The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 138 - Tamu Tak Diundang


Di suatu Desa di bagian Selatan Kerajaan Farna….


“Oi?! Bukankah monster itu tidak seperti yang disebutkan oleh Tamer itu?” Tanya seorang Ksatria.


“Jendral Agmar! Apa maksudnya ini? Bukankah kita seharusnya melawan Goblin yang mengenakan perlengkapan Fraksi Bangsawan untuk meningkatkan reputasi kita?!”


“Benar sekali! Tolong jelaskan hal ini!”


Beberapa Ksatria dari Fraksi Keluarga Kerajaan nampak kebingungan.


Tapi yang paling kebingungan adalah Agmar sendiri.


‘Apa-apaan maksudnya ini?’ Teriaknya dalam hati.


...***...


Di sebuah desa di bagian Utara Kerajaan Farna….


‘Slaash!!! Slaassh!!!’


[Anda telah memberikan 3.984 damage!]


[Anda telah memberikan 3.176 damage!]


[Anda telah membunuh Goblin!]


[Anda telah memperoleh 78.394 Experience Point!]


Nampak seorang Ksatria dengan zirah berwarna perak dengan lambang naga sedang menghadapi serbuan Goblin.


Jumlah Goblin yang menyerbu desa ini mencapai angka 200 lebih. Meski begitu, Ksatria bernama Arlond itu menghadapinya sendirian.


“Tuan Arlond! Apakah kau akan baik-baik saja?!” Tanya salah seorang penduduk desa yang bersembunyi di balik barikade kayu itu.


“Tenang saja. Serahkan semua ini kepadaku. Hyat!” Teriak Arlond sambil mengayunkan pedangnya.


Para goblin itu mengenakan perlengkapan tingkat normal dengan level tiap individu mencapai angka 50 lebih. Meskipun perlengkapan itu berada pada tingkat normal, kekuatan tempur setiap Goblin saat ini setara dengan prajurit reguler Kerajaan Farna.


Melawan 200 Goblin seperti itu sekaligus?


Sendirian?


Tentu saja seharusnya mustahil. Meski begitu, Arlond nampak mampu mengungguli mereka semua.


“Bunuh Ksatria itu!!!” Teriak Pimpinan para Goblin. Ia memiliki tubuh yang sedikit lebih besar dari manusia, berkulit hijau gelap dengan banyak bekas luka di tubuhnya. Sedangkan seluruh perlengkapannya sama seperti goblin yang lain, tapi tingkatannya yaitu Unique.


Sosok yang sebenarnya dari pimpinan Goblin itu adalah Knox.


Panglima perang dari Dungeon Origin dengan level mencapai angka 243. Ia juga merupakan salah satu kekuatan terbesar dari Dungeon Origin, meskipun Ia jarang terlihat karena lebih sibuk untuk melatih para Prajurit Goblin.


‘Traaang!! Traaang!!’


[Anda telah memberikan 21 damage!]


[Anda telah memberikan …. ]


Benturan antara pedang Arlond dengan perisai Knox, begitu pula sebaliknya terus menerus terjadi. Bagi orang awam seperti penduduk Desa, pertarungan ini terlihat sangatlah epik. Meskipun yang sebenarnya terjadi adalah berat sebelah.


Bagaimanapun, Arlond masih berada pada level 98. Tapi bagaimana Ia bisa mengimbangi Knox?


Tentu saja….


“Segera setelah kau membunuh 10 ekor lagi, hunuskan pedangmu padaku dan aku akan membawa para Goblin ini untuk kabur.” Bisik Knox kepada Arlond yang masih beradu pedang dengannya.


“Terimakasih.” Balas Arlond dengan suara yang sama lirihnya.


Waktu terus berlalu. Sosok Arlond yang dikelilingi pasukan Goblin itu sungguh sangat mengerikan tapi juga sangat heroik di saat yang bersamaan.


Di balik barikade kayu itu, nampak sosok penduduk desa yang sedang mendoakan keselamatan Arlond tanpa mengetahui hal yang sebenarnya terjadi.


Para penduduk sangat menghormatinya. Kini, Arlond telah dikenal sebagai sosok pahlawan bagi sebagian besar penduduk Kerajaan Farna di wilayah Utara.


‘Ttraang!!’


[Anda telah memberikan 28 damage!]


[Anda telah memberikan …. ]


“Kugh! Kau sangat tangguh sekali manusia, rasakanlah kekuatanku ….” Teriak Knox


Sebelum sempat menyelesaikan perkataannya, Arlond segera menggunakan skill andalannya.


“Piercing Thrust!” Teriaknya sambil menghunuskan pedangnya di sekitar perut Knox.


Nampak dengan jelas bahwa pedang Arlond bahkan tak mampu untuk menggores perut Knox yang sangat keras dan dipenuhi otot itu. Meski begitu, Knox bersikap seakan memperoleh damage yang besar. Ia terlihat memegangi bagian perutnya dengan tangan kanannya.


