!!!” Teriakku setelah dikeluarkan secara paksa oleh sistem. Orang disekitar yang melihatku nampak mulai menjauhiku. Tapi aku tak peduli.
...***...
Hampir 2 tahun telah berlalu semenjak aku dikhianati oleh Guild Pillager. Tapi kini aku telah berlalu-lalang ke berbagai tempat di dunia virtual ini.
Setelah terus menerus menggunakan Greedy Eye dan memperoleh skill Keen Eye, aku dapat menggabungkan keduanya dan memperoleh sebuah Unique Skill : Observer. Dengan mata baruku di dunia virtual ini, aku mampu melihat kemampuan dan potensi setiap orang.
Aku juga telah mencoba untuk memanfaatkan skill ini untuk bekerjasama dengan orang lain yang kunilai memiliki potensi tinggi. Tapi….
“Sudah kubilang! Dengarkan aku! Kau memiliki Epic Skill : Artisan yang mampu….” Jelasku pada seorang Pria di hadapanku.
“Maafkan aku, Elin. Tapi kau tahu kan aku masih SMA! Sekarang aku harus segera keluar untuk mengerjakan PR dan bersiap untuk ujian! Maaf karena aku akan Offline selama beberapa minggu.” Balas Pria itu sambil menekan tombol untuk Log Out.
‘Sialan! Mereka semua tidak ada yang berguna! Sudah kukatan bahwa… Aarrrggh!!!’ Teriakku dalam hati.
Kini aku tidak menyimpan terlalu banyak uang. Setiap kali aku memperoleh hasil, aku akan menariknya dan membayarkannya ke bank sialan itu. Meskipun tidak menggores jumlah hutangnya sedikitpun, setidaknya aku mampu menguranginya sedikit.
Waktu terus berlalu….
Banyak orang yang telah kubantu dengan memanfaatkan skill Observer milikku. Tapi mereka semua sama.
“Maaf tapi aku sibuk karena….”
Aku hanya bisa menerimanya.... Di lain waktu....
“Hah? Kenapa aku harus membagi keuntungannya denganmu?! Bukankah aku....”
Aku sudah mulai terbiasa dengan semua ini....
Bahkan ada yang langsung pergi meninggalkanku setelah menjadi kaya. Tanpa mengucapkan sepatah kata....
Aku sudah hafal mereka semua. Dan kini, aku sudah mulai menyerah. Aku menghabiskan sisa uangku untuk menikmati dunia ini tanpa berpikir banyak. Karena apapun yang kulakukan, mereka semua pasti akan meninggalkanku.
Setiap hari aku hanya berdiam diri di dalam Tavern dan menikmati makanan serta minuman yang kupesan.
Tanpa usaha…. Tanpa perubahan….
Batas waktuku untuk melunasi hutang itu juga sudah sangat dekat.
“Tinggal sekitar 9 bulan lagi ya waktuku? Haah…. Tapi siapa peduli. Kini jumlahnya sudah menjadi tidak masuk akal. 11 miliyar dan 873 juta Rupiah…. Bagaimana caraku untuk mencapai angka itu? Haruskah aku menjual organ tubuhku?” Gumamku pada diriku sendiri di dalam Tavern itu.
“Hei! Apakah kalian sudah dengar?! Ada seorang penjinak monster di kaki pegunungan Alpa!”
“Hah? Apa-apaan itu?!”
“Nampaknya dia merupakan seorang pemain dengan ras Iblis yang memiliki level mencapai 120 lebih!”
“Jangan katakan omong kosong padaku, Arlond!”
“Aku serius! Kemarin aku juga telah membeli 5 ekor goblin darinya! Beberapa petualang lain juga ikut membelinya denganku! Tapi sayangnya mereka semua mati saat melawan Kobold di luar area tambang.” Ucap seorang pria sambil meminum susu sapi kesukaannya.
“Perkataan Arlond benar apa adanya! Kami beberapa hari yang lalu pergi kesana dan menemui iblis itu. Barang dagangannya sangat bagus dan murah. Bahkan bisa naik level. Jika kau penasaran, kau bisa melihat punyaku di luar desa ini.”
“Apakah kau serius?!”
Seakan tak ingin aku menyerah, takdir kembali memberiku sebuah harapan. Jujur saja aku telah lelah mencoba meraih harapan. Itu semua karena pada akhirnya mereka akan pergi meninggalkanku. Tapi….
Aku yang mendengarkan percakapan mereka mulai tertarik. Sebuah skill untuk menjinakkan monster? Bukankah itu terlalu kuat?! Membayangkan potensinya saja seakan tidak terbatas.
Akupun mencoba untuk mengunjungi lokasi yang mereka sebutkan.
Kaki Pegunungan Alpa….
Sebuah tambang tua yang diterangi oleh obor.
Sesampainya di sana, aku menemukan pintu yang mereka maksud.
‘Dok dok dok!’
Tak ada jawaban sama sekali....
‘Dok! Dok!! Dok!!!’
Aku pun mengetuk pintu itu lebih keras.
‘Apakah dia benar-benar ada disini? Jika iya, sepertinya….’
Tiba-tiba pintu itu terbuka. Dibalik pintu itu nampak puluhan… mungkin ratusan goblin yang berbaris dengan rapi. Dan di ujung ruangan ini nampak seorang Pria yang sedang duduk ditemani oleh 2 ekor goblin yang cukup besar.
‘Di-dia benar-benar ada?! Dan juga…. Bukankah dia cukup tampan?!’ Pikirku terkejut akan tetapi aku berusaha menjaga diriku tetap tenang. Tanpa kusadari, wajahku sedikit memerah.
Tapi karena Pria itu hanya terdiam, akupun mencoba untuk membuka pembicaraan.
“Aku mendengar hal yang menarik tentangmu dari para petualang, Tamer….”
...___________________________________...
...[Sebelum lanjut membaca]...
...[Ada baiknya untuk menekan tombol Like]...
...[Dan juga meninggalkan komentar dalam bentuk apapun]...
...[Tak ada ruginya bagi kalian]...
...[Tapi percayalah, hal sederhana itu yang menyemangatiku untuk terus menulis]...