
"Fuuuuh...."
Eric menghela nafasnya setelah semalam suntuk menghabisi monster.
Cahaya putih yang sangat indah menghiasi hutan yang mulai disinari oleh sang mentari. Levelnya pun melejit hingga mencapai level 68 hanya dalam satu malam dunia virtual itu.
Dari 5 senjata tingkat Unique yang Ia peroleh dari dukungan Lisa, 4 telah hancur dan tak lagi bisa digunakan. Menyisakan senjata terakhir yang bahkan bisa hancur kapan saja itu.
"Menggunakan tombak sungguh tak nyaman. Kenapa Angie menyukai senjata seperti ini?"
Setelah mempertanyakan beberapa hal itu pada dirinya sendiri, pendekar berzirah serba hitam itu mulai melangkah ke Barat. Mencari suatu pemukiman untuk atau harta yang bisa digunakan untuk membantunya bertarung.
Sebelum pergi, Ia sempat menekan salah satu tombol menu di jendela sistemnya untuk melihat statusnya saat ini.
[Eric]
[Ras : Manusia]
[Level : 68]
Health Point : 9.525
Mana Point : 610
Stamina Point : 2.442
Attack Power : 413,5 - 624
Magic Power : 76,25
Defense : 376,25
[Status]
STR : 296 (+ 168)
AGI : 606 (+ 296)
INT : 61(+ 27)
VIT : 227 (+ 151)
STA : 185 (+ 54)
DEX : 1
[Stats Point Tersedia : 0]
[Talent]
Archery : 100 (Maxed)
Swordmanship : 11
Spearmanship : 2
Assassination : 2
Spell Mastery : 0
Guarding : 0
[Talent Point Tersedia : 20
[Pemberitahuan Sistem!]
Talent pada Archery Anda telah mencapai level maksimum! Tingkatkan level Anda ke 80 untuk membuka Talent tingkat lanjutan! (Biaya membuka Talent tingkat lanjutan Archery yaitu 50 talent Point!)
Bersamaan dengan itulah, sosok Eric menghilang di tengah gelapnya hutan ini.
...***...
"Terimakasih sudah mau menemani wanita tua ini, Nak. Mari aku antarkan kau menemui si tua pandai besi itu." Ucap seorang wanita tua itu kepada Angie.
Tanpa mengurangi sedikitpun rasa hormatnya, Angie segera mengikuti langkah kaki wanita itu.
Tapi tak seperti bayangannya, wanita itu justru berjalan ke arah pegunungan. Beberapa jam terus berlalu dan wanita itu sama sekali tak menghentikan langkah kakinya.
Setelah rasa penasarannya tak lagi terbendung, Angie memberanikan dirinya untuk bertanya kepada wanita tua itu.
"Maaf, tapi bukankah rumah dari pandai besi bernama Jefra ini berada di dalam pemukiman? Kenapa harus berjalan hingga sejauh ini?"
Wanita tua itu nampak tersenyum tipis ketika mendengar pertanyaan Angie lalu membalasnya dengan nada yang sangat ramah.
"Yang ada di sana hanyalah murid dari si tua Jefra. Meski buatannya cukup bagus, tapi Ia takkan bisa menandingi gurunya."
"Lalu kenapa kau mempertemukan ku dengan Jefra yang sebenarnya?" Tanya Angie penasaran.
"Si tua itu sangatlah pemarah. Ia takkan mau menemui orang dari luar tanpa seijin penduduk desa. Anggap saja sebagai rasa terimakasihku padamu, aku akan memintanya membuatkan senjata atau zirah atau apapun yang kau inginkan. Aku menjamin kualitas kerjaannya!" Balas wanita tua itu sambil tersenyum lebar.
Pada saat itulah Angie tersadar.
Beberapa puluh menit berlalu hingga akhirnya mereka berdua sampai di dalam sebuah gua yang cukup gelap dan diterangi oleh obor itu.
'Ttraaang! Ttraaang!'
Suara pukulan palu terdengar begitu nyaring hingga memekikkan telinga Angie dan juga wanita tua itu.
"Woooii Jefra! Aku ingin meminta sedikit pertolongan padamu!" Teriak wanita tua itu dengan sangat keras.
Suara pukulan palu itu pun terhenti setelah mendengar teriakan itu.
Pada saat itu juga, pintu kayu yang cukup tua itu mulai terbuka. Di baliknya terlihat sosok seorang pria berbadan besar dan berotot kekar. Rambut dan jenggotnya yang cukup panjang dan berwarna putih itu justru membuat penampilannya menjadi sangat garang.
