The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 74 - Hal Tak Terduga


Elixir.


Merupakan suatu ramuan yang paling langka di dunia Re:Life. Bentuknya merupakan cairan yang bisa diminum. Karena nilai cairan ini sangat berharga, maka botolnya pun juga sangat berkualitas.


Efek dari Elixir? Dibedakan menjadi beberapa.


Sebagai contoh, Agility Elixir akan meningkatkan Growth Stats Agility orang yang meminumnya sebanyak 1 poin. Begitu juga untuk status yang lain.


Kualitas Elixir juga dibedakan menjadi beberapa. Untuk yang memberikan 1 poin, disebut sebagai Low Elixir. Medium Elixir akan memberikan 2 poin sedangkan High Elixir dapat memberikan 3 poin.


Dikarenakan Growth Point sangat sulit diperoleh dan merupakan status terpenting bagi semua orang baik Player maupun NPC, maka keberadaan Elixir ini sangatlah berharga.


Ramuan ini hanya bisa diperoleh dari penyelesaian misi tingkat tinggi atau berburu Boss yang sangat sulit dan langka. Elixir juga dapat dibuat oleh Player atau NPC yang memiliki kemampuan Alchemist tingkat tinggi. Tentu saja orang yang memiliki kemampuan untuk membuat Elixir sangatlah langka.


Harga tiap Elixir? Untuk Low Elixir setidaknya dimulai pada angka 80.000 hingga 100.000 koin emas. Itulah kenapa siapapun yang cukup beruntung untuk memperoleh Elixir akan menjadi kaya dalam sekejap jika menjualnya. Meskipun sebagian besar akan meminumnya untuk dirinya sendiri.


Tapi diatas semua itu, ada satu hal yang tidak diketahui oleh Player maupun NPC.


Forbidden Elixir.


Sebuah Elixir terlarang yang memiliki efek berbeda jauh dari Elixir yang ada. Efeknya berbeda-beda tergantung dari bahan yang digunakan dalam pembuatannya. Tapi sebagian besar efeknya berpengaruh buruk pada yang meminumnya.


Meski begitu, ada seseorang yang tidak memperdulikan semua hal sepele itu.


“Kukukuku… hihihihi…. Buahahahaa!!!”


Terdengar suara tawa yang sangat mengerikan di dalam gua yang gelap ini. Mata orang itu bergerak kesana kemari seperti orang gila. Kedua tangannya sibuk menjambak rambutnya sendiri yang seputih salju itu.


“Akhirnya!!! Aku berhasil!!! Hahahaha….” Teriak Evan seperti orang gila.


“Sebuah Elixir terlarang, yang keberadaannya hanya seperti mitos…. Kini berada di tanganku! Hahaha!!!” Lanjut Evan sambil memandangi sebuah cairan berwarna hitam keunguan di dalam botol yang ada di tangannya.


‘Klak klak klak!!!’


Terdengar suara zirah yang seakan mengenai suatu benda yang keras. Di balik lorong gua yang gelap itu, muncul sesosok Skeleton Knight. Di sebelahnya terdapat sosok Skeleton yang mengenakan jubah serba hitam dan bola sihir di tangan kanannya.


“Untuk apa kalian kemari? Apakah kalian sudah membinasakan kota itu?!” Tanya Evan dengan tatapan yang sangat mengerikan.


‘Klak klak klak klak!’


Kedua sosok kerangka itu hanya menjawab dengan menggertakkan giginya. Wajar saja karena mereka sudah tidak memiliki lidah dan pita suara untuk berbicara. Meski terdengar tak masuk akal, Evan mampu memahaminya.


“Apa? Kemunculan para Inquisitor?! Kenapa mereka ada disana?! Apa yang sedang dilakukan Evalina?!” Teriak Evan marah. Matanya memelototi kedua kerangka dihadapannya dengan tajam.


‘Klak klak!!’