“Arrgh!! Sialan! Manusia sialan! Kita akan segera kabur! Aku tak pernah menyangka ada sosok pahlawan di desa kecil ini!” Teriak Knox sambil menarik mundur seluruh pasukannya.


“Hidup Tuan Arlond!”


“Tuan Arlond, Sang Pahlawan!!!”


Segera setelah itu, seluruh penduduk desa segera bersorak untuk merayakan kemenangan Arlond. Meski begitu, ada satu orang yang sama sekali tidak senang. Ia masih menatap jendela notifikasi yang muncul di hadapannya.


[Anda telah memberikan 35 damage!]


‘Aku tahu bahwa ini adalah pekerjaanku tapi…. Kenapa aku begitu lemah? Bisakah aku memenuhi harapan Eric kedepannya jika aku terus seperti ini?’ Ucap Arlond penuh kesal dalam hatinya.


Pada saat itulah Arlond memutuskan, untuk bermain Re:Life dengan lebih serius.


‘Sebagai permulaan, bagaimana jika aku tidak hanya bermain 8 jam per hari tapi menjadi 14 jam atau lebih? Aku akan mencobanya….’ Ucap Arlond dalam hati.


Tanpa Eric sadari, Ia telah mencetak seorang Player hebat di masa depan.


...***...


Di suatu Desa di bagian Selatan Kerajaan Farna….


‘Klak! Klak! Klak!’


Terlihat sekitar 500 lebih monster Skeleton yang berbaris dengan rapi diluar desa itu.


Di barisan terdepan, nampak sosok 7 monster yang kuat dengan wujud manusia namun masih membawa sedikit ciri iblis mereka. Sedangkan di tengah mereka, terlihat sosok manusia dengan rambut putih.


Di atas kepala Pria berambut putih itu terlihat dengan jelas tulisan dengan warna hitam pekat.


‘Evan’


“Tunggu dulu! Kenapa ada pasukan Undead disini?! Siapa dia?!”


“Apa-apaan ini?! Kau berbohong kepada kami Agmar!”


Semua orang mulai panik. Bahkan beberapa Ksatria nampak ingin melarikan diri. Tapi sungguh, sangat disayangkan….


Semua itu sudah terlambat.


“Bantai mereka semua.” Ucap Evan sambil berjalan mendekati desa itu.


“Dimengerti, Tuanku.”


7 Iblis itu mengikuti langkah Evan. Begitu pula 500 lebih Skeleton yang ada di belakangnya.


‘Tap! Klak! Tap!’


Semakin lama, langkah mereka mulai melebar.


Dan kini, mereka semua nampak mulai berlari.


Desa yang memiliki penduduk sekitar 3.000 orang dengan prajurit yang bersiaga sebanyak 200 orang itu mulai panik melihat pergerakan pasukan Undead itu.


Hingga akhirnya, sebuah kalimat sederhana memecahkan seluruh suasana di dalam desa.


“La-lari!!!”


“Selamatkan diri kalian!!!”


Seluruh Ksatria dan Prajurit yang ada mulai melemparkan pedang dan perisai mereka. Untuk apa? Tentu saja agar dapat berlari dengan lebih cepat.


Mereka meninggalkan tugas yang diemban, yaitu melindungi penduduk desa.


Tidak….


Mereka kemari bukan untuk memenuhi tugas prajurit. Melainkan untuk melawan pasukan Goblin yang seharusnya datang kemari.


Tapi hingga sekarang, Goblin itu tak kunjung tiba.


‘Apakah, Eric…. Tidak. Kemungkinan besar pasukan Undead ini telah membantai Goblin yang dijinakkan olehnya. Sial! Kenapa ini terjadi?!’ Teriak Agmar dalam hati.


Pada saat itu juga, Ia memilih keputusan terburuk yang ada di situasi ini.


“Semuanya! Persiapkan diri kalian untuk pertempuran! Aku, Jendral Agmar akan bertarung bersama kalian! Maka jangan sedikitpun takut dengan Undead lemah itu! Mereka mungkin saja menang dalam hal jumlah, tapi kita jauh lebih unggul dalam hal kualitas! Kembalilah ke barisan kalian!” Teriak Agmar dengan lantang.


Mendengar teriakan sang Jendral, moral seluruh pasukan mulai meningkat dengan drastis. Seluruh prajurit yang memutuskan untuk kabur bahkan mulai menghentikan langkahnya. Mereka dibutakan oleh ketakutan hingga melupakan sosok salah satu Ksatria terkuat di Kerajaan Farna, yaitu Agmar.


“Jendral Agmar benar! Ia bersama kita sekarang!”


“Jika bertarung bersamanya….”


“Kita pasti menang!!!”


Melihat barisan pasukan yang mulai bersemangat, Evan mulai tersenyum.


“Tidak jadi kabur? Baguslah, dengan begini aku mampu memperoleh lebih banyak jiwa untuk memanggil pasukan yang baru….” Ucap Evan pada dirinya sendiri sambil mempercepat larinya mendekati desa itu.