
...Kerajaan Farna...
...Wilayah Bagian Utara...
...Di salah satu Kota...
Nampak sebuah lingkaran sihir berwarna biru yang indah di bagian luar dinding kota itu. Hanya saja, ukuran lingkaran sihir itu sangatlah mengintimidasi. Bagaimana tidak, luasnya saja sudah mencakup lebih dari seperlima ukuran kota itu.
Di balik balutan cahaya birunya yang indah, nampak puluhan ribu manusia. Mereka semua nampak mengenakan perlengkapan yang lengkap dengan zirah yang mengkilap serta pedang dan tombak yang tajam.
Pada barisan belakang pasukan itu, nampak ratusan orang yang memegang tongkat sihir.
Dalam waktu sekejap, sesaat setelah mereka tiba di tempat ini…. Mereka langsung menyerbu tanpa ampun.
“Seraaaaaaaang!!!” Teriak kapten pasukan itu.
Seluruh prajurit, baik infanteri ataupun kavaleri segera berlari ke arah dinding yang tebal itu.
Pada saat itu juga, penyihir yang berada di barisan belakang telah menyelesaikan rapalan mantra mereka. Kini, ratusan lingkaran sihir berwarna kekuningan muncul di atas mereka.
Apa yang ada di balik lingkaran sihir itu adalah batu berukuran besar yang segera melesat dengan kuat ke arah dinding Kota ini.
Tak berhenti sampai disana. Di lintasan batu besar itu, nampak lingkaran sihir lain yang berwarna merah menyala. Pada saat baru besar itu melewatinya, api panas yang membara melapisi batu itu. Kini apa yang akan menghantam dinding kota itu adalah sesuatu yang jauh lebih mengerikan daripada yang sebelumnya.
‘Blaaarrr!!! Duaaarrr!!!’
Ratusan batu itu menghantam dinding dengan sangat kuat. Sebagian besar meleset dan jatuh di luar ataupun di dalam dinding. Tapi itu bukanlah masalah.
Semua itu karena hantaman dari beberapa batu besar itu sudah cukup untuk meruntuhkan dinding kota itu.
“Segera mundur!”
“Rapikan barisan!”
“Komandan! Kurasa kita harus segera meminta bantuan!”
“Bawa 5 orang dan panggil Pahlawan Pedang yang sedang di Kota Sebelah!”
Jauh di luar dugaan, pasukan yang merupakan pihak bertahan nampak cukup tenang. Mereka bahkan mampu memikirkan tindakan tepat dengan cepat.
Semua ini berkat waktu yang diperoleh Kerajaan Farna pada saat Salvation memperlambat langkah mereka. Kini, prajurit baru yang direkrut oleh Kerajaan Farna telah terlatih selama dua bulan lebih di dunia Virtual ini.
Tak hanya itu, jumlah mereka kini telah jauh melebihi target berkat bergabungnya banyak Player berbakat setelah ditawari hadiah berupa perlengkapan tingkat Epic dan Unique.
Pada saat itu juga….
“Tembakkan Balistanya!” Teriak salah seorang kapten yang berdiri di atas menara di dinding itu. Di sampingnya nampak 3 buah Balista yang telah memuat tombak berukuran besar tingkat Epic itu.
‘Wuoooosshh!!!’
Tiga buah tombak itu melesat dengan sangat cepat. Arahnya sangat mantap yaitu barisan penyihir yang sedari tadi masih terus menerus melontarkan mantra sihirnya.
‘Sraaashh!! Sroook!!’
Tombak besar itu menembus tubuh puluhan penyihir dan beberapa prajurit dengan sangat cepat. Mereka bahkan tak sempat untuk bereaksi terhadap tembakan Balista itu.
Melihat kejadian ini, barisan penyhir itu segera berpencar untuk menghindari serangan yang lebih mematikan daripada sebelumnya.
Tapi semua itu sudah terlambat. Bagaimanapun, Onager atau sebuah alat berat pelontar batu telah bersiap sejak tadi. Mereka semua mengincar barisan penyihir yang merupakan kekuatan terbesar musuh saat ini.
Bersamaan dengan tembakan Balista sebelumnya, 4 buah Onager telah melontarkan ratusan batuan-batuan yang cukup besar dengan kecepatan tinggi.
‘Blaarr!! Daarr!!’
Hujan batuan itu menimpa para penyhir yang sedang berusaha berlari dari tembakan Balista sebelumnya.
Setelah itu, regu pemanah segera mengambil alih.
