The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 147 - Lucien Vs Trias


...Ruang Tahta...


...Malam hari...


Sesaat sebelum Trias kembali mengayunkan palu besar miliknya, terlihat wajah Lucien yang tersenyum lebar.


‘Iblis itu…. Apa yang dia pikirkan? Apakah dia tidak sadar jika…. Tunggu!!!’ Pikir Trias dalam hati.


Seketika, sebuah cahaya yang sangat terang muncul dari tangan kanan Lucien. Sebuah Skill yang sangat mematikan bagi siapapun.


“Extermination Ray!” Ucap Lucien.


Cahaya itu hampir saja mengenai tubuh Trias jika Ia tak menyadari kejanggalan itu. Tapi itu bukanlah masalah bagi Lucien yang saat ini masih terbang di udara.


Dari tangan kirinya, kembali muncul sebuah sihir [Fire Blast] yang Ia arahkan ke langit-langit.


‘Duuuuaaaarrr!!!”’


Ledakan yang cukup besar itu meruntuhkan semua langit-langit yang ada di ruangan ini. Kegelapan malam yang dipenuhi dengan cahaya bintang dan bulan mulai memasuki ruang tahta.


‘Apakah dia berencana untuk kabur?! Dia seharusnya sadar bahwa membunuhku dengan meruntuhkan langit-langit tidak akan berguna.’ Pikir Trias dalam hati.


Tapi tanpa Ia sadari, tujuan utama dari Lucien adalah untuk memiliki perlindungan bintang di pihaknya. Sebuah efek dari Ancient Book yang Ia peroleh dari Eric.


[Astronomer]


Pengguna buku kuno ini akan memperoleh skill yang berkaitan dengan bintang dan langit. Sedangkan untuk skill yang diperoleh :


[Stargazer]


[Passive Skill]


Efek : Meningkatkan seluruh status pemilik skill sebesar 10% ketika berada di bawah bintang-bintang. Efek akan menjadi 20% ketika langit sangat cerah dan bintang terlihat dengan jelas.


[Blessing of the Night Sky]


[Passive Skill]


Efek : Meningkatkan kecepatan regenerasi Health, Mana dan Stamina sebesar 50% ketika malam hari.


[Constellation]


[Passive Skill]


Efek : Meningkatkan status pemilik skill tergantung dari rasi bintang yang sedang terbentuk di malam hari. Rasi bintang akan berubah setiap bulannya. Batasan : Efek hanya aktif jika pemilik skill dapat melihat rasi bintang yang terbentuk.


Efek saat ini : Rasi Bintang Capricorn. Meningkatkan kekuatan sihir elemen tanah sebesar 125% serta status Defense sebesar 85%. Perlindungan dari Kambing Amaltheus telah memberikan pemilik skill peningkatan kecepatan gerakan sebesar 10% serta peningkatan Attack Power dan Magic Power sebesar 12%.


[Constellation Adjustment]


[Active Skill]


[Konsumsi Mana : 500.000]


[Cooldown : 30 hari]


Efek : Melakukan pengaturan rasi bintang yang nampak di langit. Pengguna skill dapat merubah rasi bintang yang terlihat sesuai keinginannya. Rasi bintang akan bertahan selama 1 malam dan akan kembali normal pada malam berikutnya.


Ancient Book : Astronomer memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap langit malam serta rasi bintang yang terbentuk. Terlebih lagi, pemilik Skill harus melihat bintang secara langsung untuk memperoleh efeknya.


Meski begitu, efek Buff yang diberikan sangat besar. Bagi Lucien yang sejak awal memiliki Status yang sangat tinggi? Tentu saja hasilnya akan sangat mengerikan.


“Fufufu…. Kau salah karena telah melemparku ke udara, Raja Pandai Besi Trias.” Ucap Lucien sambil tertawa. Tubuhnya yang terluka nampak mulai sembuh dari skill [Regeneration] miliknya.


“Maafkan aku. Kupikir kau adalah seorang Iblis rendahan biasa. Tapi sepertinya, aku harus bersungguh-sungguh untuk melawan Iblis tingkat tinggi sepertimu.” Ucap Trias sambil bersiap untuk melompat.


‘Duuaarrr!!!’


Lompatannya menyebabkan seluruh tanah di sekitarnya hancur lebur. Dalam sekejap, Ia telah sampai di hadapan Lucien dan segera mengayunkan palunya. Tapi kini, palu itu telah dibalut dengan api yang membara.


Sesaat sebelum mengenai Lucien, Ia mengarahkan lengan kanannya untuk menahan hantaman itu. Tapi kini, tangan kanannya telah terbungkus oleh sihir tanah tingkat menengah [Stone Skin] yang akan meningkatkan Defense suatu bagian tubuh sebesar 200% dalam waktu singkat.


‘Brruuukk!!’


Lucien terlempar ke samping. Tapi kini, Ia tak menerima luka sama sekali karena pertahanannya sangatlah tinggi. Kombinasi dari efek pasif Astronomer miliknya serta rasi bintang yang terbentuk membuat sihir tanah sederhana seperti [Stone Skin] menjadi sangat kuat. Bahkan dapat dikatakan terlampau kuat.


“Tanpa goresan ya?” Ucap Trias yang kini berdiri di atas Istana yang telah hancur itu.


“Fufufu…. Sebelumnya aku mencoba untuk bertarung dengan adil tanpa menggunakan kemampuan ini. Tapi karena kau bukanlah manusia biasa, maka aku akan membunuhmu tanpa memberimu kesempatan untuk melawan.” Ucap Lucien sambil tertawa.


‘Aku takkan bisa menang jika Ia terbang setinggi itu di udara. Terlebih lagi kemampuan sihirnya yang bahkan tak membutuhkan rapalan mantra itu….’ Ucap Trias dalam hati.


