
‘Bruuk!’
Aku segera duduk dengan menjatuhkan tubuhku di lantai batu ini. Bukan karena kehabisan Stamina Point atau Health Point. Tapi karena aku telah lelah secara mental.
“Sialan…. Memaksaku untuk berpikir sekeras ini. Bahkan aku tak berpikir sekeras ini pada saat ujian….” Ucapku pada diriku sendiri.
“Tuanku! Ada apa?!” Teriak Lucien kebingungan.
Melihat arah di luar dinding membuatku berpikir dengan keras. Tentang apa? Tentu saja mengenai cara mengalahkan ratusan ribu barbarian yang saat ini mulai berjalan kemari.
“Lucien. Apakah kau ingin mengamuk dan membantai mereka semua?” Tanyaku singkat.
“Tentu saja! Aku sangat ingin membantai mereka semua dengan kekuatan kegelapan yang….”
“Assimilation. Ini adalah perintahku. Gunakanlah tubuhku untuk melakukan semua itu. Sekarang, biarkan aku beristirahat. Bekerjasamalah dengan Chris dan yang lainnya.” Ucapku sambil mulai memejamkan mata.
Tanpa ada jeda, Lucien dengan segera menerima permintaan asimilasi yang kuajukan kepadanya. Seketika tubuhnya berubah menjadi cahaya emas dan memasuki tubuhku. Tubuhku yang semula termasuk dalam ras manusia, kini berubah sedikit demi sedikit menjadi ras vampir.
Tentu saja, Lucien dengan segera mengendalikan tubuhku. Sedangkan aku? Aku memilih untuk beristirahat sambil mengamati bagaimana Lucien akan menggunakan kekuatan yang kumiliki.
Meskipun, kini kekuatan tubuhku akan sedikit lebih kuat karena telah menyerap kekuatan Lucien.
“Tuanku…. Percayakan saja semuanya kepadaku!” Teriak Lucien sambil melebarkan sayap kelelawarnya di tubuhku.
Ia dengan segera terbang ke langit. Lucien yang menggunakan tubuhku nampak memegang Staff of Enigma di tangan kanannya.
Dari kejauhan, nampak seseorang yang berlari dengan cukup kencang. Badannya yang kekar membuat Pria itu memiliki penampilan yang sangar. Ia adalah Chris.
Di punggungnya nampak menggantung sebuah pedang besar, Aamori’s Sword. Sedangkan tubuhnya dilindungi oleh zirah dengan bahan Mithril yang mengkilap. Tentu saja, semuanya berada pada tingkatan Legendary.
“Tunggu aku, Eric! Aku takkan membiarkanmu mengambil semua mangsa… huh? Siapa kau?” Ucap Chris kebingungan setelah melihat tubuhku saat ini.
“Maafkan aku, Manusia. Tapi Tuanku telah mempercayakan tubuhnya kepadaku. Jika kau memang tak ingin kehilangan semua mangsa itu, maka berusahalah sebaik mungkin untuk melampauiku.” Balas Lucien yang masih terbang di udara.
“Ah! Lucien ya?! Hahaha! Mari kita lihat! Siapa yang akan membunuh lebih banyak…. Tu-tunggu dulu! Jika kau menggunakannya lagi bukankah itu terlalu curang?!” Teriak Chris setelah melihat Lucien mengangkat tongkatnya dan menggunakan skill [Amplify].
Tapi perbedaannya adalah Lucien hanya menggunakan Amplify sebanyak satu kali. Ia telah menyadari betapa besar beban yang diderita ketika menggunakannya lebih dari satu kali. Tak hanya itu, Ia juga sedang dalam posisi terbang.
“Hahahah…. Tenang saja, Manusia. Kemampuanku saat ini tak mampu untuk menumbangkan gajah raksasa itu! Bagaimana jika kau menghabisi semua gajah itu dan aku akan mendukungmu dari belakang?” Tanya Lucien yang menggunakan tubuhku sambil tersenyum.
“Ide yang bagus!” Teriak Chris sambil melompat keluar dari dinding itu. Dengan segera, Ia memerintahkan kepada seluruh pemanah untuk bersiap menembak. Itu semua karena seiring dengan berjalannya waktu, pasukan barbar itu semakin mendekat.
“Fire Blast!” Teriak Lucien sambil mengarahkan tongkat sihirnya di kejauhan.
‘Duuuuaaaarrr!!!’
Seketika, muncul ledakan dengan ukuran sekitar 25 meter. Kekuatan ledakannya tidak terlalu besar. Terutama suaranya. Tapi tentu saja, ledakan itu sudah cukup untuk semua ini.
“Aku telah membukakan jalan untukmu, Manusia. Segeralah penggal kepalah gajah menjijikkan itu!” Teriak Lucien kepada Chris.
Chris hanya mengangkat tangan kirinya dan memberikan sebuah jempol. Tanpa begitu memperdulikannya, Lucien segera menggunakan skill Overdrive untuk mereset Cooldown dari Amplify.
Sedangkan lama waktu aktivasi Amplify yang dilakukan oleh Lucien?
Hanya 1 detik. Itu karena Lucien berencana untuk bertarung dengan efisien. Efisien dalam hal ini yaitu menggunakan Mana Point serendah mungkin, akan tetapi dengan Output yang sebaik mungkin.
20.000 Mana Point yang diberikan pada skill Amplify akan menghasilkan lingkaran sihir yang memperkuat sihir sebesar 50%.
Dengan jumlah Mana Point 10 x lipat lebih besar, peningkatan kekuatan sihir yang terjadi hanyalah 2 x lipat atau menjadi 100%.
