The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 78 - Kenyataan Pahit


Beberapa hari telah berlalu sejak aku memutuskan untuk melakukan perburuan di Dungeon Dark Elf. Saat ini, waktu telah menunjukkan 20.11. Aku pun memutuskan untuk keluar dan beristirahat.


Lagipula, Penalti PK milikku juga sudah menghilang sejak saat itu. Nampaknya hukuman dengan membunuh penjahat meskipun memiliki warna putih sangatlah singkat. Entah bagaimana sistem mengetahui hal itu, tapi semua ini adalah hal baik.


“Deus, Aku berencana untuk Log Out dan beristirahat. Mungkin bagimu tubuhku akan menghilang sekitar beberapa hari tapi….” Ucapku kepada Deus.


“Baiklah Eric. Bawa aku kembali ke dalam gudang tua itu. Dan juga, tinggalkan sebagian monster panggilanmu untuk menemaniku!” Jawab Deus dengan penuh semangat. Entah apa yang akan dia lakukan.


Aku pun segera kembali ke gudang tua itu lalu melepaskan skill [Assimilation] yang kugunakan. Seketika cahaya emas keluar dari tubuhku dan membentuk sosok Deus.


“Sampai jumpa lagi, Eric. Aku berharap tinggi padamu!” Jawab Deus sambil berjalan untuk kembali ke tempat duduknya.


“Ini…. Aku akan meninggalkan mereka semua di sini dan beberapa bahan makanan. Kau tahu aku bisa saja membuat Dungeon disini dan….”


“Tidak! Aku tak ingin tinggal di dunia yang penuh iblis ini! Maaf tapi lain kali saja kau buatkan aku Dungeon di dunia manusia!” Balas Deus memotong perkataanku.


Dan begitulah, aku akhirnya memutuskan untuk Log Out.


[Bersiap untuk memindahkan kesadaran]


Setelah Log Out, aku segera makan dan mandi. Aku cukup terkejut melihat kapsul milik adikku yang masih menyala.


“Apakah dia sedang bermain? Tapi kenapa dia tidak mengabariku? Hah…. Dasar.” Ucapku sambil menghela nafas.


Tapi saat aku mengecek ponselku, puluhan pesan masuk dan panggilan tak terjawab terpampang jelas di bagian notifikasi.


“Elin? Kenapa dia…. Eh?!” Teriakku kaget setelah membaca beberapa pesannya.


[Eric! Dimana kau? Jangan bilang kau berada di dunia bawah! Aku mendengar penjelasan dari Oliver dan mencoba untuk mencari informasi. Jika kau memang berada di dunia bawah, maka kau tak akan bisa kembali saat ini.]


“Eh?! Kenapa?!” Teriakku histeris membaca pesan itu.


Kemudian aku mulai memahami kondisiku setelah membaca penjelasan Elin melalui pesan singkatnya. Pada intinya, jika aku mati maka aku akan tetap berada di dunia bawah. Untuk kembali, maka aku harus meminta seseorang untuk melakukan pemanggilan iblis.


Tapi bukankah skill [Demon Summoning] ini sangat langka? Memangnya ada orang lain yang memiliki skill pemanggilan iblis?


[1 Pesan Baru!]


[Pengirim : Elina]


[Tenang saja Eric, aku akan mencarikan seseorang yang bisa menggunakan skill pemanggilan Iblis untukmu. Aku akan meminta bantuan Neo dan Alice untuk mencari informasinya. Kau tidak keberatan jika aku menggunakan sebagian uang dari ruang harta untuk ini kan?]


Aku pun dengan segera membalasnya dan mengatakan bahwa aku tidak keberatan selama aku bisa keluar dari tempat ini.


“Hah…. Aku benar-benar sial….” Ucapku menghela nafas sambil berbaring di kasur yang empuk itu. Tanpa kusadari, aku sudah tertidur.


...***...


“Apa?! Kau tidak bisa kembali ke dunia manusia?! Parahnya lagi kau harus menunggu seseorang menggunakan Skill Demon Summoning?!” Teriak Deus tiba-tiba setelah mendengar penjelasanku.


