
“Hmm….”
Aku terdiam setelah keluar dari tempat persembunyian Deus. Itu semua karena aku terkejut akan pemandangan yang ada di dunia bawah.
Nampak hutan yang lebat dengan berbagai jenis tumbuhan dan hewan yang hidup di dalamnya. Di kejauhan terlihat pegunungan yang hijau serta sungai yang mengalir dengan cukup deras. Sesekali terlihat pemukiman para iblis yang disekitarnya nampak jelas lahan pertanian yang subur.
Tak cukup sampai di situ, bahkan banyak sekali burung-burung yang berkicauan di pagi yang cerah ini.
“Sialan! Bukankah dunia bawah lebih indah daripada dunia manusia?!”
Setelah mengutuk beberapa kali, aku memutuskan untuk pergi ke pemukiman terdekat. Entah apa nama desanya aku tak peduli. Tapi penduduk yang ada nampak cukup ramah. Mereka merupakan Iblis dari berbagai ras. Vampir, Dark Elf, Lilith, Succubus, dan masih banyak lagi.
“Kenapa semua ras ini hidup dengan damai disini?” Tanyaku kepada Deus yang ada di dalam tubuhku. Bukan tanpa alasan, bahkan para penduduk desa ini menyambutku dengan sangat ramah.
“Itu karena kita berada di wilayah Ratu Iblis Sierra, seorang dari ras Naga. Tak ada yang berani melawannya sama sekali, dan semua yang tinggal di sini akan dijamin keamanannya. Hal itu juga salah satu alasanku untuk bersembunyi disini.” Jawab Deus dengan rinci.
“Naga? Makhluk bersisik yang terbang itu?” Tanyaku lagi.
“Ya, dia adalah seorang Dragon Priestess di masa mudanya. Kini Ia telah menjadi Ratu Iblis. Meskipun wilayahnya kecil, tapi kekuatan militernya yang sangat kuat memungkinkan kedamaian ini.” Jelas Deus.
Kini aku mulai menyadari bahwa tak selamanya para ras iblis itu mengamuk sesuka hatinya. Deus kemudian juga menjelaskan mengenai beragam ras iblis yang ada di dunia bawah ini.
Jika itu adalah diriku yang dulu aku pasti sudah bosan mendengarkan ceramahnya yang sangat panjang. Tapi kini aku paham, untuk menjadi lebih kuat maka informasi sangatlah penting.
“Ah? Kau mencari monster yang ada di sekitar sini? Kalau begitu aku menyarankan Dungeon yang ada di Utara. Disana terdapat banyak jenis monster untuk dilawan.” Jawab salah seorang penduduk desa yang kutanyai.
Jujur saja aku merasa aneh karena mereka bersikap begitu baik kepadaku meskipun aku seorang pendatang baru.
Apakah ini karena penampilanku yang seperti seorang vampir? Entahlah.
Aku pun menyegerakan langkah kakiku menuju Dungeon yang disebutkan. Setelah sampai, aku menemui sebuah gua dengan jalan masuk yang cukup besar di tengah hutan ini.
...[Dark Elves Ruins]...
...[Dungeon Dark Elf]...
...[Boss : Dark Elf Queen]...
...[Rekomendasi Level : 265]...
...[Rekomendasi Party : 8 orang atau lebih]...
...[Hadiah]...
...[3.000 Koin Emas]...
...[Peti Platinum]...
...[Buku Sihir Acak]...
“Uh…. Bukankah ini terlalu tinggi bagiku, Deus?” Tanyaku kebingungan setelah melihat informasi Dungeon itu.
“Apa yang kau katakan?! Sekarang kau memiliki sebagian kekuatanku! Kau pasti bisa melalui semua ini! Mungkin!” Jawab Deus penuh percaya diri.
“Baiklah, aku akan mencobanya. Lagipula aku berencana untuk mati suatu saat nanti….”
“Hah?! Kau tidak boleh mati disini! Jika kau mati maka aku akan terjebak di dalam dungeon mengerikan ini!!!” Balas Deus panik mendengar jawabanku.
Kini aku mulai bertanya-tanya darimana asal rasa percaya dirinya berasal. Dan begitulah, aku mulai memasuki Dungeon ini.