“Baiklah, aku tak peduli lagi! Lagipula, kini aku bisa menggapainya! Dengan kekuatan ini!!! Hahaha….” Seketika wajah Evan yang marah berubah menjadi penuh tawa sambil memperhatikan botol kaca di hadapannya.


“Dengan menggunakan ini… maka aku bisa…. Hahaha!!!” Teriaknya sambil menatapi langit-langit gua.


...***...


Setelah beberapa jam perjalanan, akhirnya aku sampai di tempat semua itu bermula. Dungeon Origin. Rasanya sudah sangat lama sekali semenjak aku meninggalkan tempat ini. Akupun segera memasuki gua yang ada di Pegunungan Alpa ini.


Jalan masuknya sudah hancur karena ulah pasukan Inquisitor itu. Bahkan labirin yang kubuat untuk pertahanan sudah rata dengan tanah. Kota Origin yang berada di lantai 1 juga sudah rata dengan tanah.


Semua orang yang melihat tempat ini pasti akan segera angkat kaki. Tapi aku meneruskan langkahku hingga mendekati ujung lantai pertama ini. Dibalik reruntuhan bangunan yang ada, terdapat tangga cukup besar yang menghubungkan lantai 1 dengan lantai 2.


Karena puing-puing bangunan yang sangat banyak, lokasi tangga ini sama sekali tidak terlihat. Terlebih lagi lantai 1 ini memiliki luas area yang sangat besar.


“Tuan Eric!!!”


Sesaat setelah aku memasuki lantai 2 Dungeon Origin, terdengar suara yang membuatku nostalgia. Oliver.


“Ah, Oliver. Sudah lama aku tidak melihatmu.” Balasku sambil tersenyum. Seperti biasa, Oliver selalu bersikap kaku dan sangat sopan di hadapanku. Meskipun telah berkali-kali ku minta untuk santai, Oliver tetap seperti ini. Aku pun mulai tidak memikirkannya lagi.


“Tuanku! Aku sangat senang kau baik-baik saja! Aku akan segera mengaba….”


Sebelum menyelesaikan kalimatnya, Oliver segera melompat kebelakang sambil mengangkat pedang besar yang ada di punggungnya.


“Eh? Oliver? Ada apa?!” Tanyaku kebingungan.


“Tuanku… lingkaran sihir itu….” Ucap Oliver sambil melihat tempat kakiku berpijak.


“Eh?! Eeeeh!!! Apa lagi ini?!” Teriakku setelah menyadari sebuah lingkaran sihir berwarna merah menyala muncul di tanah tempatku berpijak.


Seketika cahaya merah menyala menyelimuti seluruh pandanganku. Karena sangat terang dan menyilaukan mata, akupun menggunakan kedua lenganku untuk menutupinya. Hingga tanpa kusadari, terdengar suara lain yang juga membuatku nostalgia.


“Aku telah menantikan kebangkitanmu. Penguasa Dungeon, Eric.” Ucap seorang gadis dengan rambut panjang berwarna pirang yang saat ini sedang duduk di hadapanku.


“Kau… kalau tidak salah kau bernama… Asmodeus?” Balasku pada gadis itu.


“Hoo… nampaknya kau masih mengingat nama agungku! Baguslah kalau begitu!”


“Uh… sebenarnya siapa kau? Kenapa aku bisa berada di sini?” Tanyaku kebingungan.


“Namaku adalah Asmodeus! Seorang Ratu Iblis!” Teriaknya sambil berdiri dari duduknya. Ia juga menyilangkan kedua lengannya di dadanya. Setelah diperhatikan dengan baik, telinga gadis itu sedikit lancip. Apakah ini yang disebut sebagai Elf? Setidaknya itulah yang pernah kudengar.


“Eh?! Ratu Iblis?!” Teriakku kaget mendengarnya. Tak ingin membuat masalah lagi dengan siapapun, aku segera bersikap penuh hormat kepadanya. Untung saja Oliver selalu memberikanku contoh cara untuk menghormati orang lain setiap hari.


