
...Perhatian!...
...Chapter berikut ini mungkin dapat membuat beberapa pembaca tidak nyaman. Diharapkan kebijakannya dalam membaca....
...Jika tidak siap hati, mending di skip ke chapter berikutnya (saran : langsung ke chapter 23)...
Segera setelah aku kembali ke dalam dunia Re:Life, aku mendapati puluhan petualang sudah mengantri. 2 Goblin tingkat Epic yang ada mampu memberikan informasi dengan tepat mengenai diriku kepada mereka semua.
'Siapa sangka bahwa setelah mencapai tingkat Epic mereka dapat berbicara layaknya manusia?' Pikirku dalam hati. Tapi itu adalah hal yang bagus.
Siang dan malam para pengunjung datang tiada henti. Sihir pemanggilanku juga bekerja tanpa instirahat hingga tanpa kusadari telah mencapai tingkat Pemula Level 6. Meskipun tidak memberikanku skill baru, tapi kini aku bisa memanggil 8 monster secara bersamaan. Hal ini menghemat waktu pemanggilanku mengingat setiap pemanggilan memiliki efek animasi yang cukup lama.
Untuk meningkatkan kemampuan pemanggilanku, aku menggunakan item Ring of Mana Recovery yang kuperoleh dari salah satu petualang meningkatkan kecepatan regenerasi mana hingga 40%. Petualang itu ingin membeli 100 goblin akan tetapi tidak memiliki uang sama sekali.
Sungguh aneh. Oleh karena itu dia menawarkan cincin ini sebagai gantinya. Dapat dikatakan bahwa cincin ini jauh lebih berharga daripada 20 koin emas karena efeknya membuat diriku mampu memanggil lebih banyak goblin.
Waktu yang dibutuhkan untuk mana point milikku penuh dari angka 0 hingga 30.000 normalnya adalah 1 jam. Akan tetapi dengan item yang kini kumiliki, aku hanya membutuhkan waktu 40 menit untuk itu.
Dengan kata lain, aku mampu memanggil 15 goblin tiap 40 menit atau sekitar 22 goblin tiap jamnya. Meskipun jumlah ini masih rendah tapi itu bukanlah masalah bagiku... jika itu adalah diriku yang dulu.
Saat ini jumlah pelanggan sudah berada jauh di luar kendaliku. Aku bahkan harus menggunakan sistem pemesanan kepada pelanggan agar aku tidak kuwalahan dalam memenuhi permintaan mereka.
'Aku harus menemukan cara yang lebih baik lagi dalam memanggil monster. Apapun alasannya, jumlah konsumsi mana untuk pemanggilan ini sangat gila!'
Sejak saat itu, pelanggan hanya datang sesuai jadwal yang telah kutentukan sebelumnya. Sehingga mereka tidak perlu mengantri dan menunggu lama untukku memanggil para monster. Ya meskipun mereka tidak tahu bahwa aku melakukan pemanggilan.
Aku mengatakan kepada mereka bahwa aku adalah seorang penjinak monster dan memiliki goblin sebagai bawahanku.
'Seharusnya aku membuat sistem pemesanan dari awal... hah.... Dengan begini aku bisa sedikit bersantai karena pembeli hanya datang sesuai jadwal yang kubuat.'
Setelah sedikit bersantai, aku memutuskan untuk melihat jendela statusku setelah 2 hari tidak kuperhatikan.
【Nama : Eric】
Level : 41
Ras : Manusia
Health Point : 12.710
Mana Point : 32.047 (4.797 + 27.250)
Stamina Point : 3.116
Attack Power : 328
Magic Power : 805 (600 + 205)
Defense : 215 (205 + 10)
Status :
Str : 327
Agi : 205
Int : 480 (369 x 1,3)
Vit : 410
Sta : 246
Dex : 82
Growth Status (Stats diperoleh per level) :
Str : 8
Agi : 5
Int : 9
Vit : 10
Sta : 6
Mastery :
Teknik Pedang : Pemula lv. 4
Teknik Perisai : Pemula lv. 2
Teknik Sihir : Pemula lv. 5
Teknik Menambang : Menengah lv. 7
Teknik Bertani : Pemula lv. 9
Teknik Memancing : Pemula lv. 6
Teknik Summoning : Pemula lv. 6
Teknik Kontrak : Pemula lv. 4
Monster Index :
Slime (Normal) Lv. 8 (1500 MP)
Goblin (Normal) Lv. 22 (2000 MP)
Skill Soul Container saat ini sudah berada pada level 3 yang memungkinkanku untuk menyimpan 300 jiwa monster panggilan.
Aku yang cukup puas dengan ini memutuskan untuk log out. Aku telah mengatur jadwal pengambilan monster setidaknya 1 minggu kedepan termasuk pesan singkat yang menjelaskan bahwa aku akan log out.
Waktu yang ada di jendela menu sudah menunjukkan 00:04:31 menandakan sisa waktu sewaku hanya kurang dari 5 menit.
Kesadaranku kembali ke dunia nyata setelah aku log out. Kapsul terbuka dengan perlahan dan akupun melangkah keluar dari tempat persewaan ini.
Hal pertama yang aku sadari adalah aku sangat kelaparan dan haus. Wajar saja karena aku hanya makan mi dan minum dua gelas air hari ini.
"Haruskah aku membeli makanan enak dan sedikit memanjakan diriku?" Ucapku pada diriku sendiri sambil tersenyum.
"Aku penasaran. Jika aku menunjukkan uang hasil dari diriku bermain Re:Life selama kurang dari sehari ini kepada Ayahku, seperti apa ya reaksinya kira-kira? Mungkin aku akan mencoba pulang ke rumah dan mengejutkan mereka setelah makan. Meskipun aku sudah membayar sewa kamar kos selama 2 hari, sepertinya bukan masalah besar lagi saat ini."
Aku memasuki suatu warung makan dan memesan makanan seafood. Meskipun harganya mencapai Rp. 50.000 untuk satu set lengkap, tapi kurasa tidak masalah jika aku sedikit memanjakan diriku dari hasil perjuanganku.
Tapi, saat aku mengambil ponselku untuk mengecek waktu... aku terkejut bukan main.
[279 panggilan tidak terjawab]
[132 pesan baru]
'Hah? Apa-apaan ini?'
Aku memutuskan untuk membukanya. Aku yakin bahwa ini merupakan candaan dari beberapa kawan SMA ku dulu.
Akan tetapi dugaanku salah. Semua panggilan berasal dari nomor Ayah dan Ibuku. Begitu pula dengan pesan singkatnya.
Hanya 1.
1 pesan dari Rina.
[Kakak, aku minta maaf jika selama ini aku bersikap buruk kepadamu. Tolong segera berbaikan dengan Ayah dan Ibu. Dan juga, aku mohon biarkanlah aku bersikap egois setidaknya kali ini saja.]
Pesan singkat itu disertai sebuah gambar sekolah tempat Rina belajar. Akan tetapi kamera hanya mengarah ke bawah dari suatu jendela yang nampaknya berada di lantai 4.
'Ti... tidak mungkin Rina akan melakukan hal sebodoh itu.'
Sebelum aku sempat menenangkan diriku, tiba-tiba ponselku berdering dengan nama pemanggil 'Ibu' di layarnya.
"Bu? Ada apa ya?"
"Darimana saja kamu! Rina ada di rumah sakit, Nak!"
Teriakannya yang disertai isak tangis sungguh menyayat hatiku. Apalagi mendengar kabar bahwa Rina berada di rumah sakit.
'Ja-jangan bilang!'