The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 214 - Keraguan


...Kerajaan Salvation...


...Kota Reinard...


[Aku akan segera mati! Pahlawan Pedang telah membantai kami semua!]


Pesan itu ditampilkan di sebuah jendela menu sistem milik Alice. Ia membagikan informasi itu kepada beberapa orang, termasuk Chris.


“Sekuat itukah Pahlawan Pedang sehingga mampu untuk membunuh tiga orang Player terkuat di pihak kita?!” Tanya Chris dengan geram. Meski begitu, kini Ia menahan amarahnya.


“Sepertinya memang begitu. Lagipula, Sophia adalah orang yang sangat bisa dipercaya. Aku rasa dia takkan berbohong. Terlebih lagi saat ini karakternya benar-benar mati.” Balas Alice dengan tenang.


“Hmm….”


Chris hanya terdiam mendengar hal itu.


Setelah beberapa saat memikirkannya, Ia kemudian tersadar akan kesalahannya.


“Sudah ku duga menyerang secara langsung di Ibokota adalah hal yang buruk. Untung saja yang kita kirimkan hanyalah Player yang bisa hidup kembali. Sekarang, kita butuh informasi lebih banyak lagi.


Alice, Neo. Kumpulkan sebanyak mungkin informasi mengenai pahlawan ini. Waktu kalian adalah satu hari! Setelah itu kita akan menyerang mereka habis-habisan!" Perintah Chris dengan tegas.


“Baiklah… baiklah.” Ucap Alice dengan lesu sambil membuka lingkaran sihir berwarna biru miliknya. Neo yang sejak tadi hanya terdiam, kemudian mulai berbicara.


“Bagaimana…. Jika kita fokus untuk mengumpulkan lebih banyak informasi terlebih dahulu? Sosok Pahlawan ini…. Terlalu misterius sehingga dapat merusak seluruh rencana yang dibangun.” Jelas Neo sambil sedikit membalik badannya.


“Bukankah itu yang sedang kulakukan?” Balas Chris dengan nada datar.


“Tidak. Bukan itu maksudku. Tapi berhentilah berfokus pada penyerangan dan benar-benar mendedikasikan waktu untuk meneliti musuh lebih lanjut. Kemudian…”


“Ditolak. Musuh akan semakin kuat seiring berjalannya waktu. Oleh karena itu kita harus segera menyelesaikannya secepat mungkin.” Balas Chris memotong perkataan Neo sambil segera berdiri dari duduknya.


Mendengar hal itu, Neo hanya terdiam dan mengangguk ringan. Segera setelah itu, Ia mengikuti langkah kaki Alice dan menghilang di balik balutan cahaya biru yang indah.


...***...


...Kerajaan Farna...


...Kota Forgia...


Di dalam Sebuah Bangunan Tua


“Jadi dimana kita?” Ucap Neo sesaat setelah keluar dari balik cahaya biru lingkaran sihir teleportasi.


“Kota Forgia. Sophia menuliskan koordinat tempat ini sesaat sebelum kematiannya.” Balas Alice dengan nada datar khas miliknya.


Tapi sangat berbeda dengan rencana, Alice justru segera duduk dan bersandar pada dinding kayu itu.


Melihat hal itu, Neo nampak kebingungan.


“Alice? Apa yang kau lakukan? Sekarang bukanlah saatnya untuk bersantai. Kau tahu itu kan?” Tanya Neo sambil mendekati Alice. Ia bahkan mengulurkan tangannya seakan mengajak Alice segera berdiri dari duduknya.


Tapi Alice hanya menepis uluran tangan Neo sambil bertanya suatu hal yang sangat sensitif.


“Neo. Jujurlah padaku. Bagaimana menurutmu tentang Chris?”


...***...


...Halaman Istana...


...Kota Forgia...


Di halaman depan istana yang tak terlalu megah ini, nampak ratusan prajurit sedang memandu penduduk Kota Forgia ke dalam istana. Beberapa nampak diarahkan ke barak pasukan. Tujuannya hanya satu yaitu untuk memberikan perlindungan kepada para penduduk sipil jika pertarungan akan terjadi.


“Terimakasih.”


Sementara itu, Arlond nampak sedang berdiri di bagian terdepan. Ia ditemani oleh beberapa menterinya.


“Seberapa jauh proses evakuasi telah berlangsung?” Tanya Arlond singkat.


“Kemungkinan masih seperlimanya saja, Yang Mulia.” Balas salah seorang Ksatria yang ada di hadapannya.


“Percepat evakuasi!”


“Dengan segera!” Balas Ksatria itu lalu segera pergi untuk melanjutkan proses evakuasi.


Tapi pada saat Arlond sedang sibuk melakukan berbagai hal, nampak seorang Pria dengan jubah hitam keunguan yang berdiri di sebelah bangunan tua. Ia nampak memandangi Arlond secara terus menerus.


‘Dia kan….’ Pikir Arlond dalam hati setelah melihat sosok orang yang ada di sebelah bangunan tua itu.


“Aku akan pergi untuk beberapa saat. Sisanya, akan ku serahkan pada kalian semua.” Ucap Arlond sambil melangkah pergi meninggalkan tempat ini.


Seluruh Ksatria dan Menteri yang sebelumnya ada di sebelahnya dengan segera memberikan respon yang sama sambil membungkukkan badan mereka.


Setelah beberapa saat melangkah, Pria berjubah itu segera berjalan menjauhi kerumunan dan memasuki sebuah rumah tua yang gelap.


Arlond mengikutinya dengan santai. Bukan tanpa alasan, tapi karena Arlond sangat mengenal sosok yang sedang memandu jalannya itu.


Setelah tiba di dalam rumah tua itu, Arlond segera menutup pintu dan jendela rapat-rapat. Mereka bahkan tak menyalakan satu pun penerangan baik menggunakan obor, lentera, atau pun sihir.


Semua itu demi menjaga keamanan informasi yang akan disampaikan di tempat ini.


“Aku telah membunuh tiga orang yang menyusup. Aku tak tahu seberapa banyak jumlah mereka, ataukah mereka sudah memanggil bala bantuan dengan lingkaran sihir teleportasi. Tapi yang jelas, kau sebaiknya bersiaga. Musuhmu kali ini sangatlah kuat. Dan aku tak akan berada di sini sepanjang hari untuk melindungi Kerajaan ini.”


Pria itu menjelaskan semuanya dengan detail sambil membuka kerudung pada jubahnya. Di balik jubah itu, terlihat seorang Pria dengan wajah yang lesu dan bermata merah menyala. Rambut putihnya yang cukup panjang itu hanya menambah kesan intimidasi pada lawannya.


Tapi kini ada sesuatu yang sedikit berbeda dari Pria itu.


Di atas kepalanya, kini kembali muncul tulisan dengan warna hitam pekat.


‘Evan’


“Terimakasih banyak atas bantuanmu. Aku tak tahu bagaimana seharusnya aku membalas hal ini. Sesuai dengan saranmu, aku akan sangat berhati-hati.” Balas Arlond sambil menundukkan kepalanya ke arah Evan.


“Jika kau ingin berterimakasih padaku, maka katakanlah kepada Eric bahwa aku akan pergi selama beberapa saat bersama dengan beberapa bawahanku. Untuk itu, aku akan meminjam kekuatan teleportasi antar Dungeon miliknya. Ah, dan minta dia untuk membangun Dungeon di wilayah Teokrasi Julia dan juga Kekaisaran Avertia.”


Evan kemudian menjelaskan semua rencananya secara rinci kepada Arlond. Termasuk, rencananya untuk mengumpulkan relik suci demi memperoleh kekuatan yang besar.


Mendengar hal itu, Arlond sangat terkejut karena tidak menyangka bahwa hal itu dapat dilakukan oleh Player. Meski begitu, Ia hanya bisa mendukungnya.


“Aku akan selalu mendukungmu, Evan. Jika kau butuh bantuan, aku akan segera berlari untuk menolongmu. Oleh karena itu, berhati-hatilah. Tak sepertiku dan Eric, kau hanya memiliki satu nyawa. Jika kau mati maka….”


“Aku yang paling mengerti akan hal itu. Kalau begitu, sampai jumpa lagi.” Balas Evan memotong perkataan Arlond. Ia pun segera mengenakan kembali jubahnya. Nama hitam yang berada di atas kepalanya segera menghilang, bersamaan dengan dirinya yang meninggalkan rumah tua ini.


Kini, Arlond yang masih sendirian di dalam rumah tua itu mulai berpikir dengan keras.


Bukan masalah apapun, tapi memikirkan cara untuk mengakhiri peperangan yang berat sebelah ini secepat mungkin.


Pada saat itulah Ia tersadar.


Bahwa bertahan saja tidak akan membuahkan hasil sama sekali. Terlebih lagi jika yang menyerang Kerajaan Farna adalah Player. Meskipun mereka mati, beberapa hari kemudian mereka akan kembali bangkit untuk menyerang lagi dan lagi.


Oleh karena itu….


“Baiklah. Sekarang bagaimana jika aku dan keenam pahlawan menyerang Kerajaan Salvation tepat di jantungnya? Reinard misalnya?”