“Tembak!” Teriak salah seorang kapten pemimpin divisi pemanah di dalam tembok kota ini.
‘Syuuutt!! Syuuutt!!’
Ribuan anak panah melesat ke arah serangan dadakan musuh ini. Meski sebagian besar hanya menancap di tanah, tapi sebagian kecil mampu menyelesaikan tugas mereka dengan baik yaitu menembus tubuh pasukan penyerbu ini.
“Apa-apaan ini!!”
“Penyembuh! Dimana penyembuh! Tolong, kakiku terluka!”
“Kapten! Dimana kau?!”
Kini pasukan Kerajaan Salvation yang melakukan serangan dadakan justru mulai panik. Bagaimana tidak, pertahanan Kota musuhnya terlalu kuat.
Bahkan beberapa Count yang memimpin pasukan ini mulai kebingungan melihat situasi yang kini telah berbalik 180 derajat.
“Bagaimana bisa…. Bukankah kita…. Memberikan serangan dadakan?! Tapi kenapa mereka bisa begitu siap?!” Teriak keheranan salah seorang Count.
“Ki-kita harus segera mengabari Nona Alice mengena….”
Sebelum sempat menyelesaikan kepanikan mereka….
‘Duaaarrr!!’
Sesuatu telah jatuh tepat di tengah medan peperangan ini. Sesuatu…. Yang nampaknya terbakar oleh api.
Lokasi mendaratnya sesuatu itu hancur lebur hingga tak karuan. Bahkan ratusan prajurit yang ada di sekitar tempat itu nampak terlempar ke berbagai arah karena begitu kuatnya tekanan yang diberikan.
Di balik debu yang menutupi, nampak sosok seorang Pria dengan zirah putih yang memiliki lambang api biru di bagian dadanya.
Rambutnya yang berwarna merah gelap itu sangat mengintimidasi bersamaan dengan api yang menyelimuti tubuhnya.
Di tangan kanannya, nampak sebuah pedang dua tangan yang cukup besar. Sedangkan di pinggangnya, nampak sebuah pedang yang masih menggantung dan menunggu untuk digunakan.
“Maafkan aku karena terlambat. Serangan di Kota sebelah baru saja ku serahkan kepada Ovelia. Ah maaf…. Kalian musuhku ya?” Ucap Pria berambut merah itu.
Melihat Pria itu yang nampak begitu santai justru memberikan aura yang mengerikan.
“Si-siapa kau?!” Tanya salah seorang Prajurit yang ada di dekatnya.
Tapi tanpa menjawab, Pria berambut merah itu tersenyum tipis dan melirik ke arahnya.
Seluruh pasukan yang ada di sekitarnya segera mempersiapkan diri mereka untuk apapun yang akan terjadi.
Dalam waktu yang singkat….
‘Duaaarrr!!’
Hentakan kaki Pria berambut merah itu begitu cepat dan kuat hingga menghancurkan tanah di sekitarnya. Ia melesat dengan sangat cepat ke arah kumpulan orang-orang yang mengenakan perlengkapan yang berbeda dengan yang lain.
Pria itu menganggap bahwa mereka adalah pimpinan dari pasukan ini. Mengalahkan komandan adalah salah satu strategi termudah untuk merontokkan moral pasukan. Oleh karena itu….
‘Zraatt! Sraaat!! Sraasshh!!!’
Hanya dalam waktu singkat, Pria berambut merah itu mampu mengayunkan pedangnya sebanyak 7 kali dan memotong tubuh 4 orang Count yang menjadi komandan pasukan Salvation.
Tubuh mereka seketika berubah menjadi cahaya putih yang segera dibakar oleh Pria berambut merah itu. Meski tidak memberikan keuntungan apapun secara langsung, tapi semburan api yang dilakukannya terhadap cahaya putih yang merupakan tanda kematian NPC itu merupakan penghinaan yang besar.
Semua prajurit yang melihatnya segera gemetar karena ketakutan.
“Gila…. Dia orang gila….”
“Tidak mungkin…. Apa yang….”
Tanpa mereka sadari, pasukan Kerajaan Farna yang seharusnya bertahan di balik dinding, kini telah keluar dari zona aman mereka untuk membantai seluruh musuh.
Hal yang wajar.
Itu semua karena sejak kedatangan sang Pahlawan Pedang, Clever, beserta kematian seluruh komandan musuh….
Moral pasukan Salvation telah jatuh hingga rata dengan tanah.
Kini yang ada di dalam hati dan pikiran mereka….
Hanyalah ketakutan akan kematian.