"Hmm? Kupikir siapa ternyata si tua Miria ya? Ada apa?" Ucap Jefra dengan santai.
Meski mereka berdua berbicara dengan sangat santai, wajah Angie justru sangat tegang dan merasa cukup ketakutan oleh aura yang dipancarkan oleh Jefra.
Semua itu semakin ditegaskan oleh notifikasi sistem yang muncul di hadapannya.
...[Anda telah bertemu dengan salah seorang Legenda di dunia ini!]...
...[Jefra, sang Penempa Legendaris!]...
...[Perbedaan level Anda dengan target sangat besar!]...
...[Tekanan kekuatan yang begitu kuat telah membuat Anda tak bisa melakukan apapun selama 10 detik!]...
Obrolan antara Nyonya Miria dan juga Jefra terus berlanjut seakan melupakan keberadaan Angie. Setelah beberapa saat, akhirnya Angie memperoleh kembali kesadarannya.
"Oi, jadi apa yang kau inginkan? Aku akan membuatkanmu sebuah senjata yang setidaknya bisa melindungimu dari beberapa monster." Ucap sang Penempa, Jefra.
"Aaah, maaf. Kalau soal itu...."
Setelah mendengar penjelasan Angie, si tua Jefra itu nampak tersenyum begitu lebar.
"Menarik! Aku belum pernah mendengar permintaan seperti itu sebelumnya, tapi aku sangat yakin bisa menyelesaikannya!"
Pada saat itu juga, semua penonton yang tak mendukung Angie sedikitpun merasa kesal.
...***...
"Hmm? Bahkan di pulau ini juga ada kota? Ah, tapi tempat ini terlalu kecil jika disebut sebagai kota." Ucap Eric pada dirinya sendiri sambil memperhatikan dinding yang cukup tinggi itu.
Tombaknya yang hanya memiliki sisa durabilitas sebesar 3% itu Ia genggam dengan erat. Tak sedikitpun Eric mengurangi kewaspadaannya meski kini telah berlevel 71 dan menduduki peringkat 6 dari sisa 3.195 pemain.
Pada saat Eric hendak memasuki gerbang itu, Ia dihadang oleh beberapa penjaga.
"Tunggu! Kami akan memeriksa bawaanmu!"
Kedua penjaga itu pun memeriksa Eric selama beberapa menit hingga akhirnya....
"Kami akan menyita tombak ini."
Eric yang mendengar hal itu seakan terkena sambaran petir yang begitu kuat.
"Hah?! Menyerahkan senjataku?! Kenapa aku harus melakukan hal itu?! Bagaimana jika nanti aku diserang monster, bandit dan penjahat lainnya?!" Teriak Eric kebingungan.
"Itulah kenapa kami meminta senjata para pendatang. Semua itu demi menjaga kedamaian kota ini." Jawab salah seorang penjaga itu.
Penjaga yang lain juga ikut berbicara.
"Jika kau tidak mau kau bisa meninggalkan kota ini kapan saja."
Setelah memikirkannya selama beberapa saat, akhirnya Eric setuju untuk menyerahkan tombaknya yang sudah rusak parah itu.
Sang penjaga pun segera menanggapinya.
"Pilihan yang bijak. Kau bisa mengambilnya kapan saja jika kau akan meninggalkan kota ini."
Tapi sebelum menanggapi hal itu, Eric segera menanyakan keperluannya di sini.
"Apakah aku bisa menemukan pandai besi yang cukup hebat di kota ini?"
"Beberapa pandai besi hebat bekerja dengan keras di kota ini. Tapi semua senjata akan dikirim ke pos penjaga dan kami tahan hingga pemesan memutuskan untuk meninggalkan kota ini." Jelas sang penjaga itu.
Mendengar hal itu, Eric merasa lega.
Penjaga yang lain juga ikut menimbrung pembicaraan karena penasaran.
"Senjata apa yang kau butuhkan? Melihat penampilanmu, sepertinya seorang pendekar pedang?"
"Tidak tidak, tubuh kuatnya itu pasti lebih cocok untuk mengayunkan kapak besar untuk membunuh ratusan monster sekaligus."
Canda dan tawa serta spekulasi terus terjadi selama Eric masih berdiri dengan santai di samping gerbang itu. Meski begitu, beberapa penjaga yang lain masih terlihat fokus untuk mengecek pendatang yang lain.
Tapi perkataan dari Eric justru mengagetkan semua orang.
"Semua jenis senjata, terutama busur dan panah. Aku membutuhkan busur yang kuat serta anak panah sebanyak mungkin."