
...Dungeon Origin...
...Lantai 5...
"Sebenarnya.... Aku telah meminta bantuan dari kelompok Rebellion milik Angie untukmu. Tidak.... Mungkin lebih tepatnya Luna. Mereka akan membantumu melakukan penggempuran di Kota Reinard untuk sebidang tanah seluas 5 hektar, atau sekitar 250 x 200 meter." Jelasku kepada Arlond.
"Hmm? Apakah kau yakin Erik? Tapi mereka tak tahu mengenai identitasmu yang sebenarnya kan?" Tanya Arlond kepadaku dengan wajah sedikit cemas.
Aku hanya bisa menghela nafas mendengar pertanyaan konyol dari Arlond itu. Meski begitu, aku sadar bahwa pertanyaan itu adalah wujud rasa khawatirnya kepadaku.
"Soal itu tenang saja. Aku hanya menceritakan kepada Angie bahwa aku adalah seorang penyihir yang aktif bermain di Kerajaan Farna. Secara tidak langsung, Raja Kerajaan tersebut melirik kemampuanku dan terus meminta bantuanku." Balasku kepada Arlond.
"Syukurlah." Balas Arlond singkat.
Beberapa menit berlalu dengan obrolan ringan tentang rencana serangan balasan kepada Kerajaan Salvation ini.
Hidangan dan cemilan ringan pun datang untuk menemani obrolan kami berdua.
"Jadi mereka juga tak ingin identitasnya terkuak?" Tanya Arlond setelah meneguk susu sapi dingin itu.
"Ya. Maka dari itu mereka akan membantu secara diam-diam tanpa menggunakan skill utama mereka sama sekali. Terlebih lagi, mereka akan menggunakan zirah dan penutup kepala dari Kerajaan Farna untuk menyamarkan identitasnya." Balasku kepada Arlond.
"Lalu bagaimana dengan kemampuan Neo yang pernah kau ceritakan itu?" Tanya Arlond penasaran.
"Mereka akan mengincar Neo segera setelah penyusupan itu dilakukan. Salah seorang anggota mereka, Camilla, merupakan seorang pemanah yang sangat handal. Membunuh seorang tipe Supporter seperti Neo hanyalah hal kecil baginya."
Percakapan pun terus menerus berlangsung hingga membahas mengenai masalah tanah mana yang akan diberikan kepada Rebellion, hadiah tambahan seperti apa yang pantas, hingga kapan pertemuan untuk pembahasan kontrak kerjasama yang resmi akan dilakukan.
Hingga akhirnya, setelah hampir dua jam melakukan obrolan yang cukup berat ini....
"Kurasa sudah cukup. Aku juga lega karena mengetahui kelompok Rebellion hanya ingin membangun sebuah Guild House untuk mereka sendiri dari nol." Ucap Arlond lega sambil segera berdiri dari kursinya.
"Tenang saja. Yang terpenting kau juga setuju dengan rencana ini. Jadi, kau akan melakukan penyerangan tepat pada puncak PvP ini yaitu pada saat final kan?" Tanyaku sekali lagi untuk melakukan konfirmasi.
Arlond pun mengangguk mendengar pertanyaanku itu.
Segera setelah itu, Ia segera kembali ke Ibukota Kerajaan Farna yaitu Forgia.
"Hah.... Melelahkan sekali. Ngomong-ngomong, dimana Oliver?" Tanyaku kepada salah seorang Pelayan yang ada di ruangan ini.
"Mengenai hal itu...."
...***...
...Dungeon Elven Land...
...Hutan Viria...
...Selatan Pegunungan Alpa sisi Timur...
Di dalam sebuah hutan yang begitu lebat dan dipenuhi oleh monster berlevel tinggi ini, nampak sebuah pemukiman yang dibangun oleh berbagai ras terutama Wooden Elf.
Mereka adalah korban dari kekejaman Kerajaan Suci Celestine yang melakukan eksploitasi dengan mengatasnamakan 'Keagungan Manusia' itu.
"Tuan Eric!" Teriak Oliver terkejut sambil segera berlari ke arahku.
"Yo, Oliver. Apa kabar?"
"Selalu diberkati dengan kesehatan dan kebugaran karena Anda, Tuan Eric." Ucap Oliver sambil berlutut di hadapanku.
"Hahaha baguslah. Tapi serius hentikan sikap formal itu. Ngomong-ngomong bagaimana keadaannya di sini?"
Hutan ini adalah tempat yang kupilih untuk persembunyian para Wooden Elf beserta berbagai ras lainnya dari serbuan manusia. Termasuk Player.
Di atas sebuah Dungeon yang kuberi nama Elven Land ini, segala jenis tumbuhan mampu tumbuh begitu subur dan menjulang tinggi ke langit.
Sumber air yang tiada batas juga membantu menyuburkan tanah ini serta memenuhi kebutuhan air 10.000 lebih penduduk yang ada di sini dalam jangka waktu yang tak bisa ditentukan.
Tempat ini juga merupakan salah satu percobaanku untuk membangun komunitas dan pemukiman di atas tanah. Meskipun diserbu oleh pasukan, mereka semua selalu bisa kabur dan berlindung di Dungeon Origin yang besar dan aman.