“Nikmatilah malam yang indah ini untuk terakhir kalinya! Raja Pandai Besi, Trias!” Teriak Lucien dengan keras.


Di kedua telapak tangannya, nampak dua buah lingkaran sihir berwarna merah dan hijau. Sebuah sihir [Incineration] serta [Wind Storm] yang pada saat digunakan secara bersamaan akan meningkatkan kekuatan api dan kecepatannya secara signifikan.


Tak hanya itu, di samping sayap kelelawarnya itu nampak puluhan lingkaran sihir lainnya. Semuanya berwarna kuning dan merupakan sihir [Stone Volley].


Semuanya mengarah kepada Trias.


‘Menyerangku dari atas langit, mengetahui bahwa aku tak bisa terbang…. Tak kusangka bahwa sejak tadi Ia hanya menahan kekuatannya. Kurasa ini adalah akhir dari diriku.’ Pikir Trias dalam hati sambil menyiapkan perisai raksasanya. Ia menempatkan perisai itu tepat di hadapan tubuhnya.


‘Ttraaang!! Taaang! Tttraang!!’


Hujan batu yang membara itu menghancurkan apapun yang dikenainya. Semuanya mulai meleleh dan hancur lebur karena kekuatannya yang terlalu besar. Seluruh Istana yang megah ini mulai hancur termasuk taman yang ada di sisi Utara.


Beberapa menit telah berlalu....


Meski begitu, Perisai Trias masih nampak berdiri kokoh. Hal itu menunjukkan ketangguhan bahan perisai yang dikenakannya.


Segera setelah itu, Lucien menyadari bahwa Ia takkan bisa menembus pertahanan milik Trias. Oleh karena itu, Ia segera menunjukkan kekejamannya dengan menyandera seluruh penduduk kota.


Lucien sedikit menggeser arah serangannya dan sedikit demi sedikit mulai mengarah ke tempat tinggal penduduk.


Seketika, Trias mulai berbicara.


“Iblis. Bisakah aku meminta sesuatu kepadamu?” Tanya Trias sambil bertahan dari hujan batu berapi itu.


“Fufufu…. Memohon ampunan? Sayang sekali ditolak!” Balas Lucien dengan segera.


“Jika aku menyerahkan nyawaku, apakah kau dan Tuanmu mengampuni seluruh penduduk yang ada? Apakah kau akan mengampuni seluruh Prajurit yang masih hidup?” Tanya Trias dengan suara yang lantang tanpa keraguan sedikitpun.


Tapi kini, perisai raksasa yang seakan tak bisa dihancurkan itu mulai memerah. Perisai itu telah menerima terlalu banyak serangan dan suhu yang tinggi dari batu berapi milik Lucien. Sedikit demi sedikit, perisai itu mulai retak dan meleleh.


“Perkataan yang menarik. Meski aku tak bisa menjawabnya tanpa menanyakannya kepada Tuanku secara langsung…. Tapi aku yakin bahwa Tuanku pasti akan menjawab ‘Tentu saja, aku akan mengampuni mereka semua’ dengan nada seperti itu.” Ucap Lucien sambil menirukan gaya bicara Tuannya, Eric.


Lucien mulai tersenyum lebar karena rencananya berhasil. Dengan begini, membunuh Raja Trias takkan terlalu sulit.


Mendengar perkataan Lucien, nampak senyuman yang tipis di wajah tua milik Trias.


“Syukurlah. Kalau begitu, dengan senang hati aku akan menyerahkan nyawaku. Kumohon sekali lagi, ampuni mereka.” Ucap Trias sambil melemparkan perisainya yang telah tak berbentuk lagi. Ia nampak berdiri dengan tenang sambil menggunakan palunya sebagai tumpuan.


"Kalau begitu, bersiaplah untuk mati." Balas Lucien singkat.


Sesaat setelah itu, hujan batu berapi milik Lucien mengenai tubuh Trias secara langsung.


Ratusan batu itu mulai menghancurkan zirah tebal yang dikenakan oleh Trias.


‘Ttraang…. Ttaang….’


Suara tubrukan antara batu dengan zirah, serta berbagai bagian zirah yang hancur yang terjatuh di bawah terdengar cukup nyaring.


Hingga pada akhirnya, batu berapi itu mengoyak tubuh kekar milik Trias secara perlahan.


1 menit….


2 menit….


Tak ada tanda kematian dari Trias. Ia masih berdiri tegak meskipun tubuhnya telah terluka parah. Darah bercucuran dari berbagai bagian tubuhnya. Hujan batu berapi itu juga tidak berhenti bahkan sedikitpun.


Seakan….


‘Apakah tubuh Pria itu jauh lebih kuat daripada zirahnya?’ Pikir Lucien dalam hati.


Hingga pada akhirnya. Setelah 5 menit lebih serangan sepihak yang diberikan oleh Lucien, nampak senyuman yang lebar dari wajah Raja Trias.


Bersamaan dengan itu, tubuhnya mulai terjatuh di tanah. Secara perlahan, tubuhnya mulai berubah menjadi cahaya putih yang sangat indah.


Tapi tak seperti biasanya, Lucien yang melihatnya tak tersenyum sama sekali.


“Aku akan memberikan rasa hormat yang sangat besar kepadamu, wahai Raja Pandai Besi Trias. Jika kau mau, aku yakin kau mampu untuk melawanku di udara dengan kekuatan lompatanmu yang luarbiasa itu. Tapi demi melindungi pendudukmu….” Ucap Lucien kepada dirinya sendiri.


Di bawah langit berbintang itu, nampak sosok Lucien yang terlihat membungkukkan badannya kepada orang selain Tuannya.


Setidaknya, itulah penghormatan yang dapat Ia berikan kepadanya.