
"Hmm? Notifikasi apa ini?" Ucap Eric yang saat ini sedang berdiskusi dengan William di Istana Weltia.
"Aneh. Aku tak pernah melihat notifikasi seperti ini sebelumnya." Balas William sambil memasang wajah kebingungan.
Pada saat ini, Eric sedang mendiskusikan mengenai kerjasama yang saling menguntungkan antar keduanya.
Hal itu didasarkan pada satu hal.
Yaitu Federasi Pedagang terlalu kuat bagi Eric dan seluruh Dungeon Origin saat ini.
'William sialan ini.... Tak ku sangka kekuatan di balik Federasi Pedagang sebesar ini.' Ucap Eric sambil melihat sekelilingnya.
Dengan kemampuan [Clairvoyance] yang berasal dari Oracle Staff miliknya itu membuat Eric mengetahui betapa mengerikannya pasukan milik William.
Meski begitu, berkat kecerdikan Eric sebelumnya membuat William jauh lebih hati-hati dari biasanya. Hal itulah yang membuat William mau menerima hubungan kerjasama ini.
"Apakah kita akan melanjutkan pembahasan bisnis ini?" Tanya William kepada Eric yang sedang terdiam.
"Tentu saja. Jadi bagaimana menurutmu?"
"Pembagian keuntungan sebesar 50:50 cukup masuk akal bagiku. Tapi bagaimana caramu bisa melakukan hal itu? Meminta bahkan Raja yang dianggap jenius itu menjual barangnya kepada Federasi Pedagang? Bahkan membagi setengah keuntungannya?" Tanya William kebingungan.
Eric yang mendengar pertanyaan itu hanya bisa tersenyum karena memperoleh satu lagi kesempatan untuk menunjukkan pengaruhnya.
"Ide pembuatan ramuan itu adalah dariku. Selain itu, Raja Arlond memiliki hutang padaku karena telah menyelamatkan pelabuhan Tortuga."
William hanya bisa melebarkan matanya setelah mendengar jawaban dari Eric.
'Sudah kuduga menjalin kerjasama dengan orang ini adalah pilihan terbaik. Jika saja dia benar-benar bisa mempengaruhi Raja Arlond untuk menjual Potion buatan Kerajaan Farna kemari, maka besar peluangnya bahwa Eric memiliki pengaruh yang lebih besar di Kerajaan Farna.' Pikir William sambil memperhatikan Eric.
Setelah beberapa saat berpikir, William akhirnya mengulurkan tangan kanannya.
"Aku setuju dengan kontrak perdagangan ini. Aku menantikan keuntungan yang besar dari kontrak ini."
Eric pun segera menjabat tangan kanan William sambil membalas perkataannya.
"Aku juga mengharapkan keuntungan yang besar. Sekarang, aku permisi dulu."
Eric pun segera meninggalkan istana itu.
William beserta para petinggi Federasi Pedagang hanya bisa memandangi sosok Eric yang lambat laun mulai menjauh itu.
"Jadi itu adalah sang Penyihir Agung? Rose, berapa levelnya?" Tanya William tanpa menoleh sedikitpun.
"Ya, Tuanku. Saat ini Eric memiliki level sebesar 324. Peningkatan levelnya benar-benar mengerikan semenjak kompetisi internasional itu." Balas Rose yang muncul dari balik ruang gelap itu.
"Jadi itulah kenapa dia segera mematikan fitur Leaderboardnya ya? Dasar.... Para Unofficial Ranker ini menjamur ke berbagai tempat. Parahnya lagi level mereka begitu mengerikan." Ucap William pada dirinya sendiri.
Pada akhirnya, Ia bersyukur bisa berdamai dengan Eric. Mengingat levelnya yang seukuran monster dan reputasinya yang setinggi gunung itu bisa saja menghapus sebuah kota sendirian.
"Apa yang sebaiknya kita lakukan sekarang?" Tanya Rose sekali lagi.
"Kita hanya perlu bersikap baik dan berhati-hati saja. Yang lebih penting, apakah kau sudah tahu sosok yang merampas kastil sebelumnya?"
"Maaf, tapi kami tak bisa menemukan jejaknya."
"Siapa sebenarnya mereka berdua? Dan apa tujuannya?"
...***...
...7 Agustus 2074...
...Wilayah Kerajaan Doran...
Aamori yang sedang berjalan bersama dengan Valis di pinggir pantai itu dikejutkan oleh kehadiran sosok 5 Fire Draconics yang muncul di hadapan mereka.
"Hmm? Valis, kenapa kawanmu ada disini?" Tanya Aamori kebingungan.
Tanpa menjawab, Valis segera berlutut dan memohon ampun.
"Maafkan diriku yang rendah ini karena justru membantunya dalam menyelesaikan misi ini!" Teriak Valis sambil menundukkan kepalanya.
Tapi seorang Pria dengan tubuh setengah naga itu mengabaikan perkataan Valis dan berjalan mendekati Aamori.