Pada saat aku masih berkeliling sambil mendengarkan penjelasan Oliver, aku melihat sosok seroang wanita yang begitu anggun. Bukan hanya karena kecantikannya. Tapi juga ketrampilan panahannya yang begitu memukau.
Wanita itu mampu menembakkan panah ke sebuah target yang sama persis tanpa meleset sedikitpun. Bahkan target bergerak sekalipun.
"Dia adalah salah seorang Wooden Elf yang telah Anda panggil beberapa waktu yang lalu. Nampaknya cukup berbakat dalam bidang panahan." Jawab Oliver sambil memperhatikan sosok Wooden Elf itu.
Setelah terus mengamatinya selama beberapa saat dengan bantuan skill [Clairvoyance], akhirnya aku paham.
Sebuah senyuman tipis terlukis di wajahku.
"Oliver. Wanita itu tak hanya berbakat. Tapi Ia seakan diberi berkah oleh langit dalam bidang panahan. Meski begitu, ketrampilannya yang saat ini masih kurang. Setidaknya untuk standar bisa menjadi salah satu pelindung di tempat ini.
Perintahkan orang atau dirimu sendiri untuk terus melatihnya. Bawakan dia perlengkapan tingkat Unique ke atas dan ajak dia berburu monster di sekitar tempat ini." Perintahku kepada Oliver.
Mendengar perintahku, Oliver nampak membungkukkan badannya sambil mengucapkan sebuah kalimat yang sederhana.
"Sesuai keinginanmu, Tuanku."
Setelah itu, aku menghabiskan waktu sekitar 4 jam untuk melakukan pemanggilan Wooden Elf. Semua itu demi meningkatkan populasi tempat ini dan memambah tenaga kerja untuk segera menyelesaikan pembangunan kota Wooden Elf di dalam Hutan Viria ini.
...***...
...Dungeon Forteresse de Deus...
"Sekarang untuk berlatih...." Ucapku pada diriku sendiri sambil berjalan ke suatu arah di dalam Dungeon yang menyerupai Kota megah pada abad pertengahan ini.
Tujuanku sangat sederhana yaitu sebuah Koloseum untuk bertarung melawan apapun yang ada disana.
"Tuan Eric. Selamat datang. Ada keperluan apa mengunjungi Koloseum pada hari ini?" Tanya seorang vampir pria yang cukup tampan itu yang merupakan seorang petugas loket koloseum. Nadanya yang begitu merdu mungkin bisa membuat orang salah sangka bahwa Ia adalah seorang wanita.
"Rencana awalnya.... Aku ingin bertarung dengan sesuatu yang kuat. Lucien misalnya. Aku belum menghubunginya tapi apakah dia ada disini? Aku tak ingin mengganggunya jika dia sedang sibuk." Balasku kepada petugas loket itu.
Mendengar pertanyaanku, pria itu nampak menundukkan kepalanya sambil memohon maaf.
"Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Tuan Eric. Akan tetapi, Tuan Lucien sedang menjalankan suatu misi yang diminta oleh Yang Mulia secara langsung."
'Untung saja aku tak menghubunginya melalui Telepathy! Jika aku menghubunginya, orang bodoh itu akan segera meninggalkan misi untuk menemuiku!' Pikirku dalam hati.
Tapi aku segera mengembalikan kesadaranku dan mrmbalas perkataan penjaga loket ini.
"Ah jadi begitu ya? Baiklah kalau begitu aku ingin beristirahat malam ini. Berikan aku kursi terbaik untuk menonton pertandingan hari ini." Ucapku sambil melemparkan sekantung kecil koin emas.
"Tuan Eric! Anda tidak perlu melakukan pembayaran karena...."
"Tidak. Bersikaplah profesional. Lagipula, ini hanyalah uang receh bagiku." Ucapku sambil segera berjalan memasuki koloseum.
Meski dengan kebingungan, salah seorang vampir wanita yang bertugas untuk memandu jalanku nampak menemaniku dari samping.
Dari kejauhan, terdengar suara sang penjaga loket.
"Terimakasih banyak! Tuan Eric!"
Setelah menaiki beberapa lantai, aku tiba di sebuah ruangan VIP dimana hanya terdapat sebuah kursi di dalamnya.
"Silakan, Tuan Eric." Ucap vampir wanita itu sambil mempersilakan diriku duduk. Ia dengan segera menyiapkan berbagai kudapan ringan untuk kunikmati sambil melihat pertarungan. Tentu saja, dengan sebotol minuman berwarna merah itu begitu nikmat jika digabungkan dengan es.
Setelah beberapa saat menikmati kenyamanan di ruangan ini, aku pun melirik ke arah arena pertarungan.
Tapi apa yang ada di sana sunggung mengejutkanku.
Sosok Fell Beast atau monster yang terkontaminasi oleh energi negatif yang begitu besar dan kuat itu....
Telah berubah menjadi tumpukan daging yang hampir saja tak bernyawa. Sisa HPnya hanya sebesar 1%.
Dan di atas makhluk berkulit merah dan seakan merupakan campuran beberapa jenis hewan buas itu, terlihat sosok seorang wanita yang kini terlihat begitu berbeda dari biasanya.
[Sumber Gambar : PNG Wing]
"Bawakan yang selanjutnya." Ucap wanita yang akrab kupanggil Deus itu.
Kini, Ia nampak begitu santai menjadikan monster berlevel 600 itu sebagai samsaknya.