
Beberapa bulan yang lalu di dunia Re:Life.
“Apakah kau yakin dengan perkataanmu?” Tanya seorang pria yang duduk di sebuah kursi besi. Meskipun wajahnya terlihat tua dan keriput tapi tubuhnya terlihat cukup kuat.
“Ya, Uskup Agung. Raja Iblis itu muncul pada saat kami berperang melawan pasukan monster. Pada awalnya saya merasa bahwa itu hanyalah kebetulan tapi….” Jawab seorang pria dengan zirah besi perak dan memiliki corak emas. Ia tak lain dan tak bukan adalah Jendral Burner.
“Cukup. Kami paham. Tapi tak kusangka bahwa kekuatan Summoner akan bangkit kembali setelah beberapa ratus tahun disegel….” Jawab Pria tua yang merupakan Uskup Agung itu.
“Apa yang harus kita lakukan Uskup Agung?” Tanya pria yang duduk di sebelahnya.
“Leo!” Teriak pria tua itu.
“Saya disini.” Jawabnya singkat.
Penampilannya cukup sederhana. Zirah titanium berwarna putih melindungi seluruh tubuhnya. Diatas semuanya, Ia mengenakan jubah putih yang menutupi seluruh tubuhnya termasuk kepalanya. Bahkan wajahnya mengenakan sebuah topeng perak tanpa alur sama sekali.
“Carilah informasi mengenai Summoner itu. Jika kau bisa menemukannya, segeralah tangkap dia dan bawa kembali ke Katredal Suci. Kita harus segera menyegel kekuatannya sebelum dunia hancur.” Jelas Uskup Agung itu.
“Siap, laksanakan.” Jawab Leo singkat sambil pergi meninggalkan ruangan itu.
“Apakah Anda yakin hanya mengirim satu orang Inquisitor saja, Uskup Agung?” Tanya salah seorang yang duduk disamping kirinya.
“Seluruh Inquisitor masih sibuk menangani masalah iblis yang muncul di berbagai belahan dunia. Terutama di wilayah Kekaisaran Avertia. Kita tidak bisa menuntut untuk mengirimkan lebih banyak Inquisitor. Lagipula, Leo merupakan salah satu yang terkuat diantara mereka.” Jawab Uskup Agung itu sambil menatap langit-langit ruangan itu.
‘Aku mengandalkanmu, Leo.’ Ucapnya dalam hati.
...***...
“He-hentikan! Aku mohon padamu! Aku sungguh tidak tahu apa-apa soal itu!” Teriak seorang pria yang bersama dengan dua gadis.
“Kau tidak bisa berbohong kepadaku. Aku sudah memperoleh informasi bahwa kau adalah orang pertama yang membeli monster dari Summoner.” Jawab Pria yang tak lain adalah Leo.
Tubuhnya yang tertutup jubah dan wajahnya yang ditutupi oleh topeng perak hanya membuat penambilannya semakin mengerikan. Jubah putih yang memiliki alur emas di beberapa sisinya serta lambang pedang dan cahaya di punggungnya merupakan ciri utama dari seorang Inquisitor.
“Su-sumonner? A-aku tidak tahu apa maksudmu! P-pria itu ha-hanyalah seorang pe-penjinak monster! Da-dan aku ha-hanya membelinya se-sekali saja!” Balas Pria itu sambil ketakutan. Dua gadis yang ada di belakangnya hanya duduk lemas karena rasa takut.
“D-dan juga! A-aku me-mendengar bahwa Tamer i-itu sudah di-ditangkap oleh ka-kalian!” Lanjut pria itu.
“Baiklah, aku mengerti. Terimakasih atas kerjasamanya.” Balas Leo singkat lalu pergi meninggalkan mereka.
‘Si-sialan! Aku sudah tahu akan sangat berbahaya kalau berurusan dengan pria itu! Untung saja Inquisitor itu paham.’ Pikir Pria itu dalam hati.
“Tapi Dewi Celestine tidak bisa memaafkan kalian karena telah bersekutu dengan monster. Sebagai hukumannya aku akan membunuh kalian semua disini.” Ucap Leo yang tiba-tiba berhenti di tengah jalan.
Leo dengan cepat menarik pedang yang ada di pinggangnya. Sebuah pedang dengan bilah berwarna perak yang bercahaya. Pegangannya terbuat dari emas dan ditengahnya terdapat 3 batu sihir dengan warna biru.
‘Sraaatt! Sraaatt!! Sraaaaattt!!!’
Leo mengayunkan pedangnya 3 kali. Setiap ayunan memenggal kepala mereka satu persatu. Pria yang merasa dirinya telah selamat dan 2 orang gadis yang hanya bisa duduk dengan ketakutan. Setidaknya, untunglah bagi mereka karena mereka bertiga adalah Player. Jika mereka adalah NPC, maka hidup mereka akan berakhir saat itu juga.
