The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 66 - Dungeon Manifestation


Pasukan Kerajaan Suci Celestine sebanyak itu tiba-tiba muncul entah darimana. Tapi satu hal yang pasti, mereka sedang bersiap untuk menyerang Dungeon yang telah susah payah aku dan Elin buat. Tentu saja aku tidak akan membiarkan mereka seenaknya.


“Elin, jika kau hanya ingin duduk disitu, sebaiknya kau segera pergi. Kalian para goblin dan kobold yang ada di lantai ini! Bersiaplah untuk pertempuran!” Teriakku dengan lantang.


“Tuanku, biarkan aku menemanimu.” Ucap Oliver yang masih berdiri di sebelahku.


“Bodoh, jika kau mati siapa yang akan menjadi Raja mereka? Segera pergi dan amankan semua goblin yang lemah!” Balasku.


Oliver hanya mengangguk mendengar perintahku itu lalu segera pergi. Sedangkan Elin masih duduk di atas jalanan dengan tubuh yang nampak lemas.


“Windtalk.” Aku pun segera mempercepat gerakanku dan mendekat ke arah pasukan itu berkumpul. Tempat mereka berdiri adalah tanah lapang yang menghubungkan antara Labirin di lantai 0 dan Kota Origin di lantai 1. Luasnya cukup untuk menampung mereka semua bahkan masih banyak tempat yang tersisa.


Melihatku berlari dengan cepat ke arah mereka, pasukan Kerajaan Suci Celestine memperkuat pertahanan mereka. Mereka segera membentuk dinding perisai dengan tombak yang ada di setiap celah perisai itu.


Lebih dari 10.000 goblin dan kobold mengikutiku dari belakang dengan jarak yang cukup jauh dariku. Mereka sudah siap untuk bertarung hingga mati. Di sampingku terdapat 10 Goblin Knight dan 10 Goblin Magician. Aku yakin dengan bantuan kekuatan mereka aku bisa sedikit membalikkan keadaan disini.


Selain itu….


‘Aku belum pernah menggunakan Skill ini sama sekali… tapi sekarang adalah saat yang tepat untuk mencobanya!’ Teriakku dalam hati.


Setelah cukup dekat dengan pasukan musuh, dimana medan cukup lapang, aku pun segera menggunakannya.


“Dungeon Manifestation! Barrack!” Teriakku dengan keras.


Seketika, tanah lapang tempatku dan seluruh pasukan monsterku beserta ribuan ksatria musuh berubah menjadi Dungeon Barrack yang telah kubangun di Kerajaan Salvation.


Seluruh pasukan Kerajaan Suci itu terpisah ke 5 lantai yang ada di Dungeon ini. Tentu saja yang paling beruntung adalah yang masuk ke lantai ke 5 atau ruang harta. Sedangkan yang lain? Mereka ditempatkan ke 4 lantai yang memiliki Spawn Monster dalam jumlah yang sangat banyak.


Meski begitu, dari 10.000 lebih Goblin dan Kobold yang mengikutiku, hanya sedikit yang masuk ke dalam Dungeon Manifestation ini. Mungkin karena mereka terlalu jauh dariku pada saat aku menggunakan Skill ini. Tapi itu bukanlah masalah.


Melihat kondisi ruangan sekitar, nampaknya aku berada di lantai 1 atau lantai paling atas. Aku bersama dengan 3 Goblin Knight dan 1 Goblin Magician serta beberapa ratus pasukan goblin.


Para Ksatria musuh yang awalnya panik kini telah memperoleh kembali kesadaran mereka dan mulai membentuk formasi. Jumlah mereka mungkin sekitar 400 orang lebih.


Tapi aku cukup tenang. Kenapa? Itu karena aku berada di dalam Dungeon. Dengan kata lain, skill pasifku yaitu [Master of The Dungeon] akan aktif dan meningkatkan seluruh statusku sebesar 50%. Kini aku benar-benar menjadi sebuah boss di dalam Dungeon.


“Sekarang mari kucoba skill baruku. Magic Barrage!” Ucapku sambil mengarahkan kedua lenganku ke depan.


Di hadapanku muncul sebuah lingkaran sihir yang cukup besar dengan warna biru tua. Sesaat setelah itu, 60 peluru sihir muncul dan ditembakkan secara bersamaan, semuanya mengarah ke barisan prajurit yang ada di hadapanku.


‘Duaaar!! Duaar! Duaaaarrr!!!’


Suara ledakannya cukup keras dan memekikkan telingaku. Tapi hasil akhirnya sangat memuaskan.


[Anda telah memberikan 3.472 Damage!]


[Anda telah memberikan 3.678 Damage!]


[Anda telah memberikan 3.119 Damage!]


[Anda telah memberikan 3.751 Damage!]