“Maafkan diriku ini yang tidak menyadari keagungan Anda, wahai Ratu Iblis Asmodeus.” Ucapku sambil berlutut di hadapannya.


“Untuk seorang manusia, sikapmu ini sangat bagus! Aku menyukainya! Tapi sayang sekali diriku yang saat ini bukanlah seorang Ratu yang perlu kau hormati.” Balas Asmodeus sambil tersenyum manis.


“Eh? Apa maksudnya?”


Asmodeus kemudian menceritakan mengenai kisahnya.


Dia merupakan mantan Ratu Iblis yang menguasai wilayah yang sangat besar. Ia juga merupakan seorang Iblis yang paling dekat dengan gelar Kaisar yang akan menguasai seluruh Iblis di dunia bawah. Itu semua berkat kekuatannya yang sangat besar serta bawahannya yang sangat kuat. Sebagai seorang Iblis dari ras Vampir, pencapaian ini bukanlah hal yang mengejutkan.


Tapi sayangnya takdir berkata lain. Seluruh Raja dan Ratu Iblis yang lain tidak menyukainya yang memiliki begitu banyak kekuatan. Oleh karena itu, mereka semua membentuk aliansi untuk menumbangkan Asmodeus. Setelah peperangan sengit selama ratusan tahun lamanya, akhirnya Asmodeus kalah dan kehilangan hampir seluruh kekuatannya.


Asmodeus memilih untuk mencari manusia karena keberadaannya di dunia bawah sudah dianggap tidak ada. Jika Ia menampakkan dirinya di dunia bawah, maka sudah pasti dia akan diburu. Dengan kekuatannya yang kini sudah sangat melemah, kematian sudah dipastikan menanti dirinya.


Tapi manusia sangatlah naif dan lemah menurut pandangannya. Mereka yang berpotensi untuk menjadi bawahan yang kuat memiliki sifat keadilan yang tinggi. Sedangkan mereka yang sesuai dengan keinginan Asmodeus sangatlah lemah bagi standarnya. Pada akhirnya, Ia mulai menyerah.


Hingga suatu hari, dia menerima panggilan iblis dari dunia manusia melalui Skill : Demon Summoning. Sebuah panggilan rendahan yang ditujukan untuk iblis tingkat rendah. Tentu saja membuatnya marah. Tapi kemudian Ia menyadari potensi kekuatan dari pemanggilnya.


Seorang Penguasa Dungeon.


Sebuah kekuatan yang belum pernah Ia lihat sebelumnya.


Tapi takdir seakan hanya mempermainkannya. Setelah sekian lama akhirnya menemukan seorang manusia yang berpotensi, Ia melihat manusia itu akan segera mati oleh seorang wakil Dewi.


Sesaat setelah menerima panggilan itu, Asmodeus sangat kecewa. Ia berpikir untuk segera kembali ke dunia bawah. Tapi Ia menyadarinya. Manusia ini bukanlah manusia biasa, melainkan manusia abadi yang akan kembali hidup setelah kematiannya. Seseorang dari dunia lain! Setidaknya itulah pandangan para NPC terhadap Player.


Ia pun segera menolong manusia itu dengan menyelamatkan skillnya. Itu karena Asmodeus paham betul bahwa sosok yang ada dihadapannya akan bangkit kembali. Untuk memudahkannya menemukan kembali manusia itu, Asmodeus memasang sebuah sihir kontrak sebagai penanda.


Dan inilah akhirnya.


Aku berdiri di hadapannya.


Melihat sosoknya yang menyedihkan.


“Aku mohon Eric! Tidak! Penguasa Dungeon! Tolong lindungi aku di dalam Dungeon milikmu hingga kekuatanku kembali! Aku mohon….” Ucap Asmodeus sambil memelas kepadaku.


