The Dungeon Master

The Dungeon Master
Chapter 82 - Perencanaan Dungeon Baru


6 Maret, 2073.


Tanpa terasa, sudah hampir satu tahun semenjak aku melaksanakan Ujian Nasional itu.


Aku masih ingat dengan jelas keadaanku pada saat itu.


Memperoleh nilai yang sungguh hancur.


Sesampainya di rumah aku dihajar habis-habisan. Ayah dan Ibuku menyalahkanku karena terlalu sering bermain game Re:Life ini. Tapi mau bagaimana lagi? Aku berpikir bahwa aku bisa saja menghasilkan banyak uang dari game ini dulu.


Kenyataannya sungguh pahit. Sebagai player biasa, tanpa memiliki keahlian beladiri yang hebat, refleks yang cepat, apalagi kepala yang pintar, aku hanya bisa berakhir menjadi penambang di dalam game.


Tapi aku terus menjalaninya seakan itu memang kehidupan keduaku.


Hingga akhirnya aku menemukan buku [The Summoner].


Sebuah buku yang merubah semuanya. Tak hanya kehidupanku di dalam game, tapi juga kehidupanku di dunia nyata. Bahkan akhirnya aku bisa membuktikan kepada keluargaku bahwa aku mampu mandiri dengan fokus bekerja di dalam Re:Life.


Di sinilah aku sekarang.


Di dalam sebuah kastil yang sangat megah dan mewah, Forteresse de Deus. Kini Dungeon milik Deus telah memiliki populasi yang cukup ramai, yaitu sekitar 5.000 Vampir dengan tingkat normal. Aku masih belum melakukan evolusi maupun pemberian sigil karena Mana milikku selalu terkuras habis.


Di dalam kastil ini, aku duduk di sebuah kursi perak menghadap ke meja bundar.


Tak hanya diriku saja, Elin dan Rina juga ikut duduk di hadapan meja bundar ini. Tentu saja para petinggi dari Goblin, Kobold dan Vampir juga ikut serta.


Spire, Swardia, Knox, Minis, Lurka, Elrio, Deus, Liz, Tasmith dan juga wakil tiap pengrajin sebanyak 4 orang.


Jumlah totalnya yaitu 16 orang.


Di tengah suasana keheningan itu, aku mulai membuka pembicaraan.


“Seperti yang kalian tahu, Inquisitor pernah menjajah Dungeon ini. Dengan kata lain, kita memiliki pertahanan yang sangat lemah. Meski begitu, kini Dungeon kita benar-benar tersembunyi di balik reruntuhan Kota di lantai satu.” Ucapku sebagai kalimat pembuka.


“Tapi apakah kita akan selalu seperti ini? Bagaimana jika akan ada orang lain yang menemukan pintu masuk rahasia ke Lantai 2? Untuk itulah! Aku ingin merencanakan pembangunan Dungeon ke 4 dengan fungsi utama yaitu sebagai labirin untuk menahan para penyusup!” Teriakku dengan penuh semangat sambil sedikit memukul meja bundar itu.


Dengan segera, Deus membalas perkataanku.


“Bukan ide yang buruk, Eric. Tapi kau sadar dengan kondisi keuanganmu sekarang kan? Aku menyarankanmu untuk menyiapkan lokasinya saja terlebih dahulu hingga kau punya cukup banyak uang. Sementara itu, fokuslah dalam melakukan penelitian Slime.”


Lagi-lagi Deus membawa nama Slime. Sebuah monster jeli kecil berwarna hijau yang hanya bisa melompat kesana kemari tanpa arah dan tujuan yang jelas.


Aku sudah beberapa kali menuruti permintaannya untuk melakukan evolusi pada Slime. Hasilnya?


[Failed Slime Attempt 73]


[Ras : Slime]


[Rarity : Normal]


[Level : 11]


[Growth Stats]


STR : 1


AGI : 1


INT : 1


VIT : 1


STA : 1


DEX : 1


Aku telah melakukan pemberian sigil dan evolusi kepada satu ekor slime yang sama sebanyak 73 kali. Dan hasilnya sangat parah. Semuanya sama saja. Tidak ada arah evolusi yang pasti dan hasilnya adalah sampah.


“Sudah kukatakan, Deus. Aku masih tidak memahami tentang obsesimu terhadap Slime. Aku sudah mencobanya 73 kali dan hasilnya sama saja.”


“Eric, kau nampaknya tak memahamiku. Slime memiliki potensi yang luarbiasa untuk menjadi makhluk hidup sempurna! Aku pernah melawan seekor slime yang sangat kuat dan bahkan aku harus lari, kau tahu?!” Balas Deus dengan jawaban yang sama setiap kalinya.


Aku pun memilih untuk mengangguk saja dan melanjutkan untuk bertanya kepada Oliver.


“Oliver. Perkirakan berapa lama waktu yang kau perlukan untuk membuat Dungeon seperti ini.” Ucapku sambil menyerahkan selembar cetak biru mengenai rancangan desain Dungeon baru.