Itulah kenapa Lucien tak terlalu lama melakukan aktivasi pada Skill Amplify.
“Aerial Movement!” Teriak Lucien sekali lagi sambil mengarahkan tongkat sihirnya ke Chris.
[Player : Chris telah menerima efek Buff Aerial Movement!]
[Kecepatan gerak Player : Chris telah meningkat sebesar 45%]
[Kecepatan serangan Player : Chris telah meningkat sebesar 60%]
Seketika, pergerakan Chris menjadi secepat kilat. Atau lebih tepatnya, seorang pendekar pedang besar yang memiliki kecepatan gerak jauh melebihi seorang Assassin.
Chris terus melangkahkan kakinya secepat mungkin ke arah gajah raksasa yang setinggi 10 meter itu. Tanpa ragu, Ia dengan segera melompat.
Tentu saja, lompatannya hanya setinggi 3 meter. Sebuah lompatan yang sangat tinggi. Meski begitu, Chris tak akan mencapai bagian atas tubuh dari gajah itu.
Tapi Chris mempercayakan semuanya kepadaku. Atau lebih tepatnya…. Kepada Lucien.
‘Tap!’
Seketika, muncul sebuah Mana Shield di udara tempat Chris melompat. Chris dengan cepat memanfaatkan keberadaan perisai itu dan kembali melompat untuk kedua kalinya.
‘Tap!’
Sekali lagi, kembali muncul perisai Mana di udara. Posisinya sangat tepat dengan arah lompatan Chris. Sungguh, melihatnya saja membuatku keheranan. Darimana Lucien memperoleh ide untuk menggunakan Mana Shield sebagai pijakan untuk melompat?!
‘Tap! Tap!’
Chris melompat di udara hingga empat kali. Pada lompatan terakhirnya, Ia telah berada lebih tinggi daripada gajah raksasa itu. Dengan segera, Ia memutar tubuhnya secara vertikal sambil mengayunkan pedangnya.
Itu adalah sebuah Skill tipe Akrobatik tingkat tinggi, [Rolling Cut].
‘Slasssh! Slaassh!! Slaaaaaaaaasssh!!!’
Chris terus menerus memotong kepala gajah itu di setiap putaran tubuhnya.
Pedang milik Chris mampu memotong kepala gajah raksasa itu seperti memotong mentega. Tidak nampak sedikit pun kesulitan dalam melakukannya.
Dalam seketika, kepala gajah raksasa itu terpotong dan terjatuh di padang pasir ini. Hal berikutnya yang terjadi yaitu mulai berubahnya tubuh gajah raksasa itu menjadi cahaya. Itulah tanda kematian di dunia ini.
Sekitar sepuluh barbarian yang menunggangi gajah raksasa ini nampak jatuh dari ketinggian 10 meter. Tak memberikan kesempatan, Lucien segera menembakkan 12 peluru sihir dari Skill [Ex Magic Missile].
[Ex Magic Missile] memiliki kekuatan serang yang sama dengan [Magic Missile] biasa. Akan tetapi, perbedaannya yaitu pada skill [Ex Magic Missile], Cooldown telah dihilangkan. Dengan kata lain, aku bisa menembakkannya sebanyak mungkin.
Meskipun, jumlah Mana yang harus dikeluarkan akan semakin meningkat seiring dengan jumlah peluru sihir yang ditembakkan secara bersamaan. Tapi itu bukanlah masalah yang terlalu besar. Sekarang….
‘Duar. Duar. Duaaar!’
Seluruh peluru Magic Missile itu menghantam masing-masing targetnya. Meskipun terlihat mudah, pada pelaksanaannya cukup sulit karena Player atau NPC harus menentukan target yang akan dikunci oleh Magic Missile itu.
Tapi hal itu hanyalah hal yang sangat sepele bagi orang yang sangat berbakat seperti Lucien.
“Terimakasih atas bantuanmu, Lucien!” Teriak Chris yang saat ini telah mulai berlari ke arah target berikutnya.
“Fufufu…. Manusia lemah sepertimu takkan mampu memotong gajah itu tanpa bantuanku!”
Di sisi lain….
Pertempuran yang sengit antara Prajurit Salvation serta para Monster dengan Barbarian sedang terjadi di luar dinding Dungeon Perbatasan.
Pasukan jarak dekat, baik manusia maupun monster berjuang sekuat tenaga untuk menahan serbuan dari para Barbarian ini. Mereka menahan para Barbarian untuk mendekati dinding dan meletakkan tangga.
“Tembak!” Teriak seorang Wanita dengan rambut merah muda, Elin.
‘Wuooossh! Wuoooossh!!!’
Bersamaan dengan perintahnya, ribuan anak panah melesat ke tengah medan pertempuran itu.
‘Jleb! Jleeeeb!!!’
Sebagian besar dari panah itu telah menusuk tubuh para Barbarian. Meskipun, mereka tak mati dengan segera. Tapi setidaknya, hujan panah itu dapat mengurangi sebagian besar Health Point yang mereka miliki.
“Incar bagian belakang agar tidak mengenai pihak kita! Terutama, incar para penunggang badak itu!” Teriak Elin kepada seluruh pemanah yang berada di atas dinding.
Tanpa menjawab, para pemanah segera mengarahkan busur mereka sesuai dengan perintah Elin.
“Tembak!”
Dan begitulah…. Pertempuran mulai menjadi sangat ricuh.