“Sudahlah hentikan semua itu. Aku sudah memahami situasimu jadi berhentilah merengek.” Balasku kepadanya.


Setelah itu, muncul suatu notifikasi dari sistem di hadapanku.


...[Quest Rahasia!]...


...[Asmodeus’s Vengeance]...


...[Rank : ???]...


...[Misi]...


...Lindungi Asmodeus hingga kekuatannya kembali. Waktu perkiraan hingga kekuatan Asmodeus kembali sepenuhnya : 6.740 hari waktu dunia Re:Life....


...[Hadiah Menerima Misi]...


...Tidak diketahui. Setidaknya Asmodeus akan menjadi temanmu....


...[Hadiah Menyelesaikan Misi]...


...Tidak diketahui. Diputuskan oleh Asmodeus sendiri....


...[Konsekuensi Menolak Misi]...


...Tidak ada. Tapi Asmodeus akan terus menerus mengataimu dari dunia bawah....


...[Konsekuensi Kegagalan Misi]...


...Tidak diketahui....


...[Apakah Anda akan menerima Quest ini?]...


...[Ya] [Tidak]...


Melihat penjelasan Quest dari sistem yang ada di hadapanku membuatku sedikit kebingungan. Sebuah Super Computer : Genesis tidak dapat mengetahui hasil akhir dari suatu Quest?


Meskipun setiap NPC memiliki AI yang memungkinkan mereka untuk meminta pertolongan pada Player, sistem yang dimiliki oleh Genesis akan selalu menterjemahkan permintaan mereka menjadi suatu Quest. Termasuk hadiahnya. Tapi ini? Tidak diketahui? Apa maksudnya?


Aku berpikir sejenak sambil melihat sosok Asmodeus.


Dia merupakan seorang Vampir. Salah satu ras iblis tingkat tertinggi. Dengan kata lain, meskipun dirinya sudah melemah aku yakin dia masih memiliki kekuatan yang besar. Tapi sialnya aku tidak memiliki kemampuan untuk mengintip status Asmodeus.


Hingga akhirnya aku telah memutuskan.


“Baiklah. Aku akan menerima permintaanmu, Ratu Iblis Asmodeus.” Jawabku dengan senyuman sambil menekan tombol [Ya] di jendela menu di hadapanku.


“Aaaaah!!! Terimakasih banyak, Penguasa Dungeon Eric! Aku sangat berterimakasih padamu!” Balasnya sambil merengek di badanku.


“Bisakah tolong hentikan penyebutan gelar itu? Aku merasa tidak nyaman.”


“Kalau begitu kau juga! Panggil saja aku Deus!” Balas Asmodeus sambil tersenyum riang. Melihat penampilannya saat ini aku menjadi ragu. Apakah dia benar-benar seorang iblis atau hanya gadis yang ceria?


“Baiklah, Deus. Sekarang… bagaimana cara kita kembali ke Dungeon milikku?” Tanyaku kepadanya.


“Kalau aku tahu cara pergi ke dunia manusia tanpa melalui Skill pemanggilan iblis, maka aku sudah akan bersembunyi di sana sejak dahulu kala.” Balas Deus sambil memejamkan matanya.


“Eh?! Jadi sekarang kita berdua….”


“Ya. Kau terjebak disini bersamaku. Sekarang cepat pikirkan bagaimana cara kita untuk pergi dari dunia bawah ini!” Ucap Deus seakan memerintahkan hal yang mudah.


Aku hanya bisa terjatuh ke tanah, sambil meratapi nasibku saat ini.


“Kenapa hal ini terjadi padaku….”


...___________________________________...


...[Sebelum lanjut membaca]...


...[Ada baiknya untuk menekan tombol Like]...


...[Dan juga meninggalkan komentar dalam bentuk apapun]...


...[Tak ada ruginya bagi kalian]...


...[Tapi percayalah, hal sederhana itu yang menyemangatiku untuk terus menulis]...