“Ya… begitulah penjelasan dari temanku. Apakah itu cukup sulit?” Tanyaku padanya.


“Sangat sulit! Pemilik skill pemanggil iblis sangatlah sedikit! Itulah mengapa kami semua terjebak di dunia ini!” Jawab Deus sambil menyilangkan kedua lengannya dan memasang wajah yang sombong. Entah apa yang membuatnya bangga.


Aku dan Deus kemudian memutuskan untuk segera mencari iblis yang mau menerima kontrak denganku. Kenapa? Itu karena waktu pemanggilan iblis yang dilakukan dapat terjadi kapan saja! Itulah kenapa aku hanya perlu mengerjakan hal yang paling penting saat ini yaitu mencari monster baru.


Di kejauhan, nampak sebuah kastil berukuran cukup kecil yang sudah rusak. Dindingnya sudah mulai hancur, tanaman mulai merambat di seluruh bangunan itu. Bahkan semak belukar sudah tumbuh dimana-mana seakan tidak pernah diurus. Meski begitu, tidak ada monster sama sekali di sekitar tempat ini.


Itu semua karena kastil ini, merupakan sebuah Dungeon.


...[Vampire’s Lair]...


...[Dungeon Vampir]...


...[Boss : Vampire Baron]...


...[Rekomendasi Level : 180]...


...[Rekomendasi Party : 4 orang atau lebih]...


...[Hadiah : 500 Koin Emas]...


...[Peti Emas]...


“Kurasa Dungeon ini dapat kau tangani dengan baik, Eric!” Ucap Deus dari dalam pikiranku.


Aku yang melihat informasi ini sedikit kesal. Kenapa Deus tidak memberitahuku mengenai lokasi Dungeon ini? Padahal dia tahu betul letaknya. Tapi saat kutanyakan mengenai hal itu….


“Ba-bagaimana lagi! Vampir adalah rasku! Tentu saja aku tidak ingin melawan mereka kan?!” Jawabnya dengan suara yang agak panik.


Yah, meskipun aku juga setuju dengan pemikirannya. Aku sudah cukup bersyukur karena kini aku menemukan Dungeon yang sesuai dengan kemampuanku. Jika Dungeon ini, maka setidaknya aku dapat menyelesaikannya dengan bantuan bawahan monsterku.


Aku masih belum menggunakan skill [Ascension] yang diberikan oleh Deus mengingat kondisi saat ini masih kurang baik. Rencananya, aku akan menggunakannya setelah berhasil kembali ke dunia manusia. Tapi entah kapan itu akan terjadi….


Setelah semua pemikiranku selesai, aku segera memasuki kastil tua itu.


Jujur saja penampilan dalam kastil ini cukup indah. Nampak dengan jelas lampu gantung di langit-langit ruangannya. Selain itu juga banyak sekali lukisan-lukisan yang indah terpampang di setiap sisi dinding. Tapi sayangnya, semuanya seakan sudah mulai rusak dan tidak terawat.


“Sungguh, sangat disayangkan tempat seindah ini terlantarkan karena merupakan sebuah Dungeon.” Ucapku pada diriku sendiri.


Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki. Saat aku menengok ke arah sumber suara, aku mendapati sesosok wanita yang sungguh anggun. Ia memiliki rambut berwarna abu-abu. Matanya yang berwarna merah menyala sangat menawan jika dikombinasikan dengan gaun hitam yang Ia kenakan.


“Untuk apa kalian datang kemari? Apakah untuk membunuh kami semua?” Ucap wanita itu ketika melihatku dan gerombolan monster di belakangku.


Aku yang mendengar hal itu sedikit kebingungan untuk menanggapinya.


“Uh…. Sejujurnya aku hanya berniat untuk mencari bawahan baru. Tapi aku….”


Belum sempat menyelesaikan perkataanku, tiba-tiba terjadi suatu gejolak yang kuat di dalam diriku. Seakan… aku tidak lagi mampu mengendalikan tubuhku sendiri.


“Elizabeth!!!” Teriak Deus dengan kencang menggunakan tubuhku. Nampaknya dia mampu menguasai tubuhku ketika sudah berasimilasi denganku.