[Anda telah memberikan …. ]


Karena sihir ini memiliki Damage tipe Area, maka setiap ledakan peluru sihir juga akan menimbulkan kerusakan di area sekitarnya.


400 lebih prajurit yang telah berbaris dengan rapi itu kini berceceran. Sebagian besar mengalami luka-luka yang serius. Berdasarkan notifikasi sistem, aku telah membunuh setidaknya 80 dari pasukan itu.


“Thunder Storm!”


Lingkaran sihir dengan warna kuning muncul diatas ruangan ini. Ukurannya cukup besar yairu memiliki radius sekitar 20 meter. Sesaat setelah itu, muncul badai petir yang menyambar setiap orang yang ada di dalam area itu.


‘Jedaaaarrr!!! Duaaaarrr!!!’


“Aaaah!!!”


“Tidak!!!”


“Tuan Leo, tolong kami!”


Teriak setiap prajurit yang melihat rekannya menerima sambaran petir itu. Dengan total 40 sambaran petir, 30 orang lebih mati seketika.


Setelah mengalami panik yang cukup besar, aku memerintahkan pasukan goblin yang ada di sisiku untuk membantai mereka semua. Tentu saja aku terus menerus memanggil pasukan goblin yang baru serta menembakkan Magic Missile sesekali. Kenapa harus goblin?


Tentu saja karena goblin panggilanku memulai hidupnya dari level 47. Sedangkan Kobold dan Slime hanya memulai dari level sekitar 15. Itulah alasannya kenapa aku terlalu mengandalkan Goblin hingga sekarang.


“Jumlah total Manaku… 400.000 lebih? Hahaha…. Bahkan regenerasinya mencapai 390 per detik. Biaya dari aktivasi Dungeon Manifestation ini hanyalah 200 Mana Point per detik. Hahaha….” Ucapku pada diriku sendiri sambil tertawa.


Tak cukup sampai di situ, aku segera memasang banyak jebakan panah yang aktivasinya adalah sesuai perintahku. Pasukan musuh tidak perlu menginjak suatu pemicu dan aku hanya perlu mengatakan ‘tembak.’ Kelemahannya? Aku harus berada di dalam ruangan yang sama dengan jebakanku.


“Tembak!”


Ratusan perangkap panah melontarkan anak panahnya ke depan. Sebagian besar menusuk tubuh para Ksatria suci itu. Meskipun sebagian yang lain mampu ditahan dengan perisainya.


“Tuan, Leo! Tolong kami!!!” Teriak para Ksatria yang berhadapan denganku.


...***...


“Kemampuan untuk mengubah realitas dunia? Sesaat sebelumnya tempat ini adalah gua bawah tanah, tapi sekarang menjadi bangunan? Sungguh… kekuatan Summoner harus segera disegel.” Ucap seorang Pria dengan rambut pirang dan topeng perak di wajahnya. Ya, dia adalah Leo.


Leo nampak santai sambil memegang pedang dengan gagang emas di tangan kanannya serta perisai besar di tangan kirinya. Ia berdiri di tengah ruangan sendirian. Tak ada apapun di ruangan ini. Itu semua karena seluruh Ksatria suci yang ada di pihaknya telah mati. Begitu juga pihak monster.


Leo dan pasukannya terlempar di lantai 4 Dungeon Barrack. Lantai ini didesain secara khusus untuk menjadi tempat pelatihan para petinggi Guild Salvation. Hasilnya? Hanya monster dengan tingkat evolusi ketiga yang muncul. Goblin Knight, Goblin Marksman, Goblin Magician, dan Kobold Knight.


Semua monster itu muncul secara bersamaan dari segala sisi dan mengeroyok para Ksatria Suci. Bahkan bala bantuan yang berasal dari lantai 5 juga telah musnah. Di tengah suasana yang sangat ricuh itu, hanya Leo yang mampu bertahan. Tatapannya sangat tajam melihat ke berbagai sisi ruangan besar ini.


Terdapat banyak ruangan-ruangan yang lebih kecil di tempat ini. Setiap ruangan itu sebelumnya memuntahkan ratusan monster yang dengan cepat menyerang para Ksatria Suci tanpa memberi kesempatan untuk berfikir.


Tapi kini, hanya Leo sendirian yang tersisa di ruangan ini.


“Aku mendengar teriakan dari atas... Sekarang… dimana kau berada, Summoner?” Ucap Leo sambil melangkahkan kakinya secara perlahan. Tangan kanannya memegang pedang itu dengan sangat kuat. Menunjukkan tekad bulat Leo untuk menyegel kekuatan Eric.


...___________________________________...


...[Sebelum lanjut membaca]...


...[Ada baiknya untuk menekan tombol Like]...


...[Dan juga meninggalkan komentar dalam bentuk apapun]...


...[Tak ada ruginya bagi kalian]...


...[Tapi percayalah, hal sederhana itu yang menyemangatiku untuk terus menulis]...