"Misi telah berakhir. Yang Mulia meminta kami untuk membawamu menemuinya dengan segera." Ucap Pria itu sambil memberikan sikap hormat kepada Aamori.
Aamori dan juga Valis terlihat kebingungan dengan kejadian ini. Pasalnya mereka telah menjalankan misi ini selama beberapa tahun di dunia Re:Life dan baru saja menemukan 2 dari 5 peninggalan Arroth.
Mendengar bahwa misi telah selesai? Hal itu jauh di luar dugaan mereka berdua.
"Apa yang terjadi? Apakah aku gagal?" Tanya Aamori dengan tatapan yang tajam.
Tapi Pria yang ada di hadapannya segera membantah perkataan Aamori.
"Tidak. Tapi tiga dari lima artifak yang seharusnya tersembunyi itu telah dicuri beberapa hari yang lalu. Maka dari itu Yang Mulia memerintahkan kami untuk segera mengamankan tamu undangan."
"Huh? Dicuri? Dalam waktu yang sesingkat itu? Siapa yang bisa melakukannya? Lagipula, bagaimana caranya...."
Pada saat Aamori belum sempat menyelesaikan perkataannya, Ia melihat sesuatu yang sangat teramat mengerikan di arah Selatan.
Sebuah kilatan cahaya berwarna merah yang menyala begitu terang hingga menembus langit.
Cahaya yang berlangsung selama beberapa detik itu menyita perhatian semua orang.
"Nampaknya kita telah terlambat." Ucap Pria Draconics yang ada di hadapan Aamori itu.
"Terlambat? Untuk apa? Cahaya apa itu?"
"Ikutlah dengan kami. Apapun yang terjadi kau tak boleh mati. Aku akan menjelaskannya selama perjalanan."
Pria itu dengan segera mengangkat tubuh Aamori dan membawanya terbang ke langit.
Begitu juga keempat Fire Draconics yang lainnya. Valis yang sama sekali tak memahami apa yang baru saja terjadi memutuskan untuk mengikuti mereka semua dan mulai mengepakkan sayapnya.
Tujuan mereka? Sebuah barisan Pegunungan di sisi terluar Kekaisaran Avertia wilayah Utara.
Di dalam barisan pegunungan itu terdapat sebuah kuil naga yang paling awal dibangun oleh para pemujanya.
Kuil Naga Api Kuno, Arroth.
...***...
...Wilayah Kerajaan Farna...
"Buahahaha! Jangan terlalu bersemangat seperti itu! Ingatlah posisimu! Kau hanyalah seekor kadal api! Tak selayaknya menantang Dewa Kehancuran seperti diriku ini!" Teriak Abaddon dengan sangat angkuh sambil tetap duduk di singgasananya.
Di hadapannya terlihat sosok seorang Wanita dengan rambut panjang berwarna merah menyala yang berapi-api itu. Sebagian besar tubuhnya ditutupi oleh sisik merah keemasan.
Sedangkan di punggungnya terlihat sepasang sayap berwarna merah menyala. Ekornya yang cukup panjang dengan sisik tebal itu terlihat tidak banyak bergerak.
Perlengkapannya yang berwarna merah dengan hiasan keemasan itu tak mampu menutupi api yang menyala di sebagian besar tubuhnya.
"Iblis rendahan sepertimu berani mengganggu rencana ku? Kembalikan tiga artifak milikku sebelum aku menghanguskan tempat ini." Ucap Wanita naga itu.
Keenam Iblis bawahan Arroth nampak bersiaga menghadapi sosok yang ada di hadapan mereka.
"Tuanku, bukankah ini sedikit berbahaya? Ku dengar naga kuno bahkan mampu untuk...."
"Tidak bagiku. Mereka hanyalah sampah yang bahkan tak berhak untuk melihat keagungan ku." Ucap Abaddon memotong perkataan Lilith. Ia terlihat mulai berdiri dari singgasananya dan berjalan secara perlahan mendekati Wanita naga itu.
"Kau...."
"Coba saja jika kau memang mampu, kadal api. Aaah, benar juga. Jika saja kau menggunakan wujud aslimu.... Mungkin kau bisa bertahan selama 2 menit melawanku?" Ucap Abaddon dengan tampang yang begitu merendahkan siapapun yang ada di hadapannya.
Wanita naga itu pun mengeraskan cakar tajamnya. Dengan cepat Ia mengayunkannya ke arah Abaddon.
Lima buah sayatan dengan panas yang mampu melelehkan bahkan istana kematian ini sekalipun....
'BLAAAAAAAARRRRR!!!'
Semuanya tertahan di hadapan Abaddon. Meski begitu, semua yang ada di hadapannya meleleh hingga tak bersisa.
"Hahaha! Ada apa? Apakah hanya ini kekuatan dari sosok naga kuno bernama Arroth itu?! Sayang sekali bahkan diriku yang lama sekalipun bisa mengalahkanmu dengam mudah!" Balas Abaddon sambil mengarahkan tangan kirinya ke depan.