Baru satu langkah….
‘Jleb!!!’
Sebuah anak panah menancap di dadaku.
[Anda telah menerima Critical Hit!]
[Anda telah menerima 37.692 damage!]
[Damage yang Anda terima sangat besar!]
[Menerima efek Stun selama 1 detik!]
“Sialan! Kau bilang aku akan baik-baik saja?! Mana Shield!” Teriakku segera setelah melihat notifikasi itu.
Sesaat setelah itu muncul rentetan anak panah dalam jumlah yang banyak. Semuanya mengarah ke jantungku. Setiap serangan yang mengenai titik vital lawan akan meningkatkan peluang Critical Hit dengan drastis. Itulah kenapa musuhku kali ini mengincar jantungku.
[Anda telah menerima 21.943 damage!]
[Mana Shield telah menahan damage yang Anda terima!]
[Mana telah berkurang sebesar 65.829]
[Anda telah menerima …. ]
“Sialan!” Teriakku putus asa melihat situasi ini. Aku pun memutuskan untuk membalik badanku dan keluar dari dungeon ini secepat mungkin.
Sesuai dengan namanya, monster yang ada di dalam Dungeon tidak akan keluar dan mengejarku. Mereka nampak hanya menjaga Dungeon mereka dari penyusup. Jujur saja aku merasa sangat beruntung karena pintu Dungeon tidak menutup dan memaksaku untuk menyelesaikannya.
“Kenapa kau lari, Eric?! Bunuh saja….” Teriak Deus di dalam kepalaku. Akupun dengan segera memotong perkataannya.
“Bunuh apanya?! Yang ada akulah yang akan mati! Tidakkah kau mengetahui perbedaan kekuatannya?!”
“Yang terpenting itu semangatnya! Urusan menang atau kalah….” Jelas Deus setelah mendengar jawabanku.
Aku pun pada akhirnya terpaksa mendengarkan ceramahnya mengenai pentingnya semangat dalam pertarungan. Selain itu aku harus menerima kenyataan bahwa menang atau kalah bukanlah segalanya. Sesaat setelah itu aku mulai paham. Mungkin inilah yang menjadi penyebab kekalahan Asmodeus dalam peperangan melawan Raja Iblis yang lain.
2 ekor Goblin yang masing-masing telah menjadi Goblin Knight dan Goblin Magician kini ada di hadapanku. Tak hanya itu, aku juga memanggil seekor Kobold dan menjadikannya sebagai Kobold Warrior. Aku memberikan mereka perlengkapan terbaik yang ada di Inventoryku. Meskipun itu hanyalah item gagal milik Tasmith, tapi kekuatannya tak diragukan lagi.
“Eric? Kenapa kau tidak memanggil Slime?” Tanya Deus tiba-tiba setelah memperhatikanku selama beberapa saat.
“Diamlah, Deus. Untuk beberapa alasan aku tidak bisa lagi mempercayai saran darimu.” Balasku singkat. Bukan tanpa alasan karena Deus lah yang menyarankanku untuk pergi bunuh diri ke Dungeon Dark Elf ini. Bahkan Ia berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja.
“Tidak, Eric. Aku serius. Jika dengan kemampuanmu, maka Slime dapat menjadi salah satu monster terkuat yang pernah ada. Aku pernah sekali melawan slime yang sangat kuat dahulu dan memutuskan untuk kabur.” Balas Deus.
“Hah? Kau serius?”
Aku pun kebingungan. Slime? Monster terkuat yang membuat Ratu Iblis kabur? Apakah memang benar seperti itu? Untuk memuaskan rasa penasaranku, aku pun segera memanggil seekor slime dan mencoba untuk melakukan evolusi.
[Slime akan berevolusi!]
“Eh? Kenapa aku tidak bisa memilih arah evolusinya?” Tanyaku kebingungan karena biasanya aku dapat menentukan arah evolusi yang aku inginkan.
Tapi seakan tak ingin menungguku, cahaya emas sudah menyelimuti slime kecil yang berwarna hijau itu. Cahaya itu bergerak dengan sangat liar… seakan seperti pada saat kejadian evolusi Tasmith. Senyuman yang lebar nampak jelas di wajahku.
