
“Elina! Kembali kemari dan kerjakan PR mu!” Teriak Ayahku dengan keras.
“Nanti saja Ayah! Sekarang aku mau bermain game dulu dengan temanku! Daah!” Balasku sambil berlari keluar dari pintu besar itu.
“Dasar anak jaman sekarang…. Mungkin sebaiknya memang kukatakan padanya mengenai….”
“Jangan katakan mengenai hal itu, Sayang. Kita tidak ingin membuat putri kita satu-satunya memikul beban pikiran yang berat kan?” Balas seorang wanita dengan rambut hitam yang panjang.
“Baiklah….” Balas Ayahku sambil menghela nafas yang panjang. Di tangannya terdapat banyak lembaran kertas.
...***...
“Elina! Kau telat sekali! Sebaiknya kau bawa uangnya kan?!” Teriak seorang gadis dengan rambut yang disemir pirang.
“Tenang saja aku bawa, ini….” Ucapku sambil mengeluarkan uang dari sakuku.
Belum sempat menyelesaikan perkataanku, gadis itu segera merebut uangnya.
“Bagus sekali! Ayo sekarang kita bermain game!” Balasnya dengan suara yang cukup keras sambil mengangkat tangan kanannya.
Namanya adalah Tiara. Biasa dipanggil Tia. Dia merupakan sahabatku satu-satunya di sekolah ini. Meskipun…. Agak aneh rasanya jika dia selalu meminta uang kepadaku. Tapi itu bukanlah masalah bagiku. Jika aku kehabisan uang, aku hanya perlu memintanya kepada Ayahku.
“Mau main apa hari ini?” Tanya Tia.
“Mmm…. Aku ngikut saran Tia aja deh.”
“Oke! Kalo gitu ayo pertama kita belanja ke Mall dulu!” Balasnya sambil menarik tanganku.
Pada akhirnya, kami berdua bermain hingga malam hari. Jujur saja, hari itu merupakan hari yang paling membahagiakan bagiku.
Hingga….
Aku kembali ke rumah….
‘Brak….’
Aku menjatuhkan tasku ke tanah melihat keramaian yang ada. Banyak orang yang datang. Entah apa yang mereka lakukan tapi nampak jelas banyak petugas kepolisian yang menghalangi mereka untuk masuk.
Aku yang mencoba untuk menerobos masuk dihentikan oleh salah seorang petugas.
“Biarkan aku lewat! Ini rumahku! Cepat biarkan aku lewat!!!” Teriakku sambil meronta-ronta berusaha melepaskan diri dari petugas yang menghalangiku.
“K-kau…. Jangan katakan bahwa kau putri dari mereka berdua?!” Jawabnya sambil menunjukkan ekspresi takut yang bercampur sedih.
“Iya! Sekarang jika kau sudah mengerti biarkan aku….”
“Ikutlah denganku….” Ucapnya singkat.
Petugas itu segera membawaku ke dalam rumah. Suasana yang mengerikan merusak keindahan rumah ini. Terlihat di ruang tamu, Paman dan Bibiku sedang menangis.
“Paman… ada apa?” Tanyaku penuh dengan rasa penasaran.
“Ayah dan Ibumu… mereka….”
Setelah itu, Paman dan Bibiku menjelaskan semuanya. Nampaknya Ayah dan Ibuku sedang pergi menuju ke suatu tempat namun mengalami kecelakaan dengan sebuah truk pikap yang berlawanan arah. Mobil yang ditumpangi oleh Ayah dan Ibuku terbakar dan akhirnya meledak.
Entah apa yang mereka katakan selanjutnya aku tak dapat mendengarnya lagi.
Itu semua karena aku terlalu sibuk untuk menangis.
Aku tak dapat berhenti untuk menangis.
Hingga pada akhirnya semua orang telah pergi dan meninggalkanku sendirian. Paman dan Bibiku telah lama pulang kerumahnya, bersiap untuk keperluan esok hari. Entah apa yang mereka kerjakan namun mereka sibuk dengan tumpukan kertas.
Aku heran… di saat Ayah dan Ibuku tiada, kenapa mereka bisa tersenyum saat mengerjakan tumpukan kertas itu? Tapi aku masih tidak bisa peduli.
Akhirnya aku tertidur dengan lelap….
Untuk terakhir kalinya.
...***...
“A-aku tidak mengerti dengan maksud Anda. Ini adalah rumah keluargaku dan….”
Belum sempat menyelesaikan perkataanku, 3 orang Pria berjas hitam segera menerobos masuk. Mereka bersama seorang wanita tua dengan perhiasan yang melimpah.
“4 lantai, dengan total luas tanah 872 meter persegi dan luas bangunan 1874 meter persegi…. Dekorasi rumah ini juga cukup bagus. Kau periksalah lantai 1 dan 2, dan kau periksa lantai 3 dan 4.” Ucap salah seorang yang mengenakan jas hitam.
“Tu-tunggu dulu! Kalian tidak bisa seenaknya….” Aku yang berusaha mengutarakan pendapatku segera dihentikan oleh wanita tua itu.
Ia menyodorkanku sebuah surat yang sangat sulit kupahami.
“Rumah ini telah disita. Sayang sekali bagimu, gadis kecil. Tapi orangtuamu telah meninggalkan banyak sekali hutang. Dan rumah ini akan melunasi sebagian dari hutang itu.” Jawabnya sambil menunjukkan bagian-bagian dari hutang keluargaku.
“Tu-tunggu! A-Ayahku tidak pernah berhutang! Dan juga perusahaannya….”
“Aku turut berduka padamu, gadis kecil. Tapi surat ini telah ditandatangani oleh Pamanmu mewakili Ayahmu.” Jawabnya singkat.
‘Paman? Tapi kenapa?’
“Jika kau sudah paham, segera kemasi barangmu dan pergi dari sini.”
Itulah ucapan terakhir yang bisa kudengar dari wanita tua itu sebelum menendangku keluar dari rumahku sendiri.
Tanpa berpikir panjang, aku segera pergi ke rumah Pamanku.
‘Ding dong!’
‘Ding dong!!’
Tapi berapa kalipun aku menekan bel pintu, tak ada siapapun yang datang menjawabku.
‘Apakah Paman masih pergi?’ Tanyaku dalam hati. Akupun segera meninggalkan tempat itu.
Tapi waktu tak pernah menungguku siap.
‘Ah, bagaimana jika aku menginap di rumah Tia?!’ Pikirku dalam hati. Nampak senyum lebar di wajahku pada saat itu.
[Tia! Bisakah aku menginap di rumahmu? Kau tahu aku….]
Akupun menjelaskan situasiku sendiri. Hanya berselang beberapa menit saja, Tia sudah membalas pesanku.
[Oh? Tentu saja aku akan membantumu! Kau akan selalu kusambut di rumahku! Bukankah kita sahabat selamanya?]
Tapi jujur saja, ini pertama kalinya bagiku mengunjungi rumah Tia. Aku berjalan hanya bermodalkan alamat yang dia bagikan kepadaku.
Sesampainya disana, aku tersadar kenapa Tia selalu meninta uang kepadaku. Rumahnya sangat kecil dan terlihat begitu kotor. Aku pun mengetuk pintu rumah tua itu.
“Tia! Aku telah sampai! Bukakan pintunya!” Teriakku dari luar rumah.
“Ah…. Selamat datang, Lina. Mari, silakan masuk.” Balas Tia sambil membukakan pintunya untukku.
“Terimakasih, Tia.”
“Jangan pikirkan itu. Ngomong-ngomong kau lapar kan? Ini, makanlah. Mungkin tidak seberapa tapi setidaknya dapat mengganjal rasa laparmu.” Ucap Tia.
Tanpa rasa sungkan aku segera memakannya. Tubuhku sangat lapar karena belum makan apapun sejak pagi tadi.
Tapi…. Kenapa aku merasa kantuk?
Kenapa…?
Aku pun terlelap setelah beberapa saat menyantap hidangan dan minuman yang disajikan oleh Tia. Yang terakhir terlihat di pandanganku yaitu sosok Tia yang sedang mengangkat ponselnya. Mungkin untuk memanggilkanku ambulans? Entahlah… karena saat ini aku sangat mengantuk.
Setelah beberapa saat….
Kesadaranku mulai kembali….
Hal pertama yang aku dengar….
“Oi bodoh! Sudah kubilang segera buka semua pakaiannya!”
“Tunggu sebentar! Tia bilang ingin merekamnya! Ia sedang mengambil kamera di….”
“Dia bisa merekamnya kapan saja! Sekarang kita harusnya….”
Nampak 2 orang lelaku yang sedang berdebat di hadapanku. Mereka hanya mengenakan sebuah celana pendek.
Aku yang segera memahami situasi ini mengumpulkan seluruh sisa kesadaranku dan berusaha untuk bangun.
“Halo Nona Elina, apakah kau sudah ba.. Aaaaa!!!”
Teriak salah seorang Pria itu saat aku menggigit tangannya.
“Kau! Sudah kubilang untuk mengika… Aaaaa!!!”
Sedangkan Pria yang satunya lagi menerima tendangan di wilayah terlarangnya. Aku segera lari dan keluar dari kamar ini.
Untung saja semua pintunya tak terkunci. Bahkan sosok Tia juga tidak terlihat.
Hatiku berdegup kencang.
Penuh akan rasa amarah akan dunia ini.
‘Bukankah aku sudah menceritakannya kepada Tia bahwa aku…. Lalu kenapa dia…?’
Pikiranku bercampur aduk. Aku segera mengambil pakaian secara asal di tumpukan baju yang ada di ruang tamu. Tanpa membuang waktu untuk mengenakannya terlebih dahulu, aku segera pergi….
Jauh….
Meninggalkan rumah terkutuk itu….
...***...
Beberapa bulan telah berlalu semenjak kejadian itu….
Aku telah memperoleh pekerjaan sebagai seorang pramusaji di suatu kafe. Meskipun bayarannya kecil tapi setidaknya bisa menjagaku untuk tetap hidup.
Kini aku juga mampu menyewa tempat tinggal yang setidaknya layak untuk digunakan sebagai tempat tidur. Sebuah kamar berukuran 2x2 meter yang hanya berisi selembar kasur tipis dengan jendela kecil. Tapi aku tidak mempermasalahkannya….
Sekarang yang menjadi masalah adalah….
“Aku paham sekali mengenai kondisimu, Nona. Tapi kami juga tidak bisa menghilangkan begitu saja hutang keluargamu.” Jelas seorang Pria berdasi yang ada di hadapanku.
Kini aku ada di dalam sebuah bank yang menangani hutang milik keluargaku.
“Tapi… seperti yang Anda ketahui bahwa….” Jelasku seraya mencoba untuk meringankan keadaan ini.
“5 Tahun…. Jika Nona Elina tidak mampu melunasinya selama 5 tahun, dengan terpaksa kami harus….”
“Baiklah…. Terimakasih.” Ucapku singkat sambil membawa pergi berkas yang diserahkan oleh Pria berdasi itu.
‘1.2 Miliyar Rupiah…. Dengan bunga majemuk sebesar 5% setiap bulannya…. Bagaimana caraku menangani ini?’
Dan itulah, awal mula diriku yang masih berusia 17 tahun mulai berjalan menuju kehancuran.
...___________________________________...
...[Sebelum lanjut membaca]...
...[Ada baiknya untuk menekan tombol Like]...
...[Dan juga meninggalkan komentar dalam bentuk apapun]...
...[Tak ada ruginya bagi kalian]...
...[Tapi percayalah, hal sederhana itu yang menyemangatiku untuk terus menulis]...