“Semoga Dewi Celestine mengampuni dosa kalian….” Ucap Leo setelah mengayunkan pedangnya sekali lagi untuk membersihkan kotoran di pedangnya. Dengan cepat Ia menyarungkan pedangnya kembali dan melanjutkan investigasinya mengenai keberadaan Summoner.
...***...
“Oi! Apa kalian sudah dengar! Salah seorang Inquisitor telah bergerak di wilayah Kerajaan Farna! Aku mendengar bahwa Inquisitor itu menebas kepala 3 orang Player di dekat Desa Hige!” Ucap salah seorang player di Tavern Kota Torka.
Kota ini berada diantara Desa Hige dengan Kaki Pegunungan Alpa. Jaraknya terpaut sekitar 6 jam jalan kaki. Cukup dekat tapi juga cukup jauh.
“Apa kau serius? Sebenarnya seberapa kuat para Inquisitor itu?” Tanya Pria yang sedang makan di sebelahnya.
“Aku serius. Sebenarnya aku adalah teman mereka di dunia nyata. Ia mengatakan padaku bahwa Inquisitor itu mencari keberadaan Summoner!” Jelasnya.
“Hah? Summoner? Apa itu?”
“Apa katamu?! Sialan! Aku membeli beberapa goblin saat itu kepada Tamer Iblis itu!” Teriak Pria yang sebelumnya hanya duduk dan menikmati minumannya.
“Bodoh! Apa yang kau katakan! Sebaiknya kau tutup rapat-rapat rahasia itu.!”
Tapi semuanya telah terlambat.
Di dalam Tavern itu terdapat seorang Pria dengan paras yang cukup tampan. Ia memiliki rambut berwarna pirang, tubuh yang cukup kekar dan juga mengenakan zirah berwarna putih.
“Cerita itu…. Bisakah kalian menceritakannya lebih lanjut?” Ucapnya.
Di dada Zirah Pria itu terdapat lambang pedang yang dikelilingi oleh cahaya dengan warna emas. Sebuah simbol yang diketahui oleh banyak orang. Simbol rasa takut.
“I-Inquisitor! A-apa yang kau lakukan disini!” Teriak beberapa orang yang ada di dalam Tavern itu.
Leo hanya diam sambil segera mengenakan topeng peraknya untuk menutupi wajahnya. Tangan kanannya telah bersiap untuk mengambil pedang yang disarungkan dengan rapi di pinggangnya.
“Katakan kepadaku apapun yang kalian ketahui mengenai Tamer atau Summoner ini. Jika tidak, maka aku akan mengantarkan kalian secara langsung kepada Dewi Celestine untuk diadili.” Ucap Leo dengan tegas. Meskipun wajahnya tertutupi oleh topeng perak itu, semua yakin bahwa ekspresi yang diberikan olehnya pasti sangat mengerikan.
“A-aku tidak tahu apa….”
‘Sreeeet!’
Belum sempat menyelesaikan perkataannya, Leo dengan segera menebas kepala Pria itu. Bukan tanpa alasan, tapi Pria itu sebelumnya bercerita panjang lebar mengenai dirinya yang membeli monster.
“Musuh umat manusia harus segera dipertemukan dengan Dewi Celestine. Semoga kalian semua menerima hukuman yang pantas.” Ucap Leo sambil mengayunkan pedangnya untuk membersihkan darah yang menempel di bilah pedang itu.
“Hiiii!!!”
“Tidaaaak!!!”
“Tolong ampuni aku!!!”
“Aku akan melakukan apapun! Tapi tolong jangan bunuh aku!!!”
Sebagian besar dari mereka merupakan Player. Tapi beberapa diantaranya juga merupakan NPC yang hanya memiliki satu nyawa. Termasuk pemilik Tavern ini dan pelayannya.
“Cepat katakan informasi apapun mengenai Summoner!” Ucap Leo sambil meletakkan pedangnya tepat didepan leher seorang Pria yang berkata bahwa dia pernah membeli monster dari Tamer Iblis.
“D-dia ada di Deretan Pegunungan Alpa! A-aku bisa menunjukkan arahnya padamu!” Teriak Pria itu dengan penuh rasa takut.
“Bagus.”
Di ujung Tavern, ada seorang gadis dengan tubuh kecil yang hanya mampu minum dengan penuh rasa takut. Wajahnya kini memucat, menyebabkan kontras dengan warna rambut merah muda yang gadis itu miliki. Ia nampak menelan ludahnya melihat kelakuan dari Inquisitor seakan tidak percaya akan apa yang dia lihat.
‘Sialan! Kenapa mereka sudah sampai disini?! Aku harus segera mengabari Eric!’
Ya, gadis itu tak lain dan tak bukan adalah Elin yang sedang bersantai di Tavern setelah menjual item.
...___________________________________...
...[Sebelum lanjut membaca]...
...[Ada baiknya untuk menekan tombol Like]...
...[Dan juga meninggalkan komentar dalam bentuk apapun]...
...[Tak ada ruginya bagi kalian]...
...[Tapi percayalah, hal sederhana itu yang menyemangatiku untuk terus menulis]...