Dengan suara yang lirih, Ia mulai berbicara pada dirinya sendiri.
"Summon.... Death Dragon."
Meskipun suara itu sangat sulit untuk didengar, Wanita naga yang tak lain adalah Arroth itu mendengarnya dengan sangat jelas.
Sesaat sebelum Abaddon menyelesaikan rapalannya untuk memanggil naga kematian, Arroth dengan secepat kilat melesat ke arah Abaddon. Tangan kanannya yang memiliki cakar yang sangat tajam dan kokoh itu mengarah tepat ke leher Abaddon.
Abaddon yang melihat hal itu hanya tersenyum dengan sombong. Ia berpikir bahwa perisai sihirnya mampu menahan apapun yang mungkin datang menyerangnya.
Tapi pada saat itu....
'Pyaaaaarrrr!!!'
"Eeh?"
Abaddon terkejut bukan main melihat Arroth dengan mudahnya menembus perisai sihir kokoh miliknya itu hanya dengan tangan kosong.
'Sreeeet! Blaaaaarrrr!!!'
Arroth dengan cepat menghantamkan tubuh Abaddon sambil mencekiknya sekuat tenaga ke tanah. Pukulan itu membuat seluruh istana hancur lebur bukan hanya karena kekuatannya saja, tapi juga suhu yang begitu panas dari keberadaan Arroth.
"Kuuugghh! Sia....."
Tanpa memberi ampunan, Arroth segera memperkuat cekikannya dan meningkatkan api yang ada di tangan kanannya.
Abaddon terlihat meronta-ronta mencoba untuk bertahan hidup dari serangan Arroth yang begitu ganas itu.
Sedangkan keenam Iblis pelayan Abaddon? Mereka bahkan tak mampu mendekat karena suhu yang bisa melelehkan besi itu.
Di tengah perjuangan hidup dan mati Abaddon itu, Arroth mulai berbicara.
"Aku akan memperjelas segalanya, Iblis rendahan. Kembalikan tiga artifakku atau kau akan ku bunuh di sini. Jujur saja aku sama sekali tak peduli dengan kehancuran dunia yang kau maksud selama itu tidak mengganggu diriku, kaumku, dan juga rencana ku. Pikirkanlah baik-baik karena aku benar-benar akan membunuhmu disini."
Abaddon yang terlihat begitu kesakitan dan memohon ampunan itu hanya bisa meronta-ronta berusaha melepaskan cengkeraman Arroth.
Tapi secara tiba-tiba....
"Bercanda!" Teriak Abaddon sambil memberikan senyuman yang begitu puas.
'Kraaaaak! Traaaassss!'
Hanya dengan sebuah tarikan ringan, Abaddon mampu mematahkan tangan Arroth dengan sangat mudah.
'Brukk!'
Ia melemparnya jauh di tanah sambil menendang Arroth dengan sangat kuat di perutnya. Lubang yang cukup besar pun terlihat di perut Arroth.
"Kuuugghh...."
Kini, Arroth mulai berlumuran darah hanya dari dua serangan sederhana Abaddon.
"Hahahaha! Lucu sekali! Sungguh lucu sekali! Apakah menghancurkan perisai tipis itu membuatmu percaya diri? Aku hanya bermain-main saja denganmu." Ucap Abaddon sambil tertawa puas dan berjalan perlahan mendekati Arroth.
"Ka-kau.... Jangan katakan...."
"Benar sekali! Aku abadi! Tapi sayang sekali, seranganmu barusan bahkan tak mampu menghapus satu dari tiga belas nyawaku. Dengan kata lain...."
Arroth yang menyadari situasi saat ini segera melesat secepat kilat melewati Abaddon. Pertama Ia melesat ke arah dimana potongan tangannya berada. Segera setelah itu, Ia melebarkan sayapnya dan terbang sejauh mungkin.
Tanpa sepatah kata pun....
"Aaah kabur ya.... Kalau soal kecepatan aku memang sedikit kalah dengan kadal itu. Yah, tak masalah. Setidaknya aku telah menyingkirkan salah satu lawan yang paling merepotkan bagiku di dunia ini. Jika saja kadal itu mau membuang harga dirinya yang tidak mau mengenakan artifak itu...."
Abaddon terlihat sama sekali tak tersenyum saat ini. Tak seperti biasanya yang telah tersenyum lebar atau tertawa terbahak-bahak.
Tangan kanannya terlihat sedang memegangi lehernya yang telah meleleh itu.
'Yang benar saja. Membunuhku dua kali hanya dengan cengkraman itu? Kau benar-benar seekor monster, Arroth. Syukurlah kau yang pertama ketakutan meskipun karena kebohonganku.'
Dengan perkataan dalam hatinya itu, Abaddon segera kembali ke istana yang telah hancur lebur itu. Bersiap untuk membangun kekuatan pasukan kematian serta memperluas tanah kematiannya.
Tentu saja, untuk memanen jiwa manusia demi memperkuat dirinya.