Rancangan itu sebagian besar merupakan hasil pemikiran Elin. Ia telah menyusunnya dengan sangat baik dan telah mengalami perbaikan beberapa kali setelah saling berdiskusi denganku dan Rina.


“Hmm…. Sebuah Dungeon dengan jumlah lantai sebanyak 21? Sedangkan luas setiap lantainya…. Kemudian….” Gumam Oliver pada dirinya sendiri sambil memperhatikan cetak biru itu.


Ia juga menunjukkan rancangan itu kepada para petinggi yang lain termasuk Tasmith.


“Tuan, Eric. Rancangan ini sangatlah luarbiasa. Jebakan demi jebakan dan sergapan monster dari setiap sudut. Tiap lantai juga memiliki desain berbeda yang akan membingungkan penyusup. Tapi, bolehkan aku bertanya sesuatu?” Ucap Oliver setelah beberapa saat mencoba memahami cetak biru itu.


“Silakan.”


“Kenapa membangun pintu masuk yang megah di luar pegunungan Alpa ini? Bukankah hal itu hanya akan mengundang para penyusup? Terlebih lagi mengingat bahan yang dituliskan disini, itu akan memakan cukup banyak dana.”


Pertanyaan Oliver memang sangat masuk akal.


Kenapa membangun sebuah gerbang masuk yang megah serta penuh harta? Bukankah semua itu hanya akan memancing penyusup? Terlebih lagi, mereka juga bisa mencongkel dan mengambil perhiasan yang ada di sana!


Sebelum aku sempat menjawab, Elin mengangkat tangannya.


“Biarkan aku saja yang menjelaskannya, Eric.”


Elin kemudian menjelaskan semua rencananya dengan rinci.


Singkatnya, lokasi Dungeon baru ini akan sangat berjauhan dengan lokasi Dungeon Origin berada. Elin juga berencana untuk menyegel tangga masuk dari lantai 1 Dungeon Origin untuk menutup kemungkinan adanya penyusup dari sana.


Semua perhiasan dan kemewahan yang ditampilkan di pintu masuk Dungeon baru itu hanya punya satu tujuan.


Maksud dari kemegahan itu adalah untuk memusatkan mata dan pandangan seluruh player kesana. Hal itu akan membuat pandangan player semakin menjauh dari Dungeon yang sebenarnya yaitu Origin.


Pintu masuk itu akan dibangun paling akhir, setelah seluruh isi Dungeon siap digunakan. Pada saat itu juga, Elin berencana untuk mengumumkan keberadaan sebuah Dungeon misterius kepada seluruh player di dunia. Untuk apa? Tentu saja untuk memanfaatkan Skill Dungeon Master milikku sepenuhnya.


Mengingat pengalamanku dengan Dungeon Barrack, aku memperoleh banyak sekali EXP tanpa perlu melakukan apapun. Dengan kata lain, jika aku membuat Dungeon baru yang terus menerus dijajah oleh player, maka aku juga akan mendapatkan lebih banyak EXP!


Aku hanya perlu duduk santai atau melakukan apapun yang kumau dan EXP akan mengalir dengan deras. Meskipun, aku sedikit takut jika player menyadari bahwa pemilik Dungeon ini merupakan seorang player.


Bagaimanapun, aku juga akan memperoleh penalti PK jika membunuh player dengan nama putih. Meskipun yang melakukannya adalah monster bawahanku sekalipun.


Lalu bagaimana cara pergi ke Dungeon Origin jika jaraknya cukup jauh?


Tentu saja jawabannya terdapat pada lantai 21 Dungeon baru ini. Sebuah lantai rahasia yang hanya bisa diakses olehku, Elin, Rina dan para petinggi Origin melalui lingkaran sihir di lantai 20.


Di dalamnya akan diisi dengan puluhan lingkaran sihir teleportasi yang akan menghubungkan ke berbagai tempat, termasuk Dungeon Origin, Dungeon Barrack, Dungeon Forteresse de Deus, dan juga lantai 1 Dungeon baru itu untuk mengakses dunia luar.


Tentu saja, Kerajaan Salvation menerima kami dengan sangat baik sehingga tidak ada perlunya keluar melalui lantai 1 Dungeon baru. Itu hanyalah sebuah langkah preventif untuk hal-hal yang diluar dugaan.


Untuk penjualan Item, aku menyerahkan semuanya kepada Elin dan Rina. Mereka memutuskan untuk menyetor ke Kerajaan Salvation. Meskipun mereka memungut pajak, tapi itu merupakan hal termudah untuk menjual item dengan aman.


“Eric hanya perlu duduk di singgasana yang cukup jauh jaraknya dengan pintu masuk di lantai 20. Alihkan pandangan mereka dengan harta yang tersimpan disana. Bagaimanapun, kita ingin memanggil sebanyak mungkin penjajah Dungeon! Semakin banyak yang datang, maka kau akan semakin kuat kan Eric!” Jelas Elin.