[Evolusi Abnormal telah terjadi!]
[Peningkatan penggunaan Mana secara drastis!]
[Slime mencoba untuk berkembang lebih jauh!]
[ …. ]
Seketika, cahaya emas itu berhenti bergerak dan menghilang. Notifikasi yang muncul di hadapanku hanya membuatku semakin kesal.
[Slime gagal melakukan evolusi!]
“Hah? Gagal? Apa maksudnya ini?” Teriakku kebingungan karena ini adalah pertama kalinya aku melihat notifikasi kegagalan evolusi. Meskipun notifikasi evolusi Abnormal hanya pernah terjadi satu kali sebelumnya, tapi kegagalan evolusi belum pernah kujumpai. Saat aku melihat status Slime itu….
[Failed Slime Attempt 1]
[Ras : Slime]
[Rarity : Normal]
[Level : 8]
[Growth Stats]
STR : 1
AGI : 1
INT : 1
VIT : 1
STA : 1
DEX : 1
Nampak seekor monster seperti jeli berwarna hijau di hadapanku. Tubuhnya yang kecil itu melompat kesana kemari tanpa arah yang jelas. Setiap gerakan yang dia lakukan menimbulkan suara ‘boink’ yang cukup mengesalkan.
Dan begitulah, aku memiliki alasan baru untuk tidak mempercayai Deus lagi. Jujur saja setiap sarannya hanya membuat diriku semakin sial. Haruskah aku mati sekarang tanpa harus menjelajahi dunia bawah ini? Aku rasa sarannya yang satu ini juga hanya akan membawaku kepada kesialan.
...***...
Di tengah padang pasir yang luas itu, hanya terdapat 7 orang.
6 orang mengenakan perlengkapan serba putih dengan simbol pedang dan cahaya. Sedangkan seorang lagi mengenakan jubah hitam dengan corak ungu. Ia nampak tersenyum begitu lebar meskipun kalah jumlah.
“Buahahaha!!! Inquisitor! Apa yang akan kalian lakukan sekarang? Melawanku? Apa kalian yakin?! Hahahah!!!” Teriak Pria dengan rambut dan kulit yang berwarna putih pucat itu.
Keenam Inquisitor itu kini berada dalam kondisi yang sangat kritis. Zirah mereka sudah mulai hancur, begitu juga Health Point mereka yang kini mulai menipis.
“Kau… benar-benar akan menghancurkan dunia… ini?” Tanya Shea yang saat ini sudah berlumuran darah.
“Hah?! Apa maksudmu? Aku sama sekali tidak tertarik soal itu. Aku hanya ingin…. Hahahaha!!! Sekarang aku bisa menggapainya!!!” Teriak Evan tiba-tiba.
“Shea, hentikan itu. Dia sudah benar-benar gila….” Ucap seorang Inquisitor yang ada di sebelah Shea.
“Untuk mencapai tujuanku… aku butuh kedamaian! Katakan padaku Inquisitor! Apakah kalian berenam mau membuat perjanjian yang adil denganku?!” Ucap Evan setelah puas tertawa seperti orang gila.
“Perjanjian? Apa yang kau inginkan?” Tanya Shea dengan penuh keraguan. Tubuhnya yang sudah tak mampu untuk digerakkan lagi kini hanya mampu menerima kenyataan pahit ini. Mendengarkan perkataan musuh umat manusia.
“Aku berjanji tidak akan pernah lagi mengganggu peradaban manusia. Tapi sebagai gantinya….” Ucap Evan sambil duduk di tengah padang pasir itu. Tubuhnya yang putih pucat seperti mayat hidup hanya menambah kengerian pandangan matanya.
Dan begitulah…. Perjanjian antara Evan dengan keenam Inquisitor itu disetujui oleh kedua belah pihak.
...___________________________________...
...[Sebelum lanjut membaca]...
...[Ada baiknya untuk menekan tombol Like]...
...[Dan juga meninggalkan komentar dalam bentuk apapun]...
...[Tak ada ruginya bagi kalian]...
...[Tapi percayalah, hal sederhana itu yang menyemangatiku untuk terus menulis]...