Aku mulai menyadari sedikit kelemahan dari Skill ini. Ya, Individu yang berasimilasi denganku masih memiliki kesadaran yang utuh. Ketika di dalam tubuh pengguna skill, Individu tersebut hanya dapat melihat melalui pandangan pengguna skill.


Bagaimana aku bisa tahu?


Tentu saja karena itulah kondisiku saat ini! Aku hanya dapat melihat dan mendengar tanpa bisa melakukan apapun sedangkan Deus mengendalikan seluruh tubuhku.


“Bagaimana kau bisa mengetahui nama…. Jangan katakan bahwa kau… tidak mungkin! Yang Mulia?!” Balas Elizabeth dengan mata yang kini nampak berkaca-kaca.


“Ya! Aku adalah Asmodeus yang Agung! Meskipun kini aku sudah melemah, tapi aku masih hidup!” Balas Deus sambil menyilangkan kedua lengannya.


“Tapi wujud itu….”


“Tenang saja! Dia adalah kawan baruku!”


Dan begitulah, reunian antara kedua orang ini berjalan dengan penuh haru. Aku yang hanya bisa melihat dari dalam tubuhku sendiri mulai memahami situasi ini.


Elizabeth. Atau biasa dipanggil Liz oleh Deus adalah tangan kanannya semasa kejayaannya sebagai Ratu Iblis yang kuat. Nampaknya Liz mampu selamat dari perburuan para musuh dengan cara bersembunyi di dalam Dungeon.


NPC tidak menganggap Dungeon sebagai tempat yang perlu diwaspadai. Itu karena sebanyak apapun membunuh monster yang ada didalamnya, mereka akan kembali keesokan harinya. Tak hanya itu, monster yang berada di dalam Dungeon tidak akan pernah keluar.


Tapi Liz memanfaatkan hal itu dengan sangat baik. Dirinya yang merupakan seorang Vampir tingkat tinggi mampu dengan mudah tinggal di dalam Dungeon ini. Bagaimanapun, Liz merupakan salah satu bawahan terkuat Deus yaitu seorang Vampir tingkat Countess.


“Ah, jadi Anda ingin membantu manusia ini untuk mencari monster bawahan yang baru? Kalau begitu aku akan mengambilkan beberapa vampir disini untuk dijinakkan.” Balas Liz santai setelah mendengarkan penjelasan Deus.


Hanya kurang dari setengah menit, Ia telah kembali dan membawa 2 vampir di tangan kanan dan kirinya.


“Eric! Aku akan meminjam skillmu sebentar, ya?! Contract Skill!” Ucap Deus dengan menggunakan tubuhku.


...[Mencoba melakukan kontrak dengan vampir!]...


...[Vampir menolak untuk menerima kontrak dengan Anda!]...


Notifikasi itu muncul di hadapanku setelah Deus mencoba untuk membuat kontrak.


“Hah! Sombong sekali kalian ya?! Apakah kalian tidak sadar yang sedang kalian hadapi ini adalah Ratu kalian?! Terima ini! Magic Missile!” Teriak Deus menggunakan tubuhku sambil melontarkan sihir.


Seketika kepala vampir yang ada di tangan kanan Liz meledak. Tubuhnya secara perlahan mulai menjadi cahaya putih, menandakan kematiannya.


Vampir yang ada di sebelahnya nampak ketakutan akan hal itu.


“Jadi bagaimana? Apakah kau juga akan menolaknya?!” Tanya Deus sambil mengarahkan tangannya di kepala Vampir yang berada di tangan kiri Liz.


...[Mencoba melakukan kontrak dengan Vampir!]...


...[Vampir menerima kontrak tanpa syarat apapun!]...


‘Eh?! Semudah ini?!’ Pikirku dalam hati.


...[Selamat!]...


...[Kini Anda dapat memanggil Vampir!]...


...[Summoning Index telah diperbarui!]...


[Vampire]


Rarity : Normal


Starting Level : 60


Mana Cost : 90.000


Growth Stats :


STR : 6


AGI : 7


INT : 8


VIT : 9


STA : 5


DEX : 3


Aku yang melihat notifikasi yang muncul di hadapanku hanya dapat menggelengkan kepalaku. Tidak hanya karena status Vampir yang cukup tinggi. Tapi juga karena jumlah Mana yang diperlukan untuk memanggilnya sangatlah besar.


...***...


Wilayah Kekaisaran Avertia.


Di dalam sebuah gua yang gelap.


Telah terjadi sesuatu semenjak pertempuran antara Evan dengan pihak Inquisitor. Pertempuran itu berakhir dengan Evan membuat suatu perjanjian dengan para Inquisitor.


Salah satu isi perjanjiannya adalah membiarkan Shea untuk membunuh Evan dengan pedangnya. Setelah itu, para Inquisitor akan membawa barang-barang Evan yaitu Black Robe of Infidel dan Cursed Dragon Staff.


Kedua Item itu merupakan Item terbaik milik Evan. Tapi hal itu sangatlah diperlukan.


Hasilnya?


Evan mati hanya dari tusukan ringan Shea. Tentu saja, karena sejak awal karakter Evan sudah mati setelah meminum Forbidden Elixir itu. Tapi kini Ia telah menjadi Undead dan memperoleh Legendary Skill [Immortality]. Membuat Evan sangat sulit untuk benar-benar mati.


Berita kematian Evan telah diterima dengan baik oleh Uskup Agung. Termasuk Drop Item dari Evan. Hasilnya, Evan telah dianggap mati oleh pihak Kerajaan Suci Celestine, setidaknya selama Ia tak membuat kehebohan lagi.


Kemampuan Evan untuk menyusun rencana ini membuat keenam Inquisitor itu bingung. Apakah dia benar-benar gila? Jika benar, kenapa dia bisa bepikir sejernih ini? Jika tidak, kenapa dia berpura-pura gila?


Apapun itu, kedua belah pihak saling diuntungkan. Pihak Kerajaan Suci Celestine mampu menjaga dunia manusia. Itu karena mereka telah mengetahui keinginan Evan yang sebenarnya.


Sedangkan Evan? Ia dapat hidup dengan damai karena tak akan lagi diburu.


Tapi ada beberapa orang yang menyesali kejadian ini.


“Evan! Kenapa kau mengkhianati kami?! Kenapa kau menggunakan sendiri Elixir itu? Bukankah kita sudah sepakat untuk….” Ucap seorang Wanita dengan rambut perak.


Di belakang Wanita itu nampak 6 orang yang berdiri sambil memegang masing-masing senjata mereka.


“Hah?! Aku sudah memenuhi permintaanmu untuk menyerang kota itu kan? Tapi apa peranmu? Kau bahkan tidak bisa menghentikan para Inquisitor itu untuk ikut campur!” Balas Evan dengan tatapan yang tajam.


“Kau sudah tahu kan kalau Inquisitor yang datang merupakan peringkat pertama?! Aku tidak bisa….”


Belum sempat menyelesaikan perkataannya, Evan kembali memotongnya.


“Cukup, Evalina. Aku sudah muak denganmu. Kau sendiri yang mematahkan kesepakatan dengan membiarkan para Inquisitor itu datang! Lagipula, sejak awal aku tidak pernah berniat untuk melawan para NPC! Aku melakukan ini hanya untuk membalas bantuanmu!” Teriak Evan.


Tapi ketujuh orang itu bersikap lain. Mereka semua mengarahkan senjatanya ke Evan. Bahkan beberapa telah mulai merapal sihir.


"Kukuku.... Pada akhirnya kalian ingin menyingkirkanku? Hahahaha! Raise... Undead!" Teriak Evan menanggapi situasi ini.


Seketika muncul ribuan monster Skeleton dari bawah tanah di gua itu.


Tak berhenti sampai di situ….


“Demon… Summoning! Aku mempersembahkan tubuh tak berjiwa ini kepada kalian! Iblis!” Teriak Evan sambil tersenyum lebar.


...___________________________________...


...[Sebelum lanjut membaca]...


...[Ada baiknya untuk menekan tombol Like]...


...[Dan juga meninggalkan komentar dalam bentuk apapun]...


...[Tak ada ruginya bagi kalian]...


...[Tapi percayalah, hal sederhana itu yang menyemangatiku untuk terus menulis]...