“Meskipun, kau bisa saja tidak perlu hadir di dalam ruang boss di lantai 20. Kau bisa menunjuk seseorang sebagai boss dungeon dengan memberikan bakat yang kuat serta growth poin dari skill Ascension milikmu.” Lanjut Elin tanpa memberi jeda.


Oliver, Tasmith, Deus dan Liz segera memahaminya.


Semakin banyak penjajah, maka semakin besar keuntungannya.


Untuk itulah Dungeon baru ini harus memamerkan harta yang luarbiasa banyak. Semua itu untuk memancing penjajah Dungeon. Sedangkan pintu masuknya? Biarkan saja jika memang ada yang berencana untuk mencongkeli harta yang ada di sana. Lagipula pintu masuk di Pegunungan Alpa itu hanya semacam umpan.


Beberapa saat setelah keheningan mulai mengisi ruangan meja bundar ini, Elin kembali berbicara.


“Oleh karena itu, sekali saja! Biarkanlah beberapa orang bertahan dan mampu melewati seluruh Dungeon itu! Biarkan beberapa diantara mereka mencapai lantai 20 dan melihat harta yang melimpah!


Sebuah penjelasan yang cukup lebar oleh Elin. Meski begitu, aku hanya menjadi semakin semangat ketika mendengar perkataan itu untuk ke sekian kalinya.


‘Dengan begini…. Aku benar-benar akan menjadi seorang penguasa Dungeon yang sebenarnya!’ Teriakku dalam hati sambil membuat senyuman yang sangat lebar.


..._________________________________________...


...[Author's Note]...


Halo semuanya, Author disini.


Sebelumnya aku ucapin terimakasih banyak pada semua pembaca yang udah setia sampai detik ini.


Jujur aja aku seneng banget karna karya amburadul yang asal-asalan ini bahkan bisa seramai ini.


Terutama bagi kalian yang komen mengenai isi cerita, kritik dan saran, kalian yang terbaek! Tentu aja termasuk kalian semua yang rajin kasih Vote dan Gift.


Dan pada akhirnya, kita telah kembali lagi di titik dimana Eric akan benar-benar menjadi seorang Penguasa Dungeon! Seperti yang udah diperlihatkan di Chapter 0 - Introduksi!


Trus Thor, ini dah gada musuh? Kan si Inquisitor dah anggep mati si Eric.


Jawabannya : Bener!


Si Eric dah ga punya musuh! Untuk saat ini! Kedepannya tentu masih banyak saingan! Bahkan musuh baru!


Tapi tenang saja, cerita ini belum berakhir. Mungkin masih 500an lebih chapter. Who knows?


Lagipula aku udah nulis mpe chapter 86.


Masih banyak yang perlu kubahas.




Apakah motif sebenernya dari Evan?




Guild Seven Star tu sebenernya ngapain sih sama Evan? Trus juga kerjaan mereka ngapain aja?




Kerajaan Chris nasibnya gmana?




Aamori si Pandai Besi Legendaris gmana? Apakah dia sama kek dulu apa gmana?




Udah sering disebut soal Dewa/Dewi dan Raja/Ratu Iblis. Mereka sebenernya apaan sih di dunia virtual ini?




Soal kerajaan/kekaisaran lain masih banyak yang belom kubahas. Yang sudah dibahas juga bukan berarti selesai.




Angelica ni sapa lagi dah Thor. Banyak amat kasi karakter.




Easter Egg yang selalu aku sebar di tiap Chapter juga akan kubahas. (Arlond misalnya bagi yang masih inget). Bahkan 4 orang di samping Eric yang ada di Chapter 0 siapa juga belom tahu kan.




Obelisk nasibnya gmana juga blom jelas.




Deus juga belom bangkit kekuatannya.




Di chapter 8x akan dibahas dikit soal Kompetisi Internasional. Ada PvP, Guild Vs Guild dan kawan-kawannya. Udah kutulis.




Juga udah kusiratin dikit di Chapter kehebohan dunia soal Guild dari Cina dan dari Eropa (bagi yang masih inget). Mereka bakal muncul kok suatu hari nanti.




Dan yang paling gede yaitu Dunia Bawah serta Northern Continent itu isinya apaan aja.




(Extra Note : For those who're wondering, yes. Itu peta aku gambar sendiri make Drawing Tablet sama app medibang) Jadi maap kalo jelek wkwkwk.


Anyway, banyak yang masih perlu kubahas.


Buat kalian yang baca sampe akhir sini....


...'Ttrriiing!'...


...[Pembaca telah mendapatkan 1.000.000 Terimakasih!]...


...[Pembaca memiliki hak untuk memilih!]...


...[Pengen Extra Chapter untuk karakter mana?]...


...[Tuliskan di Komentar!]...


...[Yang paling rame bakal dapet episode khusus!]...


...See ya Tomorrow!...