The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 65 - Penyusup


Saat aku dan Elin masih dalam kondisi yang panas, tiba-tiba seseorang muncul di belakangku.


Seorang gadis dengan rambut berwarna hitam yang pendek tapi memiliki tubuh yang agak tinggi. Di atas kepalanya nampak nama karakter berwarna putih yang belum disembunyikan melalui pengaturan menu. Hal itu menunjukkan bahwa orang ini baru saja bermain.


‘Rina’


“Oi Rina, sudah kubilang untuk berkeliling dulu kan?” Teriakku kepada Lilsis yang tak lain merupakan Adikku. Ia masih memiliki level 1 karena sesaat setelah bergabung dengan Kerajaan Farna, aku mengantarnya ke dalam Dungeon Origin. Tentu saja dengan bantuan Alice.


“Apakah aku tidak boleh menemui kakak? Ngomong-ngomong apakah dia yang bernama Elin, Kak?” Ucap Rina.


Tapi Elin hanya terdiam mendengar perkataannya.


“Ya, dia Elin. Aku sudah mengetahui gambaran kasarnya, tapi aku masih ingin tahu mengenai alasan Elin melakukannya. Bukankah bisa jadi dia seperti diriku yang dulu?” Ucapku kepada Rina.


Mendengar itu, Elin hanya tersenyum sambil mengarahkan tangannya ke jendela menu yang muncul di hadapannya. Seketika karakternya menghilang. Nampaknya Elin segera Log Out. Entah apa yang dipikirkannya tapi aku masih sedikit marah. Jika Ia tidak melakukannya, maka aku bisa lebih cepat memesan Item dari Aamori.


“Kenapa dia Log Out?” Tanyaku kepada adikku dengan nama karakter Rina.


“Entahlah....” Jawab Rina.


Sesaat setelah itu aku memutuskan untuk mengenalkan adikku pada beberapa orang penting disini. Tak lupa aku juga membagikan otoritas perintah monster kepadanya.


Aku tak berencana berlama-lama disini mengingat aku masih perlu mendengar penjelasan Elin.


“Tuanku, siapakah gadis ini?” Tanya Oliver sambil berlutut. Melihat hal itu, adikku hanya tersenyum sambil menutupi bibirnya. Ia tampak ingin menertawaiku.


“Oi hentikan itu! Aku merasa malu jika dilihat oleh adikku!” Teriakku.


“Oh! Jadi gadis ini adalah adik dari Tuan Eric?!” Teriak Oliver. Ia dengan segera membagikan kabar gembira ini ke seluruh penghuni Dungeon. Aku memperkenalkan Rina kepada semua monster di Dungeon. Diluar dugaanku, Rina nampak menyukai mereka semua.


“Lalu mengenai Nona Elin….” Ucap Oliver.


“Aku akan mengatasi hal itu nanti.” Jawabku.


“Ngomong-ngomong, Rina. Aku sudah cukup lama bermain jadi aku ingin Log Out lalu makan dan tidur. Aku juga ingin bertanya beberapa hal pada Elin. Apakah kau masih akan tinggal disini?” Tanyaku kepada Rina.


“Ya, aku masih perlu mempelajari sistem dari game ini dan juga cara untuk memanfaatkannya. Tenang saja aku juga akan keluar sebelum jam 9 malam untuk beristirahat.” Jawab Rina sambil menunjukkan jendela menunya.


Di jendela menu tiap Player terdapat 2 macam waktu. Yang pertama yaitu waktu dunia Re:Life sedangkan yang ada di pojok kiri bawah menu terdapat waktu dunia nyata yang berjalan 10x lebih lambat. Hal ini sangat membantu Player untuk menentukan kapan mereka sebaiknya Log Out.


“Baiklah kalau begitu. Aku duluan, Rina. Dan juga.… Jika kau bertemu Elin, jangan terlalu keras padanya. Meskipun begitu, dia telah membantuku hingga saat ini.” Ucapku.


“Oke Kak. Tenang saja.” Balas Rina. Setelah itu, aku segera menekan tombol Log Out di jendela menu dihadapanku.


[Apakah Anda yakin akan Log Out?]


[Ya] [Tidak]


Kesadaranku telah berpindah ke dunia nyata. Aku segera keluar dari kapsulku untuk cuci muka lalu makan makanan yang ada. Rina nampaknya memesan makanan cepat saji hari ini. Terlihat 3 potong ayam krispi serta 3 buah bola nasi.


“Padahal sudah kubilang untuk memesan makanan yang sehat… hah, dasar.” Aku menghela nafasku setelah melihat menu makanan hari ini. Setelah makan aku segera mandi dan melirik kamar Rina. Di dalamnya terdapat kapsul dengan merek yang sama denganku. Hanya berbeda warna saja. Nampak jelas bahwa kapsul itu masih aktif digunakan oleh Rina.


Tanpa banyak basa-basi aku segera kembali ke kasurku tercinta.


‘Bzzzztt!!! Bzzzzzttt!!!’


Suara getaran ponselku terdengar begitu mengganggu. Saat aku melihat isinya, nampaknya Elin terus menerus mengirim pesan singkat dalam jumlah yang banyak.


[Pengirim : Elina]


[Erik, aku benar-benar minta maaf kepadamu. Aku tidak ingin melakukan itu tapi kau tahu kan….]


[Pengirim : Elina]


[Erik, apakah kau akan meninggalkanku? Bukankah kita….]


[Pengirim : Elina]


[Pengirim : Elina]


[Apakah kau masih belum Log Out? Jika begitu tolong dengarkanlah aku, kau tahu….]


[Pengirim : Elina]


[Maafkan aku….]


Ratusan alasan dilontarkan oleh Elin. Saking banyaknya hingga aku lelah untuk membaca semuanya. Pada intinya adalah jumlah hutang orangtuanya sangatlah besar dan Elin harus melunasi semua itu dengan segera. Itulah kenapa dia mengambil untung lebih untuk dirinya sendiri. Akan tetapi agar tidak membuatku khawatir dia merahasiakannya.


Jujur saja aku merasa bersalah karena telah memojokkannya seperti itu. Aku tak ingin kehilangan Elin. Tapi di sisi lain aku juga sedikit marah karena dia tidak menceritakannya kepadaku.


Aku pun segera menelfonnya.


“Elin, hentikan itu. Aku tidak akan mempermasalahkannya lagi. Tapi lain kali ceritakan mengenai masalahmu padaku. Bagaimana aku tahu kalau kau sedang dalam kesulitan jika kau tak pernah bercerita padaku?” Ucapku.


“Karena jumlahnya terlalu besar, Eric.... Aku tidak yakin apakah kau akan mengijinkannya… jadi aku….” Ucap Elin yang saat ini juga masih menangis.


“Sudahlah, sebaiknya sekarang kau beristirahat. Aku juga ingin istirahat. Besok kita akan lanjut bekerja lagi seperti biasa.” Balasku kepada Elin.


Tapi nampaknya takdir berkata lain.


Adikku tiba-tiba keluar dari kamarnya dan memanggilku.


“Kakak! Sesuatu yang gawat sedang terjadi! Kurasa kakak harus kembali dengan segera!” Teriak adikku. Elin yang mendengarnya juga memutuskan untuk kembali ke dalam Re:Life.


[Bersiap untuk memindahkan kesadaran]


Pemandangan yang ada di hadapanku segera berubah. Sebuah kota monster yang ramai. Benar-benar pemandangan yang indah. Di sebelahku segera muncul dua orang gadis yaitu Rina dan Elin. Wajah Elin masih nampak sedih namun aku tidak begitu memperdulikannya saat ini.


Ya…. Saat ini….


Pandanganku terpaku hanya pada satu tempat. Jalan masuk ke lantai 1 dari labirin di lantai 0. Di balik pintu besar itu, nampak ratusan… mungkin ribuan orang. Semuanya mengenakan seragam yang sama. Jubah putih dengan zirah berwarna putih. Simbol pedang dengan cahaya kecil berwarna abu-abu terlihat di bagian dada zirah mereka.


Hanya 1 orang yang menggunakan topeng berwarna perak yang menutupi seluruh wajahnya serta memiliki simbol berwarna emas.


Elin terlihat sangat panik dan ketakutan melihat mereka semua. Jujur saja aku juga ketakutan. Tapi mereka semua sudah ada di hadapanku. Apa yang bisa kulakukan? Meminta mereka untuk pergi?


“Elin, apakah orang yang mengenakan topeng itu….”


Belum sempat mendengar pertanyaanku secara utuh, Elin sudah terjatuh di tanah sambil menganggukkan kepalanya.


“Jadi inikah tempat persembunyian para monster itu? Sungguh tempat yang menjijikkan. Semoga Dewi Celestine memberkati kita semua untuk menyucikan tempat yang hina ini!” Teriak Pria bertopeng perak sambil mengangkat pedangnya. Di tangan kirinya terlihat perisai yang sangat besar dengan warna putih dan corak emas.


“Elin, aku minta padamu untuk mengungsikan para petinggi ke wilayah Kerajaan Salvation. Rina, kau juga bantu Elin. Untuk kata sandi penggunaan portalnya yaitu ‘sialan aku lapar sekali.’ Setelah sampai sana, segera minta bantuan kepada orang yang ada disana. Kalian mengerti? Jika iya, segeralah bergerak! Aku akan menahan mereka di sini!” Jelasku panjang lebar.


Rina yang dengan segera memahami situasinya segera bergerak dan mengamankan sebanyak mungkin petinggi monster. Sedangkan Elin masih duduk di tanah sambil menutupi wajahnya.


“Kenapa.... Jika semua ini hancur.... Akankah aku kembali lagi ke neraka itu...?” Ucap Elin dengan suara yang lirih. Air matanya nampak tak mampu berhenti.


...___________________________________...


...[Sebelum lanjut membaca]...


...[Ada baiknya untuk menekan tombol Like]...


...[Dan juga meninggalkan komentar dalam bentuk apapun]...


...[Tak ada ruginya bagi kalian]...


...[Tapi percayalah, hal sederhana itu yang menyemangatiku